Dinamika Kota

Hikayat Pantai Losari Makassar dan Pisang Epe’

Pantai Losari Makassar

Pantai Losari Makassar pernah tersohor sebagai restoran terpanjang di dunia dan juga dikenal sebagai salah satu tempat menyaksikan senja terindah. Bagaimana Pantai Losari jaman dulu dan sejak kapan pisang epe’ hadir?

Pantai Losari Makassar adalah tempat favorit warga Makassar untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, pasangan, sahabat atau kerabat. Pantai Losari Makassar menjadi tujuan untuk bersantai, menikmati jajanan makanan dan minuman, atau menikmati matahari terbenam yang tersohor sebagai salah satu senja terindah.

Era dekade 80an – 90an, Pantai Losari penuh oleh jejeran gerobak penjual makanan dan minuman yang membentuk restoran terpanjang di dunia itu, saking ramainya terkadang pengunjung menggunakan tanggul pantai sebagai meja makan. Pada saat itu setidaknya tercatat setidaknya ada 300an penjual makanan dan minuman yang menyajikan beragam jenis menu. Mulai dari pisang epe’ hingga nasi goreng merah. Juga minuman seperti aneka jus dan minuman hangat.

Selain pisang epe’, hal yang paling saya ingat tentang Losari adalah Taman Gajah. Taman ini aslinya bernama Taman Safari, disebut juga Taman Gajah karena adanya Patung Gajah di dalamnya. Taman Safari ini terletak di sebelah kanan jalan masuk Jl. Metro Tanjung Bunga sekarang. Era tahun 80an – 90an Taman Safari dan Losari menjadi tujuan liburan keluarga dan mulai jadi salah satu titik destinasi yang ramai dikunjungi oleh warga dan juga pengunjung dari luar Makassar.

Di taman itu ada patung gajah, macan, buaya dan binatang lainnya. Juga ada perosotan, jungkat-jangkit dan ayunan. Patung-patung binatang dan sarana bermain kesemuanya menjadi daya tarik bagi anak-anak seusia saya saat itu. Seingat saya, juga ada kafe jadi bisa pesan makanan dan minuman. Taman Safari ini juga jadi tempat orang dewasa dan muda-mudi menunggu sunset.

Patung Gajah, satu-satunya yang tersisa dari Taman Safari Makassar. Patung ini berdiri kesepian di tengah keramaian lalu lalang kendaraan menuju kawasan Tanjung Bunga. (foto diambil pada tahun Januari 2013 – @lelakibugis)

Selain Taman Safari, bagi anak-anak pada dekade 80an – 90an, hal yang paling membahagiakan adalah ajakan ke Barata – Akai, Hoya, Jameson,  dan Taman Hiburan Rakyat. Tentang tempat bermain dan sarana rekreasi bagi warga Makassar pada era 80an – 90an ini saya tuliskan di bagian terpisah.

Losari dengan Taman Gajah-nya adalah tempat menyenangkan bagi saya saat anak-anak dulu.  Taman Safari ini hanya bertahan hingga awal dekade 2000an. Pembangunan kawasan Gowa-Makassar Tourism Development Centre (GMTDC) Makassar mengorbankan taman ini. Menyisakan patung gajah yang kesepian, berdiri sendiri, di tengah keramaian arus lalu lintas dari menuju kawasan Metro Tanjung Bunga.  Juga, tentu saja, ingatan orang-orang tentang taman ini. Pembangunan kawasan  GMTDC juga menyingkirkan 300an penjual makanan dan minuman yang berada di Pantai Laguna (lokasinya di sebelah kiri jalan masuk Jl. Metro Tanjung Bunga).

