Kelas Menulis Kepo: Merekam dan Mengabarkan Komunitas Makassar

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Kata KotaKomunitas

Kelas Menulis Kepo: Merekam dan Mengabarkan Komunitas Makassar

Kelas Menulis Kepo bermain kata di Kedai Pojok Adhyaksa

Geliat anak muda Makassar beberapa tahun belakangan semakin terlihat dinamis. Berbagai komunitas bermunculan, bermacam kegiatan pun mereka adakan. Mulai dari kegiatan per komunitas hingga kolaborasi lintas komunitas. Dinamika anak muda Makassar, dalam hal ini komunitas – komunitas, bermula dan berpuncak pada Pesta Komunitas Makassar (PKM).

PKM yang sudah terselenggara selama 2 (dua) tahun, 2014 dan 2015 adalah awal sekaligus puncak dari geliat anak muda Makassar. Para penggiat komunitas menyatukan diri dan melebur ego untuk kemudian bersama – sama menggelar sebuah kegiatan dimana mereka terlibat sebagai penggagas konsep, selaku panitia sekaligus pengisi acara dan penampil.

Sebelum PKM, tentu saja, sudah ada kegiatan – kegiatan kolaborasi lintas komunitas yang terselenggara. Sebagai puncak, PKM hanya mempertemukan mereka untuk berkumpul, berbagi dan bersama dalam sebuah kolaborasi besar. Namun, PKM juga adalah awal untuk komunitas – komunitas untuk bersinergi dalam sebuah harmoni untuk aksi – aksi mereka selanjutnya.

Sungguh sayang media mainstream, cetak maupun elektronik, tak mampu (atau tak mau?) menangkap geliat dan dinamika anak muda Makassar ini. Kabar – kabar yang hadir dalam media memaparkan permukaan tanpa mencoba mengulik lebih dalam bagaimana komunitas – komunitas itu bergerak dalam keseharian mereka.

Belum lagi, kecenderungan media yang hanya meliput kegiatan – kegiatan yang berskala besar menyebabkan apa yang komunitas – komunitas ini lakukan kemudian tak mendapat porsi pemberitaan yang layak. Padahal, meski terlihat sepele bisa jadi apa yang mereka lakukan memiliki dampak yang tidak kecil bagi banyak orang.

Jika tak lagi bisa berharap pada media mainstream, lalu bagaimana kita menyikapinya? Mau tak mau, tugas untuk mengabarkan apa yang mereka lakukan akan kembali pada mereka sendiri. Para penggiat komunitas ini pun mendapatkan pekerjaan baru, mengabarkan apa yang telah mereka lakukan. Tentu tak mudah, mengingat untuk menyiapkan kegiatan komunitas saja mereka sudah harus pandai untuk bersiasat dengan waktu. Hampir sebagian besar penggiat komunitas ini memiliki pekerjaan lain. Kini mereka harus mau membagi waktu; pekerjaan utama, persiapan dan pelaksanaan kegiatan komunitas dan menuliskan apa yang mereka akan, sedang dan akan lakukan.

 

*

Berawal dari grup percakapan daring Emergency Respond, yang berisi perwakilan paling tidak 10 komunitas, ide untuk belajar menulis tercetus. Tak butuh waktu lama, keesokan harinya, Anwar Rachman yang selama ini berkecimpung di dunia tulis – menulis dan penerbitan menyanggupi untuk menjadi pendamping kelas menulis.

Di dalam grup yang baru terbentuk, para peserta sepakat untuk menamai kelas ini sebagai Kelas Menulis Kepo. Nama ini diambil dari kata Kepo yang berasal dari bahasa Hokkian; Kepo terdiri dari dua kata yakni, Ke dan Po (Apo), kata “ke” mempunyai arti bertanya dan kata “po (apo)” mempunyai arti nenek-nenek. Dua kata itu jika digabungkan menjadi Kepo dan akan bermakna nenek-nenek yang suka bertanya.

Pemilihan nama Kepo ini, dipilih oleh peserta karena mereka percaya bahwa modal dasar dari menulis adalah rasa ingin tahu. Mereka juga kemudian membuat tagline; Guru Siapa Saja, Murid Siapa Saja, Sekolah Dimana Saja, Makan Apa Saja. Peserta kelas ini meyakini bahwa siapapun bisa menjadi guru dan murid dalam waktu bersamaan, pun di antara mereka sendiri.

Anwar Rachman, yang akrab dipanggil Kak Jimpe pendamping kelas didaulat menjadi ‘kepala sekolah’. Menyusul kemudian Syaifullah Daeng Gassing, blogger senior yang kemudian bergabung menjadi pendamping kelas didaulat sebagai ‘wali kelas’. Saya, memilih menjadi ‘penjaga sekolah’, menyiapkan kopi dan kebutuhan kelas.

Grup obrolan daring Kelas Menulis Kepo pun diramaikan dengan kehadiran Muhammad Ruslailang, blogger dan pemerhati budaya Bugis – Makassar, dan Khrisna Pabhicara, penulis Sepatu Dahlan, yang juga penyair yang bersedia setelah saya minta bergabung. Mereka berdua membantu dari jauh, memberi masukan jika diperlukan. Tentu saja melalui percakapan grup karena mereka berdua berdomisili di luar Makassar.

Sesuai tagline, Sekolah Dimana Saja, pertemuan kelas berlangsung di mana saja. Dua pertemuan awal berlangsung di Kampung Buku, lalu di Kedai Pojok Adhyaksa. Selebihnya, diskusi berlangsung di dalam grup Line. Semua orang adalah guru dan murid sekaligus tercermin dalam diskusi – diskusi yang terjadi. Tulisan – tulisan, dan bahan tulisan, peserta dibahas bersama. Semua anggota grup berbagi pengetahuan yang mereka miliki sesuai topik diskusi.

Di luar pertemuan besar dan percakapan dalam grup pendampingan proses penulisan juga terjadi, kami menyebutnya ‘asistensi’. Pendampingan ini bisa melalui email atau pun via Line jalur pribadi. Semangat belajar mereka begitu mengagumkan. Waktu menjelang sahur seringkali terisi oleh asistensi mereka.

Hasilnya? Tulisan – tulisan yang enak dibaca dari penulis pemula. Tentu saja masih sangat banyak kekurangan pada tulisan – tulisan mereka, namun melihat semangat dan antusiasme mereka dalam menulis bolehlah kita berharap pada mereka. Paling tidak nantinya mereka, yang berasal dari berbagai komunitas, dapat menuliskan dan mengabarkan kegiatan komunitas mereka sendiri tanpa berharap pada media mainstream yang makin hari makin menggemaskan dan mencemaskan.

Baca Juga: Anak Muda Yang Terjangkit Virus oleh @ipulgs

Comments (3)

  1. Mungkin maksunya ‘penjaga sekolah’ om

    Saya pernah baca kepanjangan dari KEPO ; Knowing Every Particular Object, baru saya tahu ada arti lainnya.

  2. ingin rasanya bergabung om, jika sedang berada di makassar.
    Saya ingin banyak belajar dalam hal tulis menulis apalgi dengan orang-orang yang sudah ahli di bidangnya.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.