Turn Left Turn Right (Review Film)

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

FilmGaya Hidup

Turn Left Turn Right (Review Film)

turn left turn right (2003)

Bagaimana jika cinta sejatimu hampir setiap hari berada di dekatmu tanpa kau sadari? Seperti inilah yang mau disampaikan oleh film Turn Left Turn Right

Hidup memang terkadang sebercanda itu. Mungkin saja ada yang selalu berada tak jauh dari kita, tentu saja tanpa kesengajaan, tapi tak pernah kita sadari keberadaannya. Padahal, dialah tulang rusuk kita yang hilang. Tsah.

Itulah yang terjadi pada John dan Eve. Dua orang yang seharusnya ditakdirkan bersama namun begitu banyak hal yang menghalangi mereka. Adalah John Liu (Takeshi Kaneshiro) seorang pemain biola yang begitu gampang memikat hati lawan jenis tanpa melakukan apa-apa karena ketampanannya. Lalu ada Eve Chiu (Gigi Leung) yang memiliki keahlian sebagai seorang penerjemah yang handal.

Namun, hidup tak semudah itu bagi mereka. Kedua tokoh dalam film Turn Left Turn Right yang berdasarkan di buku A Chance of Sunshine oleh Jimmy Liao, meski memiliki kelebihan, mereka tak bisa meraih impian dengan gampang.

John Liu kesulitan mendapatkan pekerjaan sebagai seorang pemain biola dan Eve Chui juga merasakan hal yang sama yaitu juga kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai impiannya, entah bagaimana ia hanya mengerjakan penerjemahan novel-novel horror picisan. Sekilas mereka memiliki banyak kesamaan, hidup yang paralel, dan tampak cocok bagi satu sama lain, tapi takdir tampaknya selalu berusaha memisahkan mereka.

Mereka tinggal di bangunan yang sama. Kamar mereka hanya terpisah oleh sebuah tembok pembatas yang tipis. Ruangan kamar juga persis sama meski di kavling yang berbeda. Hanya saja mereka tidak pernah bertemu karena setiap kali keluar dari rumah, yang satu selalu belok ke kiri, dan yang satu selalu belok ke kanan.

Sering kali berpapasan di jalan, tapi mereka belum pernah saling bertatap muka karena jalan hidup mereka selalu bagaikan rel kereta api yang berjalan paralel. Berdekatan, tapi tidak pernah saling bertemu.

Misalnya mereka bersandar di dinding yang sama, berada dalam tempat yang sama, atau ketika mereka melewati kerumunan yang sama. John dan Eve juga berinteraksi dengan orang-orang dan benda-benda yang sama, tetapi selalu ada beberapa menit yang mencegah mereka saling bertemu.

Suatu hari mereka berdua akhirnya bertemu di sebuah taman. Pertemuan itu menyadarkan bahwa mereka saling mengenal di masa lalu. Mereka berkenalan di saat sekolah mereka mengadakan field trip. John menyukai Eve, begitu pun sebaliknya. Tapi karena satu dan lain hal, mereka pun terpisah dan kehilangan kontak.

Dalam pertemuan itu mereka bagaikan dua orang kekasih yang sudah lama tidak bertemu dan melewatkan siang yang indah itu bersama. Sayang sekali, hujan lebat membuat mereka berdua harus berpisah. Akhirnya mereka berdua kemudian memutuskan untuk saling bertukar nomor telepon.

Mereka berharap komunikasi diantara mereka berdua bisa terjalin kembali dengan hal tersebut. Sayang sekali, tampaknya hidup mempermainkan mereka. Hujan membasahi potongan kertas kecil berisi nomer telpon yang mereka miliki dan membuat nomornya menjadi tidak terbaca.

Mereka berdua berusaha menghubungi satu sama lain dan juga menunggu datangnya telepon satu sama lain, tanpa hasil. Apakah hidup akan berpihak pada mereka dan membuat mereka bertemu kembali?

Turn Left, Turn Right adalah sebuah film drama romantis asal Hong Kong dan Singapore yang disutradarai oleh Johnnie To dan Wai Ka-Fai. Film tahun 2003 ini mengambil setting sebagian besar berlokasi di Taipei, Republik Tiongkok.

