Catatan RinganWarita

Himpunan Mahasiswa Islam dan Pertanyaan di Kepala

Pagi masih sangat muda. Matahari belum menampakkan tanda – tanda. Aktifitas di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar berjalan seperti biasa. Perlahan calon penumpang berdatangan, termasuk kader – kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Mereka berdatangan sejak subuh hari. Matahari semakin meninggi dan jumlah mereka pun semakin bertambah. Siang hari, 17 November, jumlah mereka mencapai ribuan orang. kader – kader HMI itu hendak berangkat ke Riau, melalui Jakarta, menghadiri Kongres HMI ke 29.

Jumlah mereka mencapai 1048 orang. Sayangnya, hanya 23 orang yang memiliki tiket. Selebihnya, 1025 orang datang hanya bermodal nekat, tanpa tiket di tangan. Kader organisasi dengan embel – embel Islam itu bukannya tidak berusaha sebelumnya.

Mereka sudah melobi PT. Pelni dan tercapai kesepakatan: Pelni akan memberikan diskon sebesar 50% buat anggota HMI yang ikut rombongan dengan membayar harga tiket sebesar Rp 230 ribu dari harga normal Rp 450 ribu. Hingga hari keberangkatan, mereka tak berhasil mengumpulkan uang tiket.

Tak berhasil mengumpulkan uang tiket tak mengurungkan niat mereka untuk tetap berangkat. Hari itu, media sosial dan portal berita, ramai mengabarkan kader – kader Himpunan Mahasiswa Islam yang memaksakan naik kapal Pelni gratis. Iya, gratis!

Kesepakatan sebelumnya tak berlaku lagi karena mereka tak sanggup mengumpulkan uang tapi sangat ingin berangkat. Pihak Pelni akhirnya membebaskan mereka naik gratis setelah sebelumnya terjadi kericuhan di Pelabuhan Soekarno Hatta. Kericuhan itu terjadi karena mereka memaksakan masuk pelabuhan dan berangkat meski tanpa memegang tiket.

Aksi ini menuai berbagai tanggapan. Kecaman pada organisasi yang mentasnamakan Islam ini bermunculan di media sosial. Apalagi, tak lama berselang sebelum kejadian ini, salah satu cabang  yaitu HMI Gowa Raya juga menuai kecaman dari netizen dan pengguna jalan karena menutup jalan dalam aksi mereka.

Salah satu mantan aktivis himpunan mahasiswa islam pun ikut menyayangkan aksi kader – kader HMI yang memaksakan berangkat ini. Muhammad Ramli Rahim, seperti dikutip dari Berita Kota Makassar, menyayangkan aksi adik – adiknya “Apa kepentingan mereka di Kongres, bukan peserta penuh, bukan peserta peninjau. Jika demikian dipastikan mereka pulang nanti lebih susah lagi, makannya disana gimana, tidurnya dan lainnya,” mantan Wakil Ketua Badko HMI Indonesia Timur ini menyatakan kecemasannya.

“Itu sudah aksi premanisme mahasiswa. Kami juga pernah di HMI, pernah menjadi pimpinan bahkan pernah menjadi pimpinan lembaga tertinggi kampus, tapi tak pernah kami lakukan. Buat saya mereka bukan kader HMI, sebab kader HMI itu beretika, berusaha keras dan yakin usaha sampai. Bukan main paksa paksa kayak gitu,” Entah bagaimana perasaan Ramli Rahim saat ia mengungkapkan hal ini.

Ia sampai menyamakan apa yang dilakukan kader HMI Makassar ini dengan aksi preman. Marah? Sedih? Entah.

Apa yang menjadi kekhawatiran Ramli Rahim ternyata terjadi. Kader – kader himpunan mahasiswa islam yang belum sampai di arena kongres ini kembali membuat ulah. Kali ini ratusan kader HMI Makassar yang berangkat dengan bus menuju Pekanbaru Riau merugikan pemilik rumah makan di Kabupaten Inhu, Riau. Mereka menolak membayar makanan yang mereka makan bahkan mengancam akan merusak rumah makan saat ditagih. Kasus yang terjadi sabtu siang (21/9/15) kini sudah ada di tangan Polres Kab. Inhu.

