Sang Patriot, Beragam Cara Mengenalkan Sejarah

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

BukuGaya Hidup

Sang Patriot, Beragam Cara Mengenalkan Sejarah

Novel Sang Patriot - Irma Devita Purnamasari

Mengenalkan sejarah dan pahlawan beserta kisah hidup mereka adalah jalan sunyi. Tak banyak yang mau melaluinya. Namun, berbeda dengan Irma Devita, penulis Sang Patriot

Ada yang tahu siapa Hertasning, Aroepala atau Abu Bakar Lambogo? Nama-nama mereka mungkin akrab bagi warga Makassar, hampir setiap hari mereka melewati jalan – jalan yang memakai nama mereka. Namun, apakah kita mengenalnya?

Saya yakin tak banyak yang mengenalnya. Mungkin sebagian akan menjawab bahwa nama – nama itu adalah nama – nama pahlawan. Selebihnya, harus membuka dan bertanya pada Google dulu untuk tahu lebih banyak soal mereka. Padahal, nama – nama pahlawan itu begitu intim di telinga.

Tanpa mereka, tepatnya tanpa perjuangan, keringat, air mata, darah dan bahkan nyawa yang mereka korbankan, kita tidak akan menikmati kemerdekaan seperti sekarang. Tak akan ada yang bisa nyinyir setiap hari hanya karena perbedaan pilihan misalnya. Tak akan ada yang bisa mencaci maki presidennya. Tanpa darah dan keringat yang mereka tumpahkan tak akan ada yang bisa menyebar dan percaya pada hoaks, *eh.

“Dengan sejarah, kita belajar jatuh cinta.” Kata Kuntowijoyo, seorang penulis cum budayawan.

Adalah Irma Devita Purnamasari, seorang praktisi hukum dan blogger, yang merasakan kegelisahan itu. Irma adalah seorang cucu dari Moch. Sroedji, Komandan Brigade III Damarwoelan Divisi I TNI Jawa Timur, yang gigih melawan kembalinya pasukan tentara Belanda selepas kemerdekaan Republik Indonesia.

Moch Sroedji dan pahlawan lainnya berjuang di delapan kabupaten di Jawa Timur, mulai dari Kediri, Blitar, Lumajang, hingga ujung Banyuwangi, yang dikenal sebagai daerah tapak kuda dalam peta Jawa – Timur. Sepak terjangnya yang tanpa takut melawan tentara Belanda menjadikannya target buruan, dan akhirnya gugur di medan perang.

Letkol inf. (Anumerta) Mohammad Sroedji merupakan tentara yang berjuang di Kabupaten Jember melawan penjajah Belanda. Beliau wafat akibat berondongan peluru pasukan Belanda pada tahun 1949. Pada tahun 2016, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Mahaputera Utama kepada Alm. Letkol inf. (Anumerta) Mohammad Sroedji. Namanya abadi dalam jalan sepanjang 1.192 km, jalan yang pernah dilaluinya semasa berjuang dulu.

Meski patung Letkol Moch Sroedji berdiri tegak di depan Kantor Bupati Jember hingga sekarang, masih banyak orang yang tidak tahu siapa sosok Sang Patriot itu. Kenyataan seperti itulah yang membuat Irma Devita resah. Pun, pada usia 8 tahun ia pernah berjanji kepada almarhumah neneknya untuk menuliskan sejarah kepahlawanan sang kakek.

Kenali pahlawan nasional asal Sulsel di Pahlawan Nasional Asal Sulsel Yang Harus Kamu Ketahui dan Pahlawan Nasional Asal Sulsel (bag. 2)

Di tengah kesibukan dan rutinitasnya sebagai praktisi hukum dan bloger hukum, Irma Devita meluangkan waktu untuk bisa menunaikan janji pada sang nenek. Berbekal kisah-kisah yang menancap kuat yang dituturkan oleh neneknya, Irma kemudian melakukan riset mendalam untuk mengumpulkan data agar bisa menuangkan kisah kepahlawanan sang kakek dan pejuang lainnya.

