BukuGaya Hidup

Satu Abad PSM Mengukir Sejarah, Buku Wajib Pecinta Pasukan Ramang

Buku Satu Abad PSM

PSM Makassar adalah klub tertua di Indonesia. Sudah satu abad lebih PSM mengukir sejarah dalam dunia sepakbola negeri ini. Buku Satu Abad PSM ini merangkum kisah manis dan pahit perjalanan PSM sejak berdiri hingga menjuarai Piala Indonesia 2018/2019.

Penulis: M. Dahlan Abu Bakar, A. Widya Syadzwina

Tahun terbit: 2020

Halaman: 722

ISBN: 978-623-92156-1-3

Harga: Rp200.000 (hard cover)

Penerbit: Fandom Indonesia

Merangkum perjalanan klub tertua di Indonesia yang telah berusia 100 tahun lebih ini tentu membutuhkan banyak halaman. Tentu saja wajar jika buku Satu Abad PSM ini lumayan tebal, 722 hal (xxvi + 694). Ada banyak kisah dan nama yang harus tertoreh di dalamnya.

Buku ini ditulis oleh Dahlan Abubakar, seorang jurnalis senior cum akademisi, bersama A. Widya Syadzwina, seorang perempuan pecinta bola yang pernah terlibat dalam manajemen PSM selama beberapa tahun sebagai Media Officer PSM.

Sebagai jurnalis, Dahlan Abubakar memiliki keterikatan yang panjang dengan PSM Makassar.  Selain menyaksikan dan meliput langsung pertandingan-pertandingan PSM, Dahlan juga menyusun buku Ramang Macan Bola, sebuah buku tentang legenda PSM dan Indonesia: Ramang pada tahun 2011.

Buku Ramang Macan Bola ini pula yang memicu Dahlan untuk menyusun buku yang lebih lengkap tentang PSM. Sebagian data yang ada di dalam buku  Ramang Macan Bola tersebut kemudian ia kembangkan mengisi buku Satu Abad PSM ini.

Dahlan lalu mengajak Wina, panggilan akrab A. Widya Syadzwina, untuk bekerja bersama menyusun buku ini. Pertemuan mereka difasilitasi Rully Habibie, mantan CEO PSM. Keduanya pun berbagi tugas. Dahlan mengerjakan 17 bab pertama dari 22 bab yang dibuat,  Wina mengerjakan 5 bab terakhir. Proses penyusunan buku ini membutuhkan waktu hampir setahun.

Dahlan Abubakar (memakai topi) dan Andi Widya Syadzwina, dua penulis buku Satu Abad PSM Mengukir Sejarah mengapit Daeng Ewink, Ketua Komunitas VIP Selatan, salah satu kelompok suporter PSM.

“Sebagai anak Makassar, pilihan saya cuma satu. Mendukung PSM sebagai klub kebanggaan dan memberi kontribusi sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Saya hanya ingin menjaga agar sejarah PSM tercatat dengan rapih” tulis Wina, melalui akun twitter @widyasyadzwina miliknya.

Sumber rujukan buku ini selain buku Ramang Macan Bola, juga ada buku Syamsuddin Umar Bola Bundar yang ditulis Andy Pallawa. Sumber lain adalah data dan dokumen dari media cetak, utamanya Kompas.

“Mungkin sekitar 90%, bahkan lebih, data pertandingan PSM akan dapat pembaca temukan di dalam buku ini.”

Dahlan Abubakar.

Buku ini dibuka dengan Bab PSM dan Sejarah Sepakbola yang menceritakan kebiasaan suku Bugis dan Makassar memainkan sebuah permainan yang disebut ma’raga, yaitu permainan menggunakan bola yang terbuat dari rotan. Permainanan ma’raga ini melatih skill ball orang yang memainkannya. Ma’raga ini berkembang menjadi sepaktakraw atau dikenal juga sebagai sepakraga.

PSSI saat pertama kali terbentuk pada tanggal 19 April 1930 pun menggunakan nama awal Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia sebelum berubah menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia pada kongres pertama di Solo pada tahun yang sama.

Masa Kejayaan

Klub yang berdiri tahun 1915 ini telah menjadi bagian dari sejarah sepak bola di Indonesia sejak jaman Hindia Belanda. Lalu bergabung dengan PSSI dan resmi mengikuti semua agenda event yang digelar federasi sepakbola Indonesia tersebut.

