Rempah Meruah, Menggoyang Lidah

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

KulinerPerjalanan

Rempah Meruah, Menggoyang Lidah

“Bukankah penyebab kolonisasi dunia oleh Eropa adalah pulau-pulau penghasil rempah di Indonesia?” Pramoedya Ananta Toer

Deretan Kapal Phinisi di Pelabuhan Paotere Makassar. (sumber: indonesiaexplorer. net)
Deretan Kapal Phinisi di Pelabuhan Paotere Makassar. (sumber: indonesiaexplorer. net)

Seorang lelaki tegap berdiri di atas sebuah rumah panggung, ia tampak gelisah. Berkali-kali ia mengusap kepala badik-nya. Namanya I Mallombassi dan ia sedang gundah. Dari balik benteng yang mengelilingi istananya ia memandang lurus ke muara Sungai Jeneberang. Seorang telik sandi kerajaan baru saja mengabarkan bahwa pasukan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) bersiap menyerang kerajaannya. Armada di bawah pimpinan Cornelis Speelman berkekuatan 21 kapal perang berangkat dari Batavia dengan membawa 600 pasukan serdadu Belanda.

Ada satu hal yang sungguh mengganggu hatinya, Arung Palakka, seorang yang pernah tumbuh dewasa bersamanya, bersekutu dengan VOC untuk melawannya. I Mallombassi harus berpikir keras, bagaimana menahan gempuran VOC dari laut dan serangan Arung Palakka,- yang merupakan Raja Bone, bersama Raja Soppeng yang turut membantu VOC dari darat.

Sejarah kemudian mencatat, I Mallombassi yang bernama lengkap I Mallombassi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe, kita lebih mengenalnya dengan gelar Sultan Hasanuddin, harus takluk pada VOC dan bersedia menandatangani Perjanjian Bungayya pada 18 November 1667. Perjanjian yang sangat merugikan Kerajaan Gowa – Tallo sebagai kerajaan maritim.

Dalam perjanjian itu, Sultan Hasanuddin harus memberikan hak monopoli dagang ke VOC dan melepaskan seluruh daerah bawahannya, seperti Soppeng, Luwu, Wajo, dan Bone. Sultan Hasanuddin pun harus rela mengakui Arung Palakka sebagai Raja Bone. Selain itu, Kerajaan Gowa – Tallo harus menyerahkan seluruh benteng-bentengnya dan membayar biaya perang dalam bentuk hasil bumi kepada VOC setiap tahun. Masa kejayaan Gowa – Tallo sebagai kerajaan besar yang menguasai jalur perdagangan maritim harus berakhir.

Adalah Raja Gowa IX Karaeng Tumapa’risi’ Kallona Daeng Matanro (1510- 1546) yang pertama kali memindahkan istana dan pusat pemerintahan ke Somba Opu, daerah di pesisir laut dekat muara Sungai Jeneberang. Sebelumnya, pusat kerajaan berada di Bukit Tamalate yang berjarak sekitar 6 (enam) kilometer dari pantai. Sebelum Raja IX, Gowa masih berfokus pada kegiatan agraris. Pada masa raja yang membangun Benteng Jumpandang inilah kerajaan Gowa – Tallo muncul  sebagai pusat perniagaan maritim di bagian timur nusantara.

Selama masa keemasan perdagangan rempah-rempah, pada abad ke-15 sampai ke-19, Gowa -Tallo berperan sebagai pintu gerbang ke kepulauan Maluku, pulau penghasil rempah-rempah. Kerajaan Gowa memainkan peranan penting dalam melawan monopoli perdagangan, khususnya rempah, oleh VOC. Kerajaan Gowa-Tallo membeli rempah-rempah dari Maluku, mereka lalu menampung pala, cengkeh, lada, dan sejenisnya di gudang.

Tanpa terpengaruh angin musim barat dan timur, sepanjang tahun Gowa – Tallo selalu siap melayani pesanan dari bangsa-bangsa asing lainnya dengan harga murah. Penjualan rempah-rempah dilakukan dengan pola subsidi silang agar tetap mendapatkan laba. Saat harga rempah murah, harga komoditas lain sedikit dinaikkan. Sejak saat itu, kerajaan ini terus mengembangkan diri dan menjadi simpul perniagaan penting Nusantara. Pada masa inilah berdiri kantor-kantor dagang bangsa asing; Portugis, Spanyol, Denmark, China, India, dan Arab di Gowa – Tallo.

Di saat hampir bersamaan VOC, yang ingin menguasai komoditas rempah; cengkeh dan pala, menempatkan pusat kegiatannya di Benteng Oranje, Ternate. Terhitung ada tiga gubernur jenderal VOC yang berkantor di sini yaitu; Pieter Both (1610 – 1614), Gerard Reynst (1614 – 1615) dan Dr. Laurens Reael (1615 – 1619). Penempatan markas besar VOC ini tentu berdasarkan pertimbangan bahwa posisi Maluku sangat strategis, mengingat wilayah ini adalah sentra perdagangan rempah-rempah. VOC juga memegang hak monopoli atas perdagangan rempah-rempah yang diberikan oleh Ternate sebagai balas jasa pada VOC yang membantu Ternate mengusir Spanyol dari Maluku.

