Catatan RinganWarita

Golput di Indonesia dan Sejarahnya

Pemilihan Umum Calon Anggota Legislatif telah berakhir dengan menyisakan berbagai masalah. Mulai dari kekisruhan Daftar Pemiih Tetap yang kacau balau sampai pada caleg yang bunuh diri karena tak kuat menahan beban kegagalan.

Pengen Dapat Duit Dengan NgeBlog? Daftar di Sini

Masalah lain yang patut mendapat perhatian adalah jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya yang sering kita sebut dengan Golput atau Golongan Putih. Angka golput pada pileg 2009 lalu diperkirakab mencapai 40%. Dua kali lipat dari jumlah angka partai pemenang [berdasarkan berbagai quick count] yang hanya mencapai 20& lebih. Rendahnya tingkat partisipasi pemilih ini terlihat tak hanya pada pileg baru-baru ini. Hampir semua Pilkada yang berlangsung sepanjang sebelum 2009 juga menunjukkan angka berkisar pada 40%.
Secara umum, Golput ini terjadi karena beberapa alasan. Pertama, Golput yang menolak memilij karena merasa pemilu tak memberikan perubahan apa-apa atau tidak menemukan calon wakil rakyat yang sesuai dengan harapan mereka. Golput yang lain adalah orang-orang yang sebenarnya memutuskan untuk menggunakan hak plih mereka tapi tak bisa karena administratif. DPT yang amburadul pada pileg kali ini adalah salah satu penyebab tingginya angka golput dari kelompok ini. Diperkiran jutaan orang tak dapat menggunakan hak pilihnya karena tidak mendapat panggilan atau tidak terdaftar. Ironisnya, banyak pula orang yang tak berhak memilih justru terdaftar. Banyak kasus yang menunjukkan anak-anak usia SD ikut mencoblos. Bahkan orang mati pun ikut terdaftar. Masih ingat Amrozi? Pelaku teror bom bali II ini telah dieksekusi mati tapi masih terdaftar sebagai pemilih di wilayahnya,

Kelompok yang menolak memilih atau disebut Golongan Putih [Golput] mulai muncul pada 1971. Pejabat pemerintah dan pemimpin partai politik kemudian mengkritik kelompok itu menjelang Pemilihan Umum 4 Mei 1982. Para ulama ikut mengecam dan mengeluarkan fatwa haram.
Dipelopori sekelompok mahasiswa dan cendekiawan seperti Arief Budiman dan Imam Waluyo, kelompok ini tak menemukan wadah yang bisa mewakili aspirasi politik mereka. Kelompok ini meminta masyarakat menusuk warna putih, bagian kosong pada surat suara yang mencantumkan sepuluh gambar partai peserta pemilihan umum.
Golkar memilih diam soal Golput pada 1982. Soalnya, sebagian pengikut Golput merupakan sempalan partai-partai di luar penyokong utama Orde Baru itu. Secara tidak langsung Golput menguntungkan Golkar saat itu.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.