Maya, Kupu – Kupu Dalam Jaringan Prostitusi Online

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

FenomenaKata Kota

Maya, Kupu – Kupu Dalam Jaringan Prostitusi Online

prostitusi online - foto: lensaindonesia[dot]com

Ini cerita tentang penelusuran prostitusi online via media sosial dan aplikasi percakapan. Seperti kota besar lainnya, Makassar juga sudah ramai prostitusi online.

Perempuan itu duduk sendiri di pojokan sebuah coffee shop saat saya tiba. Ia melambaikan tangan saat melihat saya sedang memarkir motor. Ia memilih di pojokan belakang namun masih bisa melihat saya karena tempat ia duduk menghadap tepat ke pintu masuk. Coffee shop itu tak begitu luas, hanya seukuran ruko 5×10 meter.

Saya langsung menuju ke tempat ia duduk. Di deretan kursi dan meja yang diperuntukkan bagi 2 (dua) orang yang bersebelahan dengan bar tempat barista meracik kopi. Entah kenapa ia memilih duduk di pojokan belakang yang tak jauh dari toilet itu. Ia berdiri menyambut saya.

“Maya?” saya menyambut uluran tangannya.

“Iya, kakak Cora kan?” sentuhan lembut menyentuh telapak tangan saya.

Kami kemudian duduk. Berhadapan. Sesaat tak ada percakapan. Sepersekian detik. Untuk memecah keheningan saya bertanya bagaimana ia bisa begitu cepat mengenali saya padahal ini pertemuan pertama kami.

“Kakak kan sudah kirim foto kemarin. Gampang banget ingatnya, apalagi rambut gimbal itu” ia tersenyum. Manis sekali. Temaram senja membias di rambut panjangnya.

Ia memperbaiki letak duduknya lalu memanggil pelayan. Seorang lelaki muda datang menghampiri kami. Maya memesan Green Tea. Saya juga. Green Tea pilihan yang paling masuk akal untuk berbuka puasa, pikir saya. Untunglah coffee shop ini menyediakan pilihan lain selain kopi. Saya tak ingin berbuka dengan yang asam kali ini meski janjian awal kami adalah untuk ngopi bareng.

*

Namanya Maya, 24 tahun. Kami berkenalan melalui sebuah aplikasi media sosial beberapa hari lalu. Buah dari keisengan saya setelah chat bersama seorang teman saat menunggu imsak datang. Entah bagaimana mulanya, percakapan kami mengarah pada praktik prostitusi daring (dalam jaringan = online). Untunglah belum memasuki masa menahan, puasa kami masih terjaga.

Teman itu bercerita kalau ia membaca bagaimana praktik prostitusi terselubung melalui media sosial , khususnya di Makassar, di sebuah forum. Bukan hal yang baru sebenarnya, beberapa tahun lalu saya sudah menemukan praktik seperti ini. Melalui Facebook, media sosial terbesar saat ini, sangat mudah menjumpai akun – akun perempuan yang ‘menjajakan’ diri.

Itulah sebab saat seorang artis, yang entah main film atau sinetron apa, tertangkap bersama germonya di sebuah hotel menjadi berita yang tak lagi mengejutkan, paling tidak bagi saya. Media saja yang berlebihan mengabarkannya. Sebagai kota besar Makassar pun tak luput dari fenomena prostitusi daring itu. Saya mengenal beberapa pelakunya, rerata mahasiswi, baik itu dari perguruan tinggi negeri atau pun swasta. Kebanyakan yang saya temui berasal dari luar Makassar.

Saya mengenal Maya bukan melalui Facebook tapi sebuah aplikasi chat buatan developer Thailand yang merangkum semua fitur chat seperti Look Around dan Flip untuk menemukan teman berdasarkan lokasi terdekat atau kecocokan satu sama lain. Subuh itu, usai mengakhiri percakapakan dengan teman tadi saya coba menginstal dan membuat akun aplikasi itu. Tak butuh waktu lama. Cukup dengan mendaftarkan nomer telepon. Tentu saja saya memakai nama samaran dalam akun itu. Akun ini hanya untuk menuntaskan rasa ingin tahu saja.

Fitur pertama yang saya coba setelah terdaftar adalah Look Around, setelah menyaring usia dan jenis kelamin. Female, 20 – 35 tahun. Hasil pencarian menampilkan puluhan akun perempuan yang berdomisili di Makassar. Satu persatu saya membuka akun – akun yang menarik perhatian.

Wajah – wajah cantik atau manis, tentu saja. Beberapa akun menampilkan avatar dan status yang segera menyita perhatian saya. Dari status – status itu saya bisa menebak yang mana perempuan – perempuan yang bisyar atau bispak. Istilah ini populer di kalangan anak muda.

Bisyar, singkatan dari ‘bisa dibayar’ dan Bispak alias ‘bisa dipakai’. Tentu saya tak perlu menjelaskan apa maksud ‘dibayar’ atau ‘dipakai’ itu kan?

