Menziarahi Makam Datuk Di Tiro, Penyebar Islam di Tanah Sulawesi

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

BudayaPerjalanan

Menziarahi Makam Datuk Di Tiro, Penyebar Islam di Tanah Sulawesi

Seorang lelaki tua, saya menaksir ia berusia lebih dari 70 tahun, sedang menyapu di depan gerbang makam saat kami datang. Sesekali ia tampak memperbaiki posisi sarung dan peci di kepalanya. Lelaki itu berdiri dan mengangguk sembari menjawab salam kami begitu kami melewatinya. Di atas kepalanya, di gerbang tertulis, ‘Makam Di Tiro’.

Di pintu masuk, seorang lelaki lain mempersilahkan kami masuk ke sebuah ruangan. Pintu ruangan itu berhadapan dengan pintu masuk yang kami lalui. Seorang ibu berjilbab menanyakan nama kami lalu mencatatkan nama kami di buku tamu.

“Bayar 40 ribu Pak, untuk 3 orang” ujar Ibu itu. Sekilas saya melirik karcis di meja. Tertera biaya masuk sebesar Rp. 12.000, – per orang. Ada selisih 8 ribu rupiah. Saya menyodorkan selembar uang limapuluhan ribu. “Sisanya, 10 ribu, sumbangkan saja yah Pak” Ibu berjilbab itu memperlihatkan laci meja yang kosong. Mungkin untuk menunjukkan bahwa ia tak memiliki uang kembalian. Ibu itu tak memberikan karcis masuk pada kami.

Setelah menyelesaikan pembayaran, Bapak yang meminta kami masuk ke ruang untuk mengisi buku tamu tadi meminta kami mengikutinya. Sebelah kiri ruangan administrasi ada sebuah lorong kecil, lebarnya tak lebih satu meter dengan panjang sekira lima meter. Di ujung lorong, sebuah ruangan berdinding putih menghampar. Luas ruangan itu kira – kira 5 x 4 meter. Sebuah makam dengan lebar 1 (satu) meter lebih dan panjang sekira 2 (dua) meter.

Makam itu terletak di tengah ruangan.  nisannya terbuat dari kayu. Menurut Pak Saripuddin, penjaga makam, kayu itu adalah nisan awal dari makam itu. Nisan itu licin berminyak, “banyak yang menuangkan minyak ke nisan itu saat berdoa. Ada juga yang memakai minyak kemiri” ungkap Bapak yang sudah menjadi penjaga makam sejak 10 tahun terakhir.

Ian dan Nunu, teman seperjalanan mengunjungi makam Datu ri Tiro
Ian dan Nunu, teman seperjalanan mengunjungi makam Datu ri Tiro.

“Nazarnya apa Pak?” tanya Pak Saparuddin. Kami bertiga hanya saling menatap. Tak mengerti maksud pertanyaan itu. Ternyata, rerata pengunjung atau penziarah datang ke makam Datu di Tiro ini untuk bernazar atau menunaikan nazar yang telah terwujud. “Kami datang untuk jalan – jalan dan ziarah ji Pak” saya memutuskan menjawab.

Melihat kebingungan kami, Pak Saparuddin memutuskan untuk mendoakan kesehatan dan rejeki yang bagus untuk kami. “Kita berdoa pada Allah, makam ini hanya tempat berdoa. Bukan tempat meminta” jelas Pak Saparuddin. Kami mengiyakan. Pak Saparuddin lalu melafazkan doa dalam bahasa Arab, mungkin sedang membaca ayat. Saya sendiri berdoa dalam hati, “Ya Rabb, segerakan jodoh kedua teman saya ini”.

Sebelum berdoa, Pak Saparuddin meminta kami menaruh uang di tengah makam. “Sebagai pengganti uang bunga” katanya. Saat menaruh uang saya iseng mengaduk – aduk bunga sebelum mengambil sekepal bunga. Saya melihat ada beberapa lembar uang limaribuan dan sepuluhan ribu di antara tumpukan bunga itu. Belakangan kami tahu, semua pengunjung membawa bunga untuk ditaburkan ke makam Datu di Tiro tersebut.

