Tak Perlu Menjadi Pria Metroseksual Asal …

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganWarita

Tak Perlu Menjadi Pria Metroseksual Asal …

Pria Metroseksual

Sampai sekarang saya masih memilih untuk tidak menjadi pria metroseksual, cukup jadi cowok wangi saja. Lebih ke demi kenyamanan orang sekitar saya.

“Pokoknya saya tidak mau ketemu sama kakak!” suara gagang telpon dibanting terdengar keras dari balik telpon. Saya menghela nafas panjang. Hampir saja saya memukul kaca bilik wartel* jika tak segera menyadari kalau ada beberapa pasang mata mengarah pada saya.

Emosi yang sempat naik dan setengah mati saya redam saat menutup telpon kembali memuncak saat keluar dari bilik. Seseorang berusaha masuk bilik sementara saya belum betul-betul keluar. Dia menabrak dan membuat saya terdorong ke pintu bilik. Untunglah, dia segera meminta maaf saat saya maju dan memegang kerah bajunya.

Dua orang laki-laki seumuran saya yang sepertinya sedari tadi memerhatikan saya tampak kesal. Mereka bergerak maju ke arah saya. Saya segera meminta maaf karena telah membuat mereka menunggu lama dan sempat terbawa emosi. Bergegas saya menuju kasir dan menyelesaikan pembayaran. Saya tak ingin berlama-lama. Kan tidak lucu, abis bertengkar dengan pacar lalu dikeroyok pula.

Pertengkaran itu terjadi karena sudah seminggu lebih pacar saya tak mau saya jemput di tempatnya magang. Ada-ada saja alasannya menghindar ketika saya mengabari akan menjemputnya. Pulang bareng temanlah. Masih ada yang harus ia kerjakanlah. Dan, banyak alasan lain. Padahal seminggu pertama dia magang, dia akan merajuk jika saya terlambat menungguinya di depan kantor tempatnya magang.

Pada pekan kedua, Ia mulai menghindari saya. Tak ada penjelasan apa pun. Hanya menyisakan tanda tanya besar di kepala. Hingga suatu hari, tanpa memberitahukannya terlebih dahulu, saya menungguinya tepat di gerbang kantor. Dari jauh saya lihat ia tertawa. Mungkin bercanda dengan teman-temannya. Namun begitu mata kami berpapasan, mukanya berubah kecut.

Tanpa berpamitan pada temannya, Ia langsung mengambil helm yang saya sodorkan dan naik ke motor. Juga tanpa berkata apa-apa. Motor lalu saya arahkan menuju tepi danau Unhas. Tempat di mana kami kerap meghabiskan waktu bersama. Namun kali ini dengan suasana berbeda. Kami marahan.

“Kau dekat sama cowok lain?” hanya menunggu beberapa jenak dari memarkir motor saya langsung mengeluarkan kecurigaan saya. Saya tak bisa menyimpan lebih lama semua isi kepala.  Melihat ia hanya diam saja, saya malah makin emosi. Tak bisa mengontrol ucapan. “kau pasti selingkuh!” kali ini nada bicara saya lebih ke tuduhan daripada sebuah pertanyaan.

Saya terbakar cemburu. Membayangkan setiap hari ia berinteraksi dengan pegawai – pegawai cowok di kantornya yang berpenampilan rapi dan modis membuat saya takut kehilangan dia. Bisa saja ia jatuh cinta pada salah satu pria metroseksual di kantor tempatnya magang. Perasaan yang membuat saya tak mampu menahan amarah.

Ia hanya menggeleng. Wajahnya memerah. Pupil matanya membesar. Tatapan matanya tajam mengarah ke mata saya. Alis tebalnya tertarik ke bawah dan saling mendekat.  Ada semacam garis vertikal muncul di antara alis. Kelopak mata bagian bawahnya menegang.  Dia juga marah. Tepatnya murka. Amarah membuat saya telat menyadarinya.

