Menemani Natisha Pulang Kampung

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

BukuGaya Hidup

Menemani Natisha Pulang Kampung

Natisha adalah seorang gadis manis keturunan bangsawan Makassar. Ia putri dari Karaeng Liwang dan Karaeng Kanang. Sebagai putri bangsawan, ia mewarisi keangkuhan kedua orang tuanya.

Lidahnya tajam dan tak sungkan mengeluarkan kalimat-kalimat pedas nan menyakitkan pada orang-orang yang, menurutnya, tak sepadan dengan kekayaan, kecantikan dan kecerdasannya.

Siapa Natisha?

Saya mengenal Natisha secara tak sengaja. Tahun 2005, saat itu ia masih berupa janin yang teronggok dalam sebuah folder di komputer tua Biblioholic. Ia tak sendiri, ada banyak jalinan kata menemaninya, kelak janin-janin itu melalui proses pilah dan pilih lalu tumbuh bernama Pohon Duka Tumbuh di Matamu.  Iya, #Natisha adalah anak kandung ruhani Khrisna Pabichara Daeng Marewa.

Natisha adalah kisah tentang Daeng Matutu, kekasih Natisha Daeng Lebang, dan sahabat Rangka. Jalinan kisah Natisha berkelindan pada tiga tokoh ini. Sekilas, ide dari Natisha ini sungguh sederhana: kisah percintaan dan persahabatan.

Percintaan Tutu dan Natisha yang terpisah oleh status yang mengalir dalam darah mereka. Juga, persahabatan antara Tutu dan Rangka yang berselaput dendam dan angkara murka. Namun, novel Natisha sungguh beruntung lahir dari Khrisna Pabichara Daeng Marewa, andaikan bukan tentu saja ia akan hadir sebagai kisah yang biasa-biasa saja.

Sekilas Kisah Natisha

Di antara karya Khrisna, Natisha lahir lebih belakangan. Tahun 2016. Telat dua tahun dibanding Pohon Duka yang lahir di 2014. Sebelumnya, Daeng Marewa telah melahirkan Mengawini Ibu (kumpulan cerpen) dan Surat Dahlan (novel) yang best seller itu. Sejak 2005, saat saya menemukan lalu mengirimkannya ke Daeng Marewa, hingga 2016, butuh sebelas tahun untuk #Natisha hadir di hadapan kita semua.

Seperti namanya, Khrisna Pabhicara adalah pencerita yang baik. Kisah #Natisha lalu hadir dalam balutan khazanah budaya dan tradisi Makassar. Sebagai penulis cum penyair, Daeng Marewa mengalirkan #Natisha seperti ketika ia besyair, menyajikan sajak di atas panggung dan membawa pirsawan larut dalam alunan kata dan gerak yang ia suguhkan.

Pun dengan #Natisha yang mampu memainkan perasaan dengan ritme yang tak tertebak. Pada halaman pertama, kita langsung disodorkan adegan perkelahian. Serasa  sedang mengantar pengantin dan diiringi dengan hentakan irama tunrung pabballe.

Bayangkan bebunyian yang keluar dari gandrang yang ditabuh dengan keras, lengkingan pui-pui dan alunan kesok-kesok yang kadang mendayu dan menyayat hati. Begitu pula #Natisha mempermainkan perasaan pembacanya. Kadang tersentak seperti mendengar hentakan pukulan pada gandrang, kadang pula mendayu serupa gesekan kesok-kesok.

Pencerita yang baik lahir sebagai pembaca yang tekun terlebih dahulu. Pun dengan Daeng Marewa, untuk melahirkan #Natisha, ia membaca 63 buku tentang Makassar dan Jeneponto. Delapan belas di antaranya adalah berupa salinan lontarak. Delapan dari delapan belas itu saat ini berada di Leiden.

Bagi sebagian masyarakat Bugis dan Makassar lontarak adalah benda pusaka atau warisan yang disakralkan. Untuk membukanya membutuhkan ritual khusus dan juga penebusan. Itu juga dilakukan oleh Khrisna pada sebuah naskah lontarak yang pemiliknya meminta tebusan sebesar harga seekor sapi.

Karena itulah, novel ini sangat kaya akan pemerian tradisi dan budaya Makassar, khususnya Jeneponto. Membaca #Natisha seperti membuka lembaran-lembaran literatur kebudayaan Makassar. Sebut saja abbatte’, patonrok, silariang, pappasang, a’raga’, dan masih banyak lagi, tersaji dalam #Natisha.

