Legenda PSM Sepanjang Masa, Siapa Idolamu?

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

FigurKata Kota

Legenda PSM Sepanjang Masa, Siapa Idolamu?

Legenda PSM Sepanjang Masa - LOGO PSM

PSM adalah klub tertua di Indonesia. Berdiri pada 2 November 1915, kini PSM sudah 103 tahun. Begitu banyak pemain yang sudah membela klub berjuluk Juku Eja ini. Sejarah mencatat beberapa nama yang menjadi legenda PSM.

Di antara para legenda PSM itu mungkin hanya Ramang yang namanya dikenal luas. Bahkan, namanya melekat menjadi julukan bagi klub yang dulunya bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) ini. Ramang adalah roh dan semangat bagi klub kebanggaan kota Makassar ini. PSM Makassar adalah Pasukan Ramang.

Sebagai klub sepakbola yang sudah lama malang melintang di berbagai kompetesi, dari jaman penjajahan Belanda hingga Liga 1, PSM sudah meraih berbagai deretan prestasi. Pada era perserikatan, PSM pertama kali menjadi juara pada tahun 1957 dengan mengalahkan PSMS Medan pada partai final yang digelar di Medan. Sejak itu PSM yang dijuluki menjadi kekuatan baru sepak bola Indonesia. PSM menjelma menjadi tim elite. Sebanyak lima kali gelar juara perserikatan meraih; tahun 1957, tahun 1959, 1965, 1966, dan 1992.

Sejarah PSM Makassar

Pada tahun 1994 era perserikatan berakhir. Liga Indonesia kemudian hadir di mana pesertanya adalah tim-tim perserikatan dan tim-tim Galatama. PSM tetap selalu bisa masuk jajaran papan atas. Setiap musim, PSM selalu diperhitungkan dan menjadi salah satu tim dengan prestasi paling stabil di Liga Indonesia. Era ini, PSM empat menjadi tim peringkat dua pada Liga Indonesia 1995/1996, 2001, 2003, dan 2004 dan menjadi juara pada pada Liga Indonesia tahun 2000.

Saat juara Liga Indonesia PSM mencatat prestasi mengesankan dengan hanya menderita 2 kali kekalahan dari total 31 pertandingan. Saat itu PSM terdiri dari pemain-pemain tim nasional seperti Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santoso, Miro Baldo Bento, Kurniawan Dwi Yulianto yang berpadu dengan pemain asli Makasar seperti Ronny Ririn, Syamsudin Batola, Yusrifar Djafar, dan Rachman Usman, ditambah Carlos de Mello, dan Yosep Lewono.

Desember 2010, PSM Makassar memutuskan untuk mengundurkan diri dari Liga Indonesia, saat itu terjadi dualisme kompetisi. PSM memutuskan untuk bergabung ke Liga Primer Indonesia dengan melakukan merger dengan Makassar City FC yang sudah lebih dulu menjadi anggota LPI. Saat kompetisi kembali berjalan normal dan bernama Liga Super Indonesia pada tahun 2014, PSM Makassar kembali ke Liga Super Indonesia.

Sejarah panjang perjalanan klub sepakbola yang identik dengan jersey warna merah ini pun bertabur nama pemain-pemain bintang. Baik itu pemain lokal Makassar, pemain timnas hingga pemain asing. Beberapa di antaranya menjadi legenda PSM.

Siapa Saja Legenda PSM?

Ramang, legenda PSM dan Macan Gol Indonesia
Ramang, legenda PSM dan Macan Gol Indonesia

Ramang

Bicara tentang pemain yang identik dengan PSM Makassar tentu nama pertama yang muncul dalam kepala orang banyak adalah Ramang. Sampai saat ini kisah tentang legenda PSM Ramang ini masih sering terdengar dan karib di telinga pendukung PSM, bahkan warga Makassar yang tak menyukai sepakbola sekali pun.

