Menuju pulang: Sebuah Catatan Akhir

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganWarita

Menuju pulang: Sebuah Catatan Akhir

(Pro: FF, MAY, MHB, YM)

 

Pagi telah datang. Jarum panjang sudah menyentuh angka sebelas, bertolak lurus dengan jarum pendek yang berada pada angka lima. Alur waktu memang akan selalu berjalan angkuh, lalu diamdiam pergi bersama sepi tanpa lenguh. Begitu cepat waktu berlari, tujuh tahun lebih terlalui. Sebuah rentang waktu yang tak bisa disebut singkat untuk sebuah gelar: mahasiswa.

Berganti silih bayangan hadir berbagai adegan dalam kerangka waktu; Senior-senior berdiri angkuh dengan dengus nafas purba pelampiasan nafsu berkuasa bercampur niat baik untuk memanusiakan adik-adiknya di kala ospek. Lalu setumpuk buku, ah betapa duapuluhenam huruf dalam alfabet mampu menghadirkan miliaran kata dan ribuan kisah lahir dari rahim aksara.

Kilasan celoteh dosen-dosen dalam ruang kelas, diskusidiskusi (terkadang sok) ilmiah ditemani cahaya bulan tamalanrea, puisipuisi jalanan menentang dan menantang tiran. Lalu ini; lambaian pepohonan hijau daun gununggunung, semilir desahan ombak pantai, aura magis gelap gua. Betapa menggairahkan. Tapi, kini, tinggallah sebuah romantisme dan sergapan melankoli. Serupa senja yang selalu menghadirkan rasa kehilangan yang perih.

Rumah Kebudayaan masihlah jauh di alam mimpi, ketika tradisi hanya dituangi arak dan tuak. Kita masih bisa bersiul pada mahasiswi yang tak bisa membedakan kampus dan mal, tapi anak-anak yang tak mengenal Mattulada? Bisa apa kita pada mereka? Bisa apa kita pada tembok tebal dan tinggi menara keangkuhan yang meninabobokkan mereka? Sedang Sapardi, Frost, Maupassant, Matsuoka, Tagore, Poe, Esslin, Mahfouz, Coelho, juga Pattingaloang tak kunjung menghampiri?

Selangkah lagi lalu sampailah saya pada gerbang itu, seperti kalian dahulu. Menolehkah kalian sesaat sebelum melangkah pergi? Mungkin saya akan melakukannya, lalu diamdiam menghapus buliran di sudut mata. Mungkin juga, berjalan seakan tegak menahan gumpalan yang menyesak di dada. Bisa jadi pula, seakan terbang dan tak ingin berpaling lagi. Mungkin…

Jalan itu telah terbentang di depan, tapi ia bercabang. Di ujung sana, tatap mentari pagi menanti di sebuah desa di kaki pegunungan. Di ujung satunya, jejalan huruf menanti di tengah bising kota. Kalian tahu kalau saya selalu gemas ketika harus menentukan pilihan, iya kan? Temani saya menuju pulang … ***

——-

Surat di atas seharusnya sampai pada kalian enam tahun lalu. Saya menuliskannya pada sebuah malam menjelang ujian akhir kuliah. Saat menuliskannya, melankoli menyergap tiba-tiba. Tujuh tahun empat bulan, bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah kebersamaan. Tetapi, rentang waktu 14 semester lebih itu terlalu singkat untuk sebuah kegelisahan yang sering kita bagi.

Dari semua penghuni Kumala, sayalah yang terakhir sarjana. Enam tahun sudah sejak saya meninggalkan ‘rumah kebudayaan’ kita. Kalian, satu persatu pergi terlebih dahulu. Ada yang keluar dengan toga di kepala, pun ada yang memilih tuk meninggalkan bangku kuliah tanpa selembar ijazah.

Terkadang, saya sesekali menjenguk kampus kita. Mencoba mengendapkan kenangan. Tapi tahukah kalian? Saya menemukan keterasingan di sana. Mattulada, semakin terlupakan. Jangan pula menyebut nama Salim, almarhum yang tanpanya, kita mungkin tak akan bisa membaca I Lagaligo dalam bahasa Indonesia. Di sana, mahasiswa sekarang lebih fasih menyebut Sm*sh. Penari-penari yang menyamar jadi penyanyi itu lebih dikenal dari budayawan kita.

Saya baru menyebut nama Mattulada dan Salim, nama-nama yang seharusnya kita kenali seperti nama ayah kita. Bagaimana jika saya menyebut sastrawan-sastrawan luar seperti yang saya tulis dalam surat? Nama-nama itu mungkin mereka kenali, tapi sebatas sebagai bahan kuliah atau skripsi. Bukan sebagai kawan bergumul di malam hari, seperti kita dahulu.

Semakin hari, semakin jarang saya mengunjungi kampus. Jika pun saya ke sana karena ada Mace Indah. Sosok ibu yang setia membuatkan kita kopi ketika kita terbangun siang hari karena begadang di sekretariat himpunan atau pun di koridor kampus. Ingatkah kalian betapa betah kita menghabiskan bergelas kopi dan melupakan ruang kelas?

Jika ada waktu kalian harus datang demi Mace Indah, beliau masih sering menanyakan kalian. Saya hanya bisa jawab apa adanya karena kini kita tak lagi sering bertukar kabar. Datanglah, juga demi mahasiswi-mahasiswi cantik nan elok. Saya tahu kalian tak begitu suka suasana mall, nah di kampus kalian bisa menyegarkan mata dengan melihat adik-adik manis itu tanpa perlu ke mall. Kampus dan mall kini tak ada bedanya, setidaknya dari cara berpakaian mereka.

Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan, -tentang pilihan yang saya hadapi enam tahun lalu yang kini masih sering muncul,-  juga cerita-cerita tak penting lainnya. Namun, saya yakin kalian tak punya waktu banyak tuk membaca surat panjang yang saya tulis hanya karena melankoli datang menyergap. Semoga ada waktu untuk kita berkumpul lagi.

Comments (8)

  1. pasti enak kopinya mace indah 😛

  2. Nangiska baca tulisan ini, entah memang saya cengeng, rindu kampus, atau rindu mereka seperti halnya dirimu.

  3. Bro, membaca tulisan ini membuat mataku berkaca-kaca
    Antara haru, sedih, dan kenangan masa lalu

  4. elisa eka bungawaty

    mencoba mengendapkan kenangan…

    keren tulisannya kak,saya senang baca klu di sela-selanya ada seperti syair-syair *semacam syair yah kak?

    • lelakibugis

      “mencoba mengendapkan kenangan…”

      sebenarnya bukan syair. hanya sekadar bermain diksi atau pemilihan kata. “mencoba mengendapkan kenangan…” bisa saja saya tulis menjadi “mencoba menyimpan kenangan agar nanti bisa saya buka kembali”. saya memilih yang pertama karena lebih singkat dan lebih enak didengar..

      😀

  5. selalu suka tulisanmu bro…:)

  6. Update info: semuakita telah melewati gerbang itu, bahkan adapula yang lebih dari sekali..
    Walau gerbangnya taksama.
    Smoga aral melintang di hadapan kita bisa dihadapi dan dilalui sodara..

    ^_^

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.