Cara Cerdas Menggunakan Media Sosial

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganInternet

Cara Cerdas Menggunakan Media Sosial

Pengguna Internet dan Media Sosial Indonesia Jan 2019 - Digi Media Plus

Per Januari 2019 jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 150 juta orang atau 56% dari total populasi sebesar 268,2 juta jiwa penduduk Indonesia. Jumlah yang sama aktif menggunakan media sosial di Indonesia.

Update: 12 Maret 2019

Angka ini melonjak tinggi jika dibandingkan dengan empat tahun lalu. Jumlah pengguna internet dan ponsel cerdas di Indonesia pada 2014 adalah sejumlah 38.191.873 atau 15% dan 14% dari populasi Indonesia yang saat itu berjumlah 251.160.124 penduduk. (Data wearesocial)

Apakah jumlah pengguna ponsel cerdas itu sudah menandakan bahwa penggunanya juga cerdas? Sepertinya tidak. Mari kita lihat pada perkembangan kasus terkait penggunaan ponsel cerdas itu melalui perilaku penggunanya di media sosial.

Cerdas Menggunakan Media Sosial Itu Bagaimana?

Awal tahun 2014, entah siapa yang memulai, beredar foto-foto penampakan letusan gunung yang tampak menyeramkan di media sosial, utamanya Facebook dan Twitter. Tanpa cek dan ricek, puluhan orang (mungkin ratusan) melakukan retweet dan membagikan foto-foto yang ternyata foto lama. Bukan foto letusan Gunung Kelud.

Mungkin banyak yang mengira, dengan mengunggah dan me-retweet foto kejadian terbaru mereka akan menjadi keren dan terlihat update. Sayangnya tidak, tanpa mengecek kebenaran akan foto-foto itu mereka malah menyebar hoaks.

Di tengah bencana yang menimpa, bukannya melakukan sesuatu untuk meringankan beban korban, tapi malah menyebarkan berita hoaks yang menambah kecemasan orang lain tentu bukan tindakan cerdas bukan?

Mengenali Hoaks

Itu empat tahun lalu, bagaimana dengan saat ini? Ternyata, peredaran hoaks atau berita palsu malah semakin massif, apalagi menjelang masa pilpres ini. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) merilis data yang mereka kumpulkan sepanjang 2018. Hasilnya mencengangkan.

Jumlah hoaks 2018 yang dihimpun oleh Mafindo
Jumlah hoaks 2018 yang dihimpun oleh Mafindo

Selama 2018 setidaknya ada 997 hoaks yang beredar di tengah masyarakat. Dalam sebulan rata-rata terdapat 83 hoaks. Hoaks terbanyak ditemukan di bulan Oktober 111 hoaks, sementara bulan selanjutnya yaitu November merosot menjadi paling sedikit 62 hoaks.

Perlu dipahami terlebih dahulu, angka ini bukan menjelaskan banyaknya jumlah hoaks yang beredar di tengah masyarakat, namun item hoaks yang diterima Tim Fact Checker MAFINDO baik berasal dari laporan publik maupun hasil pindaian anggota MAFINDO. Frekuensi hoaks di tengah publik dengan menggunakan berbagai saluran tentunya jauh lebih banyak dan lebih masif tersebar luas.

Salah satu cara cerdas dalam menggunakan media sosial adalah mampu mengenali hoaks yang beredar. Jangan sampai berakibat buruk pada diri sendiri hanya karena ikut menyebarkan hoaks.

Menjaga Privasi

Apa pentingnya menjaga privasi di internet dan media sosial? Saat ini begitu banyak orang jahat yang berada di sekitar kita. Informasi sekecil apa pun bisa mereka gunakan untuk mencelakai atau merugikan kita.

Contoh kecil dari dampak membiarkan privasi kita adalah tawaran produk atau jasa via surat elektronik atau telpon. Kita suka bertanya: “dapat dari mana yah no hp saya?” padahal sering kali kita yang tidak sadar telah membagikannya di media sosial kita, entah itu facebook atau twitter.

Cara untuk mencegah hal-hal privasi kita tersebar di dunia maya dan disalahgunakan oleh orang lain adalah dengan mengubah aturan privasi ke tertutup atau hanya orang-orang tertentu saja. Jika ada yang menanyakan nomer ponsel atau hal-hal bersifat pribadi jawablah melalui jalur chat atau direct message.

Lindungi informasi pribadi dengan selalu ingat untuk log out media sosial atau akun belanja daring jika menggunakan jaringan public. Cara terbaik adalah jangan mengakses akun media sosial, email, atau akun daring dari jaringan publik atau perangkat orang lain.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah media sosial bukan diari tempat mengumbar semua apa yang kita lakukan, semisal hang out di mana, makan apa, jam segini bikin apa dll. Semakin banyak informasi seperti ini kita sebarkan di internet semakin besar pula kemungkinan orang memanfaatkannya untuk mendekati lalu berbuat jahat pada kita.

