Buku Tentang Makassar Yang Perlu Kamu Baca

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

BukuGaya Hidup

Buku Tentang Makassar Yang Perlu Kamu Baca

Makassar Nol Kilometer salah satu buku yang bercerita mengenai Makassar kontemporer

Makassar adalah kota terbesar, sekaligus menjadi pintu gerbang menuju bagian timur Indonesia. Perkembangan menjadi kota metropolitan seperti saat ini terentang dari ratusan tahun lalu. Beberapa buku tentang Makassar mencatat perkembangan itu.

Dengan memiliki wilayah seluas 199,26 km² dan jumlah penduduk lebih dari 1,6 juta jiwa, kota ini berada di urutan kelima kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dari aspek pembangunan dan infrastruktur, kota Makassar tergolong salah satu kota metropolitan di Indonesia, yaitu kota terbesar di luar pulau Jawa setelah kota Medan.

Secara demografis, kota ini tergolong kota multikultur dengan beragam suku bangsa yang menetap di dalamnya, di antaranya yang signifikan jumlahnya adalah Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Jawa, dan Tionghoa.

Adalah Raja Gowa ke-9 Tumaparisi Kallonna (1510-1546) yang diperkirakan sebagai tokoh pertama yang benar-benar mengembangkan kota Makassar.  Ia memindahkan pusat kerajaan dari pedalaman ke tepi pantai, mendirikan benteng di muara Sungai Jeneberang, serta mengangkat seorang syahbandar untuk mengatur perdagangan. Ia pula yang membangun Benteng Jumpandang atau yang lebih dikenal sebagai Fort Rotterdam pada masa pemerintahannya.

Pada abad ke-16, Makassar menjadi pusat perdagangan yang dominan di Indonesia Timur, sekaligus menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Raja-raja Makassar menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang ketat, di mana seluruh pengunjung ke Makassar berhak melakukan perniagaan disana dan menolak upaya VOC (Belanda) untuk memperoleh hak monopoli di kota tersebut.

Saat Kerajaan Gowa takluk dan menandatangani Perjanjian Bungaya pada tahun 1667 dan Binanga 1669, VOC menghancurkan semua benteng Kerajaan Gowa dan menyisakan Benteng Jumpandang sebagai pusat pemerintahan VOC. Dari kawasan benteng inilah yang berkembang menjadi kota Makassar hingga menjadi kota metropolitan yang kita saksikan sekarang.

Beberapa Buku Tentang Makassar Yang Perlu Kamu Baca

Untuk mengetahui perkembangan Makassar dari masa kerajaan hingga era kiwari ada beberapa buku yang mengulas sejarah dan perkembangan Makassar yang bisa jadi referensi.

Syair Perang Makassar

Syair Perang Makassar ini aslinya adalah disertasi Cyril Skinner di University of London yang kemudian diterbitkan oleh Martinus Nijhoff di S’Gravenhage (Den Haag) tahun 1963, berjudul Sja’ir Perang Mengkasar (The Rhymed Chronicle of the Macassar War) sebagai seri Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (VKI) no. 40.

Syair Perang Makassar adalah salah satu buku tentang Makassar yang diterbitkan oleh Penerbit Ininnawa
Syair Perang Makassar adalah salah satu buku tentang Makassar yang diterbitkan oleh Penerbit Ininnawa

Penerbit Ininnawa & KITLV Jakarta (penerbit) kemudian menghadirkan versi bahasa Indonesia buku ini agar mudah diakses oleh kalangan umum, dengan Abdul Rahman Abu sebagai penerjemah

Syair Perang Makassar adalah sebuah dokumen pribumi mengenai Perang Mengkasar (21 Oktober 1653 – 19 November 1667) yang ditulis oleh salah seorang pelakunya sendiri yaitu oleh Enci’ Amin, jurutulis Sultan Hasanuddin, ‘ayam jantan dari timur’ yang akhirnya menjadi pecundang dalam perang tersebut. Pemenang perang itu adalah VOC yang dipimpin oleh Admiral Cornelis Speelman yang dengan kolaborator pribuminya, Arung Palakka, menghimpun kekuatan orang Bugis dan Soppeng bersama tentara VOC menentang dominasi orang Goa di Sulawesi Selatan.

Sultan Hasanuddin dengan berat hati terpaksa meneken Perjanjian Bongaya (19-11-1667) yang mengakhiri hegemoni Kerajaan Goa (sering juga ditulis ‘Gowa’) untuk selamanya, sebuah kerajaan lokal yang pernah berjaya dan sangat berpengaruh di Indonesia bagian timur.

