Dinamika KotaKata Kota

Motor, Mesin Pembunuh di Tangan Anak Di Bawah Umur


Pada sebuah pagi, saat menikmati suguhan segelas kopi hitam dan pisang goreng saya berbincang dengan seorang ibu. Saat asyik berbincang, seorang anak laki-laki berseragam smp keluar menuju ke bale-bale bambu depan rumah tempat kami menikmati hidangan. Tentu anak ini ingin menemui ibunya dan meminta uang jajan, pikir saya.

Dugaan saya salah. Anak yang memiliki tinggi badan tak lebih dari satu setengah meter ini ternyata berniat mengambil sepeda motor yang terparkir di sebelah bale-bale bambu. Tak lama berselang, motor yang terbilang baru itu kemudian melaju meninggalkan kami. Di jalan lurus beraspal mulus, motor itu kemudian menghilang dalam sekejap.

Sang ibu hanya menggelengkan kepala menyaksikan laju motor anaknya. Raut wajahnya tampak gelisah. Saya membaca kecemasan dari raut wajahnya. “Saya sebenarnya belum mau membelikan dia motor, tapi dia merengek terus,” kata ibu itu tanpa kuminta. Teman-temannya rerata sudah memiliki motor, “saya belikanki’ karena dia tak mau ke sekolah karena malu pada teman-temannya yang punya motor.” Lanjut ibu itu.

Saya jadi teringat masa ketika saya seusia anak itu. Dulu, parkiran sekolah saya dipenuhi dengan sepeda. Hanya ada satu dua di antara teman-teman smp saya yang memiliki motor. Dengan mengayuh sepeda, saya menempuh jarak lima kilometer menuju sekolah yang terletak di bilangan Pasar Sentral Makassar. Kini, parkiran sekolah dimana saya menamatkan smp itu dipenuhi oleh sepeda motor.

Pemandangan serupa bukanlah hal sulit ditemui. Parkiran sekolah yang dipenuhi oleh sepeda motor sangat gampang kita temui di kota besar, bahkan di kabupaten. Sebuah smp di Wajo bahkan mengajukan proposal pembuatan area parkir tambahan pada program dimana saya bekerja beberapa tahun lalu. Mereka merasa perlu membuat parkiran tambahan karena area parkir sekolah itu tidak lagi memadai mengingat saking banyaknya jumlah sepeda motor.

Motor kini memang bukan lagi hal mewah. Sangat mudah mendapatkannya, cukup dengan uang 500 ribu, KTP dan KK maka motor sudah bisa anda bawa pulang. Jasa pembiayaan atau kredit tak lagi begitu selektif memilah aplikasi. Peningkatan jumlah sepeda motor ini tentu saja berimplikasi pada banyak hal; kapasitas jalan yang tidak lagi memadai, kemacetan dimana-mana dan, sayangnya, juga pada meningkatnya jumlah kecelakaan di jalan raya.

Dalam sebuah berita di di laman web resminya, Satuan Lalu Lintas Poltabes Makassar melansir data kecelakaan  hingga Agustus 2011 telah mencapai sekitar 1.600 kasus. “Korbannya kebanyakan dari usia produktif,” ujar Benny Nurdin Yusuf, Kepala Seksi Keselamatan dan Teknis Sarana Dinas Perhubungan Sulawesi Selatan. 75 persen kecelakaan dialami pengendara sepeda motor dengan korban kecelakaan luka maupun meninggal, 46 persen berusia produktif berumur 11-30 tahun.

Salah satu penyebab tingginya kecelakaan adalah kurangnya kesadaran berlalu lintas. Masih banyak pengendara yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), utamanya anak-anak usia SMP-SMA yang belum cukup umur. Dalam sebuah media disebutkan sebagian besar pengendara yang terjaring razia tidak memiliki SIM.

Tingginya angka kecelakaan yang terjadi ini menuntut peran semua pihak untuk menurunkan jumlah kecelakaan dan korban. Petugas polisi lalu lantas (polantas) yang dituntut untuk bertindak tegas jika menjumpai pengendara di bawah umur. Tak cukup dengan menilang. Jika perlu, petugas polantas menyita kendaraan dan tak menyerahkannya sebelum orang tua si anak datang mengambilnya. Ini dimaksudkan untuk memberi efek jera.