Iseng saya menyapa beberapa di antara mereka. Salah satunya adalah Maya, meski status dan avatarnya berbeda dengan yang lain. Ia tak memajang foto seksi, pun status mengundang. Statusnya biasa saja. Yang menarik saya adalah fotonya bersama seorang anak perempuan kecil. Seorang anak yang lucu.

Saya pun menyapanya dengan menanyakan nama itu, yang belakangan saya tahu adalah anaknya. Tak begitu berharap mendapat balasan dan kantuk yang sudah menyerang, saya pun memutuskan untuk tidur setelahnya.

Siang hari, saya mengecek gawai dan menemukan notifikasi dari aplikasi tadi. Balasan sapaan – sapaan yang saya lontarkan subuh tadi pada beberapa akun. Beberapa di antaranya berbasa – basi dulu, ada juga yang langsung menawarkan kencan singkat beserta tarif yang mereka pasang.

Maya hadir dengan jawaban berbeda. Tanpa saya minta ia menceritakan tentang Aurora, anaknya yang berusia 7 (tujuh) tahun. Percakapan dalam aplikasi ini tak berlangsung lama. Maya meminta saya menelponnya. “Kak, koneksi internet lagi tak bagus. Call me” tulisnya.

Saya mencoba mengulur waktu, tak ingin segera menelponnya. Setengah mendesak, ia meminta saya menelponnya sesegera mungkin. Lalu mengalirlah percakapan kami.

Melalui percakapan itu saya tahu bahwa ia baru saja bercerai 2 (dua) bulan lalu. “karena KDRT dan dia selingkuh” ungkapnya ketika saya tanyakan kenapa ia memilih berpisah dengan suaminya. Kini, ia bersama Aurora tinggal bersama orang tuanya. Saya memilih menjadi pendengar yang baik. “Mungkin ia kesepian dan butuh teman ngobrol.” pikir saya.

Ia mengungkapkan banyak hal hingga kesukaannya akan kopi. Tanpa pikir panjang saya mengajaknya ketemuan dan ngopi. Saya ingin tahu lebih banyak tentangnya, kisah hidupnya pasti menarik. Status sebagai orang tua tunggal dengan anak berusia 7 (tujuh) tahun yang baru ia jalani mungkin akan mengungkapkan beberapa hal. Ia dengan antusias menyambut ajakan itu dan percakapan kami masih berlanjut hingga ke masalah personal.

“kalau ngopi lanjut kencan bisa tidak?” iseng saya menggodanya setelah beberapa percakapan yang mengarah ke hal sensitif. Ia menjawab dengan santai. “kalau cocok kenapa tidak, hahaha”. Dari balik telepon saya membayangkan seorang perempuan berusia 24 tahun tertawa renyah.

Terlanjur basah. Keisengan untuk tahu mengenai prostitusi online (daring) sepertinya akan menemui jawaban dari seorang perempuan yang justru tak memasang status ‘menjajakan diri’.

“Boleh tahu kalau kencan tarifnya berapa?” dengan sangat berhati – hati saya mengajukan pertanyaan ini.

“Jujur yah kak, saya tak mau munafik. Saya memang butuh uang untuk biaya sehari – hari dan Aurora tapi saya tak jualan” jawabnya. Ia mengaku tak mencari pelanggan di aplikasi media sosial itu. Ia kemudian bercerita bahwa melalui aplikasi itu sudah ada 2 (dua) orang yang mengajaknya ketemuan. Satu orang berakhir dengan check in di hotel, satunya hanya mengajak jalan. Untuk tarif ia tak memiliki harga khusus. “Kalau saya nyaman, gak bayar juga gak papa.” Katanya.

Dari ceritanya, saya menangkap ia masih sangat berhati-hati menerima ajakan untuk check in. “takut dilihat orang, apalagi ini bulan Ramadhan,” ia memberi alasan. Dengan sedikit bujukan ia akhirnya mau bertemu dan coffee shop ini saya pilih karena bersebelahan dengan sebuah penginapan. Pilihan yang ia setujui karena ia tak harus menunggu di lobi hotel saat check-in.

*

Wangi tubuhnya meruap saat ia menunduk sambil mengaduk minuman yang diantarkan oleh pelayan coffee shop. Saya menikmati pemandangan indah yang hadir di depan mata. Apa yang lebih indah dari seorang perempuan manis yang menunduk sambil mengaduk Green Tea?

“Kak sudah buka, ayo minum tehnya” ajaknya sambil tersenyum. Layar tivi menayangkan adzan Mahgrib. Saya lalu ikut meminum Green Tea pesanan. Tak sampai setengah gelas ia habiskan. Maya lalu mengurai rambutnya dan menyadarkan saya tujuan awal kami.

“Saya ke sebelah dulu yah, check-in. Saya akan sms nomer kamar” bisik saya pelan. Ia tersenyum. Saya pun menuju ke kasir membereskan tagihan. Perasaan bercampur aduk saat saya melangkah menuju hotel yang berbagi dinding dengan coffee shop itu.

**
Baca Juga Kisah Tentang Pekerja Seks Komersial di Pantai Bara Bulukumba

*Maya, tentu saja bukan nama sebenarnya. Ada beberapa pengalaman berdasarkan hasil penelusuran prostitusi online lainnya namun belum sempat saya tuliskan.

