bermain kata

lelakibugis

bermain.. terluka.. tertawa..

Catatan RinganTips Menulis

bermain kata

senin siang, diawali provokasi k’ dandy yang mo mengembalikan gairah menulisnya, kami lalu bermain kata. Aturannya sangat sederhana, semua peserta menyebutkan dan menuliskan tiga kata benda yang terlintas di pikirannya dan peserta lain juga menuliskan kata-kata tersebut di kertasnya masing2. Ada 15 kata yang terkumpul dari kami berlima. Semua peserta kemudian diminta untuk membuat sebuah tulisan dari kata2 itu, entah itu cerpen, puisi atau apa saja. Nah, dari kata-kata (yang tercetak miring) jadilah sebuah tulisan di bawah]

Sore itu, usai awan mengirim hujan, kutinggalkan danau dengan sedikit sesal di hati. Dengan langkah-langkah kecil kuseret kakiku yang terbalut sepatu hitam kusam. Di ujung dermaga, mataku menangkap sebuah bayangan. Kususuri bayangan itu, mencari benda asalnya, naik ke sebuah tiang di mana sebuah benda sebesar korek gas seharga lima ratusan tergantung. Gantungannya selebar jempol tangan. Ah, sebuah flash disk ternyata.
Sesampai di rumah kunyalakan komputer, untuk membunuh rasa penasaranku akan isi flash disk. Kuraih kursi belajarku, berdebu setelah lama tak terpakai, kupukul-pukul dengan sapu lidi. Setelah cukup bersih, aku lalu duduk depan komputer. Tak perlu menunggu lama, kubuka folder dalam flash disk. Bergegas aku membacanya…

Akhir agustus, sebuah patung terbakar. Katanya, dua orang berboncengan dengan sebuah sepeda motor, entah siapa, melajukan motornya ke arah pondokan lalu menghilang setelah melemparkan botol berisi bensin bersumbu api. Tak lama setelah itu, puluhan orang berkaos hitam mendatangi kami berlima. Setelah mengusir kami, mereka lalu membakar ruangan tempat kami mengisi malam dengan diskusi, cerita jorok, atau canda tawa. Terkadang pula kami nonton film bokep dalam ruangan itu.

Semuanya berlalu dengan cepat, tak sempat kuselamatkan apapun. Yang terlintas hanyalah menyelamatkan diri dari kebuasan yang terpancar dari mata mereka. Handphone yang kuletakkan di atas meja ikut ludes, begitu pula dengan cincin pemberian pacarku yang kuletakkan di samping handphone ketika mau sholat tentulah ikut terbakar pula. Cincin bermata tengkorak itu serupa benar dengan gambar pada kaos puluhan orang itu. Mereka boleh membakar apa saja, tapi tak akan bisa memusnahkan kenangan yang datang bersama cincin itu. (02 sept 05)*

Tulisan itu hanya dua paragraf, tapi menghadirkan sesak di dadaku. Tak kuasa aku menatap monitor di depanku. Aku merasa pusing, beberapa adegan malam itu hadir dalam kepalaku. Kaos hitam yang kupakai malam itu masih tersampir di belakang pintu, belum sempat kucuci. Bercak darah mengering masih melekat, darah yang muncrat dari kepala seorang mahasiswa yang kupukul dengan batangan besi. Ia mencoba meraih sesuatu di atas meja ketika kami kepung.

[15 kata ini terangkai menjadi sebuah sajak oleh aan, lihat di www.pecandubuku.blogspot.com]

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.