Syamsul Chaeruddin Legenda Hidup PSM

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

FigurKata Kota

Syamsul Chaeruddin Legenda Hidup PSM

Syamsul Chaeruddin Legenda PSM

November 2017, di hadapan awak media, Syamsul Chaeruddin menitikkan air mata. Kata-kata keluar dengan terbata-bata dari mulut legenda hidup PSM itu. Hari itu ia mengutarakan keinginannnya untuk mundur dari PSM.

“Saya sudah 15 musim saya memperkuat PSM. Tapi, tidak sekalipun saya mempersembahkan trofi juara buat klub yang saya cintai ini. Saya akui gagal dan meminta maaf pada suporter yang selama ini setia mendukung PSM,” ungkapnya.

Keputusan itu ia utarakan di hadapan media usai duel PSM vs Madura United saat peluang PSM menjuarai kompetisi sudah tertutup. Lima belas tahun membela PSM, Syamsul tak pernah membawa PSM menjuarai kompetisi liga. Hal yang membuatnya sangat kecewa. Syamsul, hanya mampu membawa PSM dua kali jadi runner-up pada Liga Indonesia 2002-2004.

Syamsul Bachri Chaeruddin, lahir di Limbung, Bajeng, Gowa, 9 Februari 1983, adalah pemain asli binaan PSM. Ia memulai karirnya dalam sepakbola bersama PSM junior pada tahun 1999 – 2000. Tak butuh waktu lama bagi gelandang enerjik itu untuk menembus tim senior. Musim kompetisi 2001 – 2002, Syamsul bergabung dengan tim Juku Eka. Sejak itu pamornya terus meningkat dan menjadi ikon tim.

Sejak bergabung dengan PSM, Syamsul langsung mencuri perhatian. Setiap pertandingan ia ada di semua sisi lapangan. Kemampuan untuk terus berlari sepanjang pertandingan, membuat pemain yang identik dengan rambut gondrong ini, terlihat begitu menonjol. Tak heran jika panggilan menjadi anggota Timnas, baik junior mau pun senior, ia dapatkan.

Era keemasan Syamsul terjadi pada tahun 2003—2010. Bersama Ponaryo Astaman, ia bahu-membahu menggalang kekuatan di lini tengah, baik saat mereka di PSM mau pun di Timnas. Syamsul Chaeruddin adalah roh bagi PSM pada masa itu. Berkali-kali ia menunjukkan semangat pantang menyerah. Menegakkan siri na’ pacce, filosofi orang Makassar.

Gelandang pekerja keras ini mengidolakan Pavel Nedved, legenda Juventus dan Republik Ceko. Tak heran jika awak media kerap menyelipkan nama Nedved pada namanya, Syamsul ‘Nedved’ Chaeruddin. Meski mengidolakan Nedved, namun gaya bermainnya lebih identik dengan gelandang AC Milan dan Timnas Italia, Gennaro Gattuso; lugas dan keras.

Selama pertandingan pemain dengan tinggi badan 166 cm akan terlihat ada semua sudut lapangan. Bahu membahu membantu pertahanan dan juga rajin naik menyerang. Kemampuan itu ditunjang dengan stamina yang seakan tak pernah habis. Ia memang rajin menempa fisiknya. Termasuk berjalan kaki dari rumahnya di Limbung menuju lapangan Karebosi untuk berlatih. Tak heran jika selama beberapa kali tes fisik, nilai VO2 Max Syamsul masih yang tertinggi di antara pemain PSM lainnya.

Selama beberapa tahun, Syamsul jadi idola publik sepakbola Sulawesi Selatan. Dia mampu mengobati kerinduan pendukung PSM, untuk melihat putra Tanah Daeng berseragam Timnas. Medio 2003—2010, namanya akan disebut oleh anak-anak yang sedang berlatih sepakbola di Makassar, tentang apa tujuannya bermain sepakbola, mereka akan menjawab “Saya ingin seperti Syamsul Chaeruddin”

Pertandingan terakhir Syamsul Chaeruddin membela PSM. Hamka Hamzah menyerahkan ban kapten pada Syamsul. foto The Macz Man
Pertandingan terakhir Syamsul Chaeruddin membela PSM. Hamka Hamzah menyerahkan ban kapten pada Syamsul. (foto The Macz Man)

Baca Juga: Terima Kasih, Syamsul Chaeruddin!

Syamsul selalu menjadi kebanggaan tersendiri masyarakat Sulawesi Selatan dengan menjadi putra daerah yang selalu menjadi langganan tim nasional Indonesia. Dari timnas SEA Games 2003 hingga Piala Asia 2007.  Saat membela PSM Makassar pada babak grup Piala AFC 2005, dia mencetak satu gol.

