Catatan RinganWarita

Canning Rara Rasa Manis Pemikat Hati

Sirup Aren Canning Rara

Suku Bugis dan Makassar mengenal beberapa mantra dalam kehidupan mereka. Salah satunya adalah Cenning Rara (Bugis) atau Canning Rara (Makassar), mantra awet muda dan pemikat hati lawan jenis. Canning rara ini berupa doa atau baca-baca dan ritual laku atau sara’ dalam bahasa Bugis dan Makassar.

Update:
Sirup Aren Canningrara kini bisa didapatkan di outlet:

Macora Kitchen
Jl. Bonto Mangape No. 8A, Mannuruki, Makassar.
WA: 0811-4135-151

Fruitty Tauhid
Multiniaga Residence Blok E27, Makassar
WA: 081245980400

Canning Rara

Orang Bugis dan Makassar percaya orang-orang yang menggunakan canning rara dengan benar baik dari segi lafal doa dan tata laku sara’ akan memiliki aura yang membuatnya tampak menarik, wibawa dan charisma yang bisa memikat hati orang lain, utamanya lawan jenis. Cenning rara bagi masyarakat Bugis bermakna ‘wajah manis’. Kata cenning sendiri memiliki arti manis di mana dalam pengertian masyarakat Bugis, yaitu wajah yang terlihat manis dan menarik.

Cenning rara biasanya dilakukan saat berpakaian dan berdandan. Mulai saat meminyaki rambut dengan minyak kelapa. Pada saat dilakukan, maka mantra dibacakan. Saat menggunakan bedak,  mantra berbeda kembali dibacakan. Saat menggunakan baju dan celana pun demikian. Juga saat bercermin keluar rumah. Tentu dengan diikuti oleh dengan laku gerakan sebagai syarat dari mantra itu.

Namun, saya tidak akan membahas cenring rara itu lebih jauh. Saya ingin memperkenalkan canning rara kekinian yang berupa sirup aren.

Kenapa Sirup Aren?

Beberapa tahun belakangan, sebagai penyuka minuman kopi, saya sebisa mungkin menghindari atau minimal mengurangi penggunaan gula pasir jika menginginkan rasa manis pada kopi yang saya minum. Untuk konsumsi kopi di rumah, sebagai gantinya, saya menggunakan gula merah.  Saat di warkop atau coffeeshop, biasanya saya akan memesan kopi hitam saja. Namun, jika sedang bertamu dan disuguhkan kopi sudah bercampur gula pasir tentu saya tak tolak.

Kebiasaan ini muncul karena seorang teman pernah bilang kira-kira begini ke saya “kurangi konsumsi gula kalau umur sudah memasuki 30an, demi kesehatan”. Meski saya menganut paham kolesterol, kadar gula, lemak dan sumber penyakit lainnya itu hanya ada di lab bukan pada makanan, tak urung juga saya mengikuti saran teman itu. Tapi saat ini hanya untuk gula. Untuk yang lainnya, saya tak membatasi apa saja yang masuk ke perut 😀

Jalan hidup sepertinya menuntun saya ke sirup aren. Beberapa bulan lalu saya mendapat kesempatan mendampingi salah satu desa pegunungan di Kab. Bantaeng dalam mengembangkan Sistem Informasi Desa. Hasilnya adalah peta digital, peta 3D, buku dan website desa. Sila klik www.desapattaneteang.id jika mau mengintip desa cantik ini.

Saat mengerjakan program ini, saya makin mengenal desa yang berjarak sekira 145 km dari Makassar ini melalui data dan pemetaan yang kami lakukan. Termasuk segala potensi dan tantangan yang dimiliki oleh Desa Pattaneteang ini.  Apalagi setiap hari saya disuguhkan kopi hitam dan potongan-potongan gula merah aren sebagai pemanisnya. Serasa berada di rumah sendiri. Saya bisa memilih menyesap kopi hitam murni atau menambahkan potongan gula merah sesuai selera.