Ada banyak contoh kasus di mana pengguna media sosial menjadi korban kejahatan siber. Pada April 2018, sebanyak 89 perempuan menjadi korban pemerasan sekstorsi di Bandung. Awal Januari 2019 kita pun membaca Brigpol Dewi, seorang polwan, menjadi korban kejahatan siber ini.

Kita bisa belajar dari kasus Brigpol Dewi dan menjaga privasi agar tidak menjadi korban selanjutnya.

Menggunakan Password Yang Aman

Kasus peretasan surat elektronik dan akun Facebook sudah sangat sering kali kita jumpai. Pelaku peretasan jejaring pertemanan itu kemudian melakukan penipuan menggunakan akun yang berhasil mereka bobol. Korban-korbannya yah orang-orang dalam lingkaran pertemanan pemilik akun facebook yang mereka retas.

Untuk menghindari menjadi incaran peretas, kita harus memastikan menggunakan password yang aman untuk surat elektronik dan akun media sosial kita.

Diet Informasi

Gunakan media sosial seperlunya saja. Jangan sampai keasyikan di media sosial mengganggu kesehatan fisik dan mental. Kalau sudah pada tahap membuat jam tidur molor hingga larut malam dan malas melakukan aktivitas lain, itu berarti sudah saatnya mengurangi penggunaan media sosial.

Saat ini, jika tak bijak menggunakan internet dan media sosial, ada banyak hal negatif yang bisa menimpa kita. Informasi yang kita terima terus-menerus bisa mengubah pandangan kita terhadap sesuatu dan bahkan mengubah nilai yang kita percayai. Asupan informasi yang masuk kemudian mengubah karakter kita.

Apalagi pada masa menjelang pilpres 2019 ini, di mana arus deras informasi menyergap kita. Menjadi sangat penting untuk memilah dan memilih informasi yang akan kita lihat, dengar dan baca demi kesehatan jiwa dan mental.

Sudah saatnya kita melakukan diet informasi. Kita bisa dimulai dengan lebih selektif dalam memilih tontonan, baik itu melalui televisi, media streaming mau pun channel Youtube.

Silakan baca Bagaimana Melakukan Diet Informasi?

Saring Sebelum Sharing

Di tengah arus deras informasi sering kali kita tergoda membagikan informasi yang sampai pada kita. Entah karena merasa bahwa orang lain perlu tahu informasi itu, atau hanya karena kita beranggapan bahwa akan terlihat keren kalau kita termasuk orang sangat update pada isu yang lagi ramai. Padahal belum tentu apa yang kita bagikan itu benar adanya. Bisa jadi kita malah menyebarkan fitnah dan kebohongan yang berakhir jelek pada kita sendiri.

Sangat penting untuk melakukan tabayyun dan berpikir sebelum membagikan sesuatu. Gunakan langkah-langkah di bawah ini:

Sebelum membagikan sesuatu usahakan selalu pertanyakan apakah informasi itu benar, bermanfaat bagi orang lain, dan penting bagi orang lain. Sederhananya: bagikan yang positif dan abaikan yang negatif.

Jangan sampai bernasib sama seperti Danang Sutowijoyo yang mendadak tenar di jagad maya setelah lelaki berusia 30 tahun itu mengunggah foto kucing mati yang ditembaknya di akun Facebook. Tapi, ketenarannya tidak berbuah manis. Para pengguna media sosial mengecam tindakan itu dan menganggap Danang sebagai seorang psikopat.

Sebuah lembaga pecinta binatang, Animal Defender, melaporkan tindakan Danang ke Polres Sleman beberapa pekan lalu. Kini Danang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penembakan kucing dan dikenai wajib lapor ke kepolisian dua kali dalam seminggu. Tak cukup hanya itu, ia pun dipecat dari pekerjaannya.

Dunia digital itu kadang lebih kejam dari ibu tiri. Kita tak pernah bisa menebak tanggapan netizen pada apa yang kita bagikan. Sekali kita mengunggah sesuatu, entah itu berita, gambar atau sekadar status receh, semuanya akan tertinggal meski kita telah menghapusnya. Jejak digital akan selalu ada.

Kasus Florence dan seorang abg yang berawal di Path menjadi pelajaran menarik. Path yang merupakan (sebelum ditutup) media sosial terbatas pun ternyata bisa membawa dampak yang tak bagus bagi penggunanya.

Gunakan Seperlunya

Tak perlu memiliki akun pada semua media sosial yang ada. Tak perlu aktif di semua akun media sosial yang hanya akan menghabiskan waktu dan menghambat produktivitas. Gunakan akun-akun media sosial yang kita punya untuk hal bermanfaat saja dan menunjang kerjaan atau usaha.

Maksimalkan akun media sosial yang kamu punyai. Jauh lebih bagus memiliki sedikit akun tapi terkelola dan membawa dampak besar daripada banyak akun tapi tak bisa kita kelola dengan baik.

Laiknya kehidupan di dunia nyata, dunia maya pun memiliki konsekuensi yang tak kalah kejam jika kita tak bijak dalam menggunakan ponsel cerdas dalam berinternet dan media sosial. Be Smart Than Your Smartphone, Guys!

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.