Bombo di ROAMING ASSEMBLY #6 Belanda

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganWarita

Bombo di ROAMING ASSEMBLY #6 Belanda

Dalam Roaming Assembly #6 Bombo menampilkan karya berjudul  An intervention toward an intervention: what’s wrong with the others?

Pernah dengar Bombo?

Dalam bahasa Bugis, Bombo adalah sejenis hantu hantu yang suka menakut-nakuti tapi tidak memangsa manusia. Masyarakat Sulawesi Selatan percaya bahwa hantu bombo ini merupakan penunggu tempat keramat selalu menghuni tempat- tempat gelap. Misalnya, seperti pohon besar atau batu keramat.

Bombo sering digambarkan bermuka jelek dan hitam. Sering pula diceritakan Bombo sering menampakkan eksistensinya ke dalam berbagai bentuk, seperti tangan atau kepala yang sedang terbang. Bisa pula dalam bentuk buah-buahan, seperti pisang atau kelapa terbang.

Lalu bagaimana jika Bombo tampil di sebuah program seni bertaraf internasional?

Adalah Reza dan Rais, dua anak muda Makassar yang menamakan diri mereka Bombo.  Mereka tampil dalam ROAMING ASSEMBLY #6 dan Ruru Huis, dua gelaran seni yang diadakan di Arnheim Belanda.

Rais Rice dan Reza Enem adalah dua performer eksperimental yang membentuk Bombo yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan.  Reza, sebelum dan setelah adanya Bombo, sampai sekarang masih aktif bermain musik bersama Theory of Discoustic dan juga aktif menyelenggarakan event bersama Eroko.org dan Jalur Timur.

Reza Enem, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun 1988. Alumni Universitas Fajar, Makassar pernah berpartisipasi dalam residensi seni di Mite-Ugro, Gwangju, Korea Selatan (2015), The 5th Anniversary of ART NOVA 100, Beijing (2015) dan Jakarta Biennale (2015) sebagai peserta muda dan artis pendatang baru.

Sedang Rais sehari-hari bekerja sebagai pekerja visual bersama Jendela Studio, belakangan ini tertarik dengan praktek seni visual alternatif seperti instalasi visual, mixed media, projection mapping, dan sebagainya.

Mereka pertama kali bertemu pada pertengahan 2015 di Makassar dan pada kesempatan berikutnya kembali bertemu di Jakarta Biennale 2015. Setelah pertemuan itu, mereka kemudian banyak sharing dan berinisiatif untuk berkolaborasi di BERDIKARI vol II di Makassar.  

Dari situlah kemudian mereka melakukan projek kolaborasi yang bernama Bombo. Nama Bombo mereka ambil atas inisiasi dari Professor dan Seniman Sound Experimental Bob Ostertag yang tampil di BERDIKARI vol II dan Mirwan Andan (researcher for Ruang Rupa).

Duo Bombo ini terpilih sebagai peserta Roaming Assembly, acara kuliah umum yang diselenggarakan oleh Dutch Art Institute (DAI), sebuah sekolah seni bertaraf internasional, program S2 di Belanda dengan kurikulum dan struktur pendidikan yang ekperimental. Meskipun memberikan gelar S2, mahasiswa DAI hanya “masuk kelas” di Arnhem selama seminggu dalam sebulan, program S2 di DAI memakan waktu selama 2 tahun.

Bombo di ROAMING ASSEMBLY #6: intraACTION: transCOLONIALISM
Bombo di ROAMING ASSEMBLY #6: intraACTION: transCOLONIALISM

Dalam Roaming Assembly #6 Bombo menampilkan karya berjudul  An intervention toward an intervention: what’s wrong with the others? Karya performans ini sangat ekperimental: Rais menggunakan alat OHP untuk memproyeksikan gambar ke layar, pewarna, zat pemutih pakaian, dan kaca. Dipadukan dengan sound art garapan Reza, karya ini ingin menunjukkan adanya begitu banyak kepentingan pada saat Konferensi Meja Bunda pada 1949 di Den Haag, terutama kepentingan negara penjajah, Belanda, dan juga pihak sekutu yang dimotori oleh Amerika Serikat.

An intervention toward an intervention: what’s wrong with the others? merupakan respon Bombo terhadap tema ROAMING ASSEMBLY #6 : intraACTION: transCOLONIALISM. Mereka menyisipkan  kutipan percakapan KMB tahun 1949 sebagai simbol praktik kolonialisme. Cairan pewarna di atas OHP sebagai representasi benturan usaha mengkoloni yang mereka anggap mungkin tidak perlu dan mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa.

Roaming Assembly adalah acara kuliah umum yang diselenggarakan oleh Dutch Art Institute (DAI). Sebelumnya Reza dan Rais juga sempat hadir sebagai audience dalam program Roaming Academy di Jakarta yang juga merupakan kuliah umum dari DAI. Untuk Roaming Assembly #6 di Arnhem, satu dari dua kurator tamu adalah Mirwan Andan yang diberi wewenang untuk mengkurasi karya dan pembicara untuk Roaming Assembly yang saat itu dengan tema Trans-Colonialism.