Dari pendataan, pemetaan dan wawancara dengan warga desa, terungkap bahwa desa ini memiliki potensi dalam gula merah aren. Ada banyak pohon aren (Arenga pinnata Merr), atau dikenal juga sebagai enau, yang tumbuh di sekitar hutan dan pemukiman, dan belum dimanfaatkan hingga membawa hasil maksimal. Petani yang mengolah air nira, atau inru’ dalam bahasa lokal, dari aren ini menjadi gula merah mulai berkurang karena sulitnya mendapatkan bahan bakar kayu untuk memasaknya. Juga harga gula merah aren yang murah dan kadang tidak bisa menutupi ongkos produksi. Banyak di antara mereka yang akhirnya memilih untuk berhenti membuat gula merah.

Hal ini tentu saja sesuatu yang patut disayangkan mengingat potensi aren yang mereka miliki. Belum lagi manfaat gula merah yang terbuat dari aren. Dibandingkan dengan gula merah yang terbuat dari bahan lain, gula merah aren memiliki beberapa kelebihan, misalnya; gula aren bisa digunakan sebagai bahan pembuatan kue, kecap dan produk pangan lainnya, memiliki kandungan gizi (protein, lemak, kalium dan posfor) lebih tinggi dari gula kelapa, gula tebu dan gula bit. Untuk kelebihan lainnya, bisa ditanyakan pada Om Google 😀

Secara kebetulan, saat memikirkan bagaimana memaksimalkan potensi aren dan menaikkan nilai jual hasil aren, seorang teman berkicau di twitter tentang produk sirup aren yang ia produksi. Asiknya lagi, teman itu tak pelit berbagi pengetahuan bagaimana cara membuat sirup aren. Berbekal pengetahuan itu, saya mendorong seorang anak muda desa, yang selama ini mendampingi saya dalam program SID, untuk mencoba membuat sirup aren. Sirup aren bisa dinikmati langsung dengan mencampurnya dengan air dingin, bisa pula menjadi pengganti gula putih untuk kopi dan teh.

Membuat sirup aren ternyata tak semudah petunjuk teman itu. Ada banyak tantangan dalam membuatnya. Dalam keadaan segar nira berasa manis, berbau khas nira dan tidak berwarna. Rasa manis pada nira disebabkan kandungan karbohidratnya mencapai 11,28%. Nira yang baru menetes dari tandan bunga mempunyai pH sekitar 7 (pH netral), akan tetapi pengaruh keadaan sekitarnya menyebabkan nira aren mudah terkontaminasi dan mengalami fermentasi sehingga rasa manis pada nira aren cepat berubah menjadi asam (pH menurun). Ada berapa kali percobaan kami yang gagal. Rasa sirup aren jadi asam, tak seperti yang kami harapkan.

Belum lagi ada beberapa semacam pamali atau pantangan yang jika dilanggar bisa membuat rasa manis pada nira jadi hilang. Semisal; petani yang menyadap air nira tak boleh memakai wewangian yang menyengat, bahkan petani tak mau menyadap nira jika sudah memakai shampoo. Rasa manis dari nira ini bisa langsung hilang begitu saja kalau petani melanggar pamali ini.

Rasa manis nira ini juga bisa hilang jika wadah penyimpanan yang kita gunakan tidak dibersihkan dengan benar. Awalnya kami pikir dengan mencuci wadah setiap kali habis memakainya dengan air bersih dan mengalir sudah cukup. Ternyata tidak, meski telah dicuci bersih dengan air mengalir, rasa manis nira tetap menghilang dengan cepat. Barulah setelah belajar pada beberapa petani kami jadi tahu bagaimana membersihkan media penyimpanan sehingga rasa nira tidak menguap. Rupanya, wadah penyimpanan itu harus dicuci menggunakan nira hangat yang telah dimasak.

Tantangan lain adalah pada jumlah produksi air nira setiap hari. Satu pohon aren hanya bisa menghasilkan 4-5 liter nira setiap harinya. Sementara sirup aren yang bisa dihasilkan dari setiap liter hanya berkisar 10% dari jumlah nira. Butuh minimal 10 liter nira untuk menghasilkan 1 liter sirup aren. memilih memasak nira dengan jumlah sedikit tentu membuat ongkos produksi lebih tinggi mengingat proses memasak harus menggunakan kompor gas agar bisa mempertahankan suhu panas api. Memasak nira dengan panas api yang lebih rendah atau lebih tinggi akan berpengaruh pada hasil sirup aren. proses memasak yang membutuhkan waktu empat hingga lima jam ini tentu akan membuat biaya produksi akan lebih tinggi jika hanya memasak 4 – 5 liter nira sekali masak. Belum lagi perlakuan saat memasak yang juga membutuhkan perhatian dan tenaga lebih. Idealnya adalah memaksimalkan jumlah nira yaitu 30 liter sesuai kapasitas wajan.