Buku Syair Perang Makassar ini bisa dibeli di Kampung Buku Penerbit Ininnawa Kompleks BTN CV. Dewi, Jl. Abd Dg Sirua No. 192 E, Pandang, Makassar, Pandang, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 9023 atau dipesan melalui telp 0411 433775.

Makassar Abad XIX

Makassar sudah lama dikenal sebagai pusat perdagangan, dan warga Sulawesi Selatan dikenal sebagai pelaut dan pedagang. Sejak abad ke-16 Makassar telah memikat pedagang dari seluruh dunia, seperti Melayu, Cina, India, Portugis, Inggris, dan Belanda.

Pada abad ke-17, pedagang asing diperkenankan membangun perwakilan dagang di Makassar, begitu pula sebaliknya. Situasi aman dan damai ini mulai terganggu sepanjang tahun 1615 sampai 1655. VOC yang juga turut berdagang, memaksakan hak monopoli perdagangan, tentu saja hal ini ditolak oleh Sultan Gowa. Puncaknya pada 1655-1669 pecah perang Makassar, Kerajaan Gowa yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hasanuddin terpakasa menyerah pada tahun 1667 dengan menandatangani Perjanjian Bongaya.

Kekuasaan VOC di Nusantara berakhir pada 1799, kemudian diteruskan oleh kekuasaan imperial Belanda yang membentuk Hindia-Belanda. Pola perdagangan di Makassar, berubah pada abad ke-19 karena timbul persaingan di antara negara-negara Eropa serta pertarungan monopoli dan perdagangan bebas. Pemerintah Hindia Belanda dituntut melaksanakan perdagangan bebas sebagai syarat pengembalian Nusantara dari tangan Inggris. Namun, pemerintah Hindia Belanda justru berniat melanjutkan monopoli perdagangan seperti yang sudah dijalankan oleh VOC selama lebih dari 200 tahun.

“Makassar Abad XIX” adalah kajian tentang kebijakan Pemerintah Hindia Belanda dalam perdagangan Makassar pada abad ke-19. Buku ini memberi gambaran yang memadai tentang kebijakan Pemerintah Hindia Belanda terhadap perdagangan Makassar pada abad ke-19. Dimulai dengan membahas penyerahan koloni VOC kepada pemerintah Belanda, sewaktu Makassar ditetapkan sebagai pelabuhan wajib pajak. Fakta geografis, perkembangan awal pelabuhan Makassar, kemajuan dan tantangan perdagangan Makassar juga dibahas.

Berdasarkan konvensi London 1814 dan Traktat London 1824, Pemerintah Hindia Belanda dituntut melaksanakan perdagangan bebas sebagai syarat pengembalian Nusantara dari tangan Inggris. Namun, pemerintah justru melanjutkan kebijakan monopoli yang dijalankan VOC. Benarkah perdagangan Makassar suram di bawah pengawasan VOC maupun Hindia Belanda? Mengapa Hindia Belanda enggan melaksanakan perdagangan bebas, terutama di Makassar?

Pertanyaan di atas terjawab dalam buku Makassar Abad XIX yang ditulis oleh sejarawan Edward L. Poelinggomang. Buku diterbitkan oleh Gramedia dengan isi 348 halaman.

Sejarah Sekolah Makassar

Buku tentang Makassar selanjutnya yang perlu kamu baca adalah Sejarah Sekolah Makassar. Buku ini mengulas sejarah perkembangan institusi pendidikan yang ada di Makassar.

Sebuah organisasi pendidikan dan dakwah berdiri di Sulawesi Selatan, disebut-sebut berdiri tiga tahun sebelum Muhammadiyah cabang Makassar dibentuk pada tahun 1926. Organisasi ini merupakan perkumpulan lokal pertama di Sulawesi Selatan, sebuah hal yang menunjukkan bahwa betapa besar pengaruh perkembangan dunia pendidikan di Makassar dalam menggerakkan inisiatif warga kota untuk berserikat dan berpendapat.

Cerita ini merupakan secuil data yang dibeberkan dua ratusan lembar buku ini. Penulisnya, Sarkawi B Husain, melakukan studi ini yang kemudian menjelma sebagai sumber tertulis yang mengurai kehadiran pendidikan pertama di Kota Makassar yang diupayakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada akhir abad ke-19, serta perkembangannya hingga era Penjajahan Jepang pada awal dasawarsa 1940-an.

