Mantan Manten – Sebuah Pelajaran Tentang Move On

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

FilmGaya Hidup

Mantan Manten – Sebuah Pelajaran Tentang Move On

Atiqah Hasiloan Mantan Manten

Mantan Manten adalah pelajaran bagaimana belajar ikhlas dalam racikan cerita yang memadukan modernitas, budaya dan ketegaran seorang perempuan. Juga, sebuah pelajaran tentang move on.

Beberapa waktu sebelum penayangannya, akun media sosial Visinema sudah melakukan promosi dengan mengunggah banner – banner bertuliskan quote galau hubungan asmara. Plus, membuat satu microsite undangan pernikahan. Saat itu, saya merasa bahwa film ini hanyalah film drama romansa biasa. Tak lebih dari itu.

Namun, begitu melihat trailer dan pujian dari beberapa akun pengulas film saya berbalik jadi penasaran. Benarkah Mantan Manten sebagus itu? Benarkan film produksi Visinema ini mampu mengoyak perasaan penontonnya?

Soe Hok Gie pernah menulis begini “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.” Dan, Yasnina ((Atiqah Hasiholan) adalah bukti keberanian juga kekuatan seorang perempuan menghadapi hidup yang tak mudah. Seorang diri dan memenangkannya.

Cerita Mantan Manten berpusat pada Yasnina, seorang perempuan yang hidupnya terasa sempurna dengan karier yang cemerlang sebagai konsultan investor, harta melimpah, dan tunangan yang tampan dalam hidupnya. Namun, dalam sekejap hidup menghempaskannya ke bawah.

Iskandar (diperankan oleh Tyo Pakusadewo) yang merupakan bos di perusahaannya menghianatinya. Sang bos memilih mengorbankannya demi menyelamatkan perusahaan. Perihnya, bos ini tak lain adalah ayah dari tunangannya, Surya.  

“Ini pertarunganku” berkali – kali Yasnina mengucapkan ini. Pada Surya, juga pada Ardy sang asisten sekaligus sahabatnya. Yasnina memilih lawan. Akan tetapi, ia tak punya apa-apa lagi. Karir hancur. Semua harta disita.

Mantan Manten adalah kisah tentang kekuatan seorang perempuan menghadapi hidup yang tak mudah.
Mantan Manten adalah kisah tentang kekuatan seorang perempuan menghadapi hidup yang tak mudah.

Kecuali satu rumah di Tawangmangu yang belum sempat ia balik nama ketika membelinya. Rumah itu satu – satunya yang ia miliki dan bisa ia jadikan modal untuk membela diri sekaligus melawan Iskandar dalam pengadilan. Namun, hidup tak semudah itu bagi perempuan yang melewatkan masa kecilnya tinggal di panti asuhan.

Storyline di atas terbangun dengan padat pada awal film. Hanya sekira 15 menit. Tak perlu berlama – lama. Cukup untuk menyampaikan ke penonton seperti apa latar dari bangunan cerita pada adegan – adegan selanjutnya.

Yasnina yang harus kehilangan semua itu dan harus mencari jalan keluar tanpa bantuan siapa pun. Ia harus memulai dari nol. Untuk melawan, ia membutuhkan uang untuk menyewa pengacara. Satu – satunya cara untuk mendapatkan uang itu dengan menjual satu – satunya rumah yang tersita.

Dari modernitas Jakarta di mana keseharian Yasnina sebagai wanita karir berlangsung, penonton kemudian dibawa ke Tawangmangu, menikmati sajian visual keindahan panorama pedesaan. Yasnina harus menjumpai pemilik rumah sebelumnya untuk melakukan balik nama agar bisa menjual rumah itu.

Marjanti atau Bude’ Mar (Tutie Kirana), pemilik rumah sebelum Yasnina, tak mau bertanda-tangan begitu saja. Perempuan yang berprofesi sebagai pemaes dan masih menempati rumah itu mengajukan satu syarat: Yasnina harus bersedia menjadi asistennya selama tiga bulan. Sebuah syarat yang tak mungkin ia tolak. Tak ada pilihan lain.

Pemaes adalah dukun manten yang bertanggung jawab pada proses paes dalam pernikahan adat Jawa. Mengatur pernikahan mulai dari rias, pakaian sampai ritual dalam proses pernikahan adat Jawa. Tak jauh berbeda dengan Indo’ Botting bagi suku Bugis, yang perannya kian terkikis oleh modernitas.

Visinema yang sukses dengan film ‘Keluarga Cemara’ mengangkat tema women empowerment dalam Mantan Manten ini yang tergambarkan oleh karakter Yasnina dan Marjanti. Pertemuan Yasnina dan Marjanti adalah pertemuan dua perempuan tangguh yang bertemu dalam keadaan yang berbeda.

