Komunitas dan Banjir di Makassar [2]

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Kata KotaKomunitas

Komunitas dan Banjir di Makassar [2]

Tak jauh dari Puskesmas Kassi-Kassi yang terletak di Jl. Tamalate 1, tepatnya di Warkop Tamako, tampak pula sebuah kesibukan lain. Warkop yang biasanya penuh oleh orang yang menikmati kopi sambil bercakap atau online, malam itu tampak berbeda. Puluhan anak muda sibuk memilah kemudian menyatukan beberapa barang ke dalam tas kresek berwarna merah.
 

Ada yang membuka dos-dos mie instan dan air mineral, ada pula yang memasukkan mie instan dan sumbangan-sumbangan lainnya itu ke dalam kantong plastik merah. Mereka memilih untuk mengemas bahan bantuan itu ke dalam kemasan-kemasan kecil agar bisa disalurkan langsung kepada korban tanpa perantara pihak lain.

Pilihan ini tentu memiliki alasan. Jalan-Jalan Seru Makassar ingin memastikan bahwa bantuan ini sampai pada korban bencana tanpa intervensi kepentingan apapun, selain alasan kemanusiaan. Mereka menemukan kekecewaan korban bencana yang mengungkapkan bahwa bantuan yang mereka terima tidak maksimal. Entah apa maksud dari tidak maksimal’ itu.

Di tengah bencana ini, masih saja ada pihak-pihak dan kelompok tertentu yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan mereka. Apalagi, saat ini Sulawesi Selatan masih dalam suasana kampanye menjelang Pemilihan Gubernur. Banyak cerita menggelikan sekaligus memalukan tentang bagaimana tim sukses atau pendukung calon-calon gubernur dan wakil gubernur ini memanfaatkan bencana untuk sekadar mendapatkan simpati. Sayangnya, cara mereka justru menimbulkan antipati.

Penyaluran langsung bantuan ini juga tentu memiliki konsekuensi, yaitu mereka harus terjun langsung ke lokasi-lokasi bencana yang sulit terjangkau. Relawan-relawan Jalan-Jalan Seru Makassar ini harus mengambil resiko mempertaruhkan kesehatan, bahkan nyawa mereka, mengarungi banjir yang sampai leher manusia demi mengantarkan bantuan ke rumah korban.

Tak jarang mereka harus menggunakan motor untuk menjangkau daerah yang sulit atau rakit untuk menerobos genangan air demi mencapai rumah korban. Bantuan-bantuan itu mereka salurkan ke beberapa titik banjir, antara lain;  Kompleks Swasada, Kompleks Asabri, Kampung Kajenjeng, Romang Tangngayya dan Sailong.

Apa yang mereka lakukan hanya berbekal semangat, juga kepekaan dan rasa kemanusiaan, untuk menolong sesama yang tertimpa bencana. Banjir ini juga membuktikan peran sosial media dalam berbagi informasi yang memudahkan penyaluran bantuan. Sebagai contoh: ketika Jalan-Jalan Seru Makassar membutuhkan mobil untuk penyaluran, tawaran-tawaran mobil segera berdatangan begitu mereka mengicaukan hal ini di twitter.

Apa yang dilakukan Komunitas Earth Hour Makassar, Jalan-Jalan Seru Makassar dan komunitas-komunitas lainnya membuktikan bahwa bangsa ini masih bisa berharap pada pemuda-pemuda yang tergabung dalam berbagai komunitas ini. Berkaca pada bencana ini, sepertinya kita tak butuh pemerintah selain untuk hal-hal administratif saja.

Baca juga: Komunitas dan Banjir di Makassar [1]

 

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.