Serampai

Stiker, Be Happy !

Kali ini saya ingin memulai cerita dengan sebuah stiker. Awal masa kuliah, semester pertama kami dibagikan sebuah stiker. Tentu saja tidak gratis, seingat saya harga stiker itu Rp.1.500 per lembar. Sebagai mahasiswa baru, saya dan teman-teman tentu saja tak berani menolak.

Stiker itu berlatar hitam dengan gambar abstrak menyerupai lingkaran manusia yang saling berpegangan tangan. Tercetak: “Many Voices One Message, Peace” di lingkaran atas, dan, “English Department Brotherhood” di lingkaran  bawah.

Stiker itu tak berusia lama. Memasuki bulan ketiga masa kuliah, stiker itu hilang. Raib, entah kemana. Sedih, tentu saja. Ada rasa bangga memiliki stiker itu. Saat itu, status sebagai mahasiswa sebuah universitas, yang konon, terbesar di Indonesia Timur, masih melingkupi perasaan. Saking bangganya, saya memasang stiker itu di kap depan motor Yamaha Fiz R kopling kesayangan. Dan stiker itu hilang! Yap, stiker itu hilang bersama motor kesayangan.

Stiker dan motor itu di parkiran kampus hilang setelah dipinjam seorang teman mengantar proposal kegiatan. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengabarkannya pada ibu melalui telepon koin yang terletak di rektorat. “Yah sudah, sabar saja nak.. berarti mulai besok kamu ke kampus naik pete-pete” hiburnya. Saya tahu, kesedihan Ibu melampaui apa yang saya rasa.

Saya masih ingat waktu raibnya motor itu, antara pukul 10 – 11.00 siang. Di bawah rimbun pepohonan kampus yang menghalau terik, saya menyusuri boulevard pintu masuk – keluar kampus. Saya tak sendiri, saya bersama seorang perempuan yang saya taksir. Menemaninya menunggu pete-pete. Matahari tepat di atas kepala saat itu. Dan, kami jadian!

Sesaat setelah perempuan yang baru saja resmi saya pacari berlalu dibawa pete-pete, saya membawa kabar ‘jadian’nya kami pada teman-teman. Mereka tentu saja heran, masih belum hilang rasa sedih, bersalah, panik dan beragam rasa mereka akan hilangnya motor saya itu, saya malah datang dengan kabar ‘jadian’. “Kau gila? motormu baru saja hilang kau masih sempat-sempatnya jadian,” tanya seorang teman.

Saya gila? Tentu saja tidak. Seperti yang saya katakan pada teman itu; “saya sudah kehilangan motor, apa salahnya saya jadian? Saya sedih kehilangan stiker kebanggaan dan motor kesayangan, itu pasti. Tapi, tentu saja saya berhak bahagia..

Dan pilihan itu ada di depan mata. Hanya dalam rentang waktu tak lebih dari dua jam. Daripada terus larut dalam perasaan sedih, saya memilih tuk bahagia. Saya pun jadian, teman-teman terheran-heran.

Saya termasuk orang yang tak begitu membaca buku-buku how to be happy atau semacamnya. Juga lebih memilih kolom Samuel Mulia di Kompas Minggu dibanding acara semacam Golden Ways – nya Mario Teguh yang mengajari orang-orang bagaimana cara mencapai kebahagiaan. Saya meyakini apa kata Aristotle,”knowing yourself is the beginning of all wisdom.”

Semua individu pasti punya kebijaksanaan yang lahir dari endapan pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya. Hanya saja terkadang kita mengabaikannya. Para penulis dan buku-buku ‘petunjuk menuju kebahagiaan’ mampu melihat itu, merangkum pengalaman pribadi atau orang lain kemudian menuliskannya.

Endapan pengalaman dan kekayaan pengetahuan pun banyak kita temui jika mau meluangkan waktu membaca karya-karya sastra, -baik cerpen maupun novel- biografi, lagu ataupun melalui film. Luangkan lebih banyak waktu untuk menelisik kejadian, dialog dan konflik para tokoh didalamnya. Niscaya akan menambah kekayaan batin yang bisa kita jadikan bekal jika menghadapi hal serupa.

Satu hal yang saya dapatkan dari pembacaan selama ini, ditambah dengan pengalaman pribadi, adalah selalu berpikir positif dalam menghadapi hidup. Apapun terjadi, hadapi dengan pikiran positif dan senyuman. Dengan pikiran positi dan senyuman, apapun tak akan melukai kita terlalu dalam. Sesungguhnya, bukan ‘pukulan’ yang menyebabkan luka. Bagaimana kita merespon ‘pukulan’ itulah yang membuat kita merasa terluka.

