Semua Tentang Sudut Pandang

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganTips Menulis

Semua Tentang Sudut Pandang

Coba perhatikan gambar di atas? Mana yang benar; 6 (enam) atau 9 (sembilan)? Yup, semuanya benar. Tergantung dari sisi mana kamu melihatnya. Ini semua tentang sudut pandang.

Ilustrasi di atas sering saya gunakan saat berbagi materi kepenulisan, utamanya tentang sudut pandang. Sudut pandang dalam menulis sangat penting untuk menempatkan posisi penulis dalam tulisan. Sudut pandang menentukan bagaimana penulis menyusun dan mengembangkan argument dan bukti pendukung dalam menyikapi suatu peristiwa, masalah atau sebuah fenomena yang sedang terjadi.

Saat orang ramai-ramai merisak Sonya Depari, misalnya. Saya mencoba melihat dari sisi berbeda dengan orang kebanyakan. Hasilnya? Saya memilih untuk berdiri di posisi lain. Bagi saya, Sonya memang bersalah tapi ia juga korban dari kita yang sok benar sendiri. Bukankah Sonya merupakan cerminan dari kehidupan kita sehari-hari? Selengkapnya baca di Sonya Depari: Cermin Diri Kita Sehari-Hari

Kembali ke gambar. Orang yang berada pada sisi yang satu melihat ini adalah angka 6 (enam), sisi sebaliknya memandangnya sebagai 9 (sembilan). Lalu mana yang benar? Tergantung.

Tergantung teman-teman mau ikut memandang dari sisi mana: kalau dari sisi kiri berarti akan melihatnya sebagai 6 (enam) dan akan ikut mendukung yang mengatakan hal yang sama, begitu pun sebaliknya. Bisa jadi yang 6 (enam) benar, bisa jadi malah yang 9 (sembilan) yang benar. Semuanya benar. Yang salah adalah yang merasa benar sendiri. Tak ada kebenaran mutlak. Kebenaran yang kita yakini tergantung dari posisi kita.

Bagaimana kalau yang meyakini 6 (enam) dan 9 (sembilan) sama-sama ngotot mempertahankan kebenaran yang mereka yakini? Kita sudah tahu sama tahu apa yang terjadi. Kedua pihak akan sibuk mengeluarkan argumen masing-masing sambil menyerang pihak sebelah. Serang-menyerang akan terjadi. Timbullah perpecahan.

Bukankah hal serupa sudah terjadi dan sering kita jumpai di media sosial seperti facebook? Hampir setiap hari kita menyaksikan perdebatan di newsfeed facebook kita. Sebut saja kasus ‘penistaan agama’ oleh Ahok, misalnya. Para pembenci Ahok mati-matian menuntut agar calon petahana dalam Pilgub DKI itu dinyatakan bersalah dan dipenjarakan. Sebaliknya, para pendukungnya setengah mati membela dan menyatakan dia tak bersalah. Semuanya dengan argument masing-masing. Semuanya ngotot. Sama saja.

Begitu pun pada kasus-kasus lain seperti kasus Syiah, Ahmadiyah dan lain-lain. Parahnya, orang-orang tak lagi sungkan untuk saling melemparkan fitnah. Pun, mengkafirkan saudara sendiri menjadi sesuatu yang sangat mudah. Semudah menekan tombol pada ponsel cerdas. Semua merasa punya hak menjadi pemegang kebenaran mutlak. Padahal, semuanya hanya tentang sudut pandang.

Dalam menulis, sudut pandang akan jadi pembeda tulisan kita dari tulisan yang membahas tema yang sama kita tuliskan. Sudut pandang ini penting dan bila mampu kita tuliskan dengan baik bisa menjadikan tulisan kita menarik dan berkualitas.

Lebih lengkap soal bagaimana tips menulis bisa kalian baca di Tips Menulis Bagi Pemula atau di Cara Menulis Kreatif di Blog

Tentang Sudut Pandang Dalam Tulisan,
Baca di Menulis Kreatif di Blog Sini

Kalau kita mau sedikit membuka pikiran dan meluangkan waktu untuk melihat dari sisi berbeda dari apa yang kita yakini, mau mendengar atau membaca berita dari sisi lain yang kita percayai, niscaya kita bisa memahami apa yang orang lain yakini juga sebagai kebenaran. Memahami bukan berarti secara otomatis menjadi bagian dari mereka. Tak perlu takut memahami dan menerima kebenaran versi lain.

Cukup memberi ruang pada pikiran kita bahwa selain kebenaran yang kita yakini, ada kebenaran yang berbeda milik saudara-saudara kita yang lain. Dengan begini, kita tidak akan mudah dibenturkan satu sama lain oleh ‘invisible hand’ yang kita tak tahu apa kepentingannya. Kita tak akan lagi gampang saling membenci dan saling menyerang saudara, kerabat dan kawan sendiri.

Semuanya hanya tentang sudut pandang.

Coba perhatikan foto ini baik-baik selama 15 detik. Apa yang kamu lihat?
Coba perhatikan foto ini baik-baik selama 15 detik. Apa yang kamu lihat?

Sudah bisa menangkap bagaimana melihat sudut pandang? Sekarang tak ada salahnya mencoba menulis dengan menggunakan sudut pandangmu sendiri.

Sudah punya ide tapi bingung bagaimana mengembangkan ide itu? Bisa coba metode Mind Mapping Dalam Menulis dan Contoh Penggunaannya.

Comments (8)

  1. bagaimana cara mengolah sebuah sudut pandang.?
    kadang saya jika menulis hanya mentok di maksimal 300an kata. nggak tau harus tulis apa lagi.

  2. Sudut pandang itu juga tergantung pikiran kita. Kalo negatif ya pasti sudut pandang kita dari hal yang negatif.

  3. Sudut pandang memang menjadi sangat menarik untuk ditelaah sebab itu yang kemudian muncul sebagai ciri khas dan pembeda dengan yang lainnya.

  4. Dalam membuat tulisan saya terkadang masih sering kesulitan untuk memilih sudut pandang yang pas, misalnya dalam merangkai cerita fiksi seperti cerpen.
    kebingungan yang sama bahkan saya temukan juga dalam kehidupan hehe…

  5. Sudut pandang ini gampang2 susah.
    Gampang kalau kita memang berniat mencari sudut pandang berbeda dari sebuah peristiwa atau sebuah kegiatan.

    Tapi jadi sulit ketika kita memang tidak mau melihat sudut panda yang berbeda.

  6. Saya juga heran, masiha da org2 di sekitar saya yang merasa ‘paling benar’, mengklaim apa yang mereka yakini itu mutalk sdh benar, apalgi jika sudah mengeluarkan dalil2. Tak jarang mengkafirkan yang lain, giliran diajak ngobrol katanya diajak debat. Tulisan ini mudah2an membuka perspektif kita.

    Btw lihat gambar terakhir merasa jleb banget.

  7. Sama dengan melihat “angka 6”. Ketika orang lain berdiri di seberang kita, ia akan menganggap itu “angka 9”. Dan menyalahkan kita yang keukeuh dengan “angka 6”. Memang benar, tergantung dari sudut pandang mana kita melihat sesuatu..

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.