Enam Kesalahan Mendasar Penulis Pemula

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganTips Menulis

Enam Kesalahan Mendasar Penulis Pemula

Kesalahan Mendasar Penulis

Karib saya, Daeng Ipul, menuangkan kegelisahannya, baginya menemukan melihat kesalahan-kesalahan mendasar penulis pemula dalam penulisan. Ia menuliskan pada status Facebooknya;

Mungkin ini semacam penyakit bagi saya. Tidak bisa tenang kalau melihat ada yang salah tulis (bukan typo). Misal ‘merubah’ yang seharusnya ‘mengubah’, atau ‘didalam’ yang seharusnya ‘di dalam’.

Saya pun merasakan hal yang sama. Menemukan kesalahan mendasar penulisan seperti contoh di atas memang membuat tidak tenang. Pengalaman sebagai pemeriksa aksara dan penyigi tulisan membuat saya merasa gemas. Rasa – rasanya, ingin memperbaikinya seketika itu juga. Keasyikan membaca tulisan yang isinya berbobot pun akan terganggu begitu menemukan banyak kesalahan mendasar penulis (pemula) dalam penulisannya.

Saat memeriksa tulisan – tulisan peserta Kelas Menulis Kepo angkatan kedua, yang diberikan pada mereka sebagai tugas awal, saya menemukan hal yang sama. Untuk tugas pertama, kami para pendamping memang lebih fokus pada kesalahan mendasar penulisan.

Kesalahan Umum Penulis Pemula

Berikut ini beberapa kesalahan mendasar penulis pemula yang muncul pada saat kami mengulas tulisan mereka pada pertemuan pekan kedua kemarin, 9/12/15, dan bagaimana penulisan yang benar sesuai Ejaan Yang Disempurnakan;

1. Penulisan kata ‘di’ dan ‘ke’

a. ‘Di’ dan ‘ke’ sebagai kata depan (preposisi).

Sebagai kata depan (preposisi) ‘di’ dan ‘ke’, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Untuk memudahkan, ‘di’ dan ‘ke’ sebagai preposisi hanya diikuti dengan kata yang menunjukkan tempat, bukan kata kerja.
Contoh:
di dalam, di kamar, di Makassar, di ruangan, di jalan, di sana, di depan, di sawah, di mana-mana, di sisi, di awal, dan lain – lain.
ke dalam, ke kamar, ke Makassar, ke ruangan, ke jalan, ke sana, ke depan, ke sawah, ke mana-mana, ke sisi, ke awal, dan lain – lain.

Catatan: untuk kata ‘ke’ terdapat pengecualian yaitu pada kata ‘keluar’ yang ditulis serangkai karena merupakan lawan kata (antonim) dari ‘dalam’.

b. ‘Di’ sebagai imbuhan atau awalan (prefiks)
Sebagai kata imbuhan atau awalan (prefiks), kata ‘di’ harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata ‘di’ sebagai prefiks ini Berfungsi membentuk kata kerja atau verba dan bermakna pasif. Untuk memudahkan, padankan kata dasar dengan awalan ‘me-‘, jika kata dasar itu membentuk kata kerja aktif berarti harus ditulis serangkai dengan ‘di’ yang mengawalinya.
Contoh: dibawa, digigit, ditulis, dicintai, dimakan, dibaca, dan lain – lain.

c. Awalan ‘di’ dirangkaikan jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia. Contoh: di–PHK, di-DO, di-upload, di-bookmark, dan lain – lain.

Menggemaskan sekali jika menemukan penulis yang memisahkan sesuatu yang harusnya bersatu dan menyatukan sesuatu yang seharusnya terpisah.

Untuk memudahkan teman-teman, saya sertakan gambar bagaimana seharusnya penulisan ‘di-‘ dan ‘di’ yang dibuat oleh sahabat saya Khrisna Pabichara,  yang juga seorang munsyi. 

2. Penulisan kata ganti ‘ku-‘, ‘kau-‘, ‘-ku’, ‘-mu’, dan ‘-nya’

a. Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Hubungi aku jika kaurindu.
Telah kukirimkan rindu padamu melalui angin malam.
Rinduku rindumu tersimpan rapi di hati.
Rindunya begitu menggebu.

b. Kata-kata ‘-ku’,’ –mu’, dan ‘-nya’ dirangkaikan dengan tanda hubung apabila digabung dengan bentuk yang berupa singkatan atau kata yang diawali dengan huruf kapital. Contoh: KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku

Baca Juga: Tips Menulis Bagi Pemula

3. Penulisan Partikel

a. Partikel’ –lah’,’ –kah’, dan ‘-tah’ ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Simpanlah rinduku jadikan telaga.
Apakah yang tersirat dalam rindu itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya memendam rindu?

b. Partikel ‘pun’ ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
Hendak pulang tengah malam pun sudah ada kendaraan.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika Ayah membaca di teras, Adik pun membaca di tempat itu.