Meski memegang hak atas produksi pala, bunga pala dan cengkeh di Maluku, usaha VOC untuk menguasai perdagangan rempah belum bisa dikatakan berhasil. Dengan dukungan Kerajaan Gowa, muncul perlawanan dari kaum muslim Hitu (Ambon bagian utara) dan pasukan-pasukan Ternate di Hoamoal, Semenanjung Seram bagian barat. Kerajaan Gowa mendukung perlawanan ini karena menolak monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC. Bagi Gowa, bumi termasuk laut dan isinya adalah milik Tuhan dan tidak boleh ada yang mengklaim dan menguasainya sendiri.

Sejak tahun 1633 penyelundupan cengkeh oleh persekutuan anti VOC yang melanggar peraturan-peraturan monopoli VOC semakin berkembang di bawah Kakiali, seorang murid Sunan Giri di Jawa. Tahun 1643 Kakiali meninggal dunia dan perlawanan terhadap monopoli VOC dilanjutkan oleh Telukabesi sampai pada tahun 1646 dimana Telukabesi menyerah dan dihukum mati. Namun itu bukan berarti perang terhadap monopoli rempah VOC telah berakhir begitu saja. Orang-orang Makassar dan Ternate tetap melanjutkan perdagangan rempah-rempah, tentu saja dengan mengabaikan aturan monopoli VOC.

Pada Januari 1652, produksi cengkeh di Ambon melampaui jumlah yang dibutuhkan oleh konsumsi dunia yang membuat VOC memutuskan untuk membinasakan tanaman cengkeh dan melarang penanaman cengkeh di semua wilayah kecuali yang dikuasai oleh VOC. Setelah menaklukkan Gowa pada tahun 1667, VOC bisa dengan leluasa melakukan monopoli rempah dan mendominasi perdagangan rempah dunia selama dua dekade.

Dominasi VOC atas rempah kemudian runtuh setelah seorang penjelajah Perancis, Pierre Poivre, berhasil membawa bibit cengkeh dan pala dari Kepulauan Maluku dan menanamnya di tanah jajahan Perancis. Kedudukan VOC sebagai penguasa perdagangan cengkeh dunia akhirnya digeser oleh The French East India Company.

Pada masa lalu rempah-rempah adalah ‘buah surga’ yang mampu meningkatkan gairah, keperkasaan, menggaet perempuan, dll. Praktek yang dimulai di Jazirah Arabia di antara para syeikh kemudian dicontoh secara besar-besaran di Benua Eropa. Ketika kawasan dunia terancam penyakit seperti epidemi pes di Eropa pada abad ke-16 rempah-rempah oleh dunia pengobatan dianggap mujarab sebagai penangkalnya.

Gemah Rempah ini punya kekuatan sihir, betapa nyata bagaimana rempah-rempah yang itu mengubah peta sejarah dunia. Mahakarya Indonesia berupa rempah-rempah yang melimpah ini pula yang membawa imperialis-imperialis semacam Inggris, Portugis, Belanda datang dan menjajah nusantara. Karena rempah, Gowa – Tallo pernah berjaya dan menguasai laut, karena rempah pula kerajaan ini mengalami kemunduran.

Namun berkah rempah itu pula yang menjadikan kota Makassar, warisan Gowa – Tallo, menjadi pintu gerbang bagi Kawasan Timur Indonesia hingga kini. Rempah yang melimpah pun membawa anugerah bagi lidah orang Makassar. Kota ini memiliki beragam kuliner, dari aneka daging; Coto, Konro, Sop Saudara, Kikil dan lain-lain hingga makanan laut yang akan menggoyang lidah. Tentu saja ini berkat rempah yang meruah.

rempah meruah
Coto Makassar Al Minana

Cita rasa yang beragam ini menjadikan Makassar sebagai kota kuliner. Produsen mie instan pun sampai memilih salah satu kuliner Makassar sebagai salah satu rasa untuk mie instannya. Namun, akan berbeda jika orang Makassar sendiri yang meramu bumbu dan mengemasnya. Bumbu dalam kemasan ini dapat dijadikan oleh-oleh atau bahkan diekspor ke luar negeri. Dengan kemasan yang menarik dan rasa bumbu-bumbu yang terjaga akan mengembalikan kejayaan Makassar, paling tidak dalam menguasai lidah nusantara dan mancanegara.

Comments (2)

  1. Tulisan keren dan mendalam tentang rempah-rempah dengan mengambil contoh kasus di kerajaan Gowa. Menurut saya visi Daeng Matanro Karaeng Tumapakrisik Kallonna Raja Gowa ke-IX hampir serupa dengan Joko Widodo Presiden RI ke-7. Beliau mengalihkan fokus pembangunan dari agraria dan pertanian ke bidang maritim. Menarik kita lihat bagaimana perubahannya. Mudah-mudahan “tidak memikat” imperialisme baru datang ke Indonesia. Seperti halnya kerajaan Gowa di abad ke-17.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.