Buku & Film

Di Balik Temaram Karebosi

Seperti laiknya yang dilakukan pria atau wanita biasa ketika berkumpul, mereka juga bergosip. Tentang tren fesyen terbaru, model rambut, tidak ketinggalan kisah asmara mereka, atau tentang apa saja. Yang membedakan hanyalah bahasa. Wandu atau wendes—waria dalam bahasa mereka—menggunakan bahasa yang hanya dikenal di kalangan mereka. Uniknya, bahasa yang digunakan di Karebosi (juga di Makassar dan Sulawesi Selatan) berbeda dengan bahasa nasional waria[10]. Contohnya: kata ‘aku’ dalam versi Kamus Debby Sahertian adalah ‘aqiqah’, sementara dalam versi Karebosi adalah ‘kulo’. Di beberapa kabupaten, bahasa ini terbagi lagi berdasarkan suku, misalnya: ’laki-laki’ bagi waria suku Makassar disebut ’lekong’ sementara bagi suku Bugis disebut ’bulo’.

Perbedaan ini disebabkan oleh latar belakang budaya dari mana si waria berasal dan berdomisili. Kata ’kulo’ misalnya, diserap dari Bahasa Jawa. Memang tak sedikit dari waria Karebosi pernah tinggal di Jawa. Umumnya kosa kata bahasa ini diserap dari berbagai bahasa kemudian dirombak sekenanya. Bisa juga suatu kata berasal dari celetukan mereka. Kata itu kemudian dipakai dalam komunitas kecil kemudian berkembang dan disepakati penggunaannya di kalangan mereka. Konon, di tahun 40-an sampai 60-an, bahasa waria ini lebih sulit dipahami dan aneh. “ Kita aja nggak ngerti bahasa senior-senior kita,” ungkap Sari.

Lebih lanjut Sari bercerita bahwa masyarakat di beberapa daerah yang banyak terdapat waria terkadang mengerti dan mampu berbahasa waria. “Saya sempat shock ketika berada di Barukang, orang-orang kok bisa ngomong kayak kita,” terang Sari dengan wajah seperti kaget. Bola matanya membesar dan mulutnya menganga. Kedua telapaknya diangkat sejajar bahu, seperti dua kaca spion motor bertangkai panjang yang menghadap ke depan.

Meski mengaku menggunakan bahasa khusus untuk menjaga kerahasiaan, namun mereka juga tak berniat untuk mengubah kosa kata yang telah diketahui umum. “Kita terbuka kok, lagian bahasa kami tumbuh begitu saja,” tutur Sari sembari menjentikkan telunjuk pada rokok yang terjepit ibu jari dan jari tengah. Abu rokok itu perlahan jatuh tepat di atas sepatunya. Sari lalu merunduk dan mengelap sepatu dengan jari.

Matanya menerawang jauh, keberadaannya di Karebosi tak seberuntung teman-teman mereka yang lebih mendapat tempat di masyarakat. Waria di daerah-daerah lebih dihargai karena profesi mereka sebagai Indo’ Botting atau perias pengantin. Di sini, berbagai anggapan negatif ditujukan padanya dan teman-temannya. Hinaan sebagai bencong kasar atau pembawa sial seringkali mereka dapatkan. “Padahal kita ’kan manusia juga, kami tidak akan berbuat kasar kalau mereka tidak mengganggu,” katanya, lirih.

Sebersit rasa terpancar dari sorot matanya. Mungkin kesal, entah. Belum lagi mengingat  perlakuan tidak adil yang mereka harus alami. Juga perlakuan aparat bila datang merazia menimbulkan rasa tidak aman bagi mereka. Dulu, mereka selalu dipalak oleh preman-preman sekitar Karebosi. Preman itu lalu mereka keroyok. Saya hanya tertawa membayangkannya. Namun upaya mereka ternyata manjur. Tak ada lagi pemalakan sejak saat itu.

Ia tak habis pikir, kenapa anggapan negatif itu masih saja ada. Mereka berkumpul di Karebosi hanya sekadar berkumpul dengan temannya sesama waria setelah seharian beraktivitas di sebuah lembaga swadaya masyarakat dan event organizer. Begitu pula teman-temannya yang bekerja di salon atau jadi perancang busana. Banyak pula di antara mereka yang punya prestasi, bahkan pernah menjadi sampul majalah nasional.

