Catatan dari OrangeFest: Menciptakan Ruang Publik Sendiri

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Dinamika KotaKata Kota

Catatan dari OrangeFest: Menciptakan Ruang Publik Sendiri

OrangeFest3 Hari ke 2

Siang tadi, 29 Oktober, saya diundang oleh panitia OrangeFest untuk mewakili Flock sebagai pembicara dalam sesi diskusi Local Hero yang bertema “Desain, Kreatifitas, dan Perkembangan Kota’. Panitia juga mengundang Kak Abe dari Revius Magz dan Kak Yulianti Tanyadji, seorang urban planner yang juga pendiri Akademi Berbagi Makassar.

Jujur saja, beberapa hari sebelumnya saya masih bingung mau membahas apa di depan mahasiswa-mahasiswa Seni Desain dan Komunikasi Visual UNM. “Mereka tentu lebih kreatif” pikir saya. Untunglah pagi tadi sempat ngobrol2 di grup Flock dan menghasilkan sebuah ide. Bagaimana teman-teman pelaku Seni DKV menyikapi isu perkotaan, Makassar, dan menghasilkan ide-ide kreatif sebagai solusinya. Dalam waktu singkat, sembari membantu sepupu yang masih kelas 1 SD menyelesaikan pekerjaan rumah, saya menyusun presentasi yang saya bagi ke dalam 3 bagian: contoh-contoh di kota lain, masalah perkotaan yang dihadapi Makassar, dan solusi kreatif apa yang bisa mereka hasilkan dan lakukan.

Manhattan - Lelakibugis

Jakarta - Lelakibugis

Makassar November Ceria - lelakibugis

Kak Yuli kemudian memaparkan ‘Kota dan Kreatifitas’, mengutip Ridwan Kamil, Kak Yuli kemudian menjelaskan bahwa komponen pembentuk kreatifitas sebuah kota adalah anak muda dan kemampuan bertahan dari warganya. Makassar punya potensi besar dalam hal ini, berdasarkan data , jumlah usia anak muda Makassar mencapai 40% dari jumlah penduduk kota Makassar. Belum lagi jika kita menghitung mahasiswa yang menuntut ilmu di kampus-kampus Makassar. Bayangkan jika kekuatan besar ini memiliki ide-ide kreatif dan melaksanakannya!

Kak juga memaparkan kegelisahannya akan nasib Makassar ke depan. Semisal, Makassar sudah kehilangan identitas. Anjungan Losari, contohnya, secara konsep serupa dengan Teluk Banoa dan Jakarta yang ternyata meniru Dubai. Dubai harus melakukan reklamasi karena mereka memang kekurangan lahan. Anjungan Losari yang begitu dibanggakan Pemerintah Kota Makassar, secara desain, tidak menampilkan identitas Makassar sebagai kota. Belum lagi jika kita berbicara dampak ekologis yang timbul akibat reklamasi itu.

Kota kreatif adalah kota yang mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. “Belajarlah melihat masalah dengan cara berbeda, lalu cobalah menemukan solusi secara kreatif” ungkap kak Yuli, yang juga pemilik Mama Toko Kue dan Es Krim ini. Dalam diskusi itu kami menantang peserta untuk mengidentifikasi apa permasalahan mereka. Muncullah masalah; tak ada tempat nongkrong yang nyaman bagi mereka. Dari masalah itu, saya dah kak Yuli meminta mereka untuk kembali mengidentifikasi ruang-ruang dan benda yang tak terpakai yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan tempat nongkrong yang nyaman bagi mereka.

Diskusi ini berjalan menarik dengan beberapa pertanyaan dari peserta. Ada satu peserta yang mengungkapkan kekhawatirannya bagaimana mengajak orang lain yang tidak peduli atau sibuk. Solusinya adalah berbagi ide melalui beragam media yang ada sekarang semisal blog dan media sosial. Kak Yuli juga menekankan pentingnya keterbukaan dan kolaborasi dalam eksekusi sebuah ide. Satu ide yang berhasil dilaksanakan akan jauh lebih berarti dibanding beribu ide yang hanya tersimpan di kepala. Pun, satu ide yang dilakukan oleh banyak orang akan lebih baik dari ide yang hanya dieksekusi oleh satu orang.

Bagi Idemu - lelakibugis

Tentu saja, harap saya, diskusi tadi bukanlah sekadar diskusi tapi merupakan awal bagaimana kita menciptakan ruang-ruang publik bagi kita sendiri tanpa perlu berharap banyak dari pemerintah.

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.