Pengkajian Sarkawi terhadap kehadiran dan aktivitas di gedung-gedung sekolah pertama itu memperlihatkan pengaruhnya yang demikian besar terhadap kehidupan masyarakat Makassar dan sekitarnya. Kemunculan sekolah-sekolah pertama itu, setidaknya, tampak dalam tiga hal: sosial keagamaan, perkembangan pertama dunia pers di Sulawesi Selatan dan sekitarnya, dan terjadinya mobilitas sosial yang ditandai dengan munculnya elite baru.

Sejarah Sekolah Makassar: Di Tengah Kolonialisme, Pertumbuhan Pers, dan Pembentukan Elite Baru (Periode 1876-1942) | Sarkawi B Husain (penulis) | diterbitkan oleh Ininnawa-Tanahindie | ISBN: 978-602-71652-2-0 | 13×20 cm | viii + 195 hl

Buku Syair Perang Makassar ini bisa dibeli di Kampung Buku Penerbit Ininnawa Kompleks BTN CV. Dewi, Jl. Abd Dg Sirua No. 192 E, Pandang, Makassar, Pandang, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 9023 atau dipesan melalui telp 0411 433775.

Makassar Nol Kilometer

Kota adalah sebuah wujud kejujuran modernitas. Di dalamnya terdapat timpah-menimpah antara tabiat modal yang buta-ruang, siasat terhadap ruang yang ada agar modal tetap langgeng, dan cara masyarakatnya menghadapi hidup dengan ruang yang terbatas.

Lantaran itulah, Makassar Nol Kilometer lahir. Buku berisi 49 tulisan yang dihasilkan 15 penulis muda, sebagiannya masih mahasiswa, ini memotret fenomena [kejadian yang lambat laun menjadi sesuatu yang rutin] seperti iringan mayat atau perang antar-kelompok, komunitas [kelompok masyarakat di Makassar yang memiliki sifat khusus] seperti waria di Lapangan Karebosi sampai suporter PSM, ruang [penanda kota atau ruang publik] seperti Lapangan Karebosi dan Fort Roterdam, dan kuliner [jajanan yang biasa ditawarkan di Makassar] seperti Coto atau Sarabba.

Tentang waria di Lapangan Karebosi bisa baca: Di Balik Temaram Karebosi

Makassar Nol Kilometer salah satu buku yang bercerita mengenai Makassar kontemporer
Makassar Nol Kilometer salah satu buku yang bercerita mengenai Makassar kontemporer

Makassar Nol Kilometer adalah buku tentang Makassar pertama yang memotret warga Kota Makassar kontemporer lengkap dengan karnaval budayanya, seperti merayakannya di alun-alun; di titik nol kilometer. Sebuah buku untuk mereka yang ingin tahu budaya-pop Makassar dan sekitarnya.

Bentuknya yang berupa buku saku menjadikan buku ini enak dibawa jalan-jalan berkeliling Makassar sambil mengenali lebih jauh fenomena, kuliner, komunitas dan ruang publik yang ada di Kota Daeng ini.

Makassar Nol Kilometer| Media Kajian Sulawesi (MKS) & Penerbit Ininnawa | Anwar J Rachman, M Aan Mansyur & Nurhady Sirimorok (Editor) | Oktober 2005 | 375 halaman |

Buku Makassar Nol Kilometer ini bisa dibeli di Kampung Buku Penerbit Ininnawa Kompleks BTN CV. Dewi, Jl. Abd Dg Sirua No. 192 E, Pandang, Makassar, Pandang, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 9023 atau dipesan melalui telp 0411 433775.

Makassar Nol Kilometer (Dotcom)

Buku setebal 414 halaman ini adalah buku tentang Makassar yang diterbitkan dari usaha mengumpulkan dan memilih 71 tulisan dari 43 jurnalis warga yang pernah terbit selama 2012 sampai 2014 pada situs Makassar Nol Kilometer

Jumlah tulisan itu merupakan hasil pemilahan pengelola situs setelah memeriksa dan membaca ulang sekurangnya 250 catatan dan berita dari warga berkaitan perkembangan kota di sekitar mereka.

Untuk memasukkan tulisan-tulisan tersebut ke dalam kompilasi Jurnalisme Plat Kuning, pengelola situs menyingkirkan tulisan ‘press release’ kegiatan yang biasanya dikirim beberapa pegiat komunitas. Kedalaman topik bahasan jadi pertimbangan utama proses penyuntingan.

Penerbitan buku ini diharapkan pemicu lebih menggairahkan perkembangan situs ini, sebagai media alternatif yang membahas perkembangan-perkembangan yang terjadi di lingkungan warga di jazirah selatan Sulawesi.

