Makassar Nol Kilometer

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

BukuGaya Hidup

Makassar Nol Kilometer

Makassar Nol Kilometer adalah buku pertama yang memotret warga Kota Makassar kontemporer lengkap dengan karnaval budayanya, seperti merayakannya di alun-alun; di titik nol kilometer.

update: 13 April 2019

Kota adalah sebuah wujud kejujuran modernitas. Di dalamnya terdapat timpah-menimpah antara tabiat modal yang buta-ruang, siasat terhadap ruang yang ada agar modal tetap langgeng, dan cara masyarakatnya menghadapi hidup dengan ruang yang terbatas.

Lantaran itulah, Makassar Nol Kilometer lahir. Buku berisi 49 tulisan yang dihasilkan 15 penulis muda, sebagiannya masih mahasiswa, ini memotret fenomena [kejadian yang lambat laun menjadi sesuatu yang rutin] seperti iringan mayat atau perang antar-kelompok, komunitas [kelompok masyarakat di Makassar yang memiliki sifat khusus] seperti waria di Lapangan Karebosi sampai suporter PSM, ruang [penanda kota atau ruang publik] seperti Lapangan Karebosi dan Fort Roterdam, dan kuliner [jajanan yang biasa ditawarkan di Makassar] seperti Coto atau Sarabba.

Buku pertama yang memotret warga Kota Makassar kontemporer lengkap dengan karnaval budayanya, seperti merayakannya di alun-alun; di titik nol kilometer. Sebuah buku untuk mereka yang ingin tahu budaya-pop Makassar dan sekitarnya.

Makassar Nol Kilometer berisi tulisan berdasarkan klasifikasi (1) fenomena; sebuah kejadian yang lambat-laun menjadi sesuatu yang rutin seperti iringan mayat, perang antar-kelompok, atau judi murah tukang becak; (2) komunitas; kelompok masyarakat tertentu di Makassar yang memiliki sifat khas seperti waria di Lapangan Karebosi, Suporter PSM, atau Komunitas Utara-Selatan, (3) tempat, meliputi ruang publik atau penanda kota sepertiLapangan Karebosi, Masjid Mamajang, sampai Pondokan Mahasiswa; dan (4) makanan-minuman, yang dijajakan di Makassar seperti Coto, Sarabba, Pallubasa, dan lainnya.

Semua tulisan dibuat mulai 1 Februari 2005 hingga 31 Mei 2005. Penanggalan ini penting mengingat tidak semua tulisan dibubuhi titimangsa. Di samping itu, sebagian tulisan memuat ingatan-ingatan para penulis sehingga kejelasan konteks dapat saja terkaburkan.

Proses pemilihan tema pun tergolong unik. Para penulis dan editor berkumpul beberapa kali melakukan curah pikir tentang tema-tema yang sebaiknya termuat dalam kumpulan ini. Tentu saja pemilihan tidak lepas dari garis besar buku yang telah ditetapkan, yakni sedapat mungkin melihat Makassar dari sisi lain, sebisa mungkin dari kaca mata orang kecil, atau orang yang tak mungkin dapat menuliskan pengalamannya, yang akan hilang begitu saja.

Para penulis adalah mereka yang telah lama bermukim atau lahir besar di Makassar. Pendeknya mereka sangat mengenal sebagian dari kota ini, menurut ketertarikan dan keberadaan masing-masing. Dalam proses tersebut, mereka mengajukan dan kelak menuliskan tema-tema yang mereka kenal baik dan ingin diketahui lebih dalam. Hal ini berimbas pada tulisan yang diharapkan, sedikit banyak, dapat menjelaskan sisi terlewatkan dari tema-tema yang ditulis.

Makassar Nol Kilometer| Media Kajian Sulawesi (MKS) & Penerbit Ininnawa | Anwar J Rachman, M Aan mansyur & Nurhady Sirimorok (Editor) | Oktober 2005 | 375 halaman |

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.