Pemeran-pemeran dalam film Turn Left Turn Right ini merupakan aktor-aktor bintang Tionghoa: Takeshi Kaneshiro, Gigi Leung, Edmund Chen, dan Terri Kwan. Akting Takeshi Kaneshiro dalam film ini cukup meyakinkan, tampil mengesankan dengan keterampilan memainkan biolanya. Begitu pun dengan Gigi Leuang yang dalam salah satu adegan membaca puisi Polandia karya  Wislawa Szymborska yang diterjemahkan menjadi Love at First Sight.

Bonus: Puisi Love at First Sight Wislawa Szymborska
Bonus: Puisi Love at First Sight Wislawa Szymborska

Dalam Turn Left Turn Right ini ikatan kimiawi mereka terlihat jelas. Takeshi Kaneshiro dan Gigi Leung mampu menghadirkan sepasang belahan jiwa yang tak pernah menyerah untuk bisa bersatu meski takdir sepertinya mempermainkan mereka.

Hidup itu kadang sebercanda Turn Left Turn Right ini.

Comments (16)

  1. menarik idenya hahaha
    hidup berdekatan tapi malah susah ketemu. kayaknya menarik juga ini film, bisa jadi pilihan pas benar-benar mau santai.

    tapi Takeshi bukan aktor Jepang? namanya koq nama Jepang

  2. Jadi penasaran pengen nonton. Pasti bikin baper ini filmnya!

  3. Astaga kenapa saya jadi geregetan sendir miembaca ini wkwkwk.
    Ending-nya manis atau pahit ini.film?

  4. kalau kita sudah menikah kak, apakah kejadian seperti di filem ini juga bisa terjadi? mungkinkah jodoh ke-2 dan ke-3 atau ke-4 kita ada di sekitar kita tapi kita tak menyadarinya?

    *bertanyajeka ini kesiang

  5. Apakah Kakak Anchu mengalami hal yang serupa? Atau saya yang malahan? Sepertinya menarik dituntaskan ini malam.

  6. Wah, saya jarang nih nonton film hongkong dan singapura. Dari baca review di atas sepertinya filmnya seru ya plus bikin baper. Apalagi banyak adegan dimana pemeran utamanya sering berpapasan tapi tidak saling tatap. Padahal tempat tinggal pun berpapasan. Jadi penasaran deh dengan turn left turn right ini.

  7. Setelah baca ini, jadi penasaran untuk nonton langsung filmnya. Saya suka sekali jalan ceritanya.

  8. Ashiappp..Kak Anchu, Cinta sejati yang kadang tak berada jauh dari kita..Kreatif banget nih filmnya..Sayang film Jepang, Klw orang Indonesia yang mainkan ,pas tonton deh..

  9. Apa jangan-jangan pesannya ini film berlaku juga untuk saya yah? Haha. Lamakumi ndak nonton film luar. Tapi sebenarnya agak malaska nonton film yang orangnya ke cina cina an karena kuliat mirip semua mukanya haha. Jadi mending saya nonton India 🙂

  10. Aduh yaampuun… Masa’ bisa ndak sadar punya tetangga seganteng Kanesiro-san? Mbaknya radarnya payah nih…

  11. Hidup kadang sebercanda itu ya kak? Saya setuju. Dan mengenai filmnya, persis seperti peristiwa yg dialami sama teman teman terdekatku baru baru ini. Jodoh memang tak jauh2 ji dari kita. Begitu pun org yg satu hati.

  12. Haddehhh, jadi prihatin daeng. Kalau saya, film begini ini bikin gemas kalau akhirnya tidak ketemu-ketemu juga. Nasib keduanya tidak pernah maju-maju untuk jadi satu. Hidup benar-benar membuatnya rumit. Tapi barangkali yang menarik, film ini sepertinya mau mengajarkan bahwa hidup tidak harus selamanya mengejar melankolisme. Buktinya mereka tidak melakukan apa-apa dan sepenuhnya menyerahkan pada nasib. Mereka memperturutkan saja hidup yang sudah ada.

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.