SMengenai awal mula adanya situs ini saya ceritakan lebih lengkap di Merekam Makassar: Dari Diari Hingga Blog

Buku Makassar Nol Kilometer Dot Com ini bisa dibeli di Kampung Buku Penerbit Ininnawa Kompleks BTN CV. Dewi, Jl. Abd Dg Sirua No. 192 E, Pandang, Makassar, Pandang, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 9023 atau dipesan melalui telp 0411 433775.

Itulah ulasan singkat mengenai beberapa buku tentang Makassar yang bisa kamu jadikan referensi dalam upaya mengenal Makassar.

Comments (17)

  1. Saya cari2 itu buku Makassar Nol Kilometer. Saya sendiri memang penikmat sejarah, suka exited juga dengn sejarah2 daerah, abang ad bukunya? Mau pinjam hehe.

  2. Saya tertarik sekali ingin membaca buku Syair Perang Makassar, cerita tentang perang dan perjanjian Bongaya sudah sering saya dengar. Tapi sampai saat ini belum pernah membaca buku tentang itu semua. Paling cuma baca dari buku atau ulasan singkat di buku2 sejarah sekolah

  3. berarti sudah dari dulu namanya Makassar ya, bukan Ujung Pandang seperti yang saya ketahui untuk 3 letter code penerbangan pun menggunakan UPG bukan MKS.

  4. saya tertarik ingin membaca Sejarah Sekolah Makassar kak.. apalagi dulu saya bersekolah di SD yg terbilang bersejarah dari segi bangunan dan masa awal berdirinya, yakni SDN Sudirman yg dulunya bernama SD Pembangunan III Tauladan.. siapa tau di buku itu dibahas juga 🙂

  5. Dari semua buku yang yang disebutkan diatas belum ada satupun yang saya baca 🙈🙈.

    Terimakasih rekomendasi bukunya kak, akan saya baca saat ada waktu luang biar bisa mengenal makassar lebih dalam lagi 🙂

  6. Membaca tulisan ini seketika niat saya yang dulu terpendam kembali mencuat. Ingin bertemu kak Jimpe! Hha. Ada buku yang ingin sekali saya baca.

  7. Berdasarkan peninggalan budaya Bugis Makassar, dapat ditarik kesimpulan bahwa Makassar jaman dulu memang memiliki peradaban yg sdh demikian maju, saya suka membaca sejarah apalagi yg jaman yg jadul2 hehe… Buku Makassar Abad XIX sepertinya rekomendasi yg bagus, menengok kembali akar yg membentuk kondisi Makassar sekrg.

  8. Dari bukua2 tentang Makassar yang disebutkan di atas saya tertarik dengan dua buku yang judulnya hampir sama. Makassar Nol Kilometer dan Makassar Nol Kilometer (dotcom) ternyata ini penerbitnya juga sama ya.

  9. M Putra Riyadi (Raya)

    Wahh terimakasih referensi bukunya kak😍. Saya selalu kagum dan selalu mengamati perkembangan kota Makassar bahkan waktu saya tinggal lama diluar Makassar dulu. Makassar selalu menarik, dan punya perkembangan yang luar biasa, belum lagi saat ini sedang banyak proyek yang dikerja secara bersamaan. Tapi semoga perkembangan Makassar tidak akan menghapus nilai – nilai sejarah yang ada dikota ini.

  10. Dari beberapa buku yang direkomendasikan, Saya cuma punya Makassar Nol Kilometer, trus Ada bukunya Anbhar Syair Perang Makassar. Btw says menanti postingan buku-bukunya tentang Bugis yang perlu kamu baca 😀

  11. hahaha kalau orang baca itu Syair Perang Mekassar, gambaran orang tentang Sultan Hasanuddin akan jadi berantakan. ternyata si “ayam jantan dari timur” itu tidak lebih dari seorang raja pengecut yang doyan mabuk tuak dan bersikap kejam pada lawan-lawan dan bahkan sekutunya

  12. pernahka disuruh baca ini buku nol kilometer sama om ocha, tapi belum kesampean membacanya, sebab kesibukan (atau mungkin belum betul2 meniatkan) huheueuheehe nanti boleh saya pinjam kah bukunya ?

  13. Dan saya belum pernah baca memang buku ini hehe thankyou kak for rekomendasi nya. Mengenai perjanjian bongaya dulu saya hafal loh 😂 waktu masih sd ditulis dalam RPUL tebal yg dibelikan mamiku haha

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.