Catatan Ringan

Saya Benci Papie Ipul! Bukan Kisah Oh Mama Oh Papa

Saya Benci Papie Ipul

Saya benci Papie Ipul! Sungguh. Baru kali ini saya membenci orang dan membuat saya selalu kepikiran pada orang itu dan apa-apa yang pernah dan telah dia lakukan.

Papie Ipul yang saya maksud di sini bukanlah Papie Ipul yang bernama Syaipul Jamil. Saya tidak kenal Papie Ipul yang artis ini selain dari layar kaca yang dulu rajin mengumbar gosipnya.  Saya benci Papie Ipul yang bernama lengkap Syaifullah Daeng Gassing.

Loh bukannya itu Daeng Ipul yang blogger Makassar itu? Bukannya kalian justru dekat?  Saya yakin ada di antara kalian yang bertanya seperti ini.

Benar. Saya dan Daeng Ipul memang dekat. Tapi karena kedekatan itulah saya memendam kebencian padanya. Setidaknya saya bisa menuliskan beberapa alasan kenapa saya benci Papie Ipul ini.

Saya benci Papie Ipul karena dia pernah menuliskan review tentang blog lelakibugis.

Bertahun lampau, tepatnya tahun 2015 dia pernah menuliskan review tentang blog lelakibugis  ini. Dalam tulisannya itu dia menuliskan seperti ini:

Blog Lelakibugis.net ini adalah blog baru, pengganti blog lamanya Lelakibugis.com yang sudah almarhum karena tak terurus. Dulu saya mengenalnya sebagai seorang penulis yang baik, kami pernah sama-sama terhimpun dalam sebuah kumpulan citizen reporter bernama Panyingkul. Bedanya, saya waktu itu seorang penulis pemula yang sama sekali belum punya kemampuan apa-apa sementara dia sudah menjadi seorang penulis yang baik karena sebelumnya tergabung dalam sebuah komunitas literasi.

Di paragraf ini dia memuji, tapi tunggu dulu..

Ia juga menulis begini: Blog barunya mulai rajin diisi meski terus terang saya melihat ada kualitas yang agak menurun dibanding tulisan lamanya.

Dan, kalimat terakhir itu terus menghantui saya hingga kini. Sampai sekarang saya merasa tak bisa kembali menulis sebaik dulu. Andai Papie Ipul, -belakangan di sebuah grup ia menyebut dirinya Papie Ipul,- tak pernah menulis kalimat di atas itu, saya mungkin tak perlu gelisah dan terus mencoba mengembalikan kemampuan menulis saya.

Belum lagi, dalam tulisan berjudul Membuka Aib Lelaki Bugis dia juga membuka aib yang lain. Kan malu…

Saya benci Papie Ipul karena dia konsisten menulis.

Sudahlah dia bilangi saya seperti di atas, eh dia malah menunjukkan hal sebaliknya. Papie Ipul mampu menulis dengan konsisten. Setidaknya, dalam seminggu ada satu tulisan baru yang muncul di laman blognya.

Sementara saya dalam dua tahun terakhirnya misalnya hanya mampu memasukkan rata-rata satu tulisan baru ke dalam blog setiap bulannya. Dalam grup bloglist yang kami ikuti, Papie Ipul rutin mengikutkan tulisan barunya. Saya? Pusing memilih tulisan lama untuk saya angkat kembali.

Saya benci Papie Ipul karena produktif mengisi blog

Sebenarnya alasan ini sama dengan alasan di atas sebelumnya. Konsisten menulis tentulah saja meningkatkan produktifitas. Mari kita berhitung. Ada 1532 postingan sejak Desember 2007 hingga Januari 2019 atau 1532 tulisan selama 131 bulan. Berarti rata-rata per bulan ada 11.7 postingan.  Tidak percaya? Hitung saja sendiri!

tampilan header blog daenggassing.com

Tulisan sebanyak itu secara umum terbagi ke dalam 4 kategori dan 10 sub- kategori. Pada menu blog-nya terdapat kategori Opini atau Cerita Ringan; berisi isi pikiran, review dan ulasan dan cerita sepakbola, lalu ada kategori Kota yang membahas Makassar dan Dinamika Kota, lalu kategori Travel yang mengulas Budaya, Catatan Perjalanan dan Travel Video, juga ada kategori Internet yang berisi ulasan Media Sosial dan Tips Blogging.