Terlahir dengan nama Andi Ramang di Barru, Sulawesi Selatan, 24 April 1924, Ramang memulai karirnya sebagai pemain Persatuan Sepakbola Induk Sulawesi (Persis) yang merupakan bagian dari Makassar Voetbal Bond (MVB). Dalam sebuah pertandingan, Persis berhasil menang dengan skor 9-0 di mana Ramang mencetak sebagian besar gol. Pada tahun 1947, PSM resmi merekrutnya untuk mengisi posisi penyerang tengah.

Bersama PSM karir Ramang kemudian melesat hingga ke tingkat nasional dan kancah internasional. Kiprah Ramang dalam sepakbola bahkan mendapat pengakuan FIFA yang menerbitkan sebuah artikel dalam situs resminya www.fifa.com tepat pada peringatan ke-25 tahun kematiannya di tahun 2012. Dalam rtikel yang berjudul “Indonesian who inspired ’50s meridian”, FIFA memberi pengakuan bahwa Ramang Legenda PSM Makassar adalah inspirator titik puncak kesuksesan sepakbola Indonesia.

Selengkapnya tentang kisah Ramang baca di Ramang, Masih dan Akan Terus Hidup di Makassar.

Rasyid Dahlan

Mungkin tak banyak yang mengenal nama ini seperti mengenal Ramang. Padahal mereka adalah dua orang berperan penting dan mewarnai permainan PSM pada era 1950 – 1960an. Perjalanan karier Rasyid terbilang unik. Dia jadi pemain sepak bola karena jadi teman sekaligus pembawa sepatu bola Ramang, seniornya di Persis, klub anggota PSM. Kariernya pun terbilang cepat, di usia 16 tahun dia sudah memperkuat PSM dan dua tahun kemudian dipanggil memperkuat timnas.

Perannya sebagai gelandang jangkar PSM dan timnas sangat vital sebagai perusak alur serangan lawan. Sosok Rasyid pun tidak tergantikan dalam skuat timnas sejak 1956 sampai 1966. Rasyid yang dijuluki Roda Gila oleh rekan-rekannya ini adalah anak emas Tony Poganick, pelatih timnas Indonesia saat itu. Dia pun jadi bagian penting dari penampilan Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956, Asian Games 1958 dan kualifikasi Piala Dunia 1958.

Rasyid mengakhiri kariernya di timnas saat usia masih kepala dua. Namanya dicoret oleh Tony karena mencederai Sinyo Aliandoe saat seleksi timnas yang akan melakoni tur Eropa. Saat itu, Sinyo bersaing dengan M. Basri di posisi gelandang serang. Kuat dugaan, Rasyid sengaja mencederai Sinyo agar Basri, rekannya di PSM lolos masuk timnas saat itu.

Ronny Pattirasarany

Jika pada era 1950 sampai 1960, permainan PSM sangat kental dengan sosok Ramang, maka pada era 1960 – 1970 ada satu sosok yang menjadi ikon klub ini. Sosok itu bernama Ronny Pattirasarany. Bersama Ronny,  tradisi juara PSM tetap terjaga pada tahun 1960 sampai 1970.

Ronny Pattirasarany adalah putra Makassar berdarah Ambon, terlahir dengan nama lengkap Ronald Hermanus Pattinasarany, pada 9 Februari 1949. Salah satu nama yang mengisi daftar legenda PSM ini adalah pemain bola yang asli dibesarkan klub PSM. Karirnya dimulai pada 1966 di skuad tim junior PSM, dan segera mampu memperkuat skuad tim senior klub berjuluk Juku Eja ini dalam waktu singkat.