Tahun 2010, gelandang bertahan ini membuat para pencinta PSM terkejut dan bersedih ketika pemain yang terkenal dengan kesetiaannya pada PSM itu memutuskan untuk pindah ke Persija. Padahal, berulang kali ia sudah berikrar kepada media bahwa ia tak akan pernah meninggalkan PSM. Beberapa tawaran dari klub, bahkan dari negeri jiran, ia tolak.  Ia baru meninggalkan tim Juku Eja, yang saat itu berkubang di papan bawah, aman dari jeratan degradasi di akhir musim 2009-2010.

Tanpa Syamsul, para pendukung PSM merasa seperti kehilangan figur panutan. Tak ada lagi chant “Syamsul…Syamsul…/Syamsul yang garang …/Syamsul yang garang di Mattoanging…/ yang bergema setiap ia menggiring bola.

Untungnya, setelah dua tahun berkelana bersama Persija dan Sriwijaya, akhirnya ia pun pulang ke klub yang telah membesarkan namanya. Ia pun kembali menjadi bagian di saat-saat sulit PSM, antara lain di Liga Primer Indonesia, hingga kembali bermain di Liga Super Indonesia.

Ketika pertama kali diwawancarai wartawan setelah pulang ke PSM di awal tahun 2012, dengan tegas Syamsul mengungkapkan niat ingin menutup karir di Makassar. Bukan hanya itu, ia sempat menolak panggilan pelatnas tim nasional demi memberi jalan kepada talenta-talenta yang lebih muda. Ia mengambil peran sebagai kapten, menjadi panutan di dalam dan di luar lapangan bagi para calon penerus Ramang.

Ramang adalah legenda PSM yang namanya akan terus hidup di Makassar. Silakan baca: Ramang, Masih dan Akan Terus Hidup di Makassar

Syamsul telah memutuskan masa depannya setelah tak memperpanjang kontraknya bersama PSM Makassar akhir Liga 1 musim 2017 lalu. Di Piala Presiden 2018 lalu, Syamsul sempat digunakan jasanya oleh klub Liga 1 lainnya, Borneo FC, namun Pesut Etam memutuskan untuk tidak mengontraknya secara permanen. Akhirnya, Syamsul berlabuh ke klub yang berkompetisi di Liga 2 PSS Sleman pada tahun 2018 selama semusim.

Niatnya untuk mengakhiri karir dan pensiun dengan mengenakan seragam kebanggaannya di Stadion Mattoanging memang tidak terwujud. Namun, pendukung PSM dan pencinta sepakbola Indonesia akan selalu mengenangnya sebagai salah satu legenda PSM.

Comments (9)

  1. Sallah satu hal paling mnuedihkan ini. Waktu syamsul c memutuskan gantung sepatu, padahal beliau salah satu ikon di Psm makassar

  2. Satu lagi sosok legendaris PSM yang bisa saya kenal sedikit perjalanannya selain Rammang dan itupun lagi-lagi setelah membaca postingan oppa lebug yang telah berganti akun WA menjadi @lelakibugis ini, hehe…

  3. Deh luar biasanya kak jalan kaki dari limbung sampe karebosi. Saya saja yg naik motor merasa sangat jauh. Salut sama sosok legendaris PSM ini kak.

  4. Dokumentasi yang padat tapi enak dibaca, makasih daeng lebug, saya bukan penggemar bola tapi membaca sedikit ulasan ini bisa memberi gambaran akan perjuangan seorang Syamsul Chaeruddin, dari catatan-catatan seperti ini bisa lanjut ke biografi yang lebih jauh mengenai sosok Syamsul Chaeruddin. Tabe 🙂

  5. Wow, jalan kaki dari Limbug ke Lapagan Karebosi? Ada mungkin 30 – 40 km, ya?
    Itu karikaturnya di atas, koq mirip penyanyi yang namanya Charly Van Houten, ya? Miripkah memang?

  6. Ulasan perjalanan kair menarik seorang Syamsul Chaeruddin. Beliau telah membuktikan konsistensi dan kesetiaan pada PSM. Pada akhirnya setiap orang akan memilih jalannya masing-masing. Semoga Syamsul tetap menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya.

  7. Syamsul Chaeruddin pernah beberapa kali dengar teman2 cowokku bahas. Tapi tidak begitu paham. Keinginan sederhanaku dari dulu adalah nonton psm di stadion karena belum pernah kodong ;(

  8. Ewako PSM..!!
    .
    .
    Dimana pun warga Sulsel berada mari kita sama-sama dukung tim sepak Bola kebanggaan kita..

    Tapi sedih banget dengar berita Syamsul gantung sepatu..Padahal beliau adalah salah satu pemain di squad PSM yang bisa diandalkan..

  9. Hmm.. bingungka diakhir. Jadi ini sebenarnya sudah pensiun apa belum? Jadi nda mainmi di PSM tapi masih tetap bermain sepak bola begitu? hahaha. bingungka

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.