Irma Devita melakukan menyusuri tapak tilas daerah-daerah yang ada jejak Sroedji  hingga ke balik gunung. Ia bahkan harus ke Belanda untuk mendapatkan arsip data yang lebih banyak dan akurat karena dulu kakeknya termasuk target utama karena dianggap ancaman besar oleh Belanda. Hasilnya tak sia-sia, sebuah novel sejarah berjudul Sang Patriot dan tiga buah komik bertema sama.

Pemilihan penyajian sejarah dalam bentuk novel dan komik ini bukan tanpa alasan. Novel dan komik akan lebih mudah menggapai semua kalangan dari segala usia. Terlebih, saat membaca novel Sang Patriot, sama sekali tidak membosankan seperti membaca buku teori sekolah dulu. Dari gaya penceritaan Irma Devita dalam novel ini, kita bisa membayangkan dan ikut larut dalam cerita zaman perang kemerdekaan tersebut.

Latar sebagai bloger dan penulis buku menjadikannya mampu merangkai cerita yang bisa mengaduk emosi pembaca. Irma Devita sudah menulis sepuluh buku tentang hukum dan kenotariatan, bidang yang sangat ia kuasai. Kesepuluh buku ini bisa dilihat di Rak Buku Irma Devita

Novel dan komik Sang Patriot foto AyiPrima.com
Novel dan komik Sang Patriot foto AyiPrima.com

Hanya saja, komik Sang Patriot mungkin masih kurang menarik bagi generasi lebih muda. Format gambarnya masih seperti format komik zaman Soeharto, mengingatkan pada komik – komik karya RA Kosasih. Tentu hal ini bisa mengurangi jangkauan pembaca mengingat penikmat komik model ini sangat terbatas. Anak – anak jaman kiwari yang terbiasa dengan komik ala Jepang bisa saja kurang nyaman dengan model komik seperti ini.

Hal ini bukan tidak disadari oleh Irma Devita. Dalam bincang buku yang diadakan di salah satu warung kekinian di Makassar ia mengungkapkan kemungkinan untuk membuat versi turunan yang lain, dengan format yang lebih kekinian agar bisa lebih diterima oleh generasi millenial.

“Saya memilih model komik ini untuk mempertahankan gambaran sejarah yang terjadi dengan menampilkan detail kejadian dan tempat sesuai pada kurun waktu terjadinya berbagai peristiwa dalam komik itu. Yang penting ada pakem cerita dulu yang paten, mengenai bentuk lain dalam mengenalkan sejarah akan kita jajaki kemungkinannya ke depan” ungkapnya.

Berbagai tawaran model dalam upaya mengenalkan sejarah pada banyak kalangan tercetus pada saat diskusi berlangsung. Misalnya, untuk menggapai generasi digital native seperti kaum milineal dan Gen Z perlu format yang lebih kekinian semisal dengan membuat komik ala webtoon dengan tema sejarah. Bisa pula melalui rally wisata dengan melibatkan youtuber yang kemudian mengunggahnya dalam kanal – kanal mereka.

Intinya, bagaimana membuat sejarah bisa menyenangkan. Penyajian sejarah dalam format yang beragam dan dalam bentuk yang tepat, bisa lebih mudah membumikan sejarah itu sendiri.

Sejarah adalah suatu ikatan di antara orang yang sudah meninggal, mereka yang masih hidup, dan mereka yang belum dilahirkan. Para pahlawan yang sudah mendahului kita yang masih hidup dan generasi yang lahir setelah kita. Melalui kitalah yang masih hidup, yang menuliskan sejarah mereka yang telah mati untuk kemudian dibaca oleh generasi yang lahir kemudian.

Seorang Hitler pun bahkan pernah menyatakan seperti ini: Orang yang tidak memiliki rasa sejarah, adalah seperti orang yang tidak memiliki telinga atau mata. Tentu kita tidak ingin generasi kita dan generasi yang lahir kemudian menjadi generasi tuli dan buta sejarah, kan?

