Potret Sumpah Pemuda dan Nasib Petani Polongbangkeng

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Dinamika KotaKata Kota

Potret Sumpah Pemuda dan Nasib Petani Polongbangkeng

Potret Sumpah Pemuda - Iqbal Meta

Sekitar pkl 13:00 wita, saya melintas di Jl. Pettarani menjelang traffic lamp Pettarani – Herstasning. Tiba-tiba mata saya perih, sangat perih. Beberapa pengendara motor di depan saya mengubah haluan dan berputar melawan arus lalu lintas lalu menerobos separator jalan. Di depan kami sedang terjadi bentrok antara polisi dan pendemo. Untuk membubarkan pendemo, polisi menggunakan gas air mata. Sisa-sisa gas air mata inilah yang membuat perih mata kami.

Saya mengambil jalan pintas menuju Jl. Rappocini, rupanya jalan ini pun macet. Sebuah mobil water canon mencoba balik ke arah Pettarani. Jl Rappocini siang hari berlaku satu arah, terlarang bagi kendaraan roda empat dari arah Pettarani. Mobil aparat ini melawan arah demi mengejar para pendemo. Dari warga saya mendengar aparat-aparat itu berhasil menangkap dan mengeroyok seorang pendemo. “Mahasiswa itu babak belur” kata warga itu. Sebelumnya di depan saya seorang aparat, yang umurnya mungkin tak lebih dari 25 thn, berusaha mengejar mahasiswa yang berlarian. Ia memanggil rekan-rekannya sesama aparat dan beramai-ramai mengejar pendemo itu. Untunglah, ada seorang aparat yang usianya lebih tua yang menenangkan aparat-aparat muda itu dan meminta mereka mundur. Saya sempat berjumpa dengan seorang kawan yang sedang meliput kejadian itu. Padanya saya bertanya tentang isu aksi pendemo-pendemo itu. “Dalam rangka Sumpah Pemuda” jawab teman itu singkat.

Saya lalu memutuskan pulang. Menjelang pkl 15:00 saya kembali melintas di Jl. Pettarani. Ratusan mahasiswa berjaket orange yang berkendara sepeda motor dan menumpang sebuah mobil truk tampak berkumpul di depan Gedung Menara Phinisi. Lalu lintas di perempatan Hertasning – Pettarani terlihat lancar. Sesampainya di kedai tempat kami biasa berkumpul, saya kabarkan apa yang saya lihat pada seorang teman yang berprofesi sebagai wartawan foto sebuah koran. Tak lama, teman tadi menerima telpon yang mengabarkan bentrok pecah kembali. Ia tak menunggu lama dan segera ke TKP.

Saya mengikuti perkembangan kejadian ini melalui timeline twitter. Rupanya, mahasiswa-mahasiswa UNM yang saya lihat tadi menjadikan polisi sebagai sasaran lemparan batu mereka. Polisi tentu saja tak tinggal diam, mereka membalas dengan gas air mata. Demonstrasi dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda ini tak hanya terjadi di kampus UNM Pettarani, tapi juga di Flyover dan beberapa kampus lainnya di Makassar.

Sekitar 50km dari Makassar, petani-petani di Polongbangkeng Takalar terus berjuang menuntut tanah mereka yang dirampas oleh PTPN XIV. Sejak 2005, HGU PTPN XIV harusnya berakhir tapi PTPN itu terus melakukan aktivitasnya seolah-olah HGU tak punya batas waktu. Petani Polongbangkeng pun melakukan perlawanan untuk merebut kembali tanah mereka. Terakhir, bentrok kembali pecah di Polongbangkeng. Beberapa petani terluka akibat perlakuan aparat yang membekingi PTPN XIV. Kisah perjuangan petani Polongbangkeng bisa dibaca di RENTANG PERJUANGAN SELAMA 27 TAHUN

Saya membayangkan andai saja mahasiswa-mahasiswa pemberani, yang melawan aparat dalam demo aksi Sumpah Pemuda hari ini, mau bersatu padu membantu para petani Polongbangkeng di sana. Tentu dampaknya akan jauh lebih berbeda.. Perjuangan mereka akan jauh lebih bermakna..

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.