Ronny mengantarkan PSM menjadi di Piala Soeharto 1974. Dua tahun setelahnya, tepatnya 1976 Ronny meninggalkan Makassar dan bergabung klub Warna Agung. dan Tunas Inti. Di sinilah kariernya mulai menanjak sehingga dia pun terpilih masuk dan menjadi kapten timnas. Tahun 1982, Ronny hengkang ke klub Tunas Inti. Hanya setahun di sana, dia pun memutuskan untuk gantung sepatu dan beralih profesi sebagai pelatih. Ronny tercatat pernah jadi pelatih di Persiba Balikpapan, Makassar Utama dan Petrokimia Putra.

Legenda PSM ini meraih banyak penghargaan seperti Pemain All Star Asia tahun 1982, Olahragawan Terbaik Nasional tahun 1976 dan 1981, Pemain Terbaik Galatama tahun 1979 dan 1980, dan meraih Medali Perak SEA Games 1979 dan 1981.

Sosok yang sempat dikenal sebagai kenal sebagai analis sepak bola ini meninggal dunia pada Jumat 19 September 2008 karena penyakit kanker hati. 

ALIMUDDIN USMAN

Alimuddin Usman adalah kapten yang membawa PSM menjadi juara kompetisi Perserikatan 1991/92. Padahal, ketika itu PSM tidak diunggulkan menjadi juara dibandingkan Persib Bandung atau PSMS Medan. PSM berhasil mengalahkan PSMS Medan dengan skor 2 – 1. Mengulang kemenangan pada final 1957 di mana PSM menjadi juara dengan mengalahkan PSMS.

Peran Alimuddin lapangan sangat vital dalam mengayomi dan menjaga keseimbangan tim. Beroperasi di sayap kiri, Alimuddin merupakan sosok pemain yang sangat lincah dan sulit untuk dikawal hanya dengan satu atau dua pemain saja. Tak jarang, lini belakang lawan harus kerepotan mengawal pertahanan mereka dari akselerasi yang dilakukan Alimuddin.

Luciano Leandro

Luciano Leandro adalah legenda hidup PSM yang masih aktif di kancah sepakbola Indonesia dengan menjadi pelatih Persipura pada kompetisi Liga Indonesia musim ini. Sebelumnya, Luciano sempat melatih skuad Pasukan Ramang selama tiga bulan pada kompetisi Liga Super Indonesia 2016. 

Nama Luciano Leandro lebih mengkilap saat ia menjadi pemain saat memperkuat PSM Makassar dan Persija Jakarta. Luciano Leandro pertama kali merumput di Indonesia dan membela PSM pada Ligina Indonesia (sering disingkat Ligina) 2 pada musim 1995-1996. Bersama Jacksen F Tiago dan Marcio Novo, Luciano adalah pemain generasi awal pemain asing yang bermain di Indonesia. Saat itu, PSSI mengeluarkan kebijakan membolehkan klub bola di Indonesia menggunakan pemain asing meski jumlahnya dibatasi. Harapan PSSI adalah agar para pemain asing itu mampu menularkan skill pada pemain lokal.

Luciano membawa PSM mencapai babak final Ligina 2 di musim pertamanya. Pemain dengan ciri khas rambut panjang dikuncir ini kemudian membawa PSM menjadi semifinalis pada Liga Indonesia III (Semifinalis) dan Peringkat I Wilayah Timur pada Liga Indonesia IV. Sayangnya, kompetisi berhenti di tengah jalan karena kondisi keamanan nasional yang saat itu tidak memungkinkan dengan adanya kerusuhan 98.

Luci, panggilan akrabnya, adalah playmaker pekerja keras, lincah dan tidak berbuat macam – macam di luar lapangan. Hal ini yang membuat pendukung PSM jatuh cinta padanya dan selalu mengenangnya sebagai salah satu legenda meski bermain di PSM hanya beberapa musim. Permainan ala samba dan suplai bola ke penyerang yang acapkali berbuah gol adalah salah satu kelebihan pemain ini.