Marjanti harus hidup mandiri tanpa suami, sedangkan Yashina harus memperjuangkan hidup sendiri, sang kekasih, Surya justru tidak bisa berbuat apa – apa. Pertemuan mereka, sekaligus adalah pertemuan modernitas dengan tradisi, yang diwakili dua perempuan dengan latar berbeda.

Pertemuan ini tergambarkan dengan visual yang indah. Bagaimana pergulatan batin keduanya dan keterikatan emosional antara mereka berdua terjalin hadir dalam gambar – gambar memanjakan mata, namun penuh makna.

Keindahan gambar juga hadir dalam detail – detail prosesi pernikahan adat Jawa, tahap demi tahap. Film garapan Farishad Latjuba (sutradara Mantan Terindah – 2014) ini memang sarat dengan adat Jawa, seperti Weton atau penentuan tanggal baik dari pernikahan, Siraman, Lempar sirih, dll.

Seni rias pengantin adat Jawa yang khas dengan paes dikupas secara dalam melalui sosok Marjanti. Kisah di balik pembuatan paes yang sakral menjadi sisi menarik Mantan Manten. Kesakralan tradisi yang terjaga juga hadir dengan suasana mistis tapi tak mengganggu kenyamanan menonton.

Kehadiran tradisi Jawa, khususnya Paes, dalam film ini bukan sekadar tempelan, tapi bagian penting dari film ini. Menjadi bagian dari konflik sekaligus pertarungan yang harus dihadapi oleh sang tokoh, Yasnina. Menghadirkan film dengan tema unik dan segar dari film drama romansa lainnya.

Akting para pemain dalam film yang naskahnya ditulis oleh Farishad Latjuba dan Jenni Jusuf (penulis naskah dua film Filosofi Kopi) patut mendapat jempol. Deretan nama seperti Atiqah Hasiloan, Tutie Kirana, Tyo Pakusadewo dan Arifin Putra menghadirkan adegan dan dialog yang berjalan kuat dan mulus. Juga mengaduk perasaan.

Atiqah Hasiloan memerankan Yasnina dengan sangat baik dan menghadirkan karakter yang kuat. Atiqah berhasil membawakan karakter Yasnina dengan sangat baik. Dari seorang perempuan modern yang hidup di kota besar lalu harus menepi ke pedesaan dan menjalani berbagai hal terkait tradisi yang tak ia kenal sebelumnya.

Begitu pun dengan Tutie Kirana, aktris senior ini membawa kita pada karakter seorang perempuan Jawa yang teguh dan tegas menjaga tradisi, terkadang menghadirkan aura mistis.

Jika ada yang kurang, adalah chemistry Yasnina dan Surya yang terasa tak begitu kuat.  Namun, karakter Surya yang diperankan oleh Arifin Putra sebagai orang plin plan dan selalu takut dalam mengambil keputusan tergambar jelas bahkan hingga akhir film.

Begitu pula dengan karakter antagonis, Arifin Iskandar (Tio Pakusadewo), terlihat dengan jelas. Alasan di balik setiap tindakan yang yang ia ambil tergambar dengan baik sehingga kita tak bisa membencinya.

Salah satu kekuatan lain dari film Mantan Manten adalah lagu pengiringnya.
Salah satu kekuatan lain dari film Mantan Manten adalah lagu pengiringnya.

Kehadiran komika, Dodit Mulyanto, memberi kesegaran dalam film ini. Jokes yang ringan tapi  bisa bikin penonton tersenyum bahkan tertawa.

Tidak seperti film lainnya yang kadang terganggu dengan kehadiran iklan sponsor, penyajian iklan dalam Mantan Manten sangat halus. Penonton yang tak begitu jeli mungkin tak akan melihat atau mengabaikan kehadiran beberapa sponsor seperti Kaskus, JD.ID, Traveloka dan Gojek.

Film Mantan Manten merupakan kolaborasi antara produser Anggia Kharisma (Keluarga Cemara) dan Kori Adyaning (Love for Sale). Satu yang pasti, film ini bukan kisah drama romansa percintaan yang klise dan biasa – biasa saja. Ada banyak hal yang lebih besar disampaikan dalam film ini.

Bercerita bagaimana perempuan memperjuangkan hidup, tentang bagaimana menghadapi kehilangan, dan tentang bagaimana berdamai dengan apa yang kita miliki dan mengikhlaskan apa yang memang tidak ditakdirkan untuk kita.

Baca Juga: bagaimana menyikapi kehilangan dan cara move on versi #dearkamu di Surat Cinta #10: Kehilangan dan Teman

Bagi yang masih terjebak dalam genangan kenangan, tak bisa beranjak dari masa lalu dan mantan, film ini bisa membantumu. Mantan Manten adalah tentang belajar move – on, kata anak jaman kiwari.

