Pahlawan Nasional Asal Sulsel (bagian 2)

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganFigur

Pahlawan Nasional Asal Sulsel (bagian 2)

pahlawan nasional asal sulsel (1)

Saat ini ada 12 pahlawan asal Sulsel yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
oleh Pemerintah Indonesia.

Sebelumnya, pada Pahlawan Nasional Asal Sulsel (bagian 1), ada  6 (enam) dari 12 pahlawan asal Sulsel. Kali ini akan memperkenalkan 6 (enam) pahlawan lainnya.

Inilah Pahlawan Nasional Asal Sulsel itu;

7. Pajonga Daeng Ngalie              

Pajonga Daeng Ngalle (lahir di Takalar, Sulawesi Selatan, 1901; meninggal dunia di Takalar, Sulawesi Selatan, 23 Februari 1958) adalah salah seorang pahlawan asal Sulsel dan juga seorang Karaeng (kepala pemerintahan distrik) Polongbangkeng pada tahun 1934.

Pajonga Daeng Ngalle adalah salah satu tokoh yang memprakarsi terbentuknya Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) dengan Ranggong Daeng Romo sebagai ketua dan Robert Walter Monginsidi sebagai sekretaris.

Terbentuknya LAPRIS ini menyebabkan serangan-serangan yang dilakukan pejuang kemerdekaan semakin gencar dalam mengusir pendudukan Belanda.

Nama Pajonga mulai dikenal saat mengajak puluhan raja di Sulawesi mendukung kemerdekaan Indonesia. Dirinya juga menolak mengakui Negara Indonesia Timur yang dibentuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus Johannes van Mook.

Berdasarkan SK Presiden RI No. 085/TK/Tahun 2006, nama Pajonga Daeng Ngalie ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

8.            Pong Tiku           

Pong Tiku lahir di dekat Rantepao di dataran tinggi Sulawesi (sekarang Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan) pada tahun 1846 dengan nama Tiku. Pong adalah gelar kebangsawanan suku Toraja. Pong Tiku (atau Pontiku dan Pongtiku), juga dikenal dengan nama Ne’ Baso, adalah pemimpin dan gerilyawan Toraja yang berjuang melawan Belanda.

Gubernur Jenderal VOC J. B. van Heutsz menganggap Tiku sebagai ancaman bagi kestabilan pemerintahan Belanda di kawasan itu. Van Heutsz mengutus Gubernur Sulawesi untuk memimpin penangkapannya.

Pada 30 Juni 1907, Tiku dan dua pasukannya ditangkap oleh pasukan Belanda; ia menjadi pemimpin gerilya terakhir yang ditangkap. Setelah beberapa hari ditahan,[39] pada 10 Juli 1907 Tiku ditembak dan dibunuh oleh pasukan Belanda di dekat Sungai Sa’dan. Sejak kematiannya, Tiku menjadi simbol pemberontakan Toraja.

Pong Tiku dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui Dekret Kepresidenan 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002.

Saat ini ada 12 pahlawan asal Sulsel yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.
Saat ini ada 12 pahlawan asal Sulsel yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
oleh Pemerintah Indonesia.

9.            Ranggong Daeng Romo

Ranggong Daeng Romo lahir di kampung Bone-Bone, Polongbangkeng, Sulawesi Selatan pada tahun 1915. Beliau adalah salah satu Pahlawan Nasional asal SulSel.

Ranggong Daeng Romo menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsch School dan Taman Siswa di Makassar setelah sebelumnya menimba ilmu agama di salah satu pesantren di Cikoang.

Pada saat pendudukan Jepang, Ranggong Daeng Romo sempat bekerja sebagai pegawai sebuah perusahaan pembelian padi milik pemerintah militer Jepang. Ranggong akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya karena pada waktu itu pribumi diharuskan untuk menyerahkan hasil bumi pada pemerintah Jepang.

Bersama dengan Pajonga Daeng Ngalle, Monginsidi, dan laskar-laskar yang ada di Sulawesi Selatan,  Ranggong Daeng Romo membentuk menjadi Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris) dan Ranggong diberi kepercayaan penuh untuk memimpin dan menjadi panglima.

Ranggong memimpin perang pada 21 Februari 1946,  dengan kekuatan lebih kurang seratus pasukan menyerang pertahanan Belanda. Serangan menimbulkan kesengitan yang luar biasa di antara kedua belah pihak. Dalam pertempuran tersebut, banyak tokoh Lapris yang meninggal dalam perang termasuk Ranggong yang terbunuh pada 27 Februari 1947. Jenazahnya kemudian dikebumikan di Bangkala.

Berkat jasa-jasanya pada negara, berdasarkan SK Presiden RI No. 109/TK/Tahun 2001 Ranggong dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Pemerintah Kota Makassar juga mengabadikan nama beliau sebagai nama jalan dengan mengganti Jl. Kakatua menjadi Jl. Pajonga Daeng Ngalle.

