Tentang Adipura dan LISA

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Dinamika KotaKata Kota

Tentang Adipura dan LISA

Semalam, 30 Oktober, timeline akun media sosial saya ramai oleh berita tentang rubuhnya Tugu Adipura Makassar yang terletak di kawasan Tello. Tugu yang dibangun pada tahun 1997 pada masa pemerintahan Walikota Malik B. Masry untuk memperingati raihan piala Adipura pertama kota Makassar. Saat itu, Makassar meraih piala Adipura untuk kategori Kota Raya.

Keriuhan di media sosial itu berlangsung hingga tadi ketika sebuah meme beredar. Meme itu menggambarkan Optimus Prime yang sedang menghancurkan tugu Adipura. Tentu saja itu hanya sebuah keisengan seorang teman menanggapi ramainya pro – kontra perubuhan tugu itu.

meme hasil keisengan @ipulgs
meme hasil keisengan @ipulgs

Bagi yang kontra, tugu itu adalah bangunan yang merupakan salah satu ikon kota Makassar sehingga tak layak dihancurkan. Di sisi lain, banyak yang mendukung penghancuran itu karena beranggapan tugu itu adalah salah satu biang kemacetan di kawasan itu. Alasan ini pula yang menjadi landasan Pemerintah Kota Makassar untuk membongkar tugu ini.

Saya termasuk orang yang setuju terhadap perubuhan ini tapi melihat alasan kemacetan yang dipakai oleh pemkot sangat lemah. Penyebab utama kemacetan adalah ketiadaan transportasi massal yang manusiawi bagi warga kota. Inilah yang menjadi penyebab mengapa orang-orang berlomba membeli kendaraan pribadi. Pertambahan jumlah kendaraan ini, jika tak segera dibendung, tak berbanding lurus dengan jumlah kapasitas jalanan yang ada di Makassar. Akan ada berapa banyak bangunan yang harus dibongkar jika setiap saat kendaraan terus bertambah?

Pun, saya melihat alasan yang kontra pada perubuhan itu bahwa Makassar akan kehilangan salah satu bangunan tua dan bersejarah juga lemah. Tugu Adipura belum bisa dikatakan sebagai bangunan tua mengingat usianya barulah 17 tahun. Sweet Seventeen kata kaum abg. Sebuah bangunan bisa dikategorikan tua dan tergolong cagar budaya jika telah berusia di atas 50 tahun.

Begitu pula alasan bahwa Tugu Adipura sebagai bangunan bersejarah, dari sisi apa tugu ini menjadi bangunan bersejarah? Pemilihan sebuah kota menjadi pemenang piala Adipura dapat direkayasa adalah rahasia umum. Setiap tahun beberapa kota akan terpilih sebagai pemenang piala Adipura. Lalu apa yang membanggakan? Kota bersih bukanlah sebuah prestasi, ia adalah sebuah keharusan agar layak huni dan manusiawi bagi warganya.

Alasan lain penghancuran tugu ini adalah karena Pemkot Makassar sudah membangun Tugu Adipura kategori Kota Raya di Anjungan Losari, sebagai pengganti Tugu Adipura Tello, berdiri kokoh berdampingan dengan tugu Adipura kategori Kota Metro yang diraih Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dipenghujung masa jabatannya, 2013.

Saya setuju jika tugu ini dirubuhkan karena melihat memang Makassar tak layak menyandang predikat sebagai kota bersih.  Tugu Adipura kembar pun menjadi saksi ironi betapa pemkot tak mampu menjaga kebersihan dan ketertiban Anjungan Losari. Aksi vandalisme masih bisa kita jumpai di salah satu landmark kebanggaan walikota saat ini.

Tugu Adipura kembar ini sekadar nostalgia masa lalu, bahwa kota ini pernah meraih piala kebersihan. Itu pun jika bukan hasil rekayasa, atau ‘piala Adipura itu pun bisa dibeli’ kata seorang teman. Kota ini belum layak berbangga. Lihatlah bagaimana mobil-mobil pengangkut sampah justru menjadi penyebar sampah di jalanan saking tidak layak pakai. Jumlahnya pun jauh dari kata memadai untuk sebuah kota sebesar Makassar.

Upaya meningkatkan kebersihan kota bukannya tidak ada. Walikota telah meluncurkan program LISA; Lihat Sampah Ambil. Sebuah program yang sebenarnya bagus, hanya saja tidak dibarengi dengan penyediaan sarana dan infrastruktur yang memadai. Warga diminta memungut sampah yang mereka temukan tapi tanpa penyediaan tempat sampah yang cukup sama saja dengan tindakan percuma.

Kembali ke soal kemacetan, ah, saya jadi membayangkan Optimus Prime datang menyerang dan menghancurkan kampus Universitas Indonesia Timur. Sejak adanya kampus itu kemacetan menjadi sesuatu yang akrab bagi pengguna jalan di Jl. Rappocini.

rencana kenaikan retribusi kebersihan

Tambahan: sebelum memosting tulisan ini, saya menemukan surat edaran dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar tentang ‘penyesuaian retribusi kebersihan’. Semoga penyesuaian ini dibarengi dengan peningkatan layanan dari dinas yang mengurus soal kebersihan ini.

Comments (2)

  1. kalau alasan kemacetan, saya kira penyempitan jalur di jembatan Tello lebih besar pengaruhnya.
    sedihnya paling kalau ada orang nyari alamat rumah saya tidak punya patokan lagi ‘di Adipura’ hehehe

  2. Semoga pelebaran jembatan Tallo bisa segera direalisasikan. Luar biasa macetnya kalo sore…

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.