Menonton Mantan Manten rasanya seperti menelan puyer, pahit, tapi setelah itu menyembuhkan sakit. Dada sesak sepanjang dua per tiga akhir film, apalagi 10 menit terakhir, tapi begitu melihat senyum Yasnina pada ending bikin semua terasa lega. Ia memenangkan pertarungannya, memenangkan hidup, dengan cara melepaskan.

Baca Juga: Daftar Film Indonesia Tayang April 2019

Perasaan sungguh lega pada saat melihat senyuman Nina pada akhir film. Sebuah senyum kemenangan. Kemenangan akan hidup itu sendiri. Jika pada saat keluar bioskop usai menyaksikan Love For Sale saya merasa ingin memeluk diri sendiri, ingin rasanya memeluk Yasnina saat melihatnya tersenyum pada akhir film.

Skor: 3.5 dari 5

Comments (20)

  1. Jadi pengen cepet2 jam 5, menyelesaikan kerjaan dan mengajak suami nonton film ini :). Review film yang menyenangkan,, closing dengan “memeluk yasnina” bikin penasaran. senyum2 sambil baca ini, seorang lelaki menuliskan tentang perempuan dengan cara manis sekali. so impressive,, thank you :).

  2. wah ini mi pelem yang kemaren sempat heboh-heboh iklannya di media sosial itu… hmm kayaknya bagus kalo nontonnya sekalian sama mantan dih?

  3. Sungguh dramatis yah filmnya Kak Anchu, seorang bos tidak lain dari ayah tunagannya sendiri menghianatinya…

    Lalu dia akan hadapi dengan apa yang dia punya dan tak akan lari. .

    Wonder woman banget. .Jadi penasaran pengen nonton filmnya. .

  4. Wetz terlincah om lebug sudah review duluan. Kt baru merencanakan nonton hahaaa.

    Membuat pembaca ingin segera nonton nihh

  5. Penggambaran tentang wanita yang kuat.
    Dan ku teringat pada sosok seorang perempuan yang dijadiin stiker WA bertuliskan “CUBIT NIH” hehhe…

  6. Mantan manten yang dulu dulu hanya sebuah cuitan netijen sekarang diangkat menjadi film. Saya sebagai penikmat film melihat peningkatan dan perkembangan film Indonesia, terutama di genre romantis seperti ini. Hihi.

  7. Belum nonton film Mantan Manten, namun dengan adanya review ini, jadi mengerti storyline dari filmnya hehe… Kalau Atiqah Hasiholan selain cantik, dia memang selalu cocok memainkan film bertema women empowerment

  8. spoiler! hahaha

    tapi Atiqah memang sosok perempuan yang kuat. Nda gampang bertahan hidup dalam keluarga dengan sosok seorang ibu seperti ibu yang dipunyai Atiqah. Makanya, dia saya sebut sebagai perempuan yang kuat.

  9. Saya merasa review ini cukup dibaca dan sudah sangat menggambarkan isi film -meski tidak semuanya-. Saya tidak akan nonton film ini. Karena bagaimana pun mantan adalah masa lalu, dan masa lalu tak sebaiknya diungkit ungkit. Hhe

  10. Banyak review bagus tentang film ini. Jadi mau nonton juga. Apalagi karena ada budaya Jawa yang jadi salah satu inti cerita. Penasaranku…

  11. sudah dua ulasan tentang film ini yang saya baca, yang satu tulisan yang terbit di Tirto dan juga kurang lebih memuji film ini.

    Btw, agak terganggu dengan penulisan yang keliru, karir yang seharusna karier. Selain itu, ada kata tanya di tengah kalimat. Semoga bisa diperbaiki ke depannya;)

  12. Cerita di awal mirip betul sama yang serial di Viu yang di perankan sama Tara Basro cuma bedanya dia “jatuh” karena kasih pinjaman ke Pacarnya tapi ndak bisa bayar.

  13. M Putra Riyadi (Raya)

    Jaman sekarang orang memang banyak banget yang susah move on kak🤣🤣🤣 udah jadi seperti penyakit, gagal move on ini, haha. Wajib ditonton banyak orang ini

  14. Membaca ulasan di atas saya jadi penasaran dengan film Mantan Manten ini. Apalagi banyak juga yang memberikan review positif so sepertinya filmnya bagus yak.

  15. Indo botting yang mulai tergerus oleh MUA zaman now, nda adami lagi ritual-ritual adatnya 😁

    Btw banyak sekali review bagus yang Saya baca tentang film ini, bikin penasaran juga mau nonton. Semoga masih adaji belum turun

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.