Sesaat saya lihat cuping hidungnya mulai mengembang, dan mulutnya mengatup kencang dengan bibir tertarik ke bawah pada sudutnya. Sepertinya Ia ingin berteriak namun mampu ia tahan. “Jang ki hubungi ka lagi! Hanya itu yang katakan sebelum bergegas pergi. Sekilas, saya lihat matanya basah. Meninggalkan penyesalan bermain di kepala.

Dia bukan perempuan pemarah. Jarang sekali marah malah. Tapi dia keras kepala. Sangat keras kepala. Saya hafal benar akan butuh waktu lama untuk menghapus kemarahannya. Itu berarti hubungan kami kali ini akan terancam berakhir. Pffft.

Seminggu setelah kejadian itu saya tak menghubunginya. Tak berkabar apa pun. Juga tak berharap dia akan terlebih dahulu menghubungi saya. Tak akan terjadi. Saya tahu pasti. Pikiran saya membuncah sejak tak mendengar kabarnya. Juga , ternyata saya tak sanggup menahan rindu. Saya pun menelponnya dan berharap kami bisa baikan kembali. Namun yang terjadi, dia membanting gagang telpon seperti yang saya ceritakan di atas.

Untunglah, saya berhasil menemui sahabatnya dan menceritakan masalah kami. Ternyata, sahabatnya ini juga mulai cemas melihat si Dia yang belakangan terlihat lain. Sehari-harinya ia lebih banyak diam padahal ia adalah perempuan ceria. Sahabatnya bercerita kalau dia sangat marah karena saya menuduhnya selingkuh.

“Dia ndak mau dijemput karena maluki beng. Ada yang bilangiki cowoknya rantasa’. Terus diketawai satu kantor.” Penjelasan sahabatnya membuat saya lega. Setidaknya, si Dia tidak berpaling hati. Harus saya akui saya tidak bisa serapi lelaki-lelaki yang ada di kantor tempatnya magang, tapi saya juga tidak merasa rantasa’. Melalui sahabatnya pula, si Dia meminta saya menjemputnya pada keesokan harinya. Rupanya dia mau berdamai.

Setiba di rumahnya, ia mengajukan satu syarat jika saya ingin memperbaiki hubungan kami. Tak perlu berpikir panjang, saya mengiyakan dan langsung mengikuti ke mana ia pergi. Ke Salon! Salah satu penawar terbaik untuk marah si Dia adalah salon. Jadi saya tak menaruh prasangka sama sekali. Mungkin dia mau cuci rambut, pikir saya.

Ketika berada di dalam salon Ia langsung meminta seorang pegawai salon untuk melayani saya. “Cowokku juga nah, Mbak” Saya tersenyum dalam hati ketika mendengar ia menyebut saya sebagai cowoknya. Ah, ia tak lagi marah. Namun, saya langsung panik ketika menyadari bahwa Ia juga ingin saya potong rambut.

Saya hampir menolak andai saja tak membayangkan dia akan marah lagi. “Tenang mi ki, saya ndak minta ji ki jadi pria metroseksual. Cuci rambut saja nah” Saya menerima apa yang ia bilang sebagai sebuah perintah. Pun, saat ia bilang ke pegawai salon itu untuk melakukan perawatan pada wajah saya. “Facial ki juga, Mbak.”

Alhasil, saya keluar dari salon dengan perasaan aneh. Rasanya saya bukan saya. Bukan saya yang tak peduli pada penampilan.  Bukan saya yang tetap pede ke kampus meski tak bersalin baju selama tiga hari dan hanya cuci muka. Aneh tapi menyenangkan. Saya merasa segar. Terlebih saat melihatnya tersenyum manis begitu mematut saya ke cermin.

Setelah itu, Ia selalu meminta saya untuk menjemputnya di tempat magangnya. Ia bahkan meminta saya datang lebih awal, paling tidak 15 menit sebelum jam pulang. Jika sebelumnya saya menunggu di depan gerbang kantor, setelah itu ia meminta saya menunggu di ruang tunggu yang tak jauh dari ruangannya. Saya tahu ia memamerkan saya di depan orang-orang kantornya. Bahwa cowoknya bukan cowok rantasa’.

