FenomenaKata Kota

Banjir di Makassar, IRBI & Revolusi Mental Kebencanaan

oleh Najemia Tj

Banjir di Makassar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana pernah meluncurkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2013. IRBI ini memuat gambaran resiko bencana di daerah.

IRBI menjadi salah satu elemen pertimbangan dalam penyusunan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2015-2019 bidang penanggulangan bencana.

Selanjutnya, tahun 2016, BNPB meluncurkan InaRISK, sebuah portal hasil kajian risiko kebencanaan. Dalam menu portal ini, terdapat Indeks Risiko dimana kita bisa memasukkan nama kota/daerah di Indonesia dan melihat potensi bencana beserta perkiraan presentasi populasi terdampak hingga kapasitas daerah dalam penanggulangan kebencanaan.

Diharapkan portal ini dapat digunakan oleh siapapun, termasuk kita-netizen yang maha benar, dalam menyusun rencana-rencana penanggulangan bencana. Iya sayangkuh, (kamu tidak salah baca) KITA menyusun rencana-rencana penanggulangan bencana.

Kita urai dulu dari level paling atas;
Seperti disebutkan di awal, pemerintah pusat telah menyusun RPJMN dengan pertimbangan IRBI. Sedang untuk daerah, (semoga saja) RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) juga disusun sesuai dengan IRBI. Sila mengecek apakah Pemerintah daerah masing-masing dengan RPJMDnya apakah sudah ramah bencana atau tidak.

Jujur, jika berkaca dari Petobo-Palu, sebenarnya saya tidak terlalu percaya bahwa pembangunan di daerah memperhatikan kajian lingkungan dan kebencanaan. Kajian dan penelitian jalur patahan untuk wilayah Palu bisa dikatakan memadai kalau tidak ‘melimpah’ jika dibandingkan wilayah lain di Sulawesi (yang penasaran bisa japri ke alena beliau Mu’adz Arisandi untuk kajian dan penelitian seputaran tersebut). Jika pembangunan dan tata kelola kota dilakukan dengan pertimbangan hasil kajian terkait potensi kebencanaan, maka dampaknya bisa diturunkan.

Apakah IRBI hanya berguna untuk RPJMN/D saja? Tentu tidak. Karena kebencanaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Kebencanaan adalah tanggung jawab kita semua; pihak swasta, komunitas akar rumput, netizen julid, setiap keluarga dan individu, bahkan pendukung CaPres sekalipun memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam kebencanaan. Rencana pembangunan yang dibuat pemerintah, baik pusat maupun daerah harus kita kawal. Yang baik dan sesuai dengan IRBI harus didukung, yang buruk dan tidak sejalan IRBI harus diubah dan dilawan.

Jika pembangunannya dalam bentuk fisik, telah berjalan dan tidak dapat diubah, maka yang harus dididik adalah masyarakatnya. Kita membutuhkan revolusi mental dalam kebencanaan! (siapako cewe’ menyeru-nyeru revolusi mental??)

Revolusi mental di sini tidak ada hubungannya dengan politik yah man-teman. Jargon ‘Revolusi mental’ pada status ini murni saya pinjam saja karena saya tidak cukup cerdas menemukan kata-kata yang tepat untuk menuntut perubahan cara pikir dan tindak kita semua dalam kebencanaan.

Selama ini, pola kita dalam menghadapi bencana adalah Panik, Sedih, lalu Lupa (menurut saya yah) Kebanyakan kita menjadi semacam ‘penunggu bencana’. Ketika terjadi bencana, kebanyakan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita juga belum terlalu cakap dalam membantu korban, pun belum mahir dalam belajar mengambil hikmah setelah bencana terjadi. 

