Diet Informasi Sebuah Kewajiban di Era Digital

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganInternet

Diet Informasi Sebuah Kewajiban di Era Digital

Diet Informasi Sebuah Kewajiban di Era Digital

Saat ini di era digital, terlebih menjelang pilpres, kita dibanjiri beragam informasi yang menyesatkan dari berbagai penjuru, sangat penting untuk memulai diet informasi.

Update: 4 Maret 2019

Informasi datang dalam beragam bentuk, baik itu dari media konvensional, seperti koran dan tv, dan situs-situs baru abal-abal yang memang dibuat untuk kampanye hitam saja. Belum lagi dari media sosial semacam twitter dan facebook.

Informasi yang kita masukkan dalam pikiran secara berulang-ulang, lambat laun – tanpa disadari akan menjadi nilai yang kita percayai kebenarannya. Tanpa sadar terkadang kita ikut menyebarkan berita atau informasi, yang bisa jadi sesat.  Untuk itu kita perlu melakukan diet informasi agar tidak menjadi korban banjir informasi sesat.

Apa Itu Diet Informasi?

Seperti halnya diet makanan yaitu menentukan makanan apa saja dan dalam takaran berapa yang bisa kita konsumsi, diet informasi juga seperti itu. Bedanya, yang perlu kita saring adalah jenis informasi apa saja dan berapa penting informasi itu bagi kita.

Memilah dan memilih informasi yang akan kita lihat, dengar dan baca adalah sama pentingnya dibandingkan dengan memilih-milih jenis makanan yang kita yakini akan menjaga tubuh kita tetap sehat dan menarik.

Bahkan bisa jadi memilih informasi yang berkualitas dan bergizi tinggi, lebih penting mengingat akan berpengaruh bagi jiwa kita karena manfaatnya akan terbawa sampai di kehidupan kita sehari-hari.

Sudah saatnya kita cerdas dalam menggunakan internet dan media sosial, yekan?

Bagaimana Cara Diet Informasi?

Diet informasi bisa dimulai dengan lebih selektif dalam memilih tontonan, baik itu melalui televisi, media streaming mau pun channel Youtube. Saya sendiri sudah sangat jarang, boleh dibilang, tidak lagi menonton televisi. Hampir tak ada lagi tayangan stasiun tivi yang menarik hati.

Begitu pun dengan media streaming, hanya sesekali jika ada pertandingan bola dan yang bertanding adalah klub kesayangan. Pun dengan Youtube, hanya untuk mencari tayangan konser band idola atau klip lagu-lagu dari penyanyi favorit.

Untuk asupan berita saya lebih memilih untuk mencari melalui media sosial, baik itu twitter atau pun facebook. Tentu saja dengan hanya membuka portal atau sumber berita yang menurut saya layak dipercaya.

Lalu, bagaimana sumber berita yang layak dipercaya itu? Sumber informasi yang layak dipercaya biasanya adalah portal atau web berita yang memiliki boks redaksi dimana terdapat alamat dan nama-nama penanggungjawab. Jika menemukan portal berita tanpa boks redaksi atau alamat dan kontak yang jelas, abaikan saja.

Itu pun sekarang, saya juga mulai mengurangi asupan informasi dari media daring mengingat saat ini sudah sangat jarang ada media yang media menerapkan chek and richeck pada sebuah berita. Semua mengejar kecepatan, ketepatan berita nomer sekian. Muat saja dulu, salah belakangan. Bisa diralat. Tak sedikit pula media yang tak melakukan ralat meski sudah melakukan disinformasi.

Begitu pun dengan informasi yang dibagikan melalui status Facebook atau Twitter. Saya akan mengabaikannya, tak ada gunanya bagi saya mengetahui kehidupan selebritis. Apa gunanya, buat saya, misalnya, untuk tahu kisah Luna Maya dan Princess Syahrini?

Terlebih urusan capres yang lebih didominasi oleh status saling cela dan buka aib kedua kubu. Tak menyehatkan sama sekali. Belum lagi tak sedikit dari mereka yang menyebarkan hoaks demi mengangkat calon presiden mereka dan menjatuhkan calon presiden lawan.

Mengenali Hoax

Tak sedikit dari arus deras informasi yang mendatangi kita berisi berita palsu atau hoaks. Lalu bagaimana mengenali hoaks? Sebenarnya tak begitu sulit. Ada beberapa hal yang bisa jadi patokan kita dalam mengenali hoax.

  • Periksa data dan fakta. Benarkah apa yang dipaparkan informasi tersebut?
  • Biasakan untuk melihat atau mendengar informasi atau berita tidak dari satu sumber saja. Selalu cari informasi pembanding.
  • Periksa sumber informasi atau berita. Layak dipercaya atau tidak?
  • Kalau bisa, tanyakan pada kenalan atau orang yang berada di sekitar lokasi berita yang didapatkan. Sekarang tak sulit melakukannya karena ada media sosial.
  • Cek gambar melalui google image search.