Melalui #Natisha kita akan tahu bahwa patonrok adalah ikat kepala yang dikenakan oleh bangsawan atau tubarania (ksatria) Makassar di jaman kerajaan. Ikat kepala ini berdiri tegak memberi kesan berwibawa dengan simpul yang terletak pada bagian kepala sebelah kanan. Patonrok memiliki tiga warna untuk membedakan pemakainya. Merah untuk jejaka, biru untuk lelaki yang sudah menikah, dan hitam bagi duda.

Pun, dengan sejarah dan kisah-kisah heroik yang hidup di masyarakat Jeneponto, hadir mengalir dalam bentangan kisah #Natisha. Tanpa sadar, kita membaca sejarah perlawanan pagorra patampuloa hingga jejak parakang pada masa kerajaan Binamu, salah satu kerajaan yang pernah ada di Butta Turatea. Daeng Marewa pun tak lupa menyusuri kampung-kampung di Butta Turatea dan menghamparkannya ke hadirat sidang pembaca.

Khrisna Pabichara Daeng Marewa juga adalah pengingat dan pencatat yang apik. Ada banyak perihal yang terjadi di luar #Natisha hadir.  Pelbagai peristiwa yang terpisah dengan rentangan jarak yang jauh mengada sebagai rampaian kisah penanda waktu. Ada yang mengingat siapa Basri Masse dan apa yang terjadi pada lelaki kelahiran Pare-pare di Malaysia ini pada tahun 1990? Atau, ada yang tahu kapan Brazil meraih juara dunia untuk ketiga kalinya? Alih-alih mengalihkan perhatian, peristiwa-peristiwa ini malah menjadi pendukung dan pengaya cerita.

Khrisna Pabichara memilih menuliskan #Natisha dengan alur maju mundur. Alur mundur untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa pendukung cerita. Menorehkan kenangan untuk menguatkan pilihan langkah ke depan para tokoh dalam novel.

Satu lagi kekayaan #Natisha yang bisa kita lahap dan menambah gizi bagi otak adalah banyaknya kosakata arkaik yang pegari dalam novel setebal 421 halaman ini. Joni Sujono, dari penerbit Javanica, mencatat ada 58 kosa kata yang dimunculkan oleh Khrisna. Itu di luar istilah Makassar. Di halaman pertama, kita akan menjumpai kata ‘denyar’ yang akan memaksa kita untuk mencari arti kata ini.

Kehadiran kosakata hampir punah ini bagi pecinta bahasa tentu saja menyenangkan. Menemukan banyak kata-kata lawas namun baru tentu saja mengayakan perbendaharaan kata-kata kita. Sebaliknya, bagi pembaca malas tentu akan mengganggu dan mungkin akan melewatkannya begitu saja tanpa berusaha mencari makna dari kata-kata itu.

Kalau pun ada yang mengganggu saya dalam #Natisha ini adalah bab di mana saat Tutu muda masuk penjara dan menerima perlakuan kejam. Di dalam penjara, ia yang masih SMA harus menerima siksaan para aparat yang memeriksanya. Satu peluru bersarang di betis dan dua tikaman di paha kanan dan kiri. Penderitaan yang tentu saja sulit ditanggung andai Tutu bukan keturunan pagorra patampuloa. Penggambaran kekejaman aparat ini pada Tutu adalah cara Khrisna untuk menunjukkan bagaimana perlakuan aparat negara pada tahanan.

Pun dengan bagian muara saya terganggu. Melalui bagian ini Khrisna Pabhicara seakan menegaskan bahwa parakang ini memang benar ada dan akan terus ada. Sebagai ilmu, parakang akan selalu hadir melalui orang-orang yang, suka atau tak suka, menerima dan melengkapi warisan ini. Saya menebak bagian  muara ini kelak akan menjadi hulu bagi cerita selanjutnya dari #Natisha.

Natisha Pulang Kampung

Pukul 10.00 wita. Mungkin kurang. Mungkin lebih. Seratusan orang memenuhi ruangan 8mx15m. Iringan tabuhan gandrang tunrung pakanjara dari enam anak lelaki menyambut kehadiran #Natisha di kampung halamannya, Butta Turatea. Tanah di mana #Natisha mengambil latar tempat kejadian.

