Gaya HidupMusik

Musik Hutan: Menyatukan Musik dan Hutan

Setiap pesta pasti menghasilkan sampah…

Setelah sekian lama tak merasakan bangun pagi, Sabtu 6 September, kulit dan wajah ini akhirnya terpapar sinar matahari langsung. Belakangan, jam biologis saya adalah terbangun paling cepat pukul 08.00 pagi.

Menghirup udara pagi, di tengah jejeran pepohonan pinus pula, adalah sebuah keajaiban tersendiri. Dan keajaiban ini saya dapatkan di area perkemahan Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin yang terletak di Desa Bengo, Kab. Maros. Adalah #MusikHutan yang membawa saya ke sini dan menemukan keajaiban ini.

Apa itu #MusikHutan? Sebuah inisiatif dari beberapa musisi Makassar yang membayangkan “betapa menyenangkannya mendengarkan musik  di sebuah tempat yang indah, dimana musik mengalun bersama suara angin yang  menerpa dedaunan”. Mereka adalah musisi yang juga peduli pada keberlangsungan hutan dan Macaca Maura, species monyet endemik di pulau Sulawesi.

Spesies monyet berbulu coklat atau hitam dengan pantat berwarna pink ini diperkirakan akan punah dalam 50 tahun ke depan melihat betapa masifnya peralihan fungsi habitat mereka akibat pembangunan. Kepedulian ini mereka wujudkan dengan memasukkan Macaca Maura ke dalam logo #MusikHutan.

MusikHutan - Suasana

Pagelaran yang melibatkan musisi, band, desainer grafis, pekerja video, soundman dan pemerhati lingkungan yang semuanya berasal dari Makassar. Mereka menggelar #MusikHutan selama dua hari, 5-6 September 2014 di area perkemahan Hutan Pendidikan Unhas. Panitia membuat penampil dan penonton tak berjarak.

Tak ada panggung tinggi, stage hanya berupa kanopi yang tergantung di jejeran pohon. Tak ada tiang. Dekorasi panggung dibuat sesederhana mungkin. Hanya ada lampion-lampion yang digantung di bawah kanopi. Sesuatu yang indah tak selalu rumit, bukan?

Bagi para penonton, panitia menyediakan dua pilihan; menyewa villa atau melewatkan malam di dalam tenda. Saya sendiri memilih tenda, tentu saja untuk lebih menikmati desiran angin yang bertiup di sela pepohonan pinus. Juga merasakan dingin alami, udara Makassar sudah terlalu panas. Sesekali tubuh perlu disegarkan dengan air conditioner alam. Ini salah satu alasan kenapa saya memutuskan untuk menyaksikan #MusikHutan.

#MusikHutan2014 - malam

Hari pertama dibuka oleh Rizcky De Keizer pada Jumat malam, 5 September. Agak telat dari jadwal semula, yang rencananya dimulai pada sore hari. Keterlambatan ini bukanlah masalah besar, terlebih penonton berdatangan justru saat malam hari. Mungkin ini disebabkan oleh jarak antara Makassar dengan Bengo yang membutuhkan jarak tempuh yang lumayan lama akibat kemacetan di Makassar. Saya sendiri membutuhkan 3 jam lebih untuk menempuh jarak 70an kilometer. Normalnya, jarak ini hanya memerlukan 2 jam.

Band-band semisal Barliandt, Urban Eggs, Highway, The Jokes, Oxryal, Other Stories dan Teman Sebelah Kamar mengisi menghangatkan malam pertama. Hari ke 2 diisi oleh Insidia di pagi hari sebelum jeda. Waktu jeda antara pukul 09:00 hingga 16:00 ini terasa sangat panjang. Beberapa penonton terlihat santai di depan tenda masing-masing. Ada pula yang menikmati wahana flying fox hanya dengan membayar Rp. 10.000,-. Beberapa penonton terlihat antri di depan toilet umum dan jungle shower.

Saya sebenarnya sangat ingin mandi di bawah siraman air yang mengalir dari bambu di pemandian yang berdinding rumbia setinggi pinggang lelaki dewasa. Sayang, saya tak membawa celana ganti yang bisa dipakai berbasah-basahan. Bisa saja sih nekat mandi naked tapi saya belum seberani itu J

Saya mencoba tidur kembali setelah mandi namun kesulitan. Matahari di atas tenda mengirimkan terik yang menyengat. Berada dalam tenda yang tak terlindung oleh pepohonan serasa berada sedang sauna. Karena tak tahan kantuk, akhirnya saya tertidur meski kepanasan di dalam tenda.

Saat terbangun di sore hari, lantunan lagu yang sangat familiar bagi saya terdengar yaitu Torn – Natalie Imbruglia. Soleluna membuka pertunjukan tepat waktu sesuai rundown acara yaitu pkl 16:00. Setelah Kicking Monday, tampillah band kesayangan: Tabasco Band. Band yang digawangi oleh Artha (vocal & Rhytm Guitar), Ilman (Bass & Backing Vocal), Rendy (Drum), Hamka (Guitar) dan Julian Pratama (Keyboard).

ads: dapatkan jutaan lagu gratis secara legal di Lagu Gratis Untuk Android atau Lagu Gratis Untuk iOS

Band beraliran Britpop ini membuka penampilan dengan lagu Sunday Romance, lalu menyusul Giving Up The Pain , Yellow Fragile Heart, Green Lake dan Roallercoaster. Lagu-lagu mereka sepertinya sudah akrab di telinga penggemarnya, itu terlihat dari beberapa orang yang ikut bernyanyi mengikuti suara Artha, vokalis ikal yang pemalu ini.

Setelah Tabasco Band, tampillah Galarasta. Band yang identik dengan reggae dan pantai ini berhasil mengajak penonton untuk bergoyang di tengah sejuknya hutan sore hari itu. Penampil lainnya adalah Myxomata, Melismatis, No Time To Run, Terts dan Rizcky De Keizer yang kembali menghibur penonton.

The Jokes kembali tampil bersama vokalis-vokalis band penampil dalam seremoni penutupan #MusikHutan. The Jokes and Friends ini menggemakan Teduhnya Nada, lagu tema #MusikHutan. Namun, malam belum berakhir. DJ Ghazy menghangatkan malam, panitia-panitia pun melampiaskan kegembiraan mereka setelah sukses menggelar hajatan untuk menyatukan musik dan hutan.

Setiap pesta pasti menghasilkan sampah… Namun, ini tidak berlaku di #MusikHutan 2014. Tak terlihat sampah di area pagelaran. Musisi-musisi dan pekerja seni yang kadung dicap tak taat aturan bisa membuktikan bahwa mereka mampu menjaga alam dan memadukan harmoni musik dan hutan. Penonton pun tak ada yang membuang sampah selain di tempat sampah yang telah disediakan. Salut!

Sampai Jumpa di Musik Hutan 2015..

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.