Kita seperti serombongan murid SMP yang ramai-ramai janjian bolos pelajaran geografi, tidak pernah benar-benar belajar bahwa kita hidup di negeri gudangnya bencana yang bisa saja terjadi setiap waktu. Kita hanya mengulang kebodohan-kebodohan berjamaah yang sama. Kita tidak bertekad besar untuk belajar bahwa bencana masih bisa diturunkan dampaknya, bahwa bersama-sama kita bisa belajar Manajemen Kebencanaan dan mulai mengukur kapasitas masing-masing untuk usaha yang lebih baik, bahwa bahkan dalam agama yang saya dan sebagian besar dari kamu anut mengajarkan bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka berusaha merubahnya (thanks to abangda sayang Widhie Soekarnen untuk semua wejangannya)

Setiap kita bisa berbuat sesuatu untuk menurunkan risiko bencana. Salah satu caranya; buka http://inarisk.bnpb.go.id/irbipilih tahun, lalu ketik nama kota/daerahmu di kotak ‘type district’ nya. Lihat hasilnya dan mulailah berpikir apa yang bisa dilakukan mulai dari yang bersifat individu, keluarga, komunitas, syukur-syukur jika punya akses kepemerintah daerah.

Sebagai contoh, saya (narsis memang) memilih tahun 2019,dan mengetik ‘KOTA Makassar’, kota saya tercintah yang jargonnya ‘2x+baik’ (saya nda tau bikin tanda centang, dan dari jargonnya kamu harus paham bahwa sebagian besar kami cinta matematika-IYKWIM). InaRISK menunjukkan ke depannya ada 3 potensi bencana di Makassar, yaitu Banjir, Kekeringan dan Tsunami. Setidaknya 82% dari jumlah total populasi Makassar akan terdampak banjir (so called ‘menuju kota dunia’), 100% akan terdampak kekeringan dan 4% bisa terdampak tsunami. Sedangkan tingkat kapasitas daerah ada di level merah a.k.a rendah.

Untuk kita warga Makassar, sebaiknya mulai berpikir cara mengurangi dan menanggulangi dampak bencana-bencana tersebut. Untuk banjir, mungkin kita bisa mulai membicarakan tentang struktur bangunan ramah banjir. Tak perlulah kita meniru bangunan gaya eropa yang memang didesain ramah iklim dan cuaca londo di sana.

Mungkin saatnya mempertimbangkan kearifan lokal warisan nenek moyang kita tentang rumah atas yang tiangnya dibuat tinggi supaya air bisa meresap dan lewat dibawahnya. Kalaulah harga kayu mahal, kita mungkin bisa mempertimbangkan material lainnya, atau desain yang yang kurang lebih filosofinya sama (anak sipil, tabe majuki. Cocokmi?) Saya dan suami (tetap narsis) sampai hari ini masih berpikir seputaran soal rumah ini, inginnya punya rumah yang ramah lingkungan, ramah anak dan ramah bencana. Hasilnya? Sampai hari ini kami masih ngontrak 🤣

Banjir di Makassar
Resiko kebencanaan kota Makassar

Untuk yang punya tanah di Makassar sampai berhektar-hektar, mohon tidak semuanya dibangun menjadi bangunan (kos-kosan dikontrakkan, hotel, dll) , apalagi jika bangunannya tidak memikirkan resapan air. Kalaupun dibangun, pikirkanlah si air juga, kemana dia bisa lewat masuk ke dalam tanah kasyan.

Untuk yang sudah terlanjur berumah di daerah banjir, mohon berhentilah menimbun ketika merenovasi rumah. Ibarat memasukkan telunjuk kedalam air di gelas, permukaan air bukannya menurun bukibu pakbapak, tapi naik. Maka jangan hefan jika tahun lalu rumah dinaikkan dengan cara menimbun dan meninggikan pondasi maka insyaAllah banjir tetap akan mengejar naik tahun ini. Jika akan merenovasi rumah, (kembali) pertimbangkan struktur rumah atas.

Untuk bencana kekeringan yang diperkirakan (alhamdulillah) merata 100% dampaknya, warga Makassar sudah harus berpikir tentang mencari sumber air alternatif. Lubang biopori harus mulai dibuat dan harus menjadi gerakan berjamaah. Biopori (selain untuk banjir, juga berguna untuk air tanah) jika hanya ada dihalaman saya, kamu dan dia, efeknya sangat-sangat kecil (mohon jika ada ajudan walikota atau PR nya yang membaca bisa diteruskan ke alena beliau-ehem). Mungkin juga gerakan tadah hujan sudah mulai dilakukan sekarang, iyah sekarang! Siapkan tempat menyimpan air hujan yang banyak (pemerintah, swasta dan rumah tangga bisa ikut).