Catatan:
Partikel ‘pun’ pada gabungan yang lazim dianggap padu ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga, tugas itu akan diselesaikannya.
Baik laki-laki maupun perempuan ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum selesai, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun sederhana, rumah itu tampak asri.

c. Partikel ‘per’ yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh:
Mereka masuk ke dalam ruang satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per helai
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.

Pencil erasing a mistake. [@ipulgs]
Pencil erasing a mistake. [@ipulgs]

4. Penggunaan huruf kapital

Kesalahan penulis pemula lainnya adalah masih banyak yang melakukan kesalahan mendasar penggunaan huruf kapital ini. Menuliskan nama kota dengan tidak mengawalinya dengan huruf kapital, misalnya menuliskan ‘makassar’ padahal seharusnya ‘Makassar’.

Untuk penggunaan huruf kapital yang benar bisa buka di tautan Pedoman Penggunaan Huruf Kapital.

5. Penggunaan ‘Pukul’ dan ‘Jam’

Masih banyak yang sulit membedakan kapan penggunaan kata ‘pukul’ dan ‘jam’ pada penulisan. Misalnya, pada kalimat: “Jam berapa kalian berkumpul?”. Kata ‘jam’ pada kalimat tersebut seharusnya diganti dengan kata ‘pukul’. Kata ‘pukul’ dan ‘jam’ memiliki makna dan fungsi berbeda. ‘Pukul’ mengandung pengertian saat atau waktu sedangkan ‘jam’ digunakan untuk menunjukkan masa atau jangka waktu.

Jadi, jika ingin mengungkapkan waktu atau saat, kata yang tepat digunakan adalah pukul. Contoh: “Kelas Menulis Kepo akan dimulai pada pukul 16.00 WITA”.
Sebaliknya, jika kita ingin mengungkapkan masa atau jangka waktu, kata yang tepat digunakan adalah jam. Contohnya: “Pertemuan itu memakan waktu sekitar empat jam”

Kata jam, selain digunakan untuk menyatakan arti masa atau jangka waktu, juga digunakan untuk benda penunjuk waktu, seperti jam tangan, jam dinding, jam meja, dan jam saku.

6. Penulisan singkatan yang tak dipahami umum.

Para peserta pada umumnya menuliskan singkatan yang mereka pahami dan anggap semua pembaca juga tahu. Salah satu peserta menuliskan seperti ini, “Kegiatan ini diadakan oleh Komunitas TDA Makassar sebagai bentuk apresiasi dan sarana bagi pengusaha.” Bagi pengusaha atau orang yang dekat dengan komunitas TDA ini tentu tak akan jadi masalah. Namun, bagi pembaca awam, singkatan ini akan membingungkan. Jadi sebaiknya kalimat itu ditulis “Kegiatan ini diadakan oleh Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Makassar sebagai bentuk apresiasi dan sarana bagi pengusaha.”

Tuliskan terlebih dahulu nama lengkap lalu singkatan diletakkan dalam kurung. Jika nama itu ditulis berulang pada tulisan yang sama, cukup dengan menuliskan singkatan tanpa disertai dalam kurung.

*
Demikian kesalahan – kesalahan mendasar penulis pemula yang saya temukan selama ini, baik itu yang saya lakukan sendiri atau pun ketika memeriksa dan membaca tulisan – tulisan orang lain. Kesalahan – kesalahan mendasar ini tak hanya dilakukan oleh para penulis pemula, penulis atau media cetak dan portal berita ternama pun masih sering melakukannya.

Sebaiknya, kita mulai mesti berhati-hati dan cermat dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari untuk menghindarkan kita dari kesalahan berbahasa.

Ada saran dan masukan mengenai Kesalahan Mendasar Penulis (Pemula) yang lainnya? Silakan isi di kolom komentar yah..

Kalau sudah memahami kesalahan mendasar yang biasa kita lakukan, saatnya mencoba untuk berlatih menulis. Bisa mulai latihan menulis dengan ‘bermain kata’. Caranya? Silakan baca Bermain Kata di Kelas Kepo

*disarikan dari berbagai sumber.

Update: Per 2015, Ejaan Yang Disempurnakan kini tak lagi dipakai dan digantikan oleh Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disingkat PUEBI. Bagi yang mau cek kesalahan penulisan saat daring sila klik tautan ini –> PUEBI versi daring.

Comments (23)

  1. Terkadang 6 hal diatas masih saya lakukan ketika menulis.
    Saya cuma mau nambahkan kesalahan yang terlupakan, kalau bahasa Inggris dan bahasa daerah ditulis dengan cetak miring.

    Kalau penggunaan Bold bagaimana kak, kapan seharusnya digunakan?

  2. yudi bacanya sambil cengengesan Daeng. kenapa? karena saya selalu sulit memisahkan di. di gabung dan di pisah itu bagi yudi adalah sesuatu yang begitu sulit. entah karena dislexia atau memang ada gangguan otak lain. Yudi nggak ngerti. Tapi yang jelas, bagi yudi, hal itu sangat sulit sekali 😀

  3. Sepertinya harus lagi belajar nih, soalnya semua yang disebutkan masih sering salah dalam penulisan saya. Kebetulan saya mau bertanya, kalau misal dalam paragraf terdapat bahasa daerah itu penulisannya gimana kak?

