Buku Tentang Bugis Yang Perlu Kamu Baca

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

BukuGaya Hidup

Buku Tentang Bugis Yang Perlu Kamu Baca

Manusia Bugis adalah salah satu buku tentang Bugis yang paling mampu menjelaskan eksistensi orang Bugis

Suku Bugis adalah salah satu etnik yang mendiami jazirah Sulawesi, khususnya Provinsi Sulawesi Selatan. Suku Bugis ini juga terkenal sebagai suku perantau. Beberapa buku tentang Bugis telah mengulas bagaimana keberadaan Suku Bugis ini.

Suku Bugis terkenal sebagai pedagang sehingga tak mengherankan jika mereka ada di mana-mana. Konon, orang – orang tua Bugis berpesan pada keturunannya, “Jangan mengaku orang Bugis jika belum merantau. Mereka berdiaspora ke hampir seluruh sudut nusantara hingga ke Malaysia. Ada banyak tokoh nasional Malaysia keturunan Bugis.

Nama “Bugis” sendiri berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.

La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis.

Rekomendasi Buku Tentang Bugis

Berikut beberapa buku tentang Bugis yang bisa kamu baca jika ingin mengenal suku ini lebih dalam.

Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis

Buku ini memuat tentang tata cara berhubungan seks, mulai dari lakuan hingga doa-doa yang seharusnya dilafalkan. Buku tersebut mencuplik beberapa naskah lontaraq yang telah diketahui merekam kearifan lokal masyarakat Sulawesi-Selatan.

Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis adalah kamasutra versi Bugis yang ditulis oleh Muhlis Hadrawi, seorang filolog dan juga dosen Universitas Hasanuddin. Muhlis mengumpulkan 49 manuskrip kerajaan dan catatan dari lontara Bugis dan Makassar perihal seksualitas sejak 1997 dan menjadikan sebuah buku.

Assikalibineng tidak seperti kitab persetubuhan yang lain, yang hanya menampilkan erotisme dan sensualitas. Kitab ini menekankan pula pentingnya laku serta tata cara yang berlandaskan rasa saling menghargai. “Di Assikalaibineng, tidak dibolehkan seorang laki-laki membangunkan sang istri untuk melakukan hubungan seksual, apalagi bila istri sedang capek,” katanya. “Itu sama saja menjadikan perempuan sebagai budak.” Ungkap Muhlis

Assikalaibeng diciptakan sebagai pegangan laki-laki, untuk membahagiakan perempuan. Dalam Assikalaibineng perempuan digambarkan lebih detail hingga bagian tubuh yang tersembunyi. Misalkan, dalam Serat Centini di Jawa atau pun Kamasutra dari India, menyebut klitoris hanya sekali itu saja. Sementara di Assikalaibineng, klitoris disebutkan hingga bagian paling dalam, sampai empat bagian.

Assikalaibineng adalah kitab yang menjelaskan seks dan hubungannya dengan Islam, dimana semua diawali dengan basmallah dan wudhu. “Jadi Assikalaibineng menuliskan, bila ingin berhubungan dengan istri, sebaiknya dilakukan setelah salat isya, agar tidak merusak wudhu dan memiliki waktu yang lebih lama sebelum mencapai waktu subuh,” kata Muhlis.

Manusia Bugis

Buku Manusia Bugis adalah sebuah buku yang ditulis oleh Christian Pelras, seorang peneliti Bugis yang hidup puluhan tahun di Sulawesi Selatan demi mendalami Suku Bugis. Pelras mampu berbahasa Bugis halus, berkorespondensi dengan menggunakan aksara lontara, serta beretika ala orang Bugis dulu, adalah sebagian dari kemampuan Pelras.

Manusia Bugis yang merupakan terjemahan dari buku yang berjudul The Bugis karya Pelras adalah salah satu buku tentang Bugis yang paling mampu menjelaskan eksistensi orang Bugis, terdiri dari dari 11 bab dan 397 halaman ini, menjelaskan berbagai hal secara komprehensif.

Pada bab 1 Pendahuluan, memaparkan secara umum tentang orang Bugis seperti wilayah, bahasa dan hubungan suku tetangganya. Bab 2 (bukti dan sumber) dan bab 3 (sulawesi selatan pada masa awal) membahas tentang data arkeologis, tinggalan megalitik, epos ilagaligo, kronik dan sumber luar sebagai bahan untuk merekonstruksi pemahaman tentang sejarah orang Bugis.

Bab 4 (Peradaban awal), membahas tentang kebudayaan bendawi, sistem kepercayaan, dan kosmologi. Tentang kepercayaan Bugis kuno, Pelras menulis : …”Dasar sistem religi Bugis pra Islam sebenarnya bersifat pribumi, meski mungkin ditemukan adanya persamaan dengan konsep religi India, baik Hindu maupun Budha” Kalaupun ada kesamaan, itu mungkin karena bersifat universal umat manusia.

Cerita tentang awal mula ketertarikan Christian Pelras meneliti suku Bugis dan menghasilkan karya Manusia Bugis ini terungkap dalam Tudang Sipulang Komunitas Blogger Angingmammiri Makassar yang bertema Tribute To Christian Pelras.