Sedang untuk tsunami, kita bisa mencegah jumlah korban dengan jauh-jauh hari tidak berumah di daerah rawan tsunami slash pinggir pantai. Untuk warga Makassar, dengan sedih kita telah kehilangan Pantai Losari yang dulu dengan ombak dan sunsetnya, berganti teluk reklamasi dengan mesjid 99 kubahnya.

Sikap saya terhadap reklamasi dari sudut lingkungan masih sama; Menolak sekeras-kerasnya! Meski demikian, reklamasi ini masih ada bagusnya (secara teori) yaitu memecah tsunami ketika datang-tsunami (fyi) artinya gelombang besar/tinggi.

Maka bolehlah ketika pulau/lahan reklamasi ini digunakan hanya sebagai tempat wisata dengan trip warning di waktu-waktu khusus seperti musim penghujan seperti ini. Tetapi jika reklamasi diperuntukkan untuk mesjid yang harusnya didatangi orang 5 kali sehari atau diperuntukkan menjadi lahan real estate, maka yang akan saya katakan adalah serakah! Bahkan menyeret Tuhan membenarkan keserakahan.

Apakah kau mau beribadah di sana? Bahkan Tuhan pun berkata Dia adalah untuk orang-orang yang berpikir. Apakah kau mau berumah di sana? Pasang badan dan keluarga tercinta memecah tsunami? Saya sih ogah, dibayarpun tak mau. Toh developer pun hanya memikirkan keuntungannya.

Datangnya tsunami ada yang bisa kita deteksi dan juga ada yang datang tiba-tiba. BMKG stasiun geofisika klas 1 Padang Panjang pernah merilis lagu Mitigasi Gempa Bumi yang dalam liriknya ” Jika gempa melanda 30 detik lamanya. Kuat lemah tak beda, tsunami bisa ada…” artinya jika terjadi gempa, kita hanya perlu menhitung 1-30. Jika hitungan kita tidak sampai 30 dan gempa mereda, maka insyaAllah tidak berpotensi tsunami. Tapi jika hitungan mencapai 30, maka ada kemungkinan tsunami. Berlarilah ke tempat tinggi, kita memiliki 30 menit untuk menyelamatkan diri (standar baku secara teori)

Tsunami di Selat Sunda yang baru saja terjadi adalah tsunami karena runtuhan gunung berapi. Sayangnya, BMKG belum memiliki alat yang memadai untuk mendeteksi dengan cepat bencana sekelas ini. Tapi BMKG sudah mengeluarkan peringatan sebelumnya akan gelombang tinggi, memang hanya 6 meter.

Jika kita tahu bahwa BMKG masih memiliki kelemahan, bukan berarti peringatan yang mereka keluarkan lemah, dan kita menjadi abai. Sebaliknya, peringatan yang dikeluarkan BMKG dengan kemampuannya yang terbatas justru membuat kita waspada 2x+banyak.

Jika sudah mendapat peringatan, kita sebaiknya menghindari daerah rawan, EO yang membuat acara kedepannya pun harus rela rugi membatalkan acara, dan selalu memantau keadan dan prakiraan cuaca di lokasi acara. Kita sudah belajar, ini pelajaran mahal, mahal sekali kasyan.

Sudahilah menyalahkan BMKG, mereka pasti bekerja dalam sana, mereka pasti merombak jajaran bila diperlukan. Sudahilah masuk di ranah Tuhan-aku suci kamu penuh soda. Tidak semua yang kena bencana itu berdosa dan tidak semua yang selamat itu beriman. Saatnya merombak mental masing-masing, saatnya bekerja bersama-sama, saatnya berevolusi.