Hal di atas sering saya katakan pada teman yang datang curhat, apapun masalahnya. Terlebih dahulu belajarlah ikhlas. Apapun yang terjadi, relakan. Lalu, ambil segala indah dibaliknya. Kembali pada kehilangan stiker di atas, saya bisa saja larut pada rasa sedih kehilangan motor dan membiarkan cewek yang saya taksir pulang sendiri. Yang akan terjadi adalah saya kehilangan motor, pacar pun tak dapat.

Kehilangan motor itu pula yang saya yakini menjadi titik balik hidup saya. Andai saya tak kehilangan motor, saya tak akan menjadi seperti saya sekarang ini. Saya akan tetap berada dalam lingkungan pergaulan yang sama. Kemungkinan besar saya akan menghabiskan hidup hanya untuk mencari uang lalu menghabiskannya di tempat-tempat hiburan. Mungkin pula saya akan berakhir di panti rehabilitasi atau mati overdosis seperti beberapa teman.

Diskusi-diskusi malam hari, mengelola kegiatan-kegiatan, baca-baca puisi dan begitu banyak pelajaran hidup di kampus tentu akan menjadi hal yang mewah. Nama-nama seperti Soe Hok Gie, Bob Dylan, Komunitas Ininnawa, KampungBuku, Tanahindie, KUMUH pastilah akan terasa asing. Kehilangan motor ‘memaksa’ saya menjalani kehidupan kampus dan aktifisme dengan segala tetek bengek secara khusyuk dan hidmat. Segala pelajaran yang saya petik, menjadikan saya seperti sekarang.

baca juga:
Keripik Pisang dan Kita
Lelaki dan Kenari


Satu dua teman pernah datang pada saya dengan wajah kusut dan kalut. Mereka bercerita karena pacarnya hamil dan bingung tak tahu mau berbuat apa. Yang pertama saya lakukan pada mereka adalah memberi ucapan selamat. Selamat?

Yah.. Selamat, kehamilan pacar mereka membuktikan bahwa mereka tidak mandul atau impoten. Dan, mereka langsung tersenyum. Ketika mereka tersenyum, akan lebih mudah untuk memaparkan pilihan-pilihan tindakan yang bisa mereka ambil. Tentu saja dengan segala konsekuensinya. Senyuman bisa membuat mereka berpikir lebih jernih sebelum mengambil tindakan.

Sebisa mungkin, saya menghadapi segala sesuatu dengan senyuman. Toh segala sesuatu menyembunyikan keindahannya masing-masing. Berpikir positif, senyum, be happy!

Comments (22)

  1. Aih aih… nice post kakak. owwww jadi gara2 motor hilang hikmahnya dapat pacar di, mantap!

    Omong2 tentang samuel mulya, sy juga suka doi… tapi kehilangan jejak soalnya sy bukan pembaca kompas. sy cari2 situs pribadinya nd nemu, padahal sy suka gaya diaaaaa!

  2. Cyaam..

    Andai tak kehilangan motor, mungkin saya tak akan mengenal perempuan jurusan akuntansi 04 unhas itu..
    😀

  3. ato jgn sampe diterimaq jadi pacarnya karena kasihanji hilang motorta’ daeng :p

    piss

    begitulah hidup kadang berjalan tdk sesuai kehendak, tapi tetap selalu ada hikmah di belakangnya…

    kemarin sj hilang helmku, kira2 apa hikmahnya ya nnti? :p

  4. Aduh.. Bemana dii?.. Bingung ka baca tulisan ini.
    Mengandung curhat dan motivasi!
    Serasa baca puisi Dilan dan Rangga secara bersamaan. Hmm… 😐

    Tapi 1 ji intinya :
    Bahagia itu kita yang ciptakan!

  5. luar biasa memang, motivatorku saya ini!

    memang strategi menarik ini menembak cewek saat kita susah. karena rasanya nda mungkin si cewek tega membuat kita susah dua kali dalam rentang beberapa jam

  6. Motor hilang ga papa yang penting kebahagiaan ga hilang hahajaha

  7. Ngakak🤣 namun di sisi lain juga terinspirasi dan termotivasi. Jujur kak, saya orangnya susah berbahagia karena lebih sering terpuruk bila badai menghadang. Dan setelah membaca tulisan ta akhirnya terbuka mata dan pikiranku bahwa setelah badai pasti akan ada matahari. Terima kasih kak!😊