Solidaritas mereka begitu kuat, dan jumlahnya mencapai 700 lebih yang tercatat di Kerukunan Waria Sulawesi Selatan. Selain di Karebosi, biasanya mereka berkumpul di salon tempat kerja salah seorang dari mereka. Juga ketika di antara mereka ada yang mengadakan hajatan, baik itu acara ulang tahun pernikahan atau kedukaan. Mereka bahkan punya dana swadaya yang dipakai bila seorang teman membutuhkan.

Malam semakin larut. Denyut kehidupan belum berhenti di Karebosi. Sepasang waria tampak berjalan menuju warung Dg Bunga. Ada yang menyendiri di dekat bunga, duduk berdua; mungkin curhat. Di sudut taman, seorang waria duduk memijat bahu seorang penjual bakso.

Dari gerobak bakso depan mereka, mengalun lagu: … rocker juga manusia, punya rasa punya hati. Mungkin lagu itu benar bahwa rocker, waria, penjual bakso, mahasiswa atau siapa saja tetaplah sama: manusia yang punya hati.[*]

 

[1] Pemain sepak raga, olahraga tradisional masyarakat Sulawesi Selatan—serupa sepak takraw, bolanya terbuat dari rotan bulat. Raga lebih pada aspek pertunjukannya dimainkan hingga empat orang dengan bertelanjang kaki. Dulunya olahraga ini peruntukkan para keluarga aristokrat Sulsel saja. Wajar bila dalam menampilkan permainan ketangkasan ini para pemainnya mengenakan pakaian adat.

[2] Sop khas Sulawesi Selatan. Lebih lengkap dapat dilihat di “Legenda Sop Saudara”.

[3] “Saya sudah punya pacar baru” (bahasa Waria Karebosi).

[4] “Oh ya, cakep tidak” (bahasa Waria Karebosi).

[5] “Namanya siapa? Tinggi tidak?” (bahasa Waria Karebosi).

[6] “Pacarku bertubuh besar dan kaya. Tadi malam saya diajak makan dan belanja di mal. Saya bermanja-manja deh” (bahasa Waria Karebosi).

[7] Menurut versi Daeng Sunggu, nama Karebosi berasal dari dua kata bahasa Bugis ‘bosi’ atau ‘hujan’ dan ‘kare’ yang berarti ‘karena’. Karebosi merupakan nama yang diberikan oleh seorang pengawal raja dan disetujui oleh seluruh pembesar istana dan pihak Belanda. Pada saat itu berlangsung perayaan ulang tahun Ratu Juliana di lapangan ini dan di tengah-tengah pesta, tiba-tiba hujan turun.

Lalu seorang pengawal kerajaan Gowa menghadap pada raja dan mengusulkan untuk menamakan lapangan tersebut dengan nama ‘Karebosi’. Di masa Kerajaan Gowa, lapangan ini adalah pusat raja Gowa (Sombaya Ri Gowa). Di sinilah tempat pertemuan antara Sombaya Ri Gowa dengan para raja dari Luwu, Bantaeng, Palopo, Wajo, Sengkang, dan Bone. Ketujuh daerah ini merupakan kesatuan di bawah Sombaya Ri Gowa yang memerintah di Gowa. Hingga saat ini, kuburan ketujuh raja ini masih ada di Lapangan Karebosi yang dikenal dengan ‘tujua’.

 

[8] Beberapa orang mengatakan, awalnya Ramang hanyalah tukang becak yang sering mangkal di Karebosi lalu direkrut PSM. Di masa keemasannya ia dan PSM pernah berhadapan dengan Spartak Moskow. Ia juga pemain timnas Indonesia di era 1950-an hingga 1960-an.

[9] Bodoh, idiot (Bahasa Makassar).

[10] Bahasa Waria ini sebagian muncul dalam kamus yang tulis Debby Sahertian, Kamus Bahasa Gaul, Sinar Harapan, Jakarta, 2001(cetakan ke sebelas).

Tulisan ini juga dimuat di buku Makassar Nol Kilometer terbitan Penerbit Ininnawa

Comments (2)

  1. Tulisan yang menarik until dibaca dengan cara penulisan yang keren. Cucokk cyiin 👍😁. Btw nongkrong sebulan di Karebosi, bisa fasih dengan gaya bicara waria yaa.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.