Golput di Indonesia dan Sejarahnya

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganWarita

Golput di Indonesia dan Sejarahnya

Tingkat Orang Golput di Indonesia. sumber Tirto

Golput di Indonesia sudah ada sejak pemilu pertama diadakan dan sampai saat ini selalu ada pada setiap pesta demokrasi digelar.

Golongan Putih, kemudian disingkat menjadi golput muncul pertama kali pada Pemilu 1971 yang merupakan pemilu pertama pada masa orde baru. Gerakan golput ini adalah bentuk protes dari para mahasiswa dan pemuda untuk memprotes pelaksanaan Pemilu 1971 dimana jumlah pesertanya 10 partai politik, jauh lebih sedikit daripada Pemilu 1955 yang diikuti 172 partai politik.

Tokoh yang terkenal memimpin gerakan ini adalah Arief Budiman. Namun, pencetus istilah “Golput” ini sendiri adalah Imam Waluyo. Mereka merasa tak menemukan wadah yang bisa mewakili aspirasi politik mereka. Gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih di kertas atau surat suara di luar gambar parpol peserta Pemilu bagi yang datang ke bilik suara.

Kala itu, jarang ada yang berani tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena akan ditandai. Golongan putih kemudian juga digunakan sebagai istilah lawan bagi Golongan Karya, partai politik dominan pada masa Orde Baru.

Secara umum, Golput di Indonesia ini terjadi karena beberapa alasan. Pertama, Golput yang menolak memilih karena merasa pemilu tak memberikan perubahan apa-apa atau tidak menemukan calon wakil rakyat yang sesuai dengan harapan mereka.

Golput yang lain adalah orang-orang yang sebenarnya memutuskan untuk menggunakan hak plih mereka tapi tak bisa karena administratif. DPT yang amburadul pada pileg kali ini adalah salah satu penyebab tingginya angka golput dari kelompok ini.

Diperkiran jutaan orang tak dapat menggunakan hak pilihnya karena tidak mendapat panggilan atau tidak terdaftar. Ironisnya, banyak pula orang yang tak berhak memilih justru terdaftar. Banyak kasus yang menunjukkan anak-anak usia SD ikut mencoblos. Bahkan orang mati pun ikut terdaftar. Masih ingat Amrozi?

Kelompok yang menolak memilih atau disebut Golongan Putih [Golput] mulai muncul pada 1971. Pejabat pemerintah dan pemimpin partai politik kemudian mengkritik kelompok itu menjelang Pemilihan Umum 4 Mei 1982. Para ulama ikut mengecam dan mengeluarkan fatwa haram.
Dipelopori sekelompok mahasiswa dan cendekiawan seperti Arief Budiman dan Imam Waluyo, Golkar memilih diam soal Golput pada 1982. Soalnya, sebagian pengikut Golput merupakan sempalan partai-partai di luar penyokong utama Orde Baru itu. Secara tidak langsung Golput menguntungkan Golkar saat itu.

Tingkat Orang Golput di Indonesia. sumber Tirto
Tingkat Orang Golput di Indonesia. sumber Tirto

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum, angka golput di Indonesia menunjukkan tren yang meningkat. Tingkat golput awalnya hanya sebesar 8,60 persen pada 1955, lalu turun 5,2 persen menjadi 3,4 persen pada 1971. Kemudian, pada Pemilu 1977 hingga 1997, tingkat golput perlahan mengalami kenaikan.

Secara umum, tingkat golput di era Orde Baru (1955-1997) cenderung lebih rendah dibandingkan era setelahnya, yaitu berada pada rentang 3 hingga 6 persen. Hal ini terjadi karena pemilihan pada era ini berupa pengalaman mobilisasi, bukan partisipasi.

Pada era reformasi, tingkat golput semakin memprihatinkan. Angkanya melambung hingga puncaknya pada Pileg 2009 yang mencapai 29,10 persen.

Begitu pun pada Pileg 2014 (24.89%) dan Pilpres 2014 (29.01%).
Meningkatnya angka golput berarti partisipasi pemilih semakin menurun. Selain itu, ini juga mengindikasikan tingkat kepercayaan kepada proses demokrasi yang menurun.

Baca lebih lengkap alasan Mengapa Orang Golput

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.