Keberadaan gerobak penjual makanan dan minuman ini bisa ditelusuri hingga beberapa dasawarsa ke belakang mengiringi perkembangan Pantai Losari. Pantai Losari pada dasawarsa 1950-1960 ditandai banyaknya orang memancing. Demikian juga dengan banyaknya bagang, sebutan untuk rumah bambu/kayu di tengah laut yang dipakai menangkap ikan. Losari pada jaman itu adalah tempat bersandarnya perahu nelayan penangkap ikan.  Nelayan ini kemudian menjual ikannya di pelelangan ikan yang terletak di lokasi Hotel MGH sekarang. Pelelangan ikan inilah yang menjadi dasar penamaan Jl. Pasar Ikan sekarang.

Seiring dengan ramainya aktivitas jual beli antara nelayan dan warga yang berlangsung sore hingga malam hari kemudian memancing kehadiran pedagang – pedagang yang menjajakan aneka kebutuhan, maka muncullah pasar dadakan. Juga para penjual makanan yang saat itu jajanan yang mereka tawarkan masih terbatas pada  pisang epe’, bakso dan kacang rebus. Pasar ini yang kemudian hari menjadi Pasar Senggol dan diresmikan pada tahun 1962. Lokasi Pasar Senggol ini tepat berada di depan Rumah Sakit Stella Maris hingga Jl. Bau Massepe, -rumah sakit  ini diresmikan pada tahun 1939.

Pada tahun 1965, HM. Patompo, walikota Makassar saat itu, membongkar Pasar Senggol dan memindahkan pedagang kaki lima dan penjual ikan ke dua lokasi; yaitu ke Jl. Hati Mulia (lokasi Pasar Senggol saat ini) dan sebagian lagi ke belakang Stadion Mattoanging. Para penjaja makanan yang mendorong gerobak dengan penerangan lampu petromaks yang berjualan di sekitar Pasar Senggol pun ikut berpindah dan meninggalkan Losari.

Dalam buku Makassar Nol Kilometer, terbitan Penerbit Ininnawa, seorang penjual pisang epe’ menuturkan bahwa mereka kembali berjualan di Losari pada akhir dasawarsa 70an setelah pergantian walikota Makassar. Abustam yang menggantikan H.M Daeng Patompo membolehkan para penjual makanan kembali ke Losari.

“Saya mulai berjualang di sini taung tujuh sembilang. Pada saat itu hanya lima penjual pisang epe’ di Losari.” Ungkap Dang Diman dalam tulisan yang berjudul Balada Kafe-Kafe Pantai Losari. Perlahan-lahan jumlah penjual makanan semakin banyak. Ini terjadi pada pertengahan 1980an. Pedagang makanan yang tadinya hanya segelintir kemudian bertambah dengan kehadiran pedagang makanan lain yang datang dengan mendorong gerobak mereka. Mereka berjualan menjelang matahari terbenam hingga dini hari.

Masih dalam buku yang sama, seorang pedagang lain, Esron menuturkan bahwa setidaknya ada 267 pedagang pada tahun 1997 ketika ia memulai ikut berjualan di Losari. Gerobak para pedagang ini berbaris sepanjang hampir dua kilometer. Terkadang saking ramainya, pedagang menjadikan tanggul pantai sebagai meja dan kursi saat menyajikan makanan mereka. Hal inilah yang memunculkan sebutan Losari sebagai restoran terpanjang.

Seorang artis, seorang artis ternama pada jaman itu, pernah kebingungan saat ia makan di Pantai Losari. Setelah selesai makan Desy Ratnasari bukannya membayar pada pedagang tempatnya membeli, ia bingung mencari kasir. Ia mengira ada kasir khusus untuk membayar makanan dan minuman. Cerita ini beredar pada pertengahan tahun 90an. Jaman itu, konon Desy Ratnasari sering kali berkunjung ke Makassar karena sedang menjalin hubungan dengan putra salah satu pengusaha di Makassar.

Pada tahun 1980an hingga akhir 1990an, ‘restoran terpanjang’ Losari menjadi tempat berkumpulnya warga Makassar mau pun pengunjung dari luar kota. Untuk sekadar menikmati matahari terbenam, makan malam dan juga menjadi tempat anak-anak muda menggelar bazar makanan dan minuman. Sebagai penanda, setiap gerobak ini diberi nomer. Saya paling ingat gerobak No 100, Gerobak Marthen yang terkenal dengan nasi gorengnya. Ada yang ingat?

