Perang Tagar #UninstallBukaLapak Adalah Tontonan Lucu

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganInternet

Perang Tagar #UninstallBukaLapak Adalah Tontonan Lucu

Perang Tagar #UninsallBukaLapak

Jagat media sosial tiga hari belakangan lagi lucu-lucunya. Apalagi kalau bukan perang tagar Perang Tagar #UninstallBukaLapak Vs #UninstallJokowi itu

Sungguh perang tagar #UninstallBukaLapak Vs #UninstallJokowi adalah sebuah tontonan menarik dan menghibur bagi kaum yang memilih untuk tidak terlibat berperan sebagai Jokower dan Prabower, atau apapun sebutan bagi fans fanatik kedua calon presiden RI itu.

Perang Tagar #UninstallBukaLapak Vs #UninstallJokowi  ini bermula dari cuitan Ahmad Zaky, CEO Bukalapak, Rabu (13/2/2019) pukul 22.25 WIB.

Tweet Achmad Zaky yang memicu perang tagar #UninstallBukaLapak
Tweet Achmad Zaky yang memicu perang tagar #UninstallBukaLapak

Dia menunjukkan data perbandingan dana riset dengan negara-negara lain. Menurut Zaky, dana riset dan pengembangan di Amerika sebesar US$ 511 miliar, Cina US$ 451 miliar, Jepang US$ 165 miliar, Jerman US$ 118 miliar, Korea US$ 91 miliar, Taiwan US$ 33 miliar, Australia US$ 23 miliar, Malaysia US$ 10 miliar, Singapore US$ 10 miliar, dan Indonesia US$ 2 miliar. “Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin,”

Dalam kicauan itu Achmad Zaky membandingkan anggaran anggaran R&D Indonesia yang sangat minim pada tahun 2016 yang hanya 2 miliar dolar AS. Tertinggal jauh dari anggaran R&D negara lain. Apa yang ditulis oleh Achmad Zaky dalam kicauannya ini sebenarnya tak salah.

Dalam sebuah artikel Beritagar menulis Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir sudah berulang kali mengeluhkan anggaran riset dan pengembangan yang sangat, sangat minim. Per 2018, nilai yang dianggarkan untuk riset hanya berkisar Rp29 triliun ($2,1 miliar AS) atau 0,25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

presentase belanja riset terhadap PDB 200 - 2018
Coba bandingkan dengan negara lain.
(sumber: beritagar.id)

Blunder Pendukung Jokowi Dalam Perang Tagar #UninstallBukaLapak vs #UninstallJokowi

Hanya saja, dalam kicauan itu ada satu frasa ‘presiden baru’ yang membuat pendukung Jokowi meradang. Lengkapnya, ‘Mudah2an presiden baru bisa naikin’. Kalimat dan frasa penutup kicauan ini oleh pendukung Jokowi dianggap sebagai serangan pada Jokowi dan bentuk dukungan Zaky pada Prabowo.

Maka ramai-ramailah netizen pendukung Jokowi, alih-alih menyerang Achmad Zaky, namun Bukalapak dengan mengicaukan tagar #UninstallBukaLapak.  Tagar #uninstallbukalapak menjadi trending topik di Twitter pada Jumat (15/2/2019) pukul 12.00 mencapai 64,1 ribu.

Selain mengangkat tagar #UninstallJokowi, netizen juga memunculkan tagar #LupaBapak karena menganggap Achmad Zaky sebagai anak yang tidak tahu diri. Jokowi dalam berbagai kesempatan selalu menyebut Bukalapak dalam setiap kesempatan sebagai contoh unicorn milik anak bangsa. Pada ulang tahun Bukalapak yang ke 9 Jokowi juga menyempatkan diri hadir.

Menyerang Bukalapak adalah sebuah blunder, pendukung Jokowi mungkin lupa bahwa Bukalapak bukan platform biasa. Keberadaan aplikasi e-commerce ini terkait dengan hajat hidup orang banyak. Sebanyak 4 (empat) juta pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bergabung di dalamnya. Menyerang Bukalapak bisa diartikan meyerang jutaan orang yang menggantungkan hidup di dalamnya. Ini urusan perut kata seorang teman di dalam statusnya.

Bayangkan jika empat juta pelapak beserta keluarganya, anggap saja satu keluarga pelapak memiliki empat suara, maka akan ada 12 juta suara yang bisa jadi akhirnya memutuskan untuk tak memilih Jokowi pada Pilpres 2019 nanti. Belum lagi para pengguna aplikasi ini yang merasa termudahkan dalam mencari kebutuhannya.

Apalagi hajatan demokrasi lima tahunan ini sudah di depan mata. Sebuah potensi kehilangan yang tak bisa dikatakan sedikit, bukan?