Tak lama setelah itu, sepasang suami – istri datang untuk berziarah. Rupanya mereka datang untuk menunaikan nazar atas doa mereka sebelumnya. “Kami sudah beli mobil jadi kami datang lagi” jawab Diana, sang istri, saat saya menanyakan tujuan mereka berziarah. Ibu Diana sendiri sudah lupa berapa kali ia berziarah ke makam ini. Ia mengaku mengunjungi makam ini jika rejekinya naik.

“Ini mobil kedua yang kami beli, kami juga sudah membeli lima motor. Empat motor untuk anak – anak, satu motor untuk saya” timpal Bram. Sang suami ini mengaku berprofesi sebagai supir angkutan umum yang melayani jalur Bulukumba – Makassar. Istrinya, Diana, mengaku sebagai penjual sayuran. Mereka mengaku rejeki mereka bertambah sejak datang berdoa di makam Di Tiro ini.

Bapak Bram dan Ibu Diana, Pengunjung Makam Datu di Tiro
Bapak Bram dan Ibu Diana, Pengunjung Makam Datu di Tiro

Menurut Pak Saparuddin, tradisi datang berziarah dan berdoa meminta rejeki di makam Datu di Tiro memang ada dan banyak yang melakukannya. Banyak yang datang untuk meminta sesuatu seperti; panen melimpah, rejeki untuk membeli kendaraan atau pun kebutuhan lainnya. Bagi yang permintaannya terpenuhi, mereka kemudian datang lagi untuk memenuhi nazar mereka. Ada yang datang membawa kambing atau ayam. Ada pula yang hanya membawa kain putih atau bunga. “Tergantung nazar mereka, tak ada ketentuan. Lebih banyak yang datang bawa bunga saja.” Jelas Pak Saparuddin.

Hari itu, kami merupakan pengunjung ke 102 dan jika ditambah dengan Bapak Bram dan Ibu Diana berarti pengunjung hari itu paling tidak sudah 104 orang. “Kalau lebaran begini memang biasanya banyak yang datang. Hari – hari biasa biasanya cuma 10 sampai 50 orang” tutur Pak Saparuddin yang mengaku kadang dibangunkan di rumah jika ada pengunjung yang datang di malam hari. (Baca juga Makam Datuk ri Tiro dan Tradisi Peziarah)

Tradisi berziarah dan meminta sesuatu pada makam Datu di Tiro ini bukan hanya berlaku bagi kalangan penganut agama Islam atau suku Bugis dan Makassar saja. Banyak pula pengunjung yang datang berasal dari jauh, Jakarta misalnya. “Ada juga pengusaha (keturunan) China yang rajin datang. Itu yang punya King Motor, selalu datang ke sini.” Ungkap Pak Saparuddin sambil menunjuk bekas lelehan lilin yang digunakan pengusaha keturunan itu dalam berdoa.

Makam Datu di Tiro ini terletak di Kampung Hila – Hila, Kelurahan Eka Tiro, Kecamatan Bonto Tiro, Kecamatan Bulukumba. Dari Makassar, jarak lokasi makam ini sekira 200 km dengan waktu tempuh berkisar lima jam. Untuk menuju ke makam ini bisa melalui jalur ke arah Bira. Di pertigaan Tugu Phinisi lalu berbelok kiri.  Sekira 15 km kita akan menjumpai Tugu Dua Jari yang berada di depan sebuah masjid. Di tugu itu kita harus berbelok ke kanan lalu akan menjumpai lagi tugu yang serupa. Di Tugu Dua Jari kedua ini ambil arah kiri sampai menjumpai pertigaan yang ditandai dengan tugu Wirabuana. Di Tugu Wirabuana ambil arah kanan. Tak jauh dari tugu ini, lokasi makam ini berada.