10.          Robert Wolter Monginsidi           

Robert Wolter Mongisidi (lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, 14 Februari 1925 – meninggal di Pacinang, Makassar, Sulawesi Selatan, 5 September 1949 pada umur 24 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus pahlawan asal Sulsel.

Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan saat Mongisidi berada di Makassar. Namun, Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II. Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda). Mongisidi menjadi terlibat dalam perjuangan melawan NICA di Makassar.

Pada tanggal 17 Juli 1946, Mongisidi dengan Ranggong Daeng Romo dan lainnya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang selanjutnya melecehkan dan menyerang Belanda. Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947.

Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Mongisidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949. Jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar pada 10 November 1950.

Robert Wolter Mongisidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November, 1973. Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana), pada 10 November 1973.

11.          Andi Sultan Daeng Radja              

Haji Andi Sultan Daeng Radja, lahir di Matekko, Gantarang, Bulukumba, 20 Mei 1894 adalah seorang tokoh kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional asal Sulsel.

Andi Sultan Daeng Radja berjuang menentang penjajahan kolonial Belanda dimulai sejak masih menjadi siswa di Opdeling School Voor Indlandsche Ambtenar (OSVIA) di Makassar.

Ketidak-sukaan Sultan Daeng Radja terhadap pemerintah kolonial dipicu oleh kesewenangan dan penindasan yang dilakukan pemerintah Belanda terhadap rakyat Bulukumba.

Sultan Daeng Radja secara diam-diam mengikuti kongres pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Sepulang mengikuti kongres ini, tekad Sultan Daeng Radja semakin berkobar untuk mengusir kolonial Belanda.  

Bersama Dr Ratulangi dan Andi Pangerang Pettarani, Andi Sultan Daeng Radja diutus sebagai wakil Sulsel mengikuti rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta. PPKI adalah badan yang bekerja mempersiapkan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Sepak terjang Andi Sultan Daeng Radja sebelum kemerdekaan RI dan sesudah kemerdekaan dalam memperjuangkan kemerdekaan RI, ternyata membuat khawatir NICA. Apalagi, Sultan Daeng Radja menyatakan tidak bersedia bekerjasama dengan NICA.

Tanggal 2 Desember 1945 NICA menangkap Andi Sultan Daeng Radja di kediamannya, Kampung Kasuara, Gantarang. Andi Sultan Daeng Radja kemudian dibawa ke Makassar untuk ditahan. Pemerintah kolonial berharap, penangkapan Sultan Daeng Radja akan mematikan perlawanan rakyat Bulukumba. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya.

Penangkapan dia semakin membangkitkan perlawanan rakyat Bulukumba terhadap NICA. Setelah lima tahun di penjara di Makassar, pada tanggal 17 Maret 1949, pengadilan kolonial kemudian mengadili dan memvonis Sultan Daeng Radja dengan hukuman pengasingan ke Menado, Sulawesi Utara hingga 8 Januari 1950.

Beliau meninggal di Rumah Sakit Pelamonia Makassar, Sulawesi Selatan, 17 Mei 1963 pada umur 68 tahun.

Atas jasanya, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Andi Sultan Daeng Raja sebagai pahlawan nasional erdasarkan Keputusan Presiden RI No. 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006.

12.          Yusuf Tajul Khalwati       

Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani atau lebih dikenal dengan Syekh Yusuf adalah salah seorang pahlawan nasional asal Sulsel. Ia juga digelari Tuanta Salamaka ri Gowa yang berarti ‘tuan guru penyelamat kita dari Gowa’ oleh pendukungnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan.

Syekh Yusuf lahir di Gowa,3 Juli 1626. Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Cikoang dari Daeng Ri Tassamang, guru kerajaan Gowa. Ketika Kesultanan Gowa mengalami kalah perang terhadap Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar.

Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682,
pahlawan asal Sulsel ini ditangkap dan diasingkan ke Srilanka pada bulan September 1684. Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki ratusan murid.

Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1693.

Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705.

Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional SK Presiden : Keppres No. 071/TK/1995, Tgl. 7 Agustus 1995

Ke 12 pahlawan asal Sulsel di tersebut adalah tokoh-tokoh yang patut menjadi teladan bagi kita semua. Kenali dan cintai Indonesia, tentu dengan dengan cara kita masing-masing.

Comments (1)

  1. Panjangnya cerita kehidupan sebenarnya para pahlawan tapi cuma sedikit-sedikit yang kita bisa peroleh, ya? Padahal bagus digali mengenai bagaimana jiwa nasionalisme mereka tumbuh, apakah yang terjadi pada saat itu. Pastinya ada pergolakan batin atau pengalaman spiritual atau apalah. Misalnya saja ada yang sekolah di sekolah Belanda, pasti banyak pergolakan batinnya saat itu.

    Oya

    “Pemerintah Kota Makassar juga mengabadikan nama beliau sebagai nama jalan dengan mengganti Jl. Kakatua menjadi Jl. Pajonga Daeng Ngalle.”

    Bagian ini kenapa ada di bagian bawah penjelasan tentang Ranggong Daeng Romo, Oppa? Ndak salah taruh? Kayaknya ndak pas ki tempatnya.

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.