Catatan RinganWarita

Mengurangi Resiko Dampak Bahaya Merkuri di Indonesia

bahaya merkuri

Sebagian besar dari kita mungkin tak asing dengan kata merkuri. Apalagi generasi 90an, akrab dengan nama Freddy Mercury dan Poppy Merkuri kan? J Namun, ada merkuri lain yang perlu mendapat perhatian dari kita karena yang satu ini membahayakan kesehatan kita. Saking pentingnya, pemerintah pun berupaya Mengurangi Resiko Dampak Bahaya Merkuri di Indonesia

Apa itu Merkuri?

Merkuri atau yang juga disebut air raksa (Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batu-batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik. Merkuri adalah zat kimia yang terdiri dari unsur merkuri tunggal atau senyawanya yang berikatan dengan satu atau lebih unsur kimia lainnya. Merkuri ini merupakan bahan berbahaya dan beracun yang tahan urai dan dapat terakumulasi dalam makhluk hidup.

Bahaya Merkuri

Merkuri menjadi zat berbahaya yang mencemari lingkungan namun banyak digunakan dalam usaha dan/atau kegiatan pertambangan emas skala kecil, manufaktur, energi, dan kesehatan, yang berpotensi memberikan dampak serius terhadap kesehatan dan lingkungan hidup.

Kita bisa terpapar merkuri ini dengan berbagai perantaraan. Paling umum adalah melalui kosmetik, utamanya pada produk pemutih kulit karena kemampuannya menghambat pembentukan melanin sehingga kulit tampak lebih cerah dalam waktu singkat. Padahal di balik hal itu, merkuri justru sangat berbahaya dan sebaiknya menghindari produk yang mengandung merkuri.

Penggunaan merkuri pada kosmetik ini terbukti berbahaya dan sudah dilarang di berbagai negara. Tidak hanya untuk kulit yang terpapar, merkuri mudah terserap kulit dan masuk ke dalam aliran darah. Mengoleskan merkuri pada kulit akan membuat lapisan kulit semakin menipis. Paparan yang tinggi terhadap merkuri dapat berupa kerusakan pada saluran pencernaan, sistem saraf, dan ginjal. Selain itu, merkuri juga berisiko mengganggu berbagai organ tubuh, seperti otak, jantung, ginjal, paru-paru, dan sistem kekebalan tubuh.

Selain dari penggunaan kosmetik, merkuri juga dapat masuk ke tubuh melalui makanan yang kita santap, misalnya ikan yang berasal dari laut atau sungai yang terpapar merkuri. Bisa pula makanan yang berasal dari tumbuhan yang sudah terpapar merkuri dari udara.

Merkuri dapat masuk ke dalam tubuh melalui :

  • Inhalasi, yaitu dengan menghirup udara yang terkontaminasi merkuri
  • Ingesti, yaitu dengan mengonsumsi pangan yang mengandung merkuri terutama ikan, dan juga
  • Kontak langsung dengan merkuri melalui kulit

Target organ dari merkuri beragam, tergantung pada jenis merkuri yang masuk ke dalam tubuh. Namun, target organ dari metil merkuri (yaitu bentuk merkuri yang paling toksik dan berbahaya) adalah system saraf pusat.

Dari Mana Merkuri Berasal?

Pencemaran merkuri pada lingkungan dapat terjadi melalui aktivitas gunung berapi, pelapukan batuan, dan sebagai akibat dari aktivitas manusia. Namun, pencemaran merkuri di perairan laut lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia dibanding faktor alami. Mayoritas merkuri yang ada di lingkungan berasal dari pertambangan, pembakaran bahan bakar fosil, pabrik pengolahan kertas, emisi smelter, dan ekstraksi emas.

Saat ini merkuri banyak digunakan dalam Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK). Merkuri digunakan pada saat proses pemisahan emas dari material lainnya. Dari satu gram emas biasanya bakal membuang merkuri dua kali lipat.

Pada proses ini material tanah yang telah terkontaminasi merkuri apabila dibuang ke lingkungan dapat menimbulkan pencemaran merkuri. Selanjutnya, pada proses pemurnian emas. Dalam proses pemurnian emas dengan proses pemanasan, apabila wadah yang digunakan merupakan wadah terbuka, maka uap merkuri dapat menguap ke atmosfer. Pada saat hujan turun, kemungkinan air hujan terkontaminasi merkuri akan sulit dihindari.

Secara global, Indonesia merupakan peringkat ketiga penghasil emisi merkuri global. Setidaknya, jumlah merkuri yang dilepaskan sebesar 340 metrik ton atau setara dengan 15 truk peti kemas. Sejumlah 195 ton atau 57.5% berasal dari Pertambangan Emas Skala Kecil. Sebanyak 60% emisi merkuri dilepaskan ke udara, 20% ke tanah dan 20% lagi ke air.

“Merkuri adalah salah satu teknik paling kuno untuk ekstraksi emas dan punya tingkat recovery yang rendah. Makanya, sebenarnya, tidak dipakai untuk industri-industri besar,” terang Yudi Prabangkara Asisten Deputi Infrastruktur, Pertambangan, dan Energi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dalam pemaparannya pada Focus Group Discussion (FGD) di Four Points Hotel, Kamis, 1 Agustus 2019, Makassar. Acara itu ini berlangsung hingga Jumat, 2 Agustus 2019.