Tahun 2000, pada masa pemerintahan walikota Amiruddin Maula, wacana penataan kembali Pantai Losari bergulir. Penataan ini untuk menjaga keberadaan pantai dari abrasi. Tembok tanggul yang keropos  dan polusi air yang makin parah menjadi alasan. Pertengahan 2001 Pemkot mulai melakukan penataa, 300-an pedagang ini dipindahkan ke Jl. Metro Tanjung Bunga. Cerita tentang restoran terpanjang pun berakhir di sini.

Meski Amiruddin Maula menjanjikan bahwa para pedagang ini tak akan dipindahkan lagi, namun walikota penggantinya yaitu Ilham Ari Sirajuddin pada tahun 2005 memindahkan mereka ke Pantai Laguna, lokasi Taman Safari dulu. Terbukanya akses ke kawasan Tanjung Bunga dan Takalar memberikan aliran pergerakan kendaraan semakin besar, begitu pula sebaliknya. Isu kemacetan sebagai akibat kehadiran mereka di lokasi itu menjadi alasan utama pemindahan ini.

Berkurangnya pendapatan di Pantai Laguna membuat sebagian penjual Pisang Epe’ mencoba kembali ke Pantai Losari di tengah pembangunan Anjungan Losari Makassar pada tahun 2012. (foto @lelakibugis)

Pendapatan pedagang makanan dan minuman  yang terpusat di Pantai Laguna ini kian hari kian menurun karena berkurangnya pengunjung yang datang menyebabkan satu persatu meninggalkan Pantai Laguna. Pada tahun 2012 pedagang yang tersisa pun kemudian tergusur dan  Pantai Laguna diserahkan kepada PT GMTDC selaku pemilik lahan.  Pedagang yang tersisa kemudian berjualan di trotoar sepanjang Jl, Penghibur hingga kemudian pada tahun 2014 Pemkot memutuskan untuk menampung mereka di area anjungan Losari. Namun, jumlah mereka tak lagi sebanyak pada tahun 80an – 90an.

Reklamasi dan kehadiran proyek Centre Point of Indonesia mengubah wajah Pantai Losari Makassar. Saat ini kehadiran berbagai bangunan yang berada di depan Pantai Losari Makassar,  mulai menghalangi pemandangan keindahan matahari terbenam. Pesona Losari sebagai tempat menyaksikan senja yang indah dan gelar restoran terpanjang pun hanya akan tertinggal dalam ingatan. Yang tersisa hanyalah sebuah patung gajah yang berdiri kesepian.

Baca juga 5 Alasan Menolak Reklamasi Losari

Saya bersama Daeng Ipul berbagi cerita tentang Losari di http://bit.ly/episodelosari sila didengarkan..

#CeritaMakassar #LosariMakassar

Comments (3)

  1. Sekarang orang Makassar dan pengunjung dari luar daerah bangga berfoto dengan latar belakang masjid, yang konon katanya terdiri dari 99 kuba, tapi saya justru miris melihat pemandangan itu. Bagi saya itu adalah keindahan semu.

  2. Restoran Terpanjang ini buat saya jadi tempat kenangan indah terakhir sebelum pisah sama Bapak. Setiap ke Makassar, wajib buat singgah ke sini dan pesan 3 menu dari gerobak yg berbeda, Bakso, Es Teler dan Pisang Epe.
    Biarpun Losari sudah tidak semenarik dulu lagi, setidaknya kenangan indahnya tetap terpatri.

  3. Ternyata banyak juga ya yang merasa kehilangan Losari zaman dulu
    Saya membayangkan sejarah alternatif seandainya para pedagang tetap di sana, tapi dengan penataan yang lebih bagus. Dan, tentu saja tidak ada reklamasi di seberang sana.

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.