RM Nike Ardilla; Wujud Cinta Pada Idola

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

KulinerPerjalanan

RM Nike Ardilla; Wujud Cinta Pada Idola

Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang kesepian dan resah. Untuk mengatasi rasa sepi dan resah itulah maka manusia membutuhkan teman tuk berbagi. Pada usia remaja, manusia tak hanya membutuhkan teman tetapi juga membutuhkan seorang idola. Idola adalah sosok yang sempurna dan sesuai keinginan dalam proses pembentukan jati diri.

Sosok yang seringkali menjadi idola adalah para bintang terkenal seperti penyanyi atau sebuah band. Segala tingkah laku dan ucapan mereka menjadi luar biasa karena pemberitaan media. Ketika seseorang, khususnya remaja, menemukan sosok itu maka yang terjadi adalah pengkultusan dan pemujaan akan sosok itu. Seringkali bahkan mengarah pada fanatisme. Fanatisme dan kecintaan pada sosok tertentu seringkali berwujud pada hal-hal yang tidak masuk akal. Seorang penggemar terkadang mewujudkan kecintaan pada sosok idola secara berlebihan.

Beberapa kasus bisa disebutkan sebagai contoh. Perlawanan Sid Viciuz (vokalis The Sex Pistols) pada nilai-nilai konservatif  Inggris di tahun 1970an dianggap sebagai bentuk dari kejujuran dan simbol perlawanan pada kemunafikan. Seorang penggemarnya bernama Brian Warner begitu tergila-gila pada musisi yang kerap kali jadi biang onar dan meninggal karena over dosis ini. Brian Warner sendiri adalah seorang murid Heritage Crishtian School yang kemudian bermetaformosa menjadi penganut atheism dan membentuk band Marilyn Manson. Ia kemudian dianggap sebagai pemimpin sekte aliran sesat di Amerika.

Di belahan dunia lain ada Bob Marley. Musisi pengusung reggae ini menjelma ‘nabi’ bagi para penggemarnya.  Kesadaran dan kepeduliannya pada hak asasi manusia dan berbagai persoalan sosial politik tertuang kental dalam lirik-lirik lagunya. ‘Emancipate yourself from mental slavery, none but us can free our mind’ dalam lagu Redemption Song menjadi sabda pembebasan bagi para pengikut Rastafarian.

Lain halnya yang terjadi di daratan China. Kecintaan seorang penggemar pada Andy Lau harus berakibat tragis pada ayah sang penggemar. Yang Qingji mengakhiri hidupnya karena merasa kecewa pada Andy Lau yang tak meluangkan waktu untuk berbicara dengan anaknya, Yang Lijuan, saat menggelar perayaan ulang tahun yang dihadiri oleh penggemarnya.  Yang Lijuan adalah gadis berusia 28 tahun yang menjadi penggemar fanatik sejak berusia 15 tahun dan terus bermimpi untuk berjumpa dengan sang idola. Yang Qingji telah melakukan segala hal untuk mewujudkan mimpi sang anak sampai menjual segala harta miliknya. Sayangnya, ketika kesempatan itu, Andy Lau hanya bersedia berfoto bersama Yang Lijuan. Kecewa pada Andy Lau, Yang Qingji akhirnya memutuskan bunuh diri.

Namun, tak semua kecintaan pada idola berupa hal-hal negatif. Banyak pula penggemar mewujudkan fanatisme mereka dengan hal-hal positif. Sebagai sebuah contoh, kita bisa melihat apa yang dilakukan Takdir yang begitu mengidolakan Nike Ardilla. Masih ingat Nike Ardilla? Artis yang begitu populer di tahun 90an tapi meninggal di usia yang sangat muda, 19 tahun.

