Calabai! Calabai! Calabai! [2]

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

BukuGaya Hidup

Calabai! Calabai! Calabai! [2]

cerpen Calabai Calabai! Calabai! - Setapak Salirang

lanjutan dari Calabai! Calabai! Calabai! 

Nasi yang dimakan para undangan pun termasuk tanggung jawabnya. Hanya saja, ia belum dipercaya membuat pesse’ pelleng, adonan kemiri yang ditumbuk lalu dicampur kapas lalu digenggam-genggam dan dibentuk menjadi semacam lilin dengan sebatang lidi di tengah. Ia sangat menyukai aroma lilin itu ketika dibakar. Hanya persoalan waktu, pikirnya. Suatu saat nanti, Puang Tepu akan mengajarkan cara membuatnya, ia sangat yakin.

Sore menjelang, ketika semua perlengkapan upacara telah siap. Para tetua mulai memukul-mukulkan bambu sebagai tanda dimulainya upacara. Dadanya berdegup kencang seirama tabuhan gendang. Perasaan bangga bercampur takut silih berganti mengisi rongga dadanya. Bunyi gesekan sebuah piring dengan mangkuk, terdengar pula mengiringi upacara sakral ini. Saat itu, Puang Tepu mulai membacakan mantra-mantra dan membakar dupa.

Matanya tak lepas dari sosok Puang Saleng, pemilik benda pusaka yang mendampingi Puang Tepu sepanjang upacara. Ia takut bila Puang Saleng tiba-tiba kerasukan roh halus penunggu pusaka miliknya. Bila itu terjadi itu berarti ia telah melakukan kesalahan meramu sesajen. ‘Syukurlah hal itu tak terjadi…’ ia menghembuskan nafasnya, lega.

Sesajen itu lalu diarak oleh warga ke sungai yang mengalir di desa. Sebelum dilepas ke sungai, mulut Puang Tepu berkomat-kamit memanjatkan doa. Saat dilarungkan ke air, para penduduk kampungnya berebutan meraih isi sesajen, seakan berupaya meraih berkah. Mereka lalu membawa sesajen kedua ke sebuah bukit tak jauh dari sungai. Puang Tepu lalu meletakkan sesajen dalam sebuah pondok tempat para petani beristirahat. Setelah didoakan, sesajen itu ditinggal dan para peserta upacara kembali ke rumah—untuk meletakkan sesajen ketiga di langit-langit rumah pemilik pusaka.

Tengah malam, ia membantu Puang Tepu mengenakan pakaian kebesaran, yang lalu mulai membaca mantra diiringi musik gendang dan bambu. Ini pertanda puncak acara Mattemu Taung. Puang Tepu dan bissu lainnya mulai menari mengelilingi alat upacara berisi sesajen yang digantung di dalam rumah. Ia hanya berdiam diri, tidak ikut menari. Ia belum menjadi bissu. Semakin lama irama tabuhan gendang semakin cepat.Tarian para bissu mengelilingi sesajen pun berputar lesat.

Puang Tepu tiba-tiba mencabut senjata pusaka, sebilah badik. Ia tersenyum, ia tahu sebentar lagi Puang Tepu akan mengiris-iris dan menikamkan badik pada tubuhnya. Senjata pusaka itu tidak akan menembus dan melukai tubuh Puang Tepu, karena roh dewata telah hadir dalam dirinya.

Ia sangat bangga bisa menjadi anak angkat sekaligus orang kepercayaan Puang Tepu. Kelak, bila ia mampu melalui serangkaian ujian dan mencerap apa yang diajarkan Puang Tepu padanya. Ia akan diangkat menjadi Bissu dan mendapat tempat terhormat. Seluruh perkataannya akan didengar seluruh penduduk desa.