  4. Thankyou banget kak atas tulisan ini, banyak banyak kayaknya kesalahan ku dalam menulis. Btw kak klo “kayaknya” itu harus di pisah nya dan kayak atau disambung aja?
    Sama hal nya dengan disambung dan dipisah , di nya di sambung atau di pisah?

  5. serasa lagi di kelas bahasa indonesia ka, tapi penggunaan kata di, ter dan ke kalau kalimat pendukungnya sesuai jadi kalimat langsung tanpa harus di pisah spasi. ngerti jeki kak? 😅

  6. Masih harus ka belajar banyak ini kak. Khususnya penulisan partikel. Terus kalau untuk penggunaan nya yang mengikuti istilah asing misalkan sponge itu ditulis spongenya atau sponge-nya kak?
    Kak tulisannya saya ijin bagikan yah🙏🏻

  7. Bermanfaat sekali ulasannta terima kasih sudah berbagi, semakin bersemangat nih untuk belajar lebih baik lagi.. makasihhh oppaaaaaa XOXO

  8. rajinmu dulu menulis begini di?
    hahaha

    nda mau lagi menulis kek begini sekarang?

  9. Baca tulisan ini, jadi kangen kelas kepo, tiap ada yang chat kemudian salah langsung ditegur hahahha

  10. Baca tulisan ini, jadi kangen kelas kepo, tiap ada yang chat kemudian salah langsung ditegur hah

  11. Jadi ingat waktu kak Ancu ajar EYD di Kelas Menulis MAM. Sejak itu aku pun makin pintar dan nilaiku selalu di atas rata-rata, wakkakkw…

  12. Waduh, saya masih sering salah-salah kalo soal ini. Sering typo dan paling sering salah di penyambungan di. Terima kasih sudah di share.

  13. masih bingung penggunaan ‘di’ ‘ku’ ‘kau’, otak lagi gak mandeg kak hehhe, tapi makasih banyak tips-tipsnya, saya rasa masih banyak yang salah penulisannya di blogku, saya bintangi ini blogta biar bisa saya baca-baca

  14. Aih terima kasih atas tulisannya. Semoga mencerahkan kita semua. Saya berusaha untuk mengikuti PUEBI tapi masih sering ada yang lolos. Meski masih kadang-kadang salah, saya suka gemas dengan yang jauh lebih banyak salahnya daripada saya hehe. Mirip ji kayak kita’, jadi kayak hilang seleraku membaca.

    Ini perlu sekali buat kita, kesalahan paling banyak yang saya lihat adalah tidak dapat membedakan di sebagai kata depan atau sebagai prefiks. Semoga dengan materi seperti ini di blog bisa meningkatkan kemampuan menulis ta’ semua. Sebab, sadar atau tidak, bloger itu juga menjadi pendidik masyarakat dalam berbahasa. Masyarakat akan melihat dan meniru cara menulis kita, sebagaimana kita meniru media mainstream.

  15. Waahh…. mencerahkan sekali. Terima kasih sharenya Oppa Lelaki Bugis. Artikel ini sangat bermanfaat. Nulis komen ini rada hati-hati, jangan sampai ada typo hehehee…..

  16. Ingat dulu pernah baku gea karena penggunaan imbuhan di. Saya bersikeras kalo yang benar itu di-blend tapi orang tsb bilangnya diblend. Toh saya benar😭 terima kasih atas pencerahannya oppa, in shaa Allah mulai sekarang akan lebih memperhatikan tata bahasa dalam membuat konten😇

  17. Terima kasih postingannya, Oppa. Bermanfaat sekali. Jadi tahu kalau selama ini saya masih melakukan banyak kesalahan saat menulis.

    Alhamdulillah kalau untuk penulisan kata ‘di’ sih udah beres. Dan memang bagian ini mengganggu sekali kenikmatan membaca. Saya pernah dapat tulisan seorang blogger senior yang cerita perjalanannya seru dan menyenangkan. Sayangnya saya terganggu dengan kesalahan penulisan kata ‘di’-nya. Ada yang semestinya disambung, eh malah dipisah.

    Oh ya, mau tanya lagi. Untuk kalimat ini:
    Hubungi aku jika kaurindu.
    Itu kata-kata ‘kaurindu’ memang disambung ya? Tumben saya lihat kalau ‘kau’ begitu yang disambung dengan kata lainnya. Biasanya ‘ku’ atau ‘mu’ ji.

  18. Saya selalu lupa poin 2, 3, 5 dan 6. Kalau sementara menulis dan lagi rajin, saya buka kembali panduannya. Pas lagi males ya dilanjut saja tulisannya hahahaha. Poin 1 dan 4 lumayanlah, sudah tertanam di kepala.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.