Dalam Roaming Assembly #6 karya Bombo “An intervention toward an intervention: what’s wrong with the others?” dikurasi oleh Mirwan Andan yang juga menjadi kurator Jakarta Biennale 2015.

Setiap Roaming Assembly, DAI selalu mengundang kurator tamu. Untuk Roaming Assembly #6, selain Mirwan Andan, DAI juga mengundang Hypatia Vourloumis menjadi curator. Hypatia sendiri adalah orang Yunani keturunan Sumatera Utara yang bermukin di Athena. Lebih lanjut tentang Mirwan Andan bisa dibaca di sini dan Hypatia bisa dibaca di sini.

Setidaknya sampai saat ini sudah 6 kali Roaming Assembly diselenggarakan dengan tema yang beragam, pembicara dari berbagai latar belakang, dan dengan pendekatan yang ekperimental.  Program ini melibatkan pekerja-pekerja seni lintas bidang dan negara. Selain peserta dari Indonesia ada juga seniman dari Belanda, Inggris dan Meksiko. Untuk bisa tampil di sini, mereka melalui proses seleksi dan kurasi yang ketat.

Bombo di ROAMING ASSEMBLY #6- intraACTION- transCOLONIALISM (2)

Mirwan Andan, berbagi peran dengan Hypatia. Andan mengundang beberapa pembicara dari Indonesia, Belanda dan Meksiko, dan Hypatia mengundang beberapa pembicara dari Indonesia sendiri, Belanda dan juga Inggris. Mereka semua diundang ke Arnhem, Belanda, baik untuk berbicara, maupun melakukan pertunjukan eksperimental.

update:  ROAMING ASSEMBLY #7 diadakan di Athena dan Istanbul pada 18 September 2018 dengan tema Art, Struggle, and the City dengan melibatkan Gigi Argyropoulou, Banu Karaca, Didem Pekün, Hypatia Vourloumis  dan Mary Zygouri

Tema Roaming Assembly #6 adalah Trans-Colonialism, tentang bagaimana kolonialisme mempengaruhi kehidupan sosial dan politik saat ini, baik di negara-negara yang pernah dijajah, maupun yang menjajah.  Selain mengundang pembicara dan performer untuk datang ke Arnhem, sejumlah penulis  kami undang untuk mengirimkan tulisannya dengan tema kolonialisme, dan dibacakan oleh mahasiswa DAI saat acara berlangsung.

Gagasan serta skill Bombo menarik perhatian Mirwan Andan yang melihat mereka memungkinkan untuk tampil di Roaming Assembly. “Reza dan Rais bisa berkolaborasi sesuai dengan skill masing-masing, dan prinsip kerja mereka dengan mengambil isu ingatan bersama di Indonesia sebagai tema karya, dan dengan pendekatan yang ekperimental, dalam hal ini soal Konferensi Meja Bundar cocok untuk kerangka kuratorial Roaming Assembly #6 serta sesuai dengan prinsip Dutch Art Institute sebagai sekolah seni yang pendekatannya eksperimental.” Ungkap Mirwan Andan yang pernah berkuliah di Fakultas Sastra Unhas dan menyelesaikan kuliah di Universitas Indonesia ini.

Lebih lanjut, Mirwan Andan menjelaskan bahwa ia sedang mencari aktivis, akademisi, penulis dan seniman untuk ia libatkan pada Roaming Assembly #7 nanti. “Bulan September nanti, saya dan Hypatia masih akan mengkurasi Roaming Assembly #7 dengan tema Trans-Urbanism, dan rencananya akan mengundang  berbagai pembicara dan seniman dari berbagai belahan dunia untuk berbicara mengenai isu perkotaan di Arnhem, Belanda.” Tambahnya. Mirwan juga menjelaskan bahwa seluruh pembiayaan acara ini ditanggung oleh DAI.

Bombo, selain tampil di Roaming Assembly #6, mereka juga sempat tampil di ruru huis dalam dalam rangka peluncuran Karbon Arnhem File publication Series yang berselang 4 hari setelah Roaming Assembly #6 di Arhnem. “Menjadi performer dari dua sesi tersebut adalah yang paling seru, karena itu merupakan project dan performance pertama kali kami sebagai Bombo. Selain itu dapat menghadiri  Sonsbeek “16 pameran seni kontemporer terbesar di Belanda.” Tutup Reza.

Lebih lengkap mengenai Bombo di ROAMING ASSEMBLY #6: intraACTION: transCOLONIALISM sila kunjungi tautan berikut:

Untuk informasi mengenai Roaming Assembly #6 http://dutchartinstitute.eu/page/8611/sunday-june-5-roaming-assembly-6-intraaction-transcolonialism-co-curated-b

profile Bombo di website resmi DAI : http://dutchartinstitute.eu/page/8646/bombo

dokumentasi dari facebook resmi DAI : https://goo.gl/p30KR0


Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.