 

II

Tapi itu dulu, beberapa tahun silam di sebuah sore. Ketika sebelum teman-teman memanggilnya Tiara dan keinginannya bermain bola tak tertahankan lagi. Ia berdiri di pinggir lapangan dan berharap teman-temannya mau mengajak bermain. Sekali saja, ia ingin merasakan bagaimana bola menyentuh kakinya. Juga ingin membuktikan bahwa tubuh gemulainya mampu menggiring bola dan mencetak gol.

“Oee.. itu Batti’ calabai…” seorang anak menunjuk padanya.

Ia tersenyum, berharap mereka akan memanggilnya dan melepas rambu yang selama ini menghalangi keinginannya bermain bola.

Calabai…calabai…calabai,” rambu itu justru memenuhi gendang telinga. Anak-anak itu lalu mengelilinginya dan menjulurkan lidah. Ia tahu, itu pertanda kehadirannya tidak diinginkan. Ia juga tahu percuma meminta pada mereka. Sudah seringkali mencoba namun selalu gagal. Ia juga merasa tidak perlu merasa marah. Ia memang berbeda dengan mereka. Pulang, adalah satu-satunya pilihan.

Tabe’…”  ucapnya sopan, ia mencoba menyeruak kerumunan anak-anak itu dan melangkah menuju pulang.

            Calabai Calabai Calabai,” anak-anak itu justru semakin mengejek. Karena ia tidak melawan, mungkin.

Ia meneruskan langkah, mencoba tidak menghiraukan mereka. Namun, anak-anak itu terus saja mengikutinya. Bahkan ketika ia sampai di halaman rumah, anak-anak itu masih saja meneriakinya. Bergegas ia menaiki anak tangga. Sangat yakin anak-anak itu tidak akan berani naik sampai ke beranda rumah. Puang Tepu sangat dihormati.

Calabai…punya kontol tapi bukan laki-laki!” teriak seorang anak.

“Buka celananya biar kita lihat kontolnya… ada tidak?” seru yang lain.

Belum sampai pada anak tangga terakhir—seorang anak berusaha menarik celananya. Ia berusaha mempercepat langkah, menapaki anak tangga mencoba lepas dari gangguan mereka. Di anak tangga terakhir, sepasang tangan berhasil meraih kembali celananya. Refleks, kakinya menendang-nendang berusaha melepaskan tangan itu. Brukkk! Ambruk. Anak itu terjatuh, kena hentakan kakinya. Terguling jatuh ke tanah—kepalanya menyentuh gentong tempat air cuci kaki…. Lehernya tertekuk…. Satu kakinya tersangkut pada anak tangga terakhir. Hening. Semua terdiam. Suasana sunyi, anak itu mati.

Kejadian itu membawanya pada penjara kota. Tidak lama setelah kejadian, bapak anak itu datang bersama polisi diiringi seisi desa. Puang Tepu yang begitu dihormati tidak mampu menahan kehendak polisi yang menjemput. Pembunuh. Ia kini seorang pembunuh…. Calabai pembunuh! Desanya tidak punya penjara. Sampailah ia pada penjara Makassar. Kota yang begitu berjarak baginya, baik ruang maupun pikiran. Tidak pernah terlintas di kepalanya akan menginjak kota ini. Apalagi berada dalam penjara. Dari dulu, keinginannya hanya satu… menjadi bissu.

Penjara, tidak hanya mengurung tubuhnya. Juga memenjara jarak pada mimpinya mengikuti jejak Puang Tepu menjadi bissu. Ia ditempatkan dalam sel bersama enam orang lelaki dewasa. Ia diperlakukan dengan baik pada mulanya, karena ia begitu lembut dan sopan. Sampai suatu malam, ketika dinding penjara yang dingin membuat seorang teman selnya tidak mampu menahan hasrat. Ia hanya memejamkan mata saat sepasang tangan kekar mengelus paha lalu meremas pantatnya. Tak kuasa ia melawan saat tangan kekar itu menyumbat mulutnya dan celananya diturunkan oleh tangan yang lain.