Artis yang populer dengan lagu ‘Seberkas Sinar’ ini meninggal pada saat kariernya sedang memuncak karena kecelakaan mobil pada tanggal 19 Maret 1995. Berita tentang kecelakaan artis berdarah Sunda ini menghiasi hampir semua halaman depan media cetak nasional selama sebulan lebih.  Hingga kini, 15 tahun setelah kecelakaan itu, kematian Nike Ardilla masih diperingati setiap tahun oleh ribuan Nikers [sebutan bagi penggemar Nike]. Tak hanya itu, selain berkumpul setiap 19 Maret para Nikers juga merayakan ulang tahun Nike pada tanggal 27 Desember setiap tahunnya.

Pada masa hidupnya artis ini begitu populer. Poster-poster dan stiker bergambar Nike menghiasi ruang public, baik itu Kafe, Bus, hingga dinding sekolah. Kariernya boleh terbilang singkat hanya 6 tahun [1989-1995] tapi begitu cemerlang dan mendominasi dunia entertainment saat itu. Album-album lagunya laris manis, album ke empatnya ‘Bintang Kehidupan’ terjual di atas 2 juta kopi. Rekor penjualan yang mungkin akan sulit dilampaui oleh penyanyi manapun hingga saat ini. Tak hanya bernyanyi, Nike pun sukses di bidang modeling, bintang iklan, film hingga sinetron.

Berita-berita mengenai Nike Ardilla yang terus muncul itu, membuat Takdir menjadi penasaran apa yang membuat kematian Nike begitu fenomenal hingga diliput media sebegitu rupa. Perkenalannya dengan Nike Ardilla justru terjadi setahun setelah kematian pelantun lagu ‘Biarlah Aku Mengalah’ ini. Saat itu seorang teman memberinya kaset album ‘Mama Aku Ingin Pulang’ dan foto Nike Ardilla. Tak lama setelah album ini keluar, kecelakaan pun merenggut nyawa penyanyi yang bernama lengkap Raden Rara Nike Ratnadilla.

Takdir lalu mencari tahu seperti apa kehidupan artis pengagum Marlyn Monroe ini. Pencarian itu membuatnya jatuh cinta setelah mengetahui Nike Ardilla adalah artis yang meski cantik dan terkenal tapi berjiwa sosial tinggi dan hidup sederhana.  Pemuda kelahiran 6 Agustus ini kemudian menjadi penggemar fanatik Nike Ardilla dengan mengumpulkan segala pernak-pernik sang idola. Tak tanggung-tanggung, ia pun mengejar segala hal tentang nike sampai ke Jakarta dan Bandung. “Saya punya ratusan foto dan berbagai jenis pernak-pernik,” ungkap alumni STIMIK Dipanegara ini.

Menurut Takdir, awalnya ia menunjukkan kekaguman dengan cara mengumpulkan kaset, foto, suvenir, guntingan berita koran dan segala pernak-pernik Nike, rekaman program-program stasiun televisi, baik itu program infotainment, sinetron dan film-film yang dibintangi Nike Ardilla. Namun, ketika koleksinya tak menyisakan ruang dalam kamarnya, Takdir mulai berpikir bagaimana caranya agar koleksinya bisa dinikmati masyarakat, khususnya sesama penggemar Nike Ardilla. “Saya melihat tempat yang banyak dikunjungi masyarakat adalah rumah makan. Saya mulai berpikir untuk membuka sebuah rumah makan lengkap dengan galeri yang memajang koleksi saya,” tutur Takdir.

Pada tanggal 13 November 2002, Takdir membuka Rumah Makan Nike Ardilla di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.  Hasil keuntungan rumah makan yang beromzet di atas 3 juta perhari ini kemudian dikembangkannya lagi dengan membuka Rumah Makan Kampoeng Jawa Nike Ardilla di kawasan Bumi Tamalanrea Permai.

Desain interior yang dipenuhi dengan pajangan foto dan segala pernak-pernik Nike menjadi sajian tersendiri yang mengundang kenikmatan bersantap di rumah makan ini. Selain menikmati foto-foto Nike Ardilla, kita juga dapat menjumpai foto Marlyn Monroe –legenda Hollywood pujaan Nike- dan permainan cahaya yang apik dari lampion-lampion cantik. Telinga pun dimanjakan oleh suara merdu Nike yang melantunkan lagu-lagunya lewat sebuah televisi. Lagu-lagu dan rekaman program tentang Nike itu disiarkan melalui Nike TV.