Proses Memasak Nira Menjadi Sirup Aren

Solusi dari hal ini adalah mengambil nira dari beberapa petani lalu memasaknya secara bersamaan. Namun, tantangannya tak selesai dengan solusi ini. Campuran dari nira dari pohon aren berbeda, jika tak ketat dalam memilih nira, bisa jadi menghasilkan sirup aren yang asam. Kami sudah berapa kali mengalaminya.

Tak hanya proses memilih kemudian memasak nira yang harus mendapatkan perhatian. Proses paska memasak pun harus benar-benar menerapkan prosedur ketat. Semisal membersihkan wajan sebersih mungkin setelah dipakai memasak. Noda atau kotoran sekecil apapun akan berpengaruh pada rasa. Begitu pun pada wadah penyimpanan dan kemasan.

Baca Juga: Ini Jus Buah Tala’ Bukan Ballo

Untunglah, setelah melalui proses uji coba yang berulang kali, kami bisa menemukan solusi dari tantangan-tantangan ini. Setelah beberapa bulan akhirnya kami bisa memproduksi sirup aren sebanyak 8 – 10 botol kemasan 320 ml per hari. Saat ini kami sedang memikirkan bagaimana meningkatkan jumlah produksi mengingat respon positif dari beberapa teman. Juga, tanggapan bagus dari beberapa pembeli awal kami. Tantangan dan respon positif ini menjadi pemicu bagi kami untuk terus belajar mengolah nira menjadi berapa produk turunan seperti gula semut, gula mini dan gula merah aren dengan standar kualitas yang terjaga.

Saat ini Sirup Aren Canning Rara tersedia
dalam kemasan 320 ml dengan harga Rp.40 ribu

Seorang teman berbagi manis Canningrara di blognya. Sila baca di Canningrara: Si Pemikat Rasa dari Pattaneteang

Sirup Aren Canningrara

Sebelum memulai uji coba pembuatan sirup aren dan gula mini, kami sudah sepakat menamai produk aren ini dengan nama Canning Rara. Kami memilih menggunakan penyebutan dengan dialek Makassar mengingat asal bahan dan tempat pengolahan berada di daerah yang didiami suku Makassar. Harapannya, nama sirup aren ini bisa berterima dan mudah diingat oleh orang dan tentu saja membawa manfaat seperti cenning rara itu sendiri. Bisa membuat penikmatnya menjadi sehat dan awet muda karena kandungan sirup aren itu sendiri. Juga, bisa memikat hati siapapun yang sudah mencobanya.

Saat ini Sirup Aren Canning Rara tersedia dalam kemasan 320 ml dengan harga Rp. 40 ribu (belum ongkir yah).

Untuk teman-teman wilayah Makassar bisa menghubungi saya via whatsapp 0813-4375-0911.

Untuk daerah Bantaeng dan sekitarnya bisa menghubungi Asdar 0852-5596-1516.

Semoga ke depan, Sirup Aren Canning Rara bisa hadir dan menjangkau lebih banyak teman..

Comments (6)

  1. keren kak
    wajib di coba hehe

  2. Ini yang jadi masalah memang untuk UKM, soal ketersediaan bahan baku
    kadang permintaan sudah tinggi, tapi karena bahan baku tidak tersedia jadinya harus dipending. lama2 konsumen akan lari.

    harus dicari jalan keluarnya yang benar-benar pas. persiapan kalau order tiba2 melonjak tajam

  3. jadi kepengen coba nih. belum di jual secara umum ya online gitu?

  4. Pilihan namanya mantap. Catchy ki.
    Ternyata perlakuannya khusus benar ya sampai memproduksinya. Bahkan ada pamalinya juga.
    Semoga segala tantangan bisa segera teratasi.

  5. Pantas memang sirop ini dinamai cenningrara, ka maniski tawwa. Sudahmi kucoba dan ternyata saya mulai berpikir untuk pindah ke lain hati, ke cenningrara. Ah, saya jadi was-was, mungkinkah mantera cenningrara ikut juga menyatu ke dalam sirop ini? Hihihi

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.