Pihak sekolah pun mestinya berperan besar dalam mengurangi jumlah pengendara motor di bawah umur dengan melarang siswanya datang ke sekolah membawa motor. Sekolah saya ketika SMA memberlakukan itu. Pihak sekolah melarang siswanya membawa kendaraan ke sekolah. Sayangnya, hal itu tak berlaku lagi. Beberapa bulan lalu ketika mengunjungi sekolah itu, dalam rangka reuni, area parkir telah dijejali oleh kendaraan baik itu motor maupun mobil.

Orang tua anak tentulah yang harus mengambil peran paling besar dalam hal ini. Membelikan dan mengijinkan anak di bawah umur membawa motor bagai memberi pisau. Di tangan yang tak tepat, pisau bisa sangat berbahaya. Begitupun motor, di tangan anak-anak di bawah umur bisa jadi mesin pembunuh.

Salah satu contoh adalah adalah maraknya balapan liar dimana pelakunya adalah sebagian besar anak usia SMP-SMA. Balapan liar ini tentu saja berbahaya dan sangat meresahkan. Saya sendiri pernah tersenggol oleh motor yang sedang melaju kencang dalam balapan liar. Untunglah, saya hanya mengalami luka ringan saat itu. Saya memilih agak ke pinggir dan melambatkan laju motor saat melintasi jalanan balapan liar itu. Saya tak bisa membayangkan apa jadinya jika laju motor saya tidak lambat saat itu!

Balapan liar yang terjadi pada bulan ramadhan lalu bahkan menimbulkan tawuran. Karena tak tahan lagi menahan kesal, warga sekitar Jl. Veteran Selatan yang dijadikan lokasi balapan liar akhirnya membubarkan paksa balapan liar tersebut. Tak terima, pelaku balapan liar malah melawan dan jadilah tawuran. Petugas polisi bahkan menjadi korban penikaman pelaku balapan liar. Pada sabtu malam 2 Juli 2011, seorang pemuda bahkan menikam seorang aparat bernama Briptu Syukur saat mencoba menghentikan balapan liar.

Kondisi psikologis anak usia SMP-SMA masihlah sangat labil. Mereka mudah terpancing. Mendengar raungan gas motor lain saja, misalnya, bisa membuat mereka melajukan kendaraannya karena mengira mendapat tantangan membalap. Tentu saja hal ini rawan menimbulkan kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan bukan hanya si anak saja yang jadi korban, pengendara lain pun bisa terbunuh karenanya.

Untuk mengurangi jumlah pengendara anak-anak di bawah umur, ada baiknya pemerintah menyediakan bus-bus antar jemput buat anak sekolah khususnya SMP. Tarif angkutan umum atau pete-pete khusus untuk anak sekolah juga semestinya tak hanya berlaku di atas kertas saja. Selama ini, banyak pete-pete yang menarik tarif yang sama dengan orang dewasa. Bahkan, tak jarang pula pete-pete yang tak mau mengangkut anak-anak sekolah karena bayarannya lebih rendah.

Sebagai orang dewasa, kitalah, petugas polantas, guru-guru dan orang tua yang harus berperan aktif menyikapi fenomena pengendara di bawah umur ini. Melarang dan menindak tegas anak-anak di bawah umur yang mengendarai motor adalah langkah bijak. Agar gurat-gurat kecemasan di wajah ibu-ibu tak lagi muncul karena mengingat keselamatan anaknya. @

 

 

 

 

Comments (9)

  1. mantap kandaaaa… hehehe, berat kayaknya saingan inee :p

  2. Top…anak-anak yg mash bercelana pendek itu masih belum cakap di depan peraturan.

  3. Setuju, kakak!

  4. nach….. 🙂

  5. Mungkin Å∂a̲̅ baiknya, para polisi lalu lintas melakukan swiping disekolah2,, supaya para siswa sadar bahwa mereka salah..

    Banyaknya motor terparkir ϑî SMP merupakan bukti bahwa peraturan pengendara bermotor sangat bisa dilanggar,,

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.