Pria Metroseksual

Sungguh saya tak pernah membayangkan akan jadi pria metroseksual. Sampai sekarang pun tidak. Saya tidak bisa menaruh perhatian lebih kepada penampilan, juga tak akan bisa memiliki kepekaan mode. Saya tak akan memilih pakaian berkualitas atau bermerek, serta memiliki kebiasan merawat diri (grooming).  Bagi saya, itu ‘kurang laki’.

Ciri Pria Metroseksual

Istilah pria metroseksual berasal dari dua kata, yaitu metropolitan dan heteroseksual. Adalah seorang wartawan bernama Mark Simpson yang memelopori penggunaan istilah ini melalui artikelnya yang tayang tanggal 15 November 1994, di harian The Independent. Simpson menulis:

Pria Metroseksual, pria lajang belia dengan pendapatan berlebih, hidup dan bekerja di kawasan perkotaan (karena di situlah toko-toko terbaik tersedia), mungkin adalah pasar produk konsumen yang paling menjanjikan pada dekade ini. Pada dekade 80-an pria seperti ini hanya dapat ditemukan di dalam majalah fashion seperti GQ, dalam iklan televisi jeans Levi’s atau dalam bar gay. Pada dekade 90-an ia ada di mana-mana dan ia gemar berbelanja.

David Beckham ikon pria metroseksual.  Gambar oleh Giovanna Trucco
David Beckham ikon pria metroseksual. Gambar oleh Giovanna Trucco

Sebuah artikel yang berjudul Meet The Metrosexual yang terbit pada tahun 2002 mendaulat David Beckham, seorang pesohor sepakbola dari Inggris, sebagai sebagai poster boy (model) pria metroseksual. Istilah ini kemudian semakin populer setelah Biro iklan Euro RCSG sedunia mengadopsi istilah ini.

Melihat dari apa yang Mark Simpson tuliskan mengenai pria metroseksual, tentu saja saya sangat jauh dari itu. Definisi lajang dengan pendapatan berlebih saja sudah membuat saya gugur. Apalagi jika menilik kebiasaan pria metroseksual. Sangat jauh bak kamu dan mantan yang sudah melupakanmu.

Tak Perlu Jadi Pria Metroseksual Asal Wangi

Untuk pakaian misalnya, saya merasa tak perlu mengikuti fashion metroseksual. Sehari-hari hanya mengenakan kaos dan celana panjang. Tak pernah melihat merek asal nyaman dipakai. Apalagi harus melakukan perawatan diri dengan menggunakan kosmetik untuk pria dan ke salon atau spa, atau melakukan perawatan tubuh seperti perawatan rambut, kuku dan kulit.

Saya merasa tak perlu melakukan perawatan pria metroseksual yang menguras waktu dan uang. Cukup dengan perawatan seadanya. Di kamar mandi, selain sabun mandi, shampoo, odol dan sikat gigi, yang ada hanyalah pembersih muka. Itu pun tak fanatik pada merek tertentu. Selain itu hanya ada parfum di kamar. Tak ada yang namanya deodorant dan lain-lain. Saya cukup percaya diri kalau aroma tubuh saya tidak mengganggu orang lain yang berada di dekat saya.

Saya mulai pakai parfum pun yah sejak kejadian mantan pacar ngambek yang saya ceritakan di atas. Rupanya, si Dia saat itu tak puas hati hanya dengan membawa saya ke salon. Kami kemudian menuju mal terdekat lalu masuk ke gerai The Body Shop. Ia meminta saya memilih parfum untuk saya pakai! Sesuatu yang tak pernah lakukan sebelumnya.

Saat ini saya punya dua parfum: White Musk Sport, eau de toilette keluaran The Body Shop dan Blue, eau de parfum,- Sophie Paris. Saya memilih white musk karena memberikan sensasi aroma yang segar dan bersih. Perpaduan dari vetiver dan  kayu cendana menciptakan aroma yang lembut namun tetap hangat.