Inilah yang saya sebut blunder pendukung Jokowi dalam Perang Tagar #UninstallBukaLapak Vs #UninstallJokowi itu.

Achmad Zaky sudah bertemu presiden dan meminta maaf, juga menghapus kicauannya. Bukankah hak dia sebagai warga negara dan pengusaha untuk meminta dana riset yang lebih layak? Seharusnya tak perlu ditanggapi begitu emosional.

Kemenangan Semu Pendukung Prabowo dalam Perang Tagar #UninstallBukaLapak Vs #UninstallJokowi

Tagar #UninstallBukaLapak yang menjadi trending topic itu kemudian mendapat balasan kubu pendukung Prabowo yang memunculkan tagar #UninstallJokowi. Tagar ini juga sempat menjadi trending topic pada Jumat pada pukul 15.20 WIB tagar #UninstallJokowi menjadi nomor 1 trending topic worldwide dengan total 58.100 cuitan. Tagar ini kemudian diikuti oleh tagar #ShutdownJokowi meski dengan jumlah kicauan yang lebih sedikit.

Jumlah kicauan yang jauh lebih banyak ini tapi belum bisa menjadi ukuran kemenangan sementara pendukung Prabowo. Pada tahun 2019ini, diproyeksikan jumlah pengguna Twitter aktif hanya 22,8 juta orang. Kalah jauh dibanding pengguna Facebook dan Whatsapp. Hingga Januari 2018, jumlah pengguna Facebook dari Indonesia mencapai 130 juta akun. Sementara Whatsapp berkisar pada angka 40an juta pengguna.

Twitter memang menjadi panggung orasi atau kampanye bagi kedua kubu karena lebih bersifat publik. Acapkali juga isu yang bermula di Twitter melintas ke platform yang lain semisal Facebook dan Whatsapp. Hal ini disebut Cross-platform virality yaitu beresonansinya informasi dari satu platform ke platform2 media sosial lain karena adanya irisan pengguna kanal-kanal tersebut yang turut menyebarkan.

Hanya saja, berdasarkan survey Indikator Politik Indonesia, menyebutkan bahwa tingkat keaktifan pengguna platform media sosial dan aplikasi percakapan menunjukkan bahwa hanya 2% pengguna twitter yang aktif, berbeda jauh dengan Whatsapp yang mencapai 77% dan Facebook 43%.

Lagi pula penetrasi Twitter terbatas, tidak seperti Facebook dan WhatsApp yang menembus ke ranah privat penggunanya. Di Facebook dan Whatsapp, pengguna bisa membuat grup di mana isu bisa diolah terus – menerus sementara di Twitter Trending Topic hanya berusia sangat pendek, kadang hanya dalam hitungan jam, itu pun bisa direkayasa melalui bot misalnya.

Perang sesungguhnya ada di Facebook dan Whatsapp. Jadi kalau pendukung Prabowo bersorak karena memenangkan perang tagar Perang Tagar #UninstallBukaLapak Vs #UninstallJokowi ini itu hanya kemenangan semu karena tagar-tagar lain akan segera muncul menggantikan tagar-tagar tadi.

Bagi orang seperti saya, Perang Tagar #UninstallBukaLapak Vs #UninstallJokowi ini tak lebih dari tontonan yang lucu dan menghibur yang diperagakan oleh kedua kubu. Toh, nanti pada tanggal 17 April 2019 saya akan tetap datang ke bilik suara dan mencoblos salah satu wajah keempat calon presiden dan wakil presiden.

Bagaimana dengan kalian?

Comments (18)

  1. Hahaha lucu juga ya, pantesan kemarin saya liat tagar #uninstallbukalapak ini secara sekilas tapi gak kepo kenapa bisa muncul tagar tsb. Jarang buka twitter juga soalnya. Baru tahu penjelasan detilnya setelah baca postingan Oppa Lebug ini.

    Yup, menjelang pemilu memang ada-ada saja tingkah netizen di medsos. Saya turut jadi penonton saja wkwk😅

  2. Trend tagar sebenarnya lbh sbg key word tuk memudahkan orang mencari berita yg di maksud. Usul, sebaiknya pmerintah membuat aturan kaidah tagar yg tak asal asalan dan tak kepanjangan..

  3. Perang tagar mmg perang semu tampaknya. Tapi saya lihat tagar2 ini kalau dirunut dan kemudian dikompilasi memjadi semcam “big data”, bisa dianggap mempengaruhi opini juga. Big data di pilkada DKI juga menunjukkan kecenderungan suara beralih, pdhl survey2 politik menunjukkan Ahok menang. Big data malah menyampaikan bahwa lawan Ahok lbh bnyak dibicarakan khalayak, yg kemudian menjadi indikator mereka menang. Dan voila. Ahok kalah.