Rumah makan ini menyajikan menu yang memakai judul-judul lagu Nike Ardilla semisal Ayam Goreng Sandiwara Cinta, Bebek Goreng Panggung Sandiwara, Sate Ayam Seberkas Sinar, Jus Jeruk Cinta Diantara Kita dan beragam menu lain. Harga makanan-makanan dan minuman-minuman ini tergolong murah, mulai dari Rp. 2000 hingga yang termahal hanya Rp. 16.000 saja.

Pertemuannya dengan Nining Ningsihrat, ibunda Nike Ardilla, pada sebuah kegiatan sosial yang diadakannya, membuat Takdir semakin serius mengelola rumah makannya. Saat itu Nining menyampaikan pada Takdir bahwa salah satu keinginan artis pemeran Nyi Iteung dalam film Kabayan ini yang belum terwujud adalah membuat rumah makan. “Anggap saja, saya berusaha mewujudkan keinginan Nike.” tuturnya. Kini, masih ada satu mimpi yang ingin diwujudkannya yaitu sebuah kawasan Nike Ardilla yang terdiri dari butik, supermarket, rumah makan, panti asuhan, rumah singgah dan pesantren.

*tulisan ini pernah dimuat di Majalah Opium [lupa edisi berapa 😀 ]

Comments (8)

  1. Daeng oprek

    Mantap, dari Jamaika (Om Bob Marley), Hongkong(Andi layauw), dan negeri bule(Marylin Monroe), semua dikupas habis disini, ternyata fanatisme itu bisa membuahkan omzet yang keren, selain memberikan omzet, rasa fanatik tersalurkan. Dan perlu diketahui, bahwa RM-Nike Ardila pernah kedatangan tamu keren nan ngejreng, yg dulu orangnya Gondrong juga (sekarang tidak lagi deh :D), saat itu bersama seorang dari Eropa menikmati menu Ayam Goreng Sandiwara Cinta, jadi wajar saja, cinta kami sepertinya sandiwara saja, episodenya harus berakhir, hehehe…(never mind lah).
    Kalau masalah impian dari Nike, kayaknya ada lagi, yaitu, ia mungkin mau menikah dengan laki-laki, mungkin saja Takdir?, lebug?, atau jangan2 Daeng Oprek. :D…

    Tulisan yang bagus bro, enak bacanya. seep sekali…..

    KapanG-kapanG kopdar di sana yuk…:D

    • lelakibugis

      Kopdar? Ayuk.. tapi bagusnya kopdar di RM Nike Ardilla pertama yang ada di Wonomulyo Polman.. hehehe

  2. Widiw.. Tak hanya grupis dalam negeri, grupis luar negeri pun dibahas. Memang kalo yang namanya fans berat, apapun dilakukan untuk idolanya. Tapi memang, di Indonesia salah satu grupis yang tetep ada dan solid ya fans Nike Ardilla. Meski Sang Idola sudah tiada.

  3. Kapan bikin rrumah makan Macora ?

  4. RM Nike Ardilla yang di Wonomulyo itu tidak cuma menawarkan ‘sesuatu tentang Nike’, tapi juga karena makanannya yang memang enak dengan harga terjangkau. Kalau kak Anchu bikin RM boleh juga, yang penting kokinya bukan k’Anchu. Pasti menunya indomie telur semua 😀

  5. suatu saat mungkin saya akan bikin warung makan
    “Selai Mutiara”

    isinya Pearl Jam semuaaaaa..!!!
    hahaha

  6. ah berarti saya belum ngefans berat sama @marcanthony yah… kalo iya pasti sudah pergilah mamie di puerto rico mencari jejaknya :))

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.