Perkawinan Bugis

Buku yang disajikan oleh Susan Bolyard Millar ini merupakan sebuah bentuk ketekunan, ketelitian, dan kesabaran yang sangat luar biasa. Susan mampu menyusun proses perkawinan Bugis dan menjelaskan lima proses dalam perkawian Bugis: (1) Pelamaran, (2) Pertunangan, (3) Pernikahan, (4) Pesta Perkawinan, dan (5) Pertemuan Resmi Berikutnya. Yang kesemuanya itu dilandaskan pada prinsip dan tata cara adat dari tempat wilayah di mana ia melakukan riset penelitian yakni di Kabupaten Soppeng Sulawesi-Selatan. Soppeng terletak 175 kilometer di kawasan baratdaya Makassar.

Buku Perkawinan Bugis ini membongkar serta mendesain kembali tentang nilai-nilai budaya yang terdapat dalam prosesi perkawinan Bugis, dan penulis juga berhasil mengangkat ke permukaan makna-makna yang melekat dalam pernak-pernik pernikahan yang sering dilewatkan begitu saja.

Dalam buku ini Susan juga mengamati posisi duduk, cara menempatkan nama dalam teks undangan, orang-orang yang diundang melakukan ritus tertentu dalam serangkaian ritus panjang pernikahan tersebut, dengan menggunakan pendekatan Semiotik (simbol, ikon, indeks) dan Semantik (makna kata/kalimat),

Di dalam buku ini pula, disajikan dengan berbagai macam aspek-aspek yang terjadi sebelum dan sesudah prosesi ritual perkawinan yang dilakukan suku Bugis, khususnya di Kabupaten Soppeng. Bukan hanya itu saja, ia juga memaparkan dengan berbagai macam peran orang yang diamanatkan untuk menjalankan prosesi perkawinan tersebut yang dipandang dari aspek budaya, sosial, politik, dan ekonomi.

Warisan Arung Palakka

Buku ini sebuah bacaan alternatif sejarah yang menjadi isu kontroversial yang ‘gaungnya’ besar. Perdebatan siapakah sang pahlawan: Sultan Hasanuddin atau Arung Palakka? Siapa yang menunggangi atau ditunggangi dalam usaha penyerangan Kerajaan Gowa: Arung Palakka atau VOC?

Begitu pula isu penting lainnya yang belum banyak dikenal publik seperti perbedaan konsep hukum Eropa dan Sulawesi Selatan yang punya andil besar menimbulkan konflik terbuka VOC dan Gowa. Latar belakang pribadi Arung Palakka dan Speelman yang mendorong mereka ‘menafsir ulang’ perintah Batavia, dan mengadakan serangan total ke Makassar.

Apa yang terjadi pada rakyat Gowa setelah jatuhnya Somba Opu, efeknya terhadap Nusantara dan tentang dinamika perpindahan persekutuan kerajaan-kerajaan di masa peralihan kekuasaan yang berubah drastis menjelang dan setelah kejatuhan ini.

Beberapa buku di atas hanya beberapa buku tentang Bugis yang pernah dituliskan. Masih ada buku – buku lain yang membahas tentang etnik Bugis yang mendiami Sulawesi Selatan dan banyak tersebar ke penjuru nusantara.

Oh iya, sebelumnya saya pernah juga menuliskan rekomendasi buku tentang Makassar bagi siapa pun yang tertarik untuk mengenali suku Makassar. Silakan baca di Buku Tentang Makassar Yang Perlu Kamu Baca

Comments (9)

  1. Di rumah ada Warisan Arung Palakka sama Perkawinan Bugis. Dua-duànya punya Anbhar dan dan dua-duanya nelum khatam sa baca 😂

  2. saya jadi tersadarkan bahwa orang asing yaitu Pak Pelras saja sbg orang Perancis, lebih mengenal budaya sulawesi dibandingkan dgn saya sebg org bugis itu sendiri, hal ini smkin memotivasi saya sbg anak muda bahwa budaya dan kearifan lokal yg baik, harus dijaga oleh generasi muda. Sepertinya sy harus membaca buku Manusia Bugis milik beliau

  3. Sepertinya buku ini keren, boleh pinjam kak? Hehe. Saya sendiri penggemar sejarah juga.

  4. Wah, tulisan yang menarik. Saya sbagai orang suku bugis asli jujur masih belum mengenal sepenuhnya sejarah2nya dari suku bugis saya sendiri. Hal ini dapat memotivasi saya utk bs membaca buku2 tentang sejarah bugis

  5. Dimanakah ditemukan buku-buku tersebut? Adakah tersimpan di perpustakaan daerah atau wilayah? Serius nanya.

  6. Bagus yah bukunya,, ada cerita pahlawan Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin juga..bgus ini yang dibaca anak muda, daripada contohi toko fiksi mending telusuri pahlawan-pahlawan lokal..belajar budaya lokal..

  7. Kayaknya perlu Tudang Sipulung AM membahas buku-buku tersebut atau menghadirkan budayawan.tidak bahas buku.

  8. Kitab Assikalaibineng ini buku fenomenalnya Ininnawa hahaha. Sampai dicetak berkali-kali.

    Kata Om Jimp, memang masyarakat kita nda bisa jauh-jauh dari selangkangan. Hahaha

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.