Setahun setelah membawa PSM menjadi Runner Up Ligina 2, Luci kembali membawa PSM Makassar sebagai Runner Up di Turnamen Internasional Bangabandhu-Bangladesh setelah kalah dari Tim Nasional Malaysia. Pada turnamen itu Luciano Leandro terpilih sebagai pemain terbaik.

Penampilan gemilang pemain berkaos no punggung 10 saat membela PSM Makassar ini membuat Persija Jakarta kepincut dan kemudian meminangnya pada musim 2000/2001. Pada musim pertamanya di Jakarta, Luciano berhasil membawa Persija menjuarai Ligina VII. Di Stadion Gelora Bung Karno, tanggal 7 Oktober 2001, Persija Jakarta menghempaskan PSM Makassar dengan skor 3 -2. Luciano membawa Persija menjadi juara setelah mengalahkan klub yang sangat dicintainya.

Tentang Luciano Leandro lebih lengkap bisa dibaca di Mengenal Luciano Leandro Legenda PSM

Syamsul Chaeruddin

The Macz Man, supporter kreatif PSM bahkan memiliki chant khusus untuk pemain yang digelari Nedved Makassar ini, merujuk pada Pavel Nedved pemain kunci tim nasional Ceko yang juga sukses bersama Juventus.

Syamsul…Syamsul…

Syamsul yang garang …

Syamsul yang garang di Mattoanging…              

Penggalan nyanyian yang iramanya menyerupai lagu Mari Berkebun itu akan bergema diiringi tabuhan drum dan tiupan terompet saat Syamsul Chaeruddin menggiring bola.

Salah satu nama yang harus kita masukkan dalam daftar pemain legendaris PSM adalah Syamsul Chaeruddin. Syamsul Bachri Chaeruddin lahir di Limbung, Bajeng, Gowa, 9 Februari 1983 adalah legenda hidup PSM dan mantan pemain timnas. Syamsul adalah gelandang enerjik dan pekerja keras yang pernah dimiliki PSM Makassar.

Berkiprah di PSM sejak level junior pada rentang 1999-2000, Syamsul menjelma menjadi ikon tim Juku Eja ketika menembus level senior pada 2001-2011. Gaya bermainnya juga menjadi inspirasi para gelandang muda PSM saat ini. Bisa kita lihat pada sosok Rasyid Bakri, Sang Pangeran PSM.

Sejak mengawali karir bersama PSM Makassar, pada musim 2001-2002, Syamsul langsung mencuri perhatian. Kemampuan untuk terus berlari sepanjang pertandingan, membuat pemain yang identik dengan rambut gondrong ini, terlihat begitu menonjol. Tak salah jika seragam Timnas baik junior mau pun senior, pernah ia kenakan.

Era keemasan pria kelahiran Kabupaten Gowa itu, terjadi pada tahun 2003—2010. Bersama Ponaryo Astaman, ia bahu-membahu menggalang kekuatan di lini tengah, baik saat mereka di PSM mau pun di Timnas. Selama beberapa tahun, Syamsul jadi idola publik sepakbola Sulawesi Selatan. Dia mampu mengobati kerinduan pendukung PSM, untuk melihat putra Tanah Daeng berseragam Timnas.

Sempat berpetualang sebentar ke Persija Jakarta (2010-2011) dan Sriwijaya FC (2011-2012), Syamsul kembali ke pangkuan PSM pada 2012 hingga musim kompetisi 2017/2018. Di Piala Presiden 2018 lalu, Syamsul sempat digunakan jasanya oleh klub Liga 1 lainnya, Borneo FC, namun Pesut Etam memutuskan untuk tidak mengontraknya secara permanen. Akhirnya, Syamsul berlabuh ke klub yang berkompetisi di Liga 2 PSS Sleman pada tahun 2018 selama semusim.

Dari nama-nama pemain legenda PSM di atas, yang mana idola kalian? Atau, ada nama lain?

