Hoax di Tengah Bencana Asap

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganInternet

Hoax di Tengah Bencana Asap

Kita hidup di jaman dimana kecepatan jempol melebihi kemampuan nalar dan logika. Tak heran jika hoax di tengah bencana masih sering kita dapati.

Beberapa malam lalu, dalam sebuah grup yang saya ikuti seorang anggota grup mengirimkan sebuah himbauan untuk membantu korban terdampak bencana asap. Himbauan itu meminta seluruh warga Indonesia secara serempak untuk menyediakan baskom air berisi garam pada tanggal 22. Baskom berisi air garam itu kemudian diletakkan di luar rumah pada pukul 11.00 – 13:00 dengan harapan akan terjadi penguapan yang nantinya menghasilkan hujan. Hujan yang sangat dinanti untuk memadamkan kebakaran penyebab bencana asap.

Sebenarnya, jika mau meluangkan waktu sedikit untuk berpikir, kita akan dengan segera bisa tahu bahwa himbauan itu adalah hoax di tengah bencana. Sekilas memang tampak bahwa jika banyak orang yang melakukannya, apalagi se – Indonesia, bisa menghasilkan jutaan kubik air di udara.

Sayangnya, untuk menghasilkan hujan tak semudah itu. Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan memiliki lautan yang sangat luas. Jika menurunkan hujan semudah menaruh baskom berisi air garam tentu hujan sudah lama turun, bukan?

Pesan berantai ini sebenarnya sudah beredar sejak awal September. Bantahan akan hoax di tengah bencana kebakaran hutan ini pun sudah dikeluarkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Tehnologi (BPPT). Dalam keterangannya (12/9, seorang Peneliti Meteorologi Tropis BPPT Tri Handoko Seto.

BPPT menjelaskan “Dengan 1 ember air tiap rumah dan ajakan ratusan ribu rumah, berharap ada jutaan meter kubik uap air. Dengan asumsi 1 ember sama dengan 10 liter air, maka total air yang hendak diuapan hanya ribuan meter kubik. Diperlukan ratusan juta ember untuk mendapatkan jutaan meter kubik. Itu pun jika semua air yang ditempatkan di ember menguap semua. Dan dipastikan tidak akan mungkin,”

Seorang teman, dalam grup yang sama, bahkan mengaku melakukan himbauan itu. Terdorong oleh rasa simpati dan prihatin akan nasib keluarganya di Jambi, ia mengisi baskom dengan air dan garam lalu menaruh di depan rumahnya. Berharap air garam dalam baskom itu menguap dan membentuk awan yang akan menurunkan hujan.

Hoax di Tengah Bencana Asap

Hoax, atau pembuat hoax, memang menyasar rasa simpati, cinta, fanatisme dan benci yang tertanam dalam hati seseorang. Semakin fanatik seseorang pada sebuah tokoh atau golongan, biasanya semakin benci pula pada golongan lain. Contoh kebencian berlebihan ini terlihat jelas pasca pilpres. Kebencian pada Jokowi masih tersisa di banyak orang.

Berita – berita bohong atau hoax tentang Jokowi masih bisa kita jumpai sampai sekarang. Kenapa hoax bisa dengan mudah menyebar bisa Di Balik Postingan Like dan Amin di media sosial.

Rasa cinta dan benci berlebihan membuat kita secara sadar tidak sadar ikut menyebarkan sesuatu yang mewakili kecintaan atau kebencian kita tanpa terlebih dahulu mengecek kebenaran info tersebut. Kembali pada contoh kasus hoax di tengah bencana asap tentang air garam tadi, kecintaannya pada keluarga di Jambi yang terdampak bencana asap ditambah massifnya informasi itu sehingga meyakini kebenaran hoax itu tanpa menganalisanya terlebih dahulu.

Arus deras informasi di era digital ini menuntut kita harus lebih hati – hati dan teliti dalam menerima sebuah informasi. Sebelum ikut menyebarkan ada baiknya menyaring dan melakukan analisa, jika perlu, cek dan ricek kebenaran informasi tersebut. Jangan sampai kita ikut menyebarkan sesuatu yang memberi harapan pada orang banyak, seperti harapan akan hujan yang meringankan beban korban bencana asap dalam contoh kasus di atas, tapi ternyata palsu.

Bukankah sangat tidak menyenangkan menjadi korban harapan palsu?

Baca juga bagaimana orang – orang menyebarkan hoax untuk menuai keuntungan bisa dibaca di Menebar Kebencian Menuai Uang

Comments (1)

  1. saya setuju Daeng.. sekarang, terlalu mudah tersulut rasa emosional. Jadi, karena hal itu pulalah, akhirnya kita sulit membedakan antara LOGIKA dengan LO GILa #bukaniklan hihihi

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.