Bersambung ke Tiga Datuk dan Penyebaran Agama Islam di Sulawesi – Selatan

Comments (13)

  1. jadi pertanyaan sekarang, Tiro itu artinya apa ya Daeng?
    soalnya di aceh juga ada nama itu 🙂

    • lelakibugis

      dalam kosa kata Bugis dan Makassar, Tiro adalah melihat/memandang. Bonto itu bukit, jadi Bonto Tiro bisa diartikan sebagai bukit tempat memandang. daerah Bonto Tiro memang daerah perbukitan om.

      oh iya, kalau Tiro di Aceh artinya apa yah? 🙂

  2. walah.. saya malah bingung di tanyain gitu Daeng 😀
    yang saya tahu, Tiro itu nama sebuah desa di pedalaman Aceh Pidie.

  3. Tiro itu artinya memandang dari jauh

  4. Kedua orang yang ada di foto itu saya yakin berdoa semoga diberi jodoh terbaik. Lalu beberapa tahun setelah kunjungan ini, Allah mengabulkan doa mereka.

    Subhanallah.

  5. Astaghfirullah… Semoga orang-orang yang berdoa, bernazar dan menabur bunga di kubur diampuni dosanya oleh Allah dan segera mendapat pencerahan. Aamiiin.

  6. Ainhy Edelweiss

    Ini sama dengan bertawassul yah kak ketika berdoa di samping maqam kuburan org2 yang pada masanya dianggap tinggi ilmu agamanya?

  7. Wah tak kusangka masih ada orang percaya dengan budaya yang seperti ini, mengaitkan hal-hal mistis seperti menziarahi makam tertentu bisa membawa rejeki yang berlimpah XD

  8. Saya kira namanya Datuk Ditiro atau Datuk Ritiro, ternyata terpisah ya “di”-nya.

    Makam orang-orang suci, di sini dijadikan tempat berdoa ya. Kelihatannya sama ji dengan “tempat meminta” kalau dari tulisan ini.

    Oppa, kenapa ki’ ndak berdoa disegerakan jodoh ta’ juga ? …. 😀

  9. Dekat mi kampungku ini oppa..hehe ..Saya kalau ke sini lewat ajah,,tidak masuk ke kuburan Dato Tiro.. Kalau soal ziarah kubur nenek saya juga kepercayaan persis yang dijelaskan di atas..tapi turun ke Bapak saya sedikit di ada perubahan..kalau kesana kubur kyk di somba opu , cukup mendoakan orang yang sudah meninggal saja..bacakan fatihah dll. Semoga dilapangkan kuburnya..kalau hajatan pada waktu shalat lebih afdal..

  10. Hmm baik untuk meminta dengan berdoa atau bernadzar di makam yang dituahkan seperti makam datuk tiro ini saya rasa kurang tepat ya, malah jatuhnya bisa ke syirik. Kalau sekadar ziarah atau jalan2 sih tidak masalah tapi kalau sampai menganggap rejeki lancar berkah datang ke makam tsb itu yang keliru.

  11. jadi ingat tulisan Ayu Utami dibukunya berjudul Simple Miracle; Do’a dan Arwah. Ayu Utami bilang kek gini “nyekar ke makam itu adalah sisa-sisa animisme”.

    Dalam islam sendiri, tidak ada hadits atau ayat al quran kita disuruh untuk nyekar bahkan di zaman rasulullah pun tidak ada.

    Eh tapi kalo ceritanya oppa ini, saya kurang sepakatnya adalah berdoa di makam. Hmmm untuk apa berdoa di makam yah? Kurasa kurang tepat, nanti jatuhnya syirik sih. Baiknya minta sama maha pencipta langsung.

    anw, saya suka penggambaran suasananya diawal. Mantapp oppa:)

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.