  8. Entah ini motivasi dari mana tapi jujur kalo saya membaca tulisan sambil tersenyum dari awal hingga akhir. Saya juga menyenangi tulisan Samuel Mulya di Kompas Minggu dan entah kenapa saya merasa tulisan ini sama bernasnya dengan tulisan ini. Ah Kak Lebug…. You are my idol…

  9. Awalnya mengira kalau motornya akan ditemukan kembali kak Hehehe tapi ternyata yang kk dapatkan kembali lebihki dari sekadar motor dan stiker. Masih ingat, dulu ada yang pernah bilang kesaya : Setiap “gain” yang kita dapatkan, harus dibayar dengan “pain” yang dalam. Dan hal itu juga terjadi sm kita, “pain”nya harus kehilangan motor dan stiker kesayangan tapi “gain” yg kita dapatkan setelah itu lebih.

    Terimakasih atas ceritanya kak!

  10. Awalnya mengira kalau motornya akan ditemukan kembali kak Hehehe tapi ternyata yang kk dapatkan kembali lebihki dari sekadar motor dan stiker. Masih ingat, dulu ada yang pernah bilang kesaya : Setiap “gain” yang kita dapatkan, harus dibayar dengan “pain” yang dalam. Dan hal itu juga terjadi sm kita, “pain”nya harus kehilangan motor dan stiker kesayangan tapi “gain” yg kita dapatkan setelah itu lebih.

    Terimakasih atas ceritanya Kak..

  11. Waah luar biasa ibu ta’, beliau tidak marah ke kita’?
    Saya harus belajar dari beliau tentang ini. Pasti sedikit-banyaknya ada peran beliau dari cara ta’ hadapi kehidupan.
    Btw, rasanya kayak putus, bagaimana kehilangan motor membawa kita’ ke komunitas lain di luar kampus. Kayak nyambung kalo baca ini tapi saya ndak lihat pi di mana nyambungnya. Bikin lagi satu tulisan ya. Atau cerita lagi tentang bagaimana ibu ta’menghadapi kehilangan dalam hidup? Masih mau ka’belajar dari cerita ttg beliau.

  12. Betul juga ini, dari pada hilang motor pacar nda dapat mending menyet saja😄😄
    Postingannya memotivasi sekali kak walaupun bukan penganutnya om Golden Ways.

  13. Hahaha serasa nonton film FTV baca ini 😁 ngomong soal Stiker masa kuliah saya jadi teringat pas masuk maba di tahun sekian2, disodorin Stiker dan harus dibeli, kk mhs yang sodorin sticker gondrong, merasa takut gk beli sticker terpaksa deh, 😂

  14. Sabarnya ibu ta kak, kalau saya jadi ibu ta saya suruh dulu pi cari baru saya tanya-tanyai temanta yang kasih hilang itu stiker sama motorta XD. Tapi itu dulu, sekarang ndak mi asal jangan Tupperware ku yang hilang…

  15. Sikap tenangnya kk Lebug dalam menghadapi masalah (dalam hal ini kehilangan motor) sepertinya turun dari macea di’.

    Saya beberapa kali dulu kehilangan hp, sepertinya lebih banyak panik dibanding tenangnya. Sudah capek dipikirkan bagaimana bisa hilang, ndak kembali ji juga itu hp. Belakanganpi baru diikhlaskan. Wkwkkwk.

    Hmm..yayaya..jadi memang segala sesuatunya itu harus dihadapi dengan pikiran yang jernih. Setidaknya tenang dulu. Siapa tahu ada sesuatu yang indah di baliknya. Macam kasus stiker eh motor hilang ini hahahha.

  16. Salut Oppa 😊. Kalau saya beda lagi, kalau mood sudah tidak bagus dak bisa mi dikasi ceria kecuali pergi tidur dulu, bangun pi baru bisa berpikir jernih dan dibawa lucu semuanya. Atau ditraktir makan enak #ehh 🤣
    Kalau sedih juga saya lebih lega kalau sudan nangis keluarkan semuanya. Yang masalah kalau ditempat umum, gengsika menangis dilihat orang 😐, jadi kutahan mi sedihku dan itu jauh lebih nyesek hahaha…
    Jadi intinya mari memilih bahagia 😁

  17. Happiness is created, not given. Itu yang saya percaya. Ya meskipun kadang-kadang susah, tapi saya rasa itu manusiawi, asal jangan berlarut-larut dalam kesusahan. Btw, lalu si pacar itu apakabar? 😁

  18. Belajar ikhlas, lalu relakan. Ilmu yang sulit sekali hiks. Apalagi bagi orang susah move on, Masa lalu pahit saja terkadang susah untuk diikhlaskan dan direlakan

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.