Berusia satu abad lebih, tentu saja PSM memiliki beragam kisah kesuksesan yang mereka tuai.  Kesuksesan itu berupa prestasi yang mereka raih pada kejuaraan, liga dan kompetisi yang mereka ikuti. PSM menorehkan catatan prestasi dengan menjadi lima kali juara yaitu pada tahun 1955/57, 1957–59, 1964–65, 1965–66, (pada era ini masih bernama Kejuaraan Nasional PSSI),  1991–92 (Divisi Utama Perserikatan) dan sekali menjuara Divisi Utama Liga Indonesia pada 1999–2000.

PSM juga berhasil menjadi runner up sebanyak delapan kali dalam berbagai kompetisi, antara lain; 1951, 1959–61, 1964 (Kejuaraan Nasional PSSI), 1993–94 (Divisi Utama Perserikatan), 1995–96, 2001, 2003, 2004 Divisi Utama Liga Indonesia, dan 2018 (Liga 1). Terakhir, PSM berhasil menjadi kampiun pada Piala Indonesia 2019.

Masih banyak lagi prestasi yang PSM torehkan, baik itu dalam di dalam negeri mau pun luar negeri. Semua raihan itu tercatat dalam buku ini.

Legenda-Legenda PSM

Tidak hanya memiliki nama besar karena aksi-aksi pemainnya, PSM juga piawai menelurkan sekaligus mengasah bakat-bakat lokal sehingga jadi andalan di tim nasional Indonesia. Mulai dari Ramang, Ronny Pattinasarany, Syamsul Chaeruddin, hingga yang teraktual Asnawi Mangkualam.

Ramang

Sangat sulit memisahkan nama PSM dengan Ramang. Salah satu julukan PSM bahkan melekatkan nama legenda ini, Pasukan Ramang. Era keemasan PSM pada dedade 50 – 60an tak lepas dari andil Ramang. Pada saat menjuarai Kejuaraan Nasional Perserikatan PSSI pada tahun 1955/1957, gelar juara pertama tingkat nasional yang diraih PSM, Ramang menyumbang 14 gol dari 6 pertandingan saat babak 7 besar. Saat itu PSM membukukan lima kemenangan dan hanya sekali seri, dan tanpa kekalahan.

Ramang dalam pertandingan melawan Uni Soviet

Ramang bukan hanya milik PSM dan warga Makassar saja, tapi juga menjadi andalan timnas Indonesia pada jaman itu. Pada lawatan PSSI (timnas Indonesia, red.)  tahun 1954 ke berbagai negeri Asia; Filipina, Hongkong, Muangthai, dan juga negeri tetangga Malaysia, PSSI hampir menyapu seluruh pertandingan dengan kemenangan besar. Mencetak 25 gol dan hanya kemasukan 6 gol. Ramang sendiri mencetak 19 gol di antara seluruh gol yang berhasil diciptakan oleh timnya. Dua di antaranya dicetak melalui tendangan salto indah. Dalam lawatan luar negeri itu, Indonesia hanya kalah dari Republik Korea.

Berkat prestasi Ramang dan kawan-kawan, Indonesia masuk dalam hitungan kekuatan sepak bola di Asia. Satu demi satu kesebelasan Eropa mencoba kekuatan PSSI. Prestasi terbesar Ramang adalah mengantarkan tim nasional Indonesia ke Olimpiade 1956, dan nyaris ke Piala Dunia dua tahun berselang andai saja PSSI tidak mengundurkan diri karena harus berhadapan dengan tim Israel.

Lebih lengkap tentang Ramang bisa dibaca di Di Makassar, Ramang Masih dan Akan Terus Hidup

Maulwi Saelan

Seperti halnya Ramang, Maulwi Saelan juga merupakan legenda PSM dan Indonesia. Maulwi juga sejaman dengan PSM. Bedanya, Ramang adalah penyerang sementara Maulwi Saelan berposisi sebagai kiper. Bersama Ramang, Maulwi yang dipercaya sebagai kapten timnas Indonesia, pada Olimpiade 1956 di Melbourne, berhasil menahan tim kuat saat itu, Uni Soviet, dengan skor 0-0. Pers asing pada saat itu menjulukinya sebagai benteng beton karena berhasil menggagalkan serangan-serangan tim Uni Soviet.

Prestasi Maulwi sebagai kapten dan kiper timnas Indonesia setelah Olimpiade Melbourne adalah mengantarkan timnas menjadi Juara Asia pra-FIFA pada 1958. Di dunia persepakbolaan Indonesia, selain sebagai kiper dan kapten tim nasional, Maulwi pernah dipercaya menjadi Ketua PSSI sejak 1964 hingga 1967.