Comments (26)

  1. mana lanjutannyaaaaa :))

    • Gak ada kelanjuntannya :))
      rencana sih mau bikin tulisan tentang modus kupu – kupu daring di Makassar :))

      • Masih tetap setia menunggu lanjutannya hahahaha jadi disms no kamar ini? X)) atau berlanjut dengan kencan di coffee shop lain? Penasaranka bin kepo hahahha

  2. Wahhh, bulan puasaa, Kak! *Tapi saya penasaran kelanjutannya… _ _”

    • Gak ada kelanjutannya :))
      rencana sih mau bikin tulisan tentang modus kupu – kupu daring di Makassar kalau ada dana investigasi partisipasif :))

  3. Praktek prostitusi online sebenarnya sudah ada sejak lama
    Saya sdh tau sejak 10 tahun yang lalu, saat saya masih status pelajar
    Awalnya dari sebuah forum, lama kelamaan menjalar ke socmed, dan yg paling marak lewat aplikasi chat

    Bedanya, dulu transaksinya masih sedikit dan “ekslusif”
    Sekarang, semua orang bisa akses

  4. ku baca ini kita ku bayangkan kak hahahahha..butuh ka kekny ep selanjutnya hahahahaha

  5. Dulu jaman Mirlc (ketahuan umurnya hahaha) pernah iseng. masuk beberapa room akhirnya nyantol ke sebuah percakapan dengan seseorang. Kurang lebih alurnya sama dengan cerita ini. Sampai pada part dikasi nomer kamar dan ditunggu diatas, disitulah saya baru sadar. Ternyata yang terjadi tadi hanyalah sebuah mimpi…..

  6. Saya ndak tahu mau komen apa.
    Tapi ndak sopan sudah di sini baru no comment. Kelanjutannya mo pale nah? Tentang modus kupu2 daring itu. Berguna buat mamak2 biar ngeh sama beginian. Entah apa saja yang ada ke depannya. Anakku yg besar malah 17 tahun mi, saya perlu tahu banyak hal tentang apa saja yang bisa diperoleh anak muda di internet. Ada kelanjutannya toh, Oppa?

    • Prostitusi daring biasanya banyak di aplikasi kencan kak. Ada banyak juga di media sosial seperti fb dan Twitter. Harus ki sering2 ingatkan anak2 kalau media sosial dan internet punya dampak negatif.
      Belum ada kelanjutannya, kak. Saya tidak terlalu mengikuti perkembangan beginian sekarang. Tapi kayaknya modus sama mungkin media/platform yang berubah.
      Sebagai contoh, di atas itu saya pakai aplikasi bee talk, skrg ada aplikasi mi chat yang saya penggunanya banyak yang menawarkan jasa seperti yang Maya tawarkan.

  7. Ini mi namanya kentang alias kena tanggung! Wakwkakkk…

    Jadi, lanjut?

  8. Nda pernah mi lagi ko kontak?
    Eh masih adakah itu coffee shop yang dulu jadi tempat ketemuanmu?

  9. Nanggung skali ndada lanjutannyaa haha…

  10. Huuuu… Mana lanjutannyaaaaaaaa. XD
    Btw, kopi shop apa ini kak, bukan jih KEPO? Ada juga penginapan sebelahnya, ehtapi ndak satu tembok dih… Di mana yah ini tempatnya XD

  11. Baca ini mengingatkan saya novel kang Maman dengan judul Re, beda2 tipislah menelusuri praktek prostitusi, saya penasaran dengan lanjutnya 😢 bagaimanakah kehidupan Maya, duhh sy jadi baper, kadang seseorang dgn situasi yg paling sulit memilih jalan yg salah,

  12. Aplikasi chatting makin beragam, dari yang umum sampai yang jelas-jelas untuk dating. Yang berarti makin banyak pula pintu untuk prostitusi….

  13. Hmmmm.. Mauka berkomentar apa di’? Kayaknya jaman now harus hati2 banget mendidik dan memperhatikan anak-anak agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak baik.

  14. Aplikasi chat dari Korea itu ndak lama bertahan di hpku. Berat dudui… Jadi saya uninstall. Ternyata banyak tong yang pakai fitur look around-nya yaa..

    Mau k’ tanya kelanjutan ceritanya, tapi janganmi. Biar menjadi rahasia antara Lebug dan Qaqa Maya #eaa..

  15. Wih wih wih hahahahah
    Semoga ka kebaca sama anak-anak dibawah 17 tahun nih postingan
    Trus gimana skrg mbak maya ?
    Dan itu kita sms in jadinya no kamar hotel? Hahhahahaha

  16. Nda tau mau bilang apa setelah baca tulisan ini kak. Speechless ka😅 Bukan dengan kopdarnya tapi dengan aplikasi dan media sosialnya. Agak ngeri juga aplikasi sekarang kak yah. Apa lagi untuk anak remaja yang mau beranjak dewasa. Mesti diawasi

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.