    • iya Daeng. sepakat. makanya saya bilang ini blunder dari kubu pendukung Jokowi. tapi kalau dibilang ini juga kemenangan kubu Prabowo yah masih semu karena hasil akhir nanti ada di bilik suara.

  4. Mari Kita jelang 17 April saja dih. Saya juga ndak mau terlibat dalam perang tagar. Pernah ja bikin #install dan #unisntall tapi ndak populer. Eh apa hububgannya wkwkwk.

  5. Sangat menarik memang perang tagar di media sosial. Saya sendiri yang selama ini kurang memantau perpolitikan langsung mencari tahu tentang tagar-tagar tersebut. Analisa yang ciamik dari kak Ancu.

  6. Saya suka istilah semu, karena semu ini benar-benar bikin pihak-pihak yang terlibat merasa senang dan bahagia

    dan itu pun semu

    kita tunggu nanti aslinya di April 2017 saja, itu sudah nyata ^^

  7. Lucu2ki mmg om. Sy sampe install twitter lagi yg gara2 pengen baca2. Semacam hiburan buat ketawa2 aja. Hahaha…
    Lebih lucu lagi pas ada tagar #uninstalljokowi , trus ada org bule yg tanya aplikasi apa itu jokowi? Duh, kimmaluuuuu…. 😂😂😂

  8. Komentar-komentar lucu dan ajaib dari kedua kubu pendukung fanatik yang jadi hiburan. Di mana-mana perdebatan selalu tak terelakkan. Saya memilih untuk menikmati sambil menunggu hasilnya tgl 17 April nanti. Semoga tidak ada masuk rs jiwa…

  9. Dan karena ini terjadi di Indonesia, maka substansi dari yang dicuitkan akhirnya malah tenggelam oleh tagar-tagar tersebut. Kita ribut bicara soal tagar, tapi lupa soal dana riset yang memang masuk kecil.

    Anyway, kayaknya ada yang aneh di kalimat ini:

    “Selain mengangkat tagar #UninstallJokowi, netizen juga memunculkan tagar #LupaBapak karena menganggap Achmad Zaky sebagai anak yang tidak tahu diri.”

  10. Hal ini membuat Sang Ceo Buka lapak datang langsung ke Istana meminta maaf dengan Pak Jokowi.

    Pak Jokowi di depan awak media , mengatakan stop unsinstallbukalapak

  11. Saya pribadi menganggap semu saja perang-perang tagar begini. Kenapa? pada dasarnya para pendukug garis keras ini sudah punya pilihan masing-masing dan perang tagar-tagar semacam ini hanya bentuk lain dari show off dari kekuatan yang dimiliki. Bagaimana yang bukan? menurut saya sih sudah punya pilihan masing-masing hanya saja tidak pernah di ungkapkan secara explisit.

    that’s my 2 cent

  12. Saya sebenarnya malas berurusan dengan politik. tapi tagar itu pernah saya lihat di twitter dan saya cari sumbernya ternyata benar dari si pria AZ itu.

    uhhhhh netijen juga gak mau dikalah, kalau ada satu yg nyalakan api pasti yg lain tambahkan sekam, jadi makin heboh saja😂

    tapi big data itu sangat menggiring opini memang, tapi tergantung bagian otak mana lagi yang dipake kedua kubu😂

  13. Ahahaha lucunya, bahkan toh sampe ada orang luar yang nanya “Aplikasi apa itu Jokowi?” dan dia cari di play storenya tidak dapat hahaha. Sejujurnya agak miris sih, kita terlihat jadi tidak menghargai presiden sendiri.

  14. memang ada jutaan pelapak di Bukalapak, tapi. ada ratusan juta pendukung Jokowi, sepertinya itu bukanlah blunder hehe

  15. Duhh, Saya jg termasuk kaum yang suka menyimak saja kedua kaum itu😅, soalnya benar – benar ndak suka permainan kedua fansnya😁. Perang tagar ini termasuk yang paling menarik saya simak, hahaha.

  16. Saya juga sebatas menyimak saja ini kehebohan fans fanatik kedua kubu. Lucu dilihatnya tapi kadang bikin meradang juga hahaha… Tapi ia isu utamanya, tentang dana penelitian yang sedikit malah tenggelam di.

  17. Sekarang lagi sensi, apa yang diomongin atau dilakukan selalu dikaitkan dengan pilpres.
    Bahkan foto pun, angkat jari harus hati-hati. Padahal angkat jari telunjuk itu bisa berarti Tauhid, angkat jari 2 bisa berarti Victory. Hahaha…

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.