Di antara seratusan orang hadirin, ada satu yang membetot perhatian saya. Lelaki berbadan tinggi besar dengan rambut menipis di bagian depan. Master of Ceremony gelaran Bincang Natisha mendaulatnya untuk memberikan semacam testimoni. Dia adalah dr. Syafaruddin Nurdin, Kepala Dinas Kesehatan Jeneponto, yang karib disapa dr. Capa’.

Alih-alih membincang novel Natisha,  dr. Capa’ malah mengantar hadirin pada kisah Khrisna kecil di Borongtammatea, sebuah kampung di Jeneponto yang berjarak sekira 89 kilometer dari Makassar. Bagaimana seorang Khrisna kecil berhasil sembuh dari penyakit leukemia dan memulai kegiatan berkeseniannya.

Tabuhan Gandrang Tunrung Pakanjara menyambut Natisha. Di belakang: dr. Capa', Khrisna Pabhicara dan Joni Sujono dari Penerbit Javanica.
Tabuhan Gandrang Tunrung Pakanjara menyambut Natisha. Di belakang: dr. Capa’, Khrisna Pabhicara dan Joni Sujono dari Penerbit Javanica.

Dr. Capa’ adalah sosok penting dalam hidup seorang Khrisna Pabhicara. Tak heran jika sosoknya hadir dalam novel Natisha. Pertanyaan saya kenapa tokoh Tutu seorang dokter terjawab tanpa saya tanyakan pada penulisnya. Dr. Capa’ adalah seorang dokter yang di dalam darahnya mengalir darah seni. Anak-anak yang menabuh gandrang tunrung pakanjara’ adalah binaannya.

Hajatan Bincang Natisha pun kemudian berubah menjadi ajang reuni. Selain dr. Capa’, saya menyaksikan Khrisna Pabhicara bertemu dengan banyak kawan lamanya di Teater Tubaranina Turatea (Tutur). Bergantian mereka membacakan bab pertama dari #Natisha. Perhelatan itu pun diakhiri dengan penyerahan #Natisha oleh pihak penerbit pada beberapa orang yang berjasa pada kelahiran novel ini.

Reuni pun kemudian berpindah pada Balla Kopi Turatea. Sesuai namanya Balla yang berarti rumah, adalah rumah bagi para pecinta kopi di Jeneponto. Pertemuan dimulai dengan perkenalan satu per satu orang yang hadir. Perkenalan yang tentu saja hanya sekadar formalitas mengingat mereka adalah kawan karib selama bertahun-tahun. Namun, acara perkenalan itu membantu saya mengenali nama-nama yang hadir sebagai karakter dalam #Natisha.

Pertemuan reuni itu dipimpin dan dimoderasi oleh Ranca. Nama Ranca ini hadir dalam #Natisha. Berbeda dengan karakter Ranca dalam novel yang hadir tanpa dialog, Ranca dalam pertemuan ini mendominasi pertemuan. Dengan piawai, demi teraturnya pertemuan, ia menentukan siapa yang berhak bicara. Sesuatu yang terkadang sukar dilakukan dalam pertemuan yang menghadirkan banyak kenangan dalam percakapan.

Dari mulut Ranca, dan juga peserta lainnya, tercurai beberapa cerita masa lalu mereka. Sebagian dari warita mereka muncul dalam #Natisha. Itulah kenapa Khrisna Pabhicara mampu membuat novel ini begitu hidup dan nyata. Ia menukilkan kejadian nyata ke dalam #Natisha. Pun dengan nama-nama dan karakter dalam novelnya, benar-benar ada.

Natisha dan para tokoh di dalamnya
Natisha dan para tokoh di dalamnya

Pagi sebelum ke lokasi gelaran, Khrisna Pabhicara menunjukkan rumah Pakki, tetangga Tutu yang setiap pagi memutar lagu Rhoma Irama dengan bantuan pengeras suara hingga bisa terdengar oleh tetangga lainnya. Sayang, saat itu Pakki tak ada hingga saya tak bisa menemuinya.

Reuni hari itu bukan reuni biasa, ada sebuah tujuan mulia di baliknya. Mereka kemudian memutuskan untuk membangkitkan lagi Teater Tutur yang sudah lama mati suri. Agenda telah tersusun, dua kegiatan besar menanti untuk dirayakan. Beragam upaya untuk menggeliatkan kehidupan berkesenian di Butta Turatea pun akan diadakan.