Selain demi kenyamanan orang sekitar kita, seperti alasan saya memakai parfum, dan demi pacar dan teman kerja, parfum dipercaya bisa meningkatkan kepercayaan diri pria. Tak perlu malu karena bau badan yang mengganggu.

So, tak perlu menjadi pria metroseksual asal wangi. Tentu saja selain wangi, harus bersih dan rapi. Sedap dipandang dan wangi diciumin…

*

Sesaat sebelum menekan publish, saya membuka kembali sebuah pesan whatsapp. Dari seseorang dengan foto profil boneka anjing dan beruang kecil yang teramat saya kenali.

Pesannya singkat: “Kak, yang tersisa hanya aroma tubuhmu..”

Seseorang itu, dia yang dulu membanting gagang telpon.

Kalian tidak tahu apa itu wartel? Wartel itu singkatan dari warung telekomunikasi. Dulunya, tak semua orang punya ponsel, jadi kami telponan menggunakan telpon rumah. Nah, wartel inilah yang menyediakan bilik dan telpon untuk kami pakai pacaran. Bayarnya sesuai pulsa yang kami pakai. Jumlah pulsa terpakai ini terpampang berupa lampu angka digital berwarna merah yang biasanya ada di atas perangkat telpon.

Comments (23)

  1. Deeh, nda enaknya itu bertengkar di wartel. Mau keras bicarata, banyak orang yang bisa dengar. Belum lagi khawatir ongkos telepon mahal, hahahaha.

    Btw, saya ndak pernah pake parfum. Cologne ji. Itupun sering lupa. Saya malah nda suka wangi yang berlebih. Nasib punya hidung sensitif.

  2. Saya juga pakai White Musk Men-nya The Body Shop kak. Memang bagus wanginya ndak strong kayak parfum eceran yang saya saja enggan untuk pakai karena salah bau sedikit pasti sakit kepalaku.

  3. Saya bukanji iyya nda suka cowok yg rapi, tapi kalo terlalu rapi dan merawat diri, khawatir ka dikalah modis…
    Saya suka cowok yang kelihatan cuek sama penampilan tapi yang dia pake bermerek semua #ehh

    btw, white musk kayaknya yg wanginya paling “nyaman” di hidung.

    *brb cek2 poto profil di contact list, mencari gambar boneka anjing dan beruang.

  4. Dulunya saya ndak suka sama pria metroseksual, tapi dua dari empat putraku mungkin masuk kategori ini. Kosmetiknya nakalah-kalah mamanya hahaha… Eh saya jadi suka. Apalagi kalau lewatmi di depanku, wangi parfumnya sungguh nyaman di hidung, tapi sering juga pakaballisi iya ka mukanya lebih cling dari mukaku.

    Mungkin inimi dibilang iri tanda tak mampu, hehehe….

    oh yah, satuji pertanyaanku.
    “Di manami itu cewekta yang kasiki pesan singkat? Bisakah kenalan?”

  5. Kalau keinginan ingin tampil modis dan kekinian sejalan dengan istilah metroseksual itu bisa juga sih..tapi saja lebih ke apa adanya..Do the best ajha..sesuaikan juga tampilan dengan isi kantong masing-masing..jgn sampai ingin metroseksual kebutuhan pokok lainya terabaikan, hehhe

  6. Pria Metroseksual, pria lajang belia …. jadi kalo usia 40 tahun ke atas bukan mi namany ametroseksual dih? saya kira sampe berambut putih pun yang penampilannya modis banget tetap disebut pria metroseksual.

    Eh, kalau bau asap rokok dengan parfum, bukannya aneh? Maaf, menurut saya, sih. Kadang-kadang ada cowok yang lewat terus tertangkap aromanya, baku campur ki bau parfum dan rokok, koq malah aneh. Mending pilih salah satu. Tapi mungkin ada parfum tertentu yang menetralkan bau rokok kali ya?

    Kalau saya, ndak suka bau parfum cowok. Untungnya suamiku juga ndak suka, saya lebih suka dia apa adanya … ndak usah bau parfum, yang penting mandi 😀 Saya juga dari dulu ndak suka cowok metroseksual, seperti yang kita’ bilang “kurang laki” ….. mungkin terbentuk dari kesan yang kuat sekali selama saya kuliah di fakultas yang kebanyakan cowoknya.