Maulwi Saelan tak hanya dikenal sebagai penjaga gawang timnas Indonesia, beliau juga adalah pejuang kemerdekaan. Sejak usia muda beliau sudah mengangkat senjata dalam perang kemerdekaan Indonesia. Bersama Wolter Monginsidi dan Andi Sose, Maulwi termasuk pimpinan dari sebuah laskar bernama Harimau Indonesia. Laskar ini terlibat banyak bentrokan dengan aparat militer atau polisi Belanda. Selain militer Belanda, militer Inggris juga ada di Makassar pada masa itu. Kakak Maulwi, Emmy Saelan, adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, pejuang wanita ini gugur saat bertempur melawan KNIL (het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger/ Tentara Kerajaan Hindia Belanda).

Maulwi Saelan saat mengawal Soekarno (Foto Historia.id)

Selain bermain bola, Maulwi juga adalah seorang tentara dengan pangkat terakhir Kolonel. Maulwi yang tergabung dalam Corps Polisi Militer dipercaya sebagai wakil komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno. Setelah peristiwa 1965, Maulwi dipenjara rezim Soeharto karena bersikukuh Soekarno tidak terlibat dalam peristiwa 65. Ia mendekam selama 4 tahun 8 bulan tanpa menjalani proses pengadilan. Sekeluarnya dari penjara, Maulwi Saelan mengembangkan sebuah sekolah yang kini bernama Syifa Budi.

Suardi Arlan

Legenda PSM lain yang seangkatan dengan Ramang adalah Suardi Arlan. Bersama Noorsalam, Ramang dan Suardi Arlan dikenal sebagai trio maut penyerang PSM yang menakutkan pada masa itu. Trio PSM itu menjadi kekuatan PSM saat itu. Ketiganya memiliki kelebihan masing-masing.

Jika Ramang dikenal dengan kemampuannya mencetak gol dengan tendangan keras dan menciptakan gol-gol indah, Suardi dikenal karena skill ball yang ia miliki. Kelihaiannya mengocek bola dan akurasi tendangan umpannya sangat membantu Ramang yang memiliki kecepatan dan tendangan keras.

Suardi Arlan pernah menjadi pelatih PSM selepas gantung sepatu yaitu pada tahun 1975-1976. Ia juga pernah menangani PSSI selama dua periode yaitu 1972-1974 dan 1976-1978.

Masih banyak lagi nama-nama pemain PSM yang kemudian tercatat sebagai legenda. Sebut saja misalnya Harry Tjong, M. Basri, Ronny Pattinasarany hingga Samsul Haeruddin. Bagaimana kiprah mereka membela PSM bisa dibaca di buku Satu Abad PSM ini.

Baca Juga

Legenda PSM Sepanjang Masa, Siapa Idolamu?

Syamsul Chaeruddin Legenda Hidup PSM

Mengenal Luciano Leandro, Legenda Sekaligus (Calon) Pelatih PSM

Kelompok Suporter PSM

Buku ini merekam antusiasme dan fanatisme supporter PSM dalam mendukung tim kebanggaan mereka khususnya, sejak era Ramang hingga sekarang. Begitu banyak kisah yang digambarkan dalam buku ini dan sangat sayang untuk dilewatkan.

Sebut misalnya bagaimana wujud kecintaan Uki Nugraha, atau lebih dikenal sebagai Daeng Uki, pada PSM. Saking cintanya, Panglima Laskar Ayam Jantan, salah satu kelompok supporter PSM, ini menamai anak bungsunya dengan nama Jayalah PSM Reski Ilahi. Daeng Uki, bahkan menerakan tato Jayalah PSM pada lengan kirinya.

Pun dengan salah satu anggota Red Gank, kelompok supporter PSM lainnya, bernama Alis yang rela mengorbankan harta bendanya demi mendukung PSM. Ia mengaku sudah tiga kali menggadaikan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) demi membiayai perjalanan menonton partai tandang PSM. “Laptop juga pernah dijual. Yah, mau bagaimana lagi, namanya cinta,” katanya enteng, seperti yang tertuang dalam  buku ini.

Masih banyak lagi cerita tentang bagaimana wujud kecintaan kelompok supporter PSM dalam mendukung Pasukan Ramang yang terangkum dalam buku Satu Abad PSM Mengukir Sejarah ini.

Boleh jadi, inilah buku pertama yang membedah sejarah sebuah klub sepakbola perserikatan yang berkembang menjadi satu klub profesional di Indonesia. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Fandom, salah satu penerbit buku-buku sepak bola di Indonesia.

Jika kalian mencintai PSM Makassar, maka buku ini wajib untuk kalian baca saat Liga 1 2020 sedang libur.

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.