Komunitas Malam Sureq: Hari Buku dan Media Kita

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Kata KotaKomunitas

Komunitas Malam Sureq: Hari Buku dan Media Kita

Komunitas Malam Sureq Makassar

Beberapa komunitas merayakan Hari Buku di Kafe Baca Adhyaksa. Mereka berbagi cerita tentang buku favorit mereka. Salah satunya Komunitas Malam Sureq

Ada pula kanda Anwar Jimpe Rachman yang berbagi pengalaman dalam dunia perbukuan. Juga cerita-cerita dari beberapa komunitas pecinta buku dan ditutup dengan manis oleh Komunitas Malam Sureq yg membacakan puisi.

Acara ini adalah rangkaian dari Tudang Sipulung yang rutin dihelat oleh Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri setiap bulannya. Bertepatan dengan Hari Buku Sedunia, April ini Anging Mammiri pun memilih tema ‘Berkumpul di Halaman Buku’ dan mengundang beberapa komunitas yang berkaitan dengan buku.

Ipul Daeng Gassing yang memoderasi kegiatan, mantan ketua Anging Mammiri ini pun memulai acara dengan membagi cerita tentang buku-buku favoritnya. Adalah Tintin au Tibet yang menjadi buku favoritnya, “Buku ini sangat spesial karena bercerita tentang persahabatan, juga karena dibelikan teman di Brussel, tempat karakter Tintin berasal” ungkap Ipul tentang komik berbahasa Perancis ini.

Selain itu, Ipul juga menceritakan buku favorit lainnya yaitu Drama itu Bernama Sepak Bola karya Arief Natakusumah dan Selimut Debu karya Agustinus Wibowo. Selepas itu, beberapa peserta yang hadir pun turut menceritakan buku-buku yang sangat berkesan bagi mereka.

Hadir pula Anwar J Rachman yang diundang untuk berbagi pengalaman dalam menggawangi Penerbit Ininnawa selama sepuluh tahun lebih. Penerbitan independen ini mengkhususkan diri pada buku-buku seputar sastra, sejarah dan budaya Sulawesi – Selatan dan Sulawesi – Barat.

Lelaki yang mengaku ‘ditodong’ untuk mengelola Penerbit Ininnawa setelah kesuksesannya melahirkan buku Makassar Nol Kilometer bersama teman – teman di Komunitas Ininnawa. Jimpe, panggilan akrabnya, menceritakan bagaimana suka duka mengelola penerbitan independen, dari proses produksi hingga pada distribusi. Juga bagaimana usaha mengembangkan budaya literasi melalui Kampung Buku.

Setelah itu ada perwakilan Gerakan Buku Bagi NTT (@bukubagiNTT), sebuah gerakan yang bermula dari rasa prihatin sekelompok anak muda NTT akan kurangnya buku di daerah mereka. Berawal dari Jakarta, gerakan ini kemudian menyebar ke berbagai kota. Tujuan gerakan ini adalah mengumpulkan donasi berupa buku bacaan untuk kemudian dibagi ke berbagai taman baca dan perpustakaan di NTT.

Adapula Komunitas Klub Buku Makassar (@klubbuku_mks) yang terdiri dari para pecinta buku. Anggota komunitas ini berkumpul dan saling berbagi informasi buku-buku murah dan buku-buku keren yang lagi beredar di toko-toko buku Makassar atau pun toko buku online. Tak hanya itu, mereka juga saling meminjamkan buku bacaan.

Perwakilan Ammacaki’ (@ammacaki) pun turut berbagi aktifitas mereka. Komunitas ini rutin berkumpul dan kemudian membacakan review bacaan mereka. Uniknya, mereka tak sekadar membacakan review mereka tapi juga wajib menuliskannya di blog masing-masing. Anggota yang paling banyak mereview buku dalam sebulan akan mendapatkan ‘reward’ berupa buku yang mereka beli dari uang saweran. Ammacaki’ sendiri berasal dari Bahasa Makassar yang berarti Mari Membaca atau Membacalah.

Komunitas Malam Puisi Makassar (@malamsureq) menutup acara dengan manis melalui pembacaan puisi oleh beberapa anggotanya. Bergantian mereka membaca puisi di tengah keremangan Kafe Baca Adhyaksa. Satu persatu anggota Malam Sureq membacakan puisi dari tengah – tengah penonton. Komunitas Malam Sureq ini adalah jejaring dari Komunitas Malam Puisi yang ada di berbagai kota. Khusus di Makassar mereka menamakan diri Komunitas Malam Sureq. Sureq sendiri berarti Syair dalam bahasa Bugis.
*

Pagi tadi, seorang teman mengirimkan gambar potongan berita dari sebuah koran di Makassar tentang kegiatan di atas. Ada sebuah judul yang menggelitik yaitu ‘Puisi dari Komunitas Malam Syuro’. Koran yang mengaku terbesar di Indonesia Timur ini melakukan kesalahan sepele namun mendasar, kesalahan penulisan. Seharusnya Komunitas Malam Sureq menjadi Komunitas Malam Syuro.

Kesalahan ini bukan kesalahan pengetikan mengingat di dalam isi berita pun sang wartawan menuliskan ‘komunitas Malam Syuro’. Tak hanya itu, nama – nama komunitas yang terlibat dalam kegiatan ini pun dituliskan dengan tidak teliti. Yang menjadi pertanyaan saya adalah; bagaimana bisa koran ini menurunkan judul berita seperti pada gambar di atas?

Mari kita berasumsi bahwa wartawan penulis berita ini sedang khilaf dan melakukan kesalahan, namun bagaimana dengan proses editorial? Apakah sang editor juga tak menyadari keanehan judul berita ini? ‘Sureq’ dan ‘Syuro’ adalah dua kata yang memiliki makna sangat berbeda. Bisa saja mereka berkelit atas nama deadline tapi sungguh alasan ini tak bisa berterima. Apakah demi mengejar deadline kemudian kualitas berita menjadi nomer sekian?

Jika demikian adanya, bahwa kualitas berita harus mengalah pada kejaran waktu tentulah kondisi ini sangat memiriskan kita sebagai konsumen berita. Sayangnya, sependek pengamatan saya, inilah yang terjadi. Cobalah luangkan waktu untuk membuka portal-portal berita dan jika punya waktu lebih cobalah membaca berita koran cetak dengan lebih teliti. Akan sangat mudah menemukan kesalahan elementer seperti itu.

Saya sendiri sekarang lebih berhati-hati jika ada permintaan wawancara, saya menolak wawancara via telepon dari wartawan lokal. Saya lebih memilih wawancara tertulis melalui email. Cara ini akan mengantisipasi kesalahan penulisan dalam berita. Kalau pun tetap terjadi kesalahan, mudah untuk menelusuri kesalahan itu dari bukti tertulis dalam email.

Kembali ke Komunitas Malam Syuro, mari membayangkan kalau komunitas ini benar – benar ada, kira – kira apa kegiatan rutin mereka?

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.