HMI Makassar Makan Tidak bayar
HMI Makassar Makan Tidak bayar

Ulah memalukan kader Himpunan Mahasiswa Islam ini tak sampai di situ saja. Di Pekanbaru, mereka kembali melakukan aksi menutup jalan karena kecewa pada panitia kongres. Kekecewaan itu muncul karena mereka tak mendapat sambutan dan panitia tak menyediakan penginapan. Karena kecewa, mereka menutup Jl. Sudirman Pekanbaru, di depan Gedung Olahraga Gelanggang Remaja Riau tempat pelaksanaan kongres.

Tak sekadar menutup jalan, yang merupakan akses utama yang menghubungkan ke Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, mereka juga juga membakar kayu di tengah badan jalan, menghancurkan kaca halte bus dan Gelanggang Olahraga Remaja Riau.

*

Sore tadi, saya mencoba meminta klarifikasi pada akun twitter @HMISulselbar. Malam ini, sembari menunggu jawaban mereka yang tak kunjung datang, saya membayangkan raut muka Ahmad Wahib termenung. Mungkin pula sedih. Andai ia tak tertabrak dan meninggal di usia yang sangat muda, mungkin ia akan menanyakan pertanyaan – pertanyaan seperti yang ada di kepala saya;

Ada apa dengan HMI Makassar? Apa yang sebenarnya yang mereka cari dengan memaksakan diri hadir dengan ribuan orang, padahal tak semuanya diundang?

Apa yang ada dalam pikiran mereka ketika tak mau membayar pemilik rumah makan? Bukankah selama ini himpunan mahasiswa islam selalu mendengungkan berjuang untuk rakyat kecil? Ataukah pemilik rumah makan itu bukan bagian dari rakyat kecil?

Apa yang mereka mau tunjukkan ketika menutup akses orang banyak dan merusak fasilitas umum? Kuasakah? Tak adakah cara lain yang bisa mereka lakukan? Meminta bantuan dari senior HMI yang sudah banyak jadi pejabat misalnya.

Lupakah mereka kalau mereka membawa tiga identitas sekaligus; mahasiswa, Islam, Makassar? Sadarkah mereka kalau tindakan mereka akan mencoreng tiga identitas itu sekaligus?

Terakhir, saya ingin menitipkan apa yang ditulis oleh Ahmad Wahib dalam catatan hariannya. Isinya, begini: “Yang penting bagi kita ialah berbuat dan bertanggung jawab. … … … Lebih baik berbuat, melakukan kesalahan dan bertanggung jawab daripada takut bertanggung jawab sebab selalu ragu tentang kebenaran tindak dan karenanya tak pernah berbuat apa-apa.”

Beranikah HMI Makassar bertanggung jawab? Paling tidak melalui langkah kecil dengan melakukan klarifikasi atau penjelasan atas apa yang telah mereka lakukan?

Update 23 November 2015 Pkl: 12:30 Wita

akun @HMISulselbar akhirnya menjawab mention saya di twitter dengan memberikan link berita. isinya seperti di dalam gambar:

Berita klarifikasi Himpunan Mahasiswa Islam makan tidak bayar di salah satu portal.
Berita klarifikasi Himpunan Mahasiswa Islam makan tidak bayar di salah satu portal.

Coba perhatikan berita di atas, utamanya paragraf kedua

*catatan: bagi kader hijau hitam yang tidak tahu siapa Ahmad Wahib, silakan baca buku hariannya berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam”.
Berita – berita tentang HMI Makassar itu bisa dibaca di;

http://news.detik.com/berita/3077163/kecewa-dengan-panitia-kongres-hmi-makassar-buat-rusuh-di-pekanbaru

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/11/18/078720067/kebagian-apbd-rp-3-m-hmi-masih-minta-tiket-kapal-gratis

http://daerah.sindonews.com/read/1063569/174/ratusan-peserta-kongres-hmi-dari-makassar-tolak-bayar-makan-1448179222

Comments (2)

  1. Lelah rasanya mendengar dan memperbaiki image mahasiswa Makassar “di luar” jika gayung tidak bersambut. Entah bagaimana sepertinya adik-adik mahasiswa ini gagal berkomunikasi dengan para pihak yang “menyelesaikan” setelah ada kejadian. Ada kesenjangan komunikasi yang harusnya bisa diisi dengan lebih elegan. Apapun itu jelas yang sudah terjadi akan sulit diperbaiki, saya kira klarifikasi dapat sedikit meminimalisir kolateral efek. Klarifikasi bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk nama HMI sendiri, kecuali jika mereka sudah tidak perduli dengan nama baik mereka sendiri.

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.