Serampai

Sebuah Nama Dan Idola Dalam Plang Salon

Semasa kecil saya tak begitu menyukai nama saya. tak keren, begitu anggap saya. Lalu apa jadinya ketika saya menjumpai nama yang tak keren itu menjadi sebuah nama salon?

Sekarang, meski tak lagi memiliki keinginan itu tetap saja saya beranggapan bahwa nama saya tak memiliki nilai jual. apalagi bila dipakai sebagai brand, tentu sangat tidak menjual bila nama itu dipakai sebagai sebuah merek produk atau nama tempat.

Saya selalu memperkenalkan diri dengan nama panggilan, terasa lebih nyaman dibanding nama lengkap. Hanya sesekali saya menyebutkan nama lengkap dengan tambahan nama ayah di belakang, bahkan di ajang formal sekalipun. Saya hanya menyebutkan atau menuliskan nama lengkap saya di lembaran yang menuntut pencantumannya.Tak heran saya kadang tak segera menoleh bila ada yang memanggil nama lengkap saya. Sejak ayah meninggal, sangat jarang ada yang memanggil dengan memakai nama itu. Semua keluarga, teman dan rekan kerja memanggil dengan nama panggilan saya.

Setahun lalu saya dikagetkan dengan pemakaian nama lengkap (sekali lagi, tanpa nama ayah di belakang) saya sebagai sebuah salon. Awalnya saya tak memperhatikan nama salon itu. Saya sekadar melihat plang nama salon yang memakai gambar sepotong wajah yang memperlihatkan satu mata dan poni seorang perempuan. Saya sangat mengenali gambar yang begitu intim di mata dan kepala. Versi lengkap gambar itu dulu terpajang di kamar saya. Perempuan itu adalah Natalie Imbruglia, idola semasa sma.

Tentu sebuah kebetulan yang sangat indah mendapati nama sendiri, -yang tidak layak jual- terpajang di sebuah plang bergambar idola masa remaja dan menjadi nama sebuah salon. Senangnya lagi, di depan nama itu ditambahi dengan β€˜La’ yang umum dipakai oleh lelaki-lelaki di tanah Bugis. Sejak saat itu, saya selalu ingin memotret plang salon itu.

Keinginan untuk memotretnya baru terkabul seminggu lalu. Saya mengajak perempuan bermata hujan ke salon itu. Hanya satu yang saya inginkan saat itu, mengambil gambar dan berbincang dengan pemiliknya. tak pernah terpikir untuk hal lain.

Saya sendiri sangat jarang memangkas rambut di salon. Untuk urusan rambut saya lebih percaya pada gunting rambut langganan keluarga. Bukannya tak pernah ke salon, hanya saya selalu tak puas dengan pelayanan salon; model rambut tak sesuai, pegawai salon yang menyebalkanlah, bahkan saya pernah merasakan gatal di kepala selama seminggu sehabis cuci rambut di salah satu salon ternama.

Singkatnya, soal pangkas rambut hanya pangkas rambut Madura yang bisa mengerti keinginan saya.

pikiran saya berubah ketika sampai di salon itu, saya mengiyakan ketika ditawari oleh si pemilik salon. Saya akhirnya malah memangkas rambut, si pemilik salon itu sendiri yang mengerjakannya. Kesempatan itu saya gunakan untuk menuntaskan rasa penasaran yang tersimpan selama setahun lebih.

Ternyata, nama salon itu diambil dari nama pemiliknya. Berarti kami memiliki nama yang sama. Tentu saja saya juga menanyakan soal plang itu. si pemilik salon ternyata tak mengetahui siapa gambar di plang salonnya sendiri. Plang itu dia pesan pada seorang teman tanpa tahu gambar siapa yang dipakai.

Β 

Keingintahuan yang tuntas, plus model rambut dan pelayanan yang memuaskan tentu adalah sebuah hal menyenangkan. Satu lagi, salon yang memakai nama yang saya pikir tak layak jual itu kini menempati lokasi baru. Tak jauh dari tempat dimana saya melihat plang itu setahun lalu. bedanya, dulu mereka hanya menyewa, kini lokasi yang ditempati salon ini dibeli oleh si pemilik salon dengan harga ratusan juta. Sebuah pertanda bahwa ia berhasil mengembangkan salon meski dengan nama yang – sekali lagi menurut saya- tidak layak jual.

Sedari tadi saya menuliskan tentang nama dan idola saya dalam sebuah salon. Tak lengkap rasanya bila saya tak memasukkan gambar plang salon itu. Plang salon itu akan menampakkan nama salon yang merupakan nama pemiliknya dan tentu saja nama saya. Juga sebuah gambar lain yang menunjukkan pelayanan salon itu.

La Mansyur, pemilik salon

Comments (8)

  1. aiihh bkin penasaran sj.. mau liat gambar Natalie Imbruglia pake nama La Mansyur Salon πŸ˜€ πŸ˜€

  2. salon Mansyur Rahim ?
    wow…kayaknya ndak cocok, tapi ternyata sukses ya ?
    hihihi

    • La Mansyur Salon kk..
      ndak pake nama belakang.. ini sebenarnya tulisan lama tapi ndak sempat terposting. tulisan ini pernah dimuat di Koran OK terbitan Ruang Rupa. Sayang kouta blog ini tak mencukupi lagi jadi ndak bisa pasang fotonya πŸ˜€

  3. Aku malah mengganti namaku karena setelah melihat nama salon di Jalan Mappaodang, tidak jauh dari STIEM Bungaya, Nama asliku adalah Haerul, dan salon itu bernama Haerul Salon, Alasan menggantinya dengan Daeng Oprek karena penghuni teman2 sering mengatakan, Kamu laki-laki khan?, *busyet, dikiranya aku apa……*, dan kini lebih baik aku ganti saja deh, mencoba brand baru, kalau nanti tidak bisa menjual dan memang sial, yahh…akan kembali menjadi nama Haerul Said. :D, dan semoga arwah papa di sana tidak kecewa kalau namaku untuk sementara berganti, ini khan hanya Brand, mau dagang dong. πŸ˜€

  4. Lalu, mana foto plang salon itu, bang? Kan kita jadi penasaran inih hihihih ;)) Sebuah Nama, Sebuah Cerita ya, bang? πŸ˜€

  5. mengapa tak kau ajak diriku ke salon itu??? pasti pemilik salon akan kaget .. melihat sepotong wajah pada plangnya sangat mirip denganku … !
    πŸ˜€

  6. suatu penghargaan buat diri sendiri disebut narsis, tapi narsis kadang diperlukan, jika tak ingin tergilas oleh ruang dimana kita tidak sempat menjadi objek.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.