  7. Saya ndak merasaji pria metroseksual namun kalo ketemu orang agak ndak enak juga kalau baunya masam. Ngomong-ngomong soal bau. Beberapa orang kenalan ku suka dengan aroma lelaki, Maksudnya aroma khas lelaki dan jelas itu sangat jauh berbeda dengan bau yang tidak nyaman.

  8. Hmmmm… Memperhatikan penampilan itu termasuk perlu juga untuk pria. Intinya sih rapi dan sopan biar kita yang ngeliat jadi lebih enak aja liatnya. Tapi kalau berlebihan sering kesal, gara-gara kalau minta tolong aja untuk beli sesuatu keluar, katanya harus rapih dulu, memperbaiki penampilan dulu. Pusing aku tuh, pliss mauji beli pisang gorang.

  9. Saya juga oakai whitemusk dari The Bodyshop, enak wanginya. Duh suka sekali sama tulisan Oppa, bagaimana bisa menulis kek gini. Ajarkan saya kak Anchu, plis.
    Btw bicara soal metrosexual kalau menurut saya cowo tuh yang paling penging adalah bersih badan dan pakaian musti bersih. Eh hati dan fikiran juga kalau bisa bersih lah ya 😂😂. Kalau urusan parfum balik lagi ke selera, ada juga parfum yang bikin mabok qo alias puyeng. Ganteng itu kan relatif, tapi bersih dan ber-attitude itu wajib.

  10. Masih setia dengan cologne, parfum dipakai hanya kalau mau kondangan ☺️ ok jadi bisa bedain parfum dst. Soal parfum kayaknya saya musti belajar banyak lagi 🙈

  11. Menurutku parfum itu cocok2an juga sih dan nantinya akan menyatu dengan bau alami kita. Suamiku juga lebih suka pake parfum dibanding saya. Kalau saya lebih suka pake lotion yg wangi. Tp biasanya suka bawa2 parfum mini juga biar kalo sudah seharian beraktifitas tetap wangi

  12. Duuuuuh saya anaknya lemah sama cowok wangi, apalagi wanginya krena pake parfum sophie paris wkwkwkwkkw

  13. Prolognya cetar banget hehe jadi ingat dulu saya juga suka telpon2an di wartel 😅 ngomong2 soal pria metroseksual saya juga nggak tertarik ya, lebih tertarik aja sama pria yang rapi, bersih dan harum (baik pake parfum ataupun nggak). Syukur dapet jodohnya juga yang kayak gitu.

    Kalau pake parfum pun saya cuma bolehkan dia beli parfum non alkohol yang harganya cuma 5/10 ribu di sentral. Parfumnya yang penting harum kan nggak musti mahal. Apalagi saya juga nggak terlalu suka dengan parfum yang baunya terlalu menyengat.

    Btw endingnya jleb banget😂

  14. Saya juga lebih cenderung seperti abang sih haha. Karena untuk menjadi pria yang metroseksual menurut saya tidak menjadi tolak ukur perempuan untuk menilai menarik tidaknya seorang pria. Jadi pria yang sehat dan mapan saja sudah cukup, tapi sangat perlu juga itu untuk memperhatikan kerapihan biar nda dibilang rantasa’

  15. Baca tulisannya oppa mengingatkan ku sewaktu SD dulu selalu temani mama kalo habis dijemputka pulang sekolah ke wartel dekat rumah. Kuingat juga ada tarifny disitu tercantum, tapi skrng wartel sudah tidak adami hehehe.

    Btw, saya juga pake parfumnya the body shop. Tapi bukan yg white musik, sepertinya pengen nyoba baunya dehhh. Kek banyak yg suka dari temen2ku.

  16. kebiasan merawat diri (grooming). Bagi saya, itu ‘kurang laki’. wkwkwwk siappppp !!!!
    pembenaran ni.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.