Akan lebih bagus jika kita mampu melakukan diet informasi, sudah saatnya kita mulai melakukan diet pikiran dengan memilih tontonan yang menyehatkan jiwa, mendengarkan berita dan informasi yang meningkatkan kualitas diri dan memilih membaca berita yang berpotensi meningkatkan pengetahuan dan wawasan kita.

Kita tidak akan pernah bisa menghindar dari sergapan arus informasi namun selalu bisa memilah dan memilih informasi yang kita jadikan asupan bagi pikiran, jiwa dan otak kita. Iya, kan?

Diet informasi adalah salah satu yang perlu kita lakukan menggunakan internet dan media sosial. Masih ada Cara Cerdas Menggunakan Media Sosial lainnya yang bisa kamu terapkan.

Comments (14)

  1. Sejak beberapa tahun terakhir ini saya juga jadi orang yang skeptis. Sudah lama saya tidak begitu senang lagi untuk menonton TV. Tapi kalo soal informasi yang disediakan media2 mainstream, TV, cetak, atau online tidak semuanya berbau bohong2an sih. Saya sendiri juga selain memilih2 media yang saya bisa percaya, saya juga kalo menemukan informasi2 yang berbau2 tidak faktual, ya baru saya coba cari kebenarannya. Paling berita2 yang pengaruhnya besar biasanya dibuatkan hoax. Hehe

  2. Selain itu mungkin perlu menahan diri utk membagikan berita, postingan yang beredar di WAG, stop selalu menyalahkan “sekadar share” “dapat dari grup sebelah”
    Harusnya stop di kita, supaya info hoax tidak merambah kemana2

  3. dehh sa sekarang malah menghindari buka FB karena lelah hayati liat berita2 politik yg bertebaran.
    yg sa heran soal hoax apalagi kalau direpost di wa grup, orang terkadang gak cek n ricek lagi beritanya pdhal menurutku u cek n ricek lebih gampang skr ini

  4. Sudah lama tak nonton tv, kalau ada berita yang tampak meragukan di media sosial biasanya langsung saya skip. Hidup sudah berat dengan banyak hal. Tak usah lagi ditambah dengan menghayati berita-berita hoax

  5. SAya juga diet informasi. Kalo di FB, saya ndak suka scrolling time line. FB kebanyakan buat drop link ke berbagai grup, dari fan page. Kadang-kadang ji saya lihat feed, alhamdulillah lumayan tersaring mi. Paling juga saya lihat ndak sampai 10, habis itu saya tutup mi FB. Nanti saya buka lagi kalo mau cek notifikasi.

  6. Iyya betul sekali kak, menyaring informasi atau istilah kerennya diet informasi itu penting sekali. Apalagi sekarang terlalu banyak informasi yang tersebar bebas di internet. Olehnya itu, sangat penting untuk kita berdieat informasi ))

  7. Kalo butuh yang ringan-ringan, mending subscribe di channel youtubeku aja, kak.
    Ringan, renyah, bikin kangen. Suer deh!

  8. Saya juga untuk berita saya biasanya buka twitter dan biasanya buka akun Tirto.id

  9. Mantap ..Inilah yang saya suka dari blognya kak Anchu yang peka dengan isu-isu kontemporer..cepat dan tanggap dalam memberi pencerahan kepada masyarakat di atas bencana informasi yang melanda negeri ini..bisa diibaratkan sebagai badan penanggulangan informasi hoax dan tanggap cepat isu kontemporer..orang pada baru pada sibuk di omonhgin sosmed dan wa..kak anchu sudah blogkan..lalu diisi dengan informasi lugas dan opini yang mencerahkan masyarakat..

    Semoga barokah blogny Kak Anchu.. 🙂

  10. Tiba-tiba saya tertarik untuk membuat infografis dari materi di atas. Biar lebih gampang dibagikan.

  11. Saya sudah diet informasi dan menyaring teman di sosmed haha. Alasannya sama, eneg sama informasi hoax yang beredar. Daripada ikutan panas kan mendingan menghindari sumber api.

    Di FB ada kali 100-200 saya unfriend/unfollow, tergantung tingkat keparahannya. Di twitter ndak ada karena jarang ma buka twitter. Di IG juga bersih-bersih supaya nyaman di mata tenang di hati hehe~

    Yang sudah diunfriend/unfollow apakah berarti tidak berteman lagi? Oh tentu tidak, secara fisik dan realita tetap ji berteman dan saling kontak2 via WA jika ada pembicaraan, tetapi di sosmed tidak perlu temenan hihi~

  12. Wah ini postingan lama yang diupdate kembali ya…

    Btw thanks infonya kak. Memang sebaiknya kita tidak menelan mentah-mentah semua informasi yang kita terima. Apalagi menjelang pemilu ini, banyak hoaks dimana-mana. So, kalau nggak diet informasi, bisa-bisa kita kemakan hoax juga.

  13. Saya juga sudah lama diet informasi, khususnya sih yang bersumber dari televisi. Rasanya memang tidak ada lagi tayangan bagus di sana. Kalau mau baca berita ya akses di situs berita online, itu juga dipilih-pilih lagi mana yang terpercaya.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.