K-Pop dan koplo bersatulah, karena hidup bukan hanya tentang goyangan.
Drakor dan Sinetron azab bersatulah, karena hidup bukan hanya tentang protagonis antagonis. Cebong dan Kampret bersatulah, karena hidup bukan hanya tentang PilPres.

Jika isu lingkungan terlalu abstrak tentang anak cucu nanti, semoga isu kebencanaan cukup penting.

Najemia Tj, emak-emak narsis, terakhir bekerja sebagai  Training Specialist III, Project & Training Manager, Sustainable Agriculture Manager-Indonesia, Rainforest Alliance.  


Ini tentang kita hari ini!

Sumber tulisan: https://web.facebook.com/najemia.tj/posts/10156953749601499

Comments (17)

  1. Manajemen kebencanaan memang penting banget untuk kita pelajari ya Oppa? Secara wilayah Sulawesi tempat kita berpijak, bukan tak mungkin akan terkena bencana seperti saudara-saudara kita yang lain.

  2. Sepenting ini ya kak untuk tetap waspada terhadap bencana dan bagaimana kita sebagai warga penting tahu yang namanya geografi dan potensi bencana-bencana yang akan terjadi di suatu daerah meski bencana itu tidak bisa diprediksi datangnya. Saya salahs atu anak yang lemah dalam hal geografi dan hingga sekarang jadi pelajar yang paling tidak saya sukai selain bagian astronominya (eh, itu beda lagi ya). Adanya tulisan ini, membuat saya sadar tentang betapa pentingnya informasi2 ini bagi kita dan keluarga, meski tetap tak membuat diri menyukai geografi 😀

  3. Aih sa kira tulisanmu..

    _balik kanan ke Facebook_

  4. kasian skali si air ini mau pulang kerumahya tp ada jalan yg bisa di lalui, padahal sedikit lg sampai tp tdk bisa lewat,

  5. “Selama ini, pola kita dalam menghadapi bencana adalah Panik, Sedih, lalu Lupa.” setuju banget sama pernyataan ini. Kurangnya edukasi tentang apa saja bencana yang beresiko kita hadapi di kota kota, bagaimana menghindarinya dan cara penanggulangannya, itu yang akhirnya bikin kita panik waktu bencana datang.

  6. Kajian-kajian tentang bencana sudah cukup banyak. Saya ingat semasa kuliah sudah mempelajari gempa dan perilakunya. Walaupun ingatan di masa itu lebih banyak didominasi tentang kenangan tentang mantan. Masalahnya kemudian terkadang hasil kajian tersebut kadang tidak berdaya jika berhadapan dengan kepentingan ekonomi. Kita lebih cederung senang “memadamkan api” dibanding melakukan tindakan mitigasi bencana. Semoga dengan apa yang telah terjadi membukakan mata kita bahwa mitigasi harusnya jauh lebih penting daripada harus pikin posko tanggap darurat nantinya

  7. Potensi tsunami.
    Sy pernah ngobrol sama pak suamiku juga soal ini.

    Berarti harus memang 2 kali tambah waspada. Terima kasih sharing-nya.

    Maka

    • Salamku pada penulisnya.
      Memang butuh kesadaran semua pihak ini. Kalo soal banjir, sudah terbaca mi, karena makin kurang daerah serapan. Kekeringan dan tsunami ini catatan tambahan untuk kita semua

  8. “Sudahilah menyalahkan BMKG, mereka pasti bekerja dalam sana, mereka pasti merombak jajaran bila diperlukan. Sudahilah masuk di ranah Tuhan-aku suci kamu penuh soda. Tidak semua yang kena bencana itu berdosa dan tidak semua yang selamat itu beriman. Saatnya merombak mental masing-masing, saatnya bekerja bersama-sama, saatnya berevolusi.”

    Paragraf itu tu 👆 jlebnya masuk sekali kak. Terimakasih untuk ilmunya 😊. Sudah saatnya kita cerdas dan peduli.

  9. informasi terkini dengan banyaak sekali pengetahuan baru yang perlu ditahu apalagi disaat bencana alam sedang terjadi dibbrpa tempat. Terima kasih tulisannya kak,bikin diri jadi lebih berjaga jaga …

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.