Sungguh saya iri padanya karenanya ini. Saya sendiri hanya mampu menghasilkan 626 postingan sejak November 2004 (yang ada di blog ini, blog sebelumnya tak masuk) hingga kini.

Saya benci Papie Ipul karena dia ke Papua.

Satu lagi alasan kenapa saya benci Papie Ipul. Iya, karena dia ke Papua sementara saya tidak. Dia ke Papua untuk bekerja. Saya tak bisa ke Papua juga karena alasan pekerjaan. Dengan ke Papua, mantan ketua komunitas blogger Makassar Anging Mammiri ini jadi memiliki kesempatan untuk menyusuri pelosok Papua. Juga, menyelami keindahan bentangan alam dan keramahan orang Papua.

Bertugas di Papua membuat Papie Ipul makin produktif menulis. Catatan perjalanan selama Papua, baik itu tentang bagaimana kondisi alam mau pun tangkapan tentang budaya dan keunikan orang Papua berserakan dalam blog-nya. Bila tulisan-tulisan itu dikumpulkan jadi buku maka makin lengkaplah sudah.

Saya benci Papie Ipul karena saya tak bisa seperti dia.

Semua alasan di atas juga membuat saya menjadikan dia sebagai blogger Makassar favorit #1. Selengkapnya baca di 5 Blogger Makassar Favorit

Saya benci dia, tepatnya benci diri sendiri sih, karena tak bisa seperti dia. Tak bisa konsisten dan produktif dalam menulis dan mengisi blog. Juga belum mampu mengembalikan kualitas tulisan seperti dulu lagi.

Bahkan, untuk membuat judul pun saya mengadopsi judul yang pernah ia pakai. Tulisan yang sempat viral dan membuat blognya susah diakses itu berjudul Saya Benci Ridwan Kamil. Silakan cari sendiri di daenggassing.com

Saya benci Papie Ipul karena membuat saya membenci diri sendiri. Itu sudah!

Bonus foto yah..

saya benci Papie Ipul tapi bohong....
saya benci Papie Ipul tapi bohong….

*tulisan ini adalah tulisan kedua dari #bakucarita, di mana saya akan mengulas beberapa blog dan blogger Makassar.

Comments (8)

  1. Saya benci kalian berdua!

    Benci sama yang ditulis pembeci sekaligus benci sama penulisnya.

    BENCI = Benaran Cinta

    Terus berkarya untuk Indonesia.

  2. Benci tapi mesra..hehe bisa jadi rindu juga nih oppa sama daeng Ipul..

    So sweetnya fotonya oppa dengan daeng ipul..

  3. Aduh kalau begitu saya benci kita berdua! Kenapa tetap eksis ngeblog?! Kenapa tulisannya selalu keren?! Kenapa saya dak bisa seperti itu?! Benciku deh, hahaha… Bonus fotonya uwuwuw sekali Oppa, bagus dijadikan foto profil.

  4. Akurnya tawwa, bahagia selalu ya kakaaak.. #ups

  5. Waduh, segitunya Papie Ipul yah. Pantas dia menjadi hantu eh menghantui Oppa

  6. Masya Allah.. Persahabatan bagai kedondong yaa, mengubah ulat menjadi ular. Seperti foto di atas, hahaa…

    Dan inilah cara membenci yang positif. Membenci untuk mencambuk diri sendiri biar bisa menyamai orang yang lebih sukses.

  7. Ya Allah..penutup postingannya. Kenapa itu pelukan romantis sekali? Wkwkwk. Besok besok kalau Papie Ipul ke Papua, ikutmi saja Oppa. Supaya ndak gelisah begini ki’.

  8. kalian benar-benar sedekat itu ternyata :))

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.