Air mata menetes perlahan, membentuk anak sungai saat tubuh besar bertatto itu menindihnya. Bayangan sesajen, walasuji, pesse’ pelleng, mappaturung bine, mattemu taung, bissu-bissu dan Puang Tepu memudar. Berganti dengan fragmen anak-anak kecil bersorak, “Calabai…calabai…calabai…!”. Adegan itu berulang pada malam berikut. Juga malam-malam ketika dingin menyengat dan penghuni sel lain tertidur. Aneh, ia mulai juga menyukai ketika lelaki itu menindih. Ia pasrah tengkurap. Melupakan semua mimpi tentang menjadi bissu.

Harapan tidak sepenuhnya pudar, meski selepas kurungan. Ada satu yang membawanya ke lapangan Karebosi. Keinginan untuk menyaksikan orang-orang bermain bola selayak anak-anak masa kecilnya dulu. Pulang ke desa bukan pilihan yang tepat. Di penjara, ia mendengar kabar kalau Puang Tepu telah meninggal. Posisi Bissu pun tak sesakral dulu. Ada yang sekedar jadi perias pengantin, tak sepenuhnya indo botting. Penduduk desanya menjadi penganut agama yang taat—melupakan adat. Mereka tentu tidak mau menerimanya kembali. Ia yang calabai… ia yang pembunuh!

Karebosi yang selalu dipenuhi orang-orang dan anak-anak yang bermain bola, adalah pilihan satu-satu baginya. Namun, ia tidak pernah mau mencoba ikut bermain. Menyaksikan mereka memainkan kulit bundar cukuplah memuaskan hati. Ia lebih senang memainkan bola-bola kecil yang bergelantung dari setiap lelaki yang datang padanya.

Baca Juga: Kisah Bissu dan Arajang, Dulu dan Sekarang

III

Malam hitam. Lampu padam. Aparat itu berdiri. Derit pintu dari engsel berkarat. Lalu bunyi anak kunci berdenting. Pintu tertutup rapat. Cahaya lampu ruang seberang terhalang. Menghapus jejak kenangan. Sosok tegap berperut tambun itu mendekat. Duduk di samping dan meraih bahunya.

“Oke,  kamu tak perlu menjawab. Saya tahu kamu sudah paham prosedurnya dan tahu apa yang harus kamu lakukan…” ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Tiara.

“Hmmm, saya suka bau tubuhmu,” ia menghirup aroma white musk yang meruap dari tubuh Tiara yang dibalut tank top dan jeans ketat hitam.

Tiara hanya diam. Sejenak hening. Tak ada suara. Ia sudah bisa membayangkan adegan kemudian. Polisi itu membuka ikat pinggang…. Lalu menarik restleting celana turun…. Mesin tik lalu ia singkirkan ke pinggiran meja. Celana panjang melorot diikuti celana dalam. Terlepas sampai menyentuh laras.

Tiara tetap menunduk. Ia tahu, kaki polisi itu akan segera mengangkang. Mesin tik tua disingkirkan dari meja.

“Ayolah… tunggu apalagi?!” Polisi itu lalu menarik kepala Tiara ke arah selangkangan.

Tiara memejamkan mata. Anak-anak. Puang Tepu. Bissu-bissu. Jeruji besi. Lapangan Karebosi. Bersilih ganti dalam ingat…. *

Biblioholic/Makassar/17/10/05

Catatan: Bissu adalah pemimpin upacara keagamaan dan adat tradisional Bugis pra-Islam. Di masa kerajaan Bone dan kerajaan Bugis lainnya sebelum Islam, Bissu dilindungi oleh istana dan mendapat posisi tertinggi dalam kepercayaan Bugis.

 

Catatan:

[1] Sop khas Sulawesi Selatan.

[2] “Batti, masuklah memasak nak.” (bahasa Bugis)

[3] Pemimpin upacara keagamaan dan adat tradisional Bugis pra-Islam. Di masa kerajaan Bone dan kerajaan Bugis lainnya sebelum Islam, Bissu dilindungi oleh istana dan mendapat posisi tertinggi dalam kepercayaan Bugis.

 

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.