Comments (15)

  1. Eh, agak gantung endingnya. Masih pengen baca, ternyata udah selesai, hehe..

    Btw, tentang Luciano Leandro, saya jadi bangga akan kecintaannya pada Makassar. Bahkan hotelnya di Brasil pun dinamain Hotel Makassar. Iya kan?

  2. Toami Ramang, awalnya saya penasaran siapa sih Ramang ini, ternyata beliau adalah seorang legenda. Sayang sekali saya tidak bisa melihat patungnya sebelum dirobohkan

  3. Ramang ji kutahu hehehe. Ternyata pernah pale juara PSM di tahun 2010 dih. Oya, ada mi kah yang tulis tentang fans-nya PSM? Banyak juga anak mudanya dih? Ada ponakanku itu kayak mau tong mati untuk PSM. Umurnya kira-kira 26 tahun.

  4. di buku Makassar Nol Kilometer ada kak.

  5. Bicara tentang ramang, jadi ingat sebuah poster beberapa tahun lalu. Tentang rencana dibuatnya film semibiografi ramang. Kalo tak salah akan di produseri deng ruslee. Kalo nd salah yaa😊

    Ingat ramang, ingat kiper mudanya si Anshar Abdullah yang kini tentu tak lagi muda

  6. Dari beberapa nama di atas saya paling suka sama Luci dan Syamsul.

    Tapi kalau disuruh nambah, saya mau masukkan dua nama lagi: (alm) Anshar Razak dan Bahar Muharram.

    Saya sempat mengidolakan kedua orang itu, selain karena permainan mereka juga karena tetangga masa kecil hahaha.

    Salah satu pengalaman paling berkesan, pernah bermain satu lapangan dengan Anshar. Saya ditugaskan menjaga dia, dan tentunya gagal dong hahaha.

  7. Itu tokh yang namanya Ramang, di antara nama-nama di atas, hanya Ramang yang saya tahu. Hehehe

  8. Kalau para lagendaris Ramang Jadi Andalan..tapi sekarang pada pemain import jadi sorotan seperti Marc Klok.

    Thank Informasinya Kak Anchu..Jadi kenal para pemain Lagendaris PSM..

  9. Dulu mesnya PSM dekat rumahku waktu mereka di Arif Frate, bangga ta mamo tetanggan sama mereka apalagi kalau mau tanding jalanan jadi ramai.
    Saya suka, saya suka, saya suka… Laf!

  10. Ini mi yg biasa jadi istilah “toa mi ramang”, belakangan baru tau klo ternyata ramang itu pemain legendanya PSM. Krna pertama tau tentang PSM, yg ku kenali cuma syamsul. Itupun jugabkrna beliau tetanggaan sama keluarga2 di limbung. Hehhe, terima kasih sudah ngepost tentang sejarah PSM kak.

  11. Baru ka liat ini fotonya Ramang sang legenda PSM dan macan goal Indonesia ini, Selama ini cuma liat patungnya ji dulu diatas gate masuk Karebosi lama yang dari jalan Ahmad Yani. Dan kesan yang melekat di benakku itu orangnya pendek di bawah ukuran pendek rata-rata kayak mi juga patung Sultan hasanuddin sebelum revisi yang di bandara itu. Ternyata nda tonji pendek pendek bagemana ji orangnya di.

  12. Waduh diantara yang disebutin di atas, gak ada yang saya idolain oppa , kenal naman2nya selain Rammang yang sudah pernah diulas sebelumnya aja baru setelah baca postingan ini. Maklum saya gak ikuti tontonan bola soalnya🙊

  13. Artikelnya informatif sekali kak tentang PSM. Dari ke enam legenda di atas sy cuma tau sedikit soal ramang itupun krena sudah pernah baca postingan sebelumnya ttg ramang hehe.

  14. Kalo diantara legenda diatas. Nama Ramang yang paling dikenal bahkan hingga berjarak puluhan tahun setelahnya. Sebuah inspirasi bagi banyak generasi muda saat ini.

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.