Tanpa bertanya pada Google, ada yang bisa menjawab siapa Hertasning, Aroepala atau Abu Bakar Lambogo?

Comments (14)

  1. Kalau mau ikut acara seperti ini bagaimana caranya kak? Karena dari tadi saya baca banyak yang bahas tentang bukunya.

  2. memang sangat penting untuk belajar sejarah karena dengan belajar sejarah lah kita bisa mengetahui seluk beluk suatu hal.

    Saya sendiri jika ditanya tentang asal mula nama-nama jalan diatas harus tanya om google dulu. Dengan baca ini akhirnya bisa tahu oh ternyata itu berasal dari nama-nama sang patriot yang berjasa.

  3. Dalam situasi yang sulit dan kesusahan ada orang-orang yang rela bangkit untuk berjuang. Walau kadang berkorban harta, keluarga bahkan jiwa raga. Demi sebuah kemerdekaan yang mungkin saja tidak akan sempat mereka nikmati. Sejarah juga mencatat bahwa alam kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini dibangun oleh tetesan darah dan air mata oleh para pejuang.

    • Ibu Irma Devita adalah saksi sejarah lisan yg dituturkan oleh neneknya kemudian dituangkan oleh beliau dalam tulisan kisah sejarahnya. Saya setuju kalau kisah sejarah bisa dituangkan dalam komik, saya suka baca komik, jadi ingat komik Jepang atau komik korea yg sering menuangkan unsur2 kebudayaan dan sejarah bangsax ke dalam komik

  4. Dan saya adalah salah seorang yang membaca banyak tentang hitler 😂 dan ada kekaguman dari sudut pandang berbeda untuk dirinya, meski dirinya banyak ditakuti orang orang *cmiw

  5. Banyak banget sebenarnya nama-nama pejuang yang bisa dikategorikan sebagai pahlawan

  6. Sangat sering kita bercengkerama dengan nama2 Pahlawan dalam keseharian, misalnya saja nama jalan nama tempat atau wisata tertentu. Tapi sejarah dibaliknya belum banyak yang tahu.

  7. Saya belum mampu menjawab pertanyaan terakhir. Saya tiba-tiba malu karena sudah beberapa tahun di Makassar dan tak mampu menjawabnya

  8. Jejak sejarah tertulis dan diabadikan dalam sebuah nama. Seperti pahlawan yang dituliskan dalam buku.

  9. Saya terus terang bingung mo komen apa lagi. Ini tulisan kesekian yang temanya sama hahaha.

    Intinya sih ini inisiatif keren, memperkenalkan pahlawan kepada generasi milenial.

  10. sangat salut dengan perjuangan Letkol Moch Sroedji, tak kalah kagumnya dengan cara cara kak Irma untuk terus mengangkat kisah sang patriot. Hingga harus langsung terbang ke Belanda

  11. Pertanyaan di kalimat penutupnya menohok sekali? Ternyata ya masih banyak pahlawan yang baru saya kenali karena namanya di jadikan nama jalan tapi kalau ditanya kisah perjuangannya saya benar-bener buta. Tapi salut dengan ibu Irma Devita yang bisa memenuhi janji pada neneknya dengan kehadiran ” Sang Patriot” ini.

  12. Oh saya baru tahu kalau ibu Irma Devita nulis buku ini langsung dari cerita neneknya ya. Wah pasti ibu irma ini pendengar yang baik ya.

    Dari beberapa tulisan sejenis yg saya baca, tulisan ini punya khas sendiri. Unik dan berbeda. Itu yang membuatnya berani.

  13. Mantap yah Ibu Irma, ,mau mengabadikan sejarah Kakeknya Letkol Moch Sroedji.. Biasa nama pahlawan tinggal nama jalan kerna kurang dieksplore.. Jangan mau tau nama pahlawan di JAwa yang di Sulsel ajha, belum tau semua sejarah pahlawan..

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.