Sungguh beruntung saya bisa menemani #Natisha pulang kampung. Selain bisa menemui orang-orang yang menginspirasi dan juga hadir dalam novel ini, saya pun berkesempatan menjadi saksi geliat berkesenian di tanah asal #Natisha ini.

Sayangnya, hingga kepulangan saya, ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Siapa sesungguhnya yang menginspirasi sosok Natisha Karaeng Lebang? “Nanti pi dibahas itu” elak Ranca, saat saya menanyakannya ketika ia mengantar saya menuju tempat mencari mobil tumpangan ke Makassar.

Comments (14)

  1. Jadi penasaranka bacaki ini natisha oppa.. Dimanaki dapat bukunya? Haruska banyak-banyak membaca supaya tulisanku juga bisa lebih kaya di’. Ada itu karin kita share juga salah satu bukunya yang judulnya apakah itu, pokoknya tentang kata. Maukaaa ikutan beliiii..

  2. Saya dapat pengetahuan baru tentang budaya Makassar, termasuk ikat kepala yang digunakan bangsawan termasuk Sultan Hasanuddin yang pakai juga.

  3. Pertanyaan ku juga sama, Dimana bisa didapat buku ini Kak? Kalo menilik dari rekam jejak penulisnya, saya yakin karya ini adalah karya yang indah dan sangat sayang untuk dilewatkan.

  4. Natisha adalah novel tebal pertama yang saya habiskan membacanya. Cerita menarik dengan ragam informasi yang melatarbelakangi membuat novel ini layak dibaca.

  5. Gara-gara pernah menulis tentang Natisha juga, ada satu sineas Makassar yang email ke saya, minta izin untuk memfilmkan Natisha.

    Lah? Siapa saya? Ha-ha-ha
    Ternyata dia salah mengira, dia kira saya yang tulis ini buku.

    Bisa pi itu x)))

  6. Bingung ka’ Oppa:

    Pun dengan bagian muara saya terganggu …..

    Terganggu karena?

    Kaya sekali berarti buku eh novel Natisha ini ya. Upayanya maksimal.

  7. Membaca sebuah kisah fiksi dengan unsur sejarah dan budaya, turut menyadarkan anak muda bahwa akar masa lalu nenek moyang tempat ia berada kadang ditemukan dalam sebuah buku novel.

  8. Ditemukannya kisah sejarah dan budaya dalam kisah Natisha, telah memberikan informasi budaya dengan cara yang menarik dalam balutan karya fiksi.

  9. Krisna Pabicara, salah satu penulis favoritku. Sudah baca bukunya yang ini, menegangkan. Ini sudah ada kelanjutannya belum yah, penasaranka sama kisah selanjutnya.

  10. Pas baca judulnya, kirain Oppa beneran yang menemani nathisa pulang..lanjut ke paragraph selanjutnya ternyata ini cerita dalam sebuah novel.. Hehe..sedikit kaget dengan kisah di paragraph terakhir, penulis menegas parakang memang ada.. Langsung ngak tenang tidur kerna pas Blogwalking di tengah malam..

  11. Awalnya saya merasa tidak asing dengan nama Natisha. Kyak pernah baca dimana bgitu. Pas baca smpe slesai, baru ingat trnyata judul bukunya Krishna P.

    Saya kira tdi Daeng Marewa itu orang yg lain lagi. Trnyata panggilan untuk si penulis. Klo didengar2 namanya jga lmyan sangar ya kak Marewa jnga2n diambil dari kata ‘rewa’.

    Bukunya mmbhas tentang segala hal. sya makin percaya buku ini adalah bacaan berbobot krna dilahirkan dari seorang Krishna Pabichara yg sdah membaca dan mriset 63 buku tentang Makassar Jeneponto.

  12. Saya suka baca novel tapi novel romantis, sebagian novelnya Tere Liye atau yang lebih lama kayak novelnya Marga T. deh Marga T lalo hahaha…

    Nah karyanya Krishan Pabichara itu belum pernah saya baca. Wuih jadi kepoka. Dapat di mana itu Dek?

  13. saya senang sekali dengan cerita yg berlatarbelakang Sulawesi Selatan kak.. serasa diajak lebih dekat dengan kampung halaman..

  14. Sepertinya novel ini sangat menarik untuk dibaca karena berisi budaya khas Bugis Makassar, mau dong kak infonya dimanaki beli novelnya.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.