Catatan RinganWarita

Menyusun Ulang Pancasila Menjelang Perayaan Kemerdekaan

… untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,..”

 

Tak lama lagi, tepatnya 17 Agustus, kita kembali memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kali ini adalah peringatan yang ke 65. Tentu bukan sebuah usia yang muda lagi. Namun, umur 65 tahun ternyata juga bukan saat tatkala cita-cita, pendiri republik ini telah tercapai. Cita-cita itu tertuang dalam pembukaan UUD 45 yang saya kutip di atas.
Untuk mencapai cita-cita itu, para pendiri republik ini kemudian menciptakan landasan bagi pemerintah negeri ini dalam melayarkan biduk menuju cita-cita mulia itu. Oleh Ir. Soekarno, salah satu proklamator kemerdekaan, dasar Negara itu kemudian dirumuskan ke dalam lima sila yaitu; 1) Ketuhanan Yang Maha Esa, 2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, 3) Persatuan Indonesia, 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima sila itu kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Saya mengalami masa mahasiswa, hingga kini bekerja, dengan lima presiden, mulai dari Soeharto, Habibie, Gus Dur, Mega dan kemudian SBY. Kelima presiden ini rasa-rasanya tak membuat perubahan berarti bagi hidup saya. Saya melihat apa yang diimpikan oleh para pendiri republik ini masihlah jauh api dari panggang. Padahal, kelima presiden di atas telah dibekali dengan Pancasila sebagai pegangan.
Lalu apa yang salah? Apakah kelima presiden itu kurang mampu memahami dan menjalankan Pancasila dengan baik dan benar? Ah, tentu tidak. Mereka adalah orang-orang terpilih. Iseng-iseng saya membaca ulang Pancasila dan mencoba memahaminya. Bingo! Eureka! Dalam keisengan itu, saya merasa menemukan jawabannya. Sumber kekacauan Negara ini adalah urutan Pancasila itu sendiri.
Ketika merumuskan Pancasila, Ir. Soekarno tentu tidak memikirkan urutan itu karena Pancasila adalah sebuah paket. Kelima sila itu tentu sama pentingnya. Juga, ini dugaan saya, Soekarno menempatkan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ sebagai sila pertama untuk menghindari benturan dengan golongan Islam saat itu.
Mengapa saya merasa urutan sila-sila Pancasila itu menjadi sumber masalah? Saya melihat penempatan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ sebagai sila pertama mendorong sebagian orang memaksakan agama dan kepercayaannya pada orang lain, bahkan dengan kekerasan. Kemunculan front pembela agama tertentu, mungkin, adalah pemaknaan yang salah kaprah pada sila pertama itu.
Lalu bagaimana kalau secara iseng kita mengubah urutan itu dengan menempatkan ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’ sebagai sila pertama? Penempatan ini tentu harus diikuti dengan niat baik untuk melaksanakannya. Jadi, siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini haruslah menomorsatukan sila itu dalam masa pemerintahannya.
‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’ dapat diterjemahkan dengan mewujudkan distribusi pekerjaan dan sumber penghidupan yang adil merata. Tentu dengan mempertimbangkan kemampuan individu-individu rakyatnya. Pemerataan distribusi pekerjaan ini tentu akan membawa dampak pada distribusi kesejahteraan yang adil merata pula.
Kalau ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’ sebagai sila pertama ini dapat kita wujudkan, kita tak akan melihat lagi tayangan atau berita di televisi dan Koran dimana seorang nenek dibawa ke meja hijau karena mencuri buah coklat demi mempertahankan hidup, sementara di sisi lain, para pengemplang dana BLBI dan koruptor kakap hanya dituntut empat tahun penjara.
Implikasi lain dari terwujudnya hal ini adalah berkurangnya ketidakpuasan orang-orang pada pemerintah. Angka orang yang memilih jadi oposisi tentu akan menurun. Untuk apalagi berteriak jika mereka memperoleh kesempatan dan kesejahteraan yang sama dengan yang lainnya?
Kesempatan dan kesejahteraan adalah urusan perut dan hati. Ketika kita tuntas dalam masalah perut, dalam artian orang-orang yang berhimpun dalam republik ini tak perlu lagi memikirkan akan makan apa esok, saya yakin kita akan menjadi manusia yang lebih beradab. Tak perlu lagi saling mengorbankan orang lain demi mempertahankan hidup.
Dalam bayangan saya distribusi kesempatan dan kesejahteraan yang adil dan merata juga akan menciptakan panggung dan ruang yang sama dalam bersuara ketika membicarakan masalah yang sedang kita hadapi. Ketika perut sudah terisi kita dapat duduk setara membahas rencana atau masalah yang kita hadapi dengan hati dan kepala yang dingin. Tak akan ada lagi perdebatan yang diisi dengan wajah-wajah masam. Semua hal bisa diselesaikan dengan senyuman. Keputusan pun bisa lahir tanpa ada yang orang-orang dikecewakan.
Mengikuti alur di atas, sila ‘Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab’ dan ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan’ bisa kita letakkan jadi sila ke dua dan ke tiga. Juga sebaliknya.

Ketika kita mampu mengambil keputusan dengan memberi panggung dan ruang yang sama bagi semua orang, dalam bayangan saya, tentu akan menciptakan rasa senasib dan sepenanggungan. Solidaritas yang kuat ini dengan sendirinya akan mewujudkan persatuan. Saya menempatkan ‘Persatuan Indonesia’ sebagai sila ke empat.
Distribusi kesempatan dan kesejahteraan yang adil dan merata dalam himpunan orang-orang yang beradab yang memiliki panggung dan ruang yang sama dalam pengambilan keputusan, sekali lagi dalam bayangan saya, adalah modal-modal utama dalam menciptakan persatuan. Ketika semua itu terwujud, orang-orang di dalamnya akan menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing dengan khusyuk. Sila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ pun dapat kita jalankan tanpa harus memaksakan agama dan keyakinan pada orang lain.
Ada benarnya kata Mr. Cobb dalam Inception bahwa ‘ide seperti sebuah virus, sekecil apapun dia bisa berkembangbiak dan menjadi kanker’. Ide ini, atau bahasakan saja keisengan saya ini, mungkin terlalu jauh. Saya sadar, saya tak mungkin mengubah susunan Pancasila. Tuduhan subversif tentu akan menjerat saya.
Tapi, tentu bolehlah saya memimpikan apa yang saya tulis di atas terwujud dalam lingkungan terdekat semisal keluarga atau komunitas saya.

Dirgahayu Indonesia!

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.