Baca Juga: 5 Alasan Makassar Harus Menolak Reklamasi

Program GOLD – ISMIA

Hal inilah yang kemudian mendorong pemerintah mengeluarkan Perpres No 21 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri yang selanjutnya disingkat RAN-PPM sebagai upaya mengurangi dampak bahaya merkuri di Indonesia. Melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang didukung oleh United Nations Development Programs (UNDP) menggandeng instansi pemerintah terkait untuk mengurangi penggunaan merkuri di sektor PESK melalui proyek GOLD-ISMIA.

Hal ini juga sebagai respon dari Konvensi Minamata tentang Merkuri. Minamata adalah namakota di Jepang di mana terjadi kerusakan kesehatan yang serius akibat pencemaran merkuri pada pertengahan abad ke-20. Konvensi ini sendiri ditandatangani di Jenewa, Swiss, oleh perwakilan 140 negara.

Proyek Global Opportunities for Long-Term Development of Artisanal Small-Scale Gold Mining sector – Integrated Sound Management of Mercury in Indonesia’s Artisanal and Small-scale Gold Mining (GOLD-ISMIA) yang dilaksanakan di delapan negara termasuk Indonesia secara bersamaan (Indonesia, Burkina Faso, Colombia, Guyana, Kenya, Mongolia, Peru dan Filipina).

Salah satu tujuan dari GOLD ISMIA adalah adalah untuk penguatan regulasi untuk membatasi penggunaan merkuri, meningkatkan akses komunitas penambang terhadap pembiayaan pengadaan teknologi pemrosesan bebas merkuri melalui bimbingan teknologi.

Ada enam provinsi yang menjadi perhatian atau pilot project saat ini. Yakni Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Riau. Daerah-daerah tersebut menjadi lokasi penyebaran PESK yang banyak menggunakan merkuri.

Saat ini ada sekira 2500 PESK di Indonesia yang tersebar di 58 kabupaten/kota di 23 provinsi. Sebagian besar di antaranya adalah penambang ilegal. Beberapa pertambangan sudah sempat ditutup oleh pihak kepolisian namun tindakan ini belum membawa dampak signifikan karena usaha pertambangan emas skala kecil ini terkait dengan hajat hidup orang banyak. Dibutuhkan sebuah upaya untuk mengurangi atau menghilangkan penggunaan merkuri itu di pertambangan emas skala kecil.

Upaya itu meliputi penguatan peraturan, kebijakan dan kelembagaan nasional, pembangunan fasilitas pengolahan emas non-merkuri, serta alih mata pencaharian bagi para penambang. Ekstraksi emas sebenarnya bisa memanfaatkan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan seperti yang ini telah digunakan oleh penambang emas skala besar.

Pemerintah sendiri telah mengeluarkan UU NO. 4 TAHUN 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Dalam Pasal 1 Ayat 32 menerangkan bahwa Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) adalah bagian dari Wilayah Pertambangan dimana kegiatan usaha pertambangan rakyat dilakukan. Dalam aturan itu, disebutkan penetapan WPR oleh bupati/walikota setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota. Di Pasal 22 dari UU Minerba mencantumkan, beberapa kriteria untuk menetapkan WPR diumumkan kepada masyarakat secara terbuka oleh bupati/walikota setempat.

Belakangan, terbit Undang Undang 23/2014 tentang Pemerintah Daerah yang berlaku mulai Oktober 2016. Dalam perundangan yang baru, pemerintah provinsi mengambil-alih izin usaha pertambangan (IUP) dari tangan pemerintah kabupaten. Namun, regulasi hukum yang baru ini menyebabkan rentang birokrasi yang panjang dalam pembentukan wilayah pertambangan rakyat.

Pemerintah perlu memberi kemudahan dalam soal perizinan ini agar para petambang rakyat bisa memperoleh izin atau legalitas dalam usaha mereka. Izin pertambangan dibuat lebih praktis dengan pemangkasan birokrasi dan penghapusan beberapa izin yg tidak relevan (sertifikat, rekomendasi, persetujuan dll).

Perlu didorong adanya regulasi yang mengatur legalitas pertambangaan emas skala kecil. Tanpa adanya aturan ini, praktik pertambangan liar dan pertambangan tanpa izin (PETI) yang menggunakan merkuri akan semakin sulit dikendalikan. Dampak dari PETI yang menggunakan merkuri akan destruktif. Tidak saja pada lingkungan, bahaya merkuri juga akan mengancam para penambang itu sendiri.

GOLD ISMIA juga akan memfasilitasi para penampang rakyat ini untuk mendapatkan izin dan legalitas usaha pertambangan emas skala kecil yang mereka miliki. Selain pada penguatan regulasi dan kebijakan, GOLD ISMIA juga akan mendorong pengalihan dan penggunaan tehnologi bebas merkuri ini pada pertambangan emas skala kecil. Gold Ismia akan memfasilitasi penyediaan tehnologi pengolahan emas bebas merkuri ini. Diharapkan pada tahun 2020, setidaknya pelaku PESK di enam provinsi dampingan telah menggunakan tehnologi ini. Alih tehnologi ini diharapkan dapat mengurangi dampak bahaya merkuri.

Proyek ini akan nantinya akan mendukung ribuan komunitas penambang rakyat di Indonesia untuk mendapat kondisi hidup yang lebih layak, sementara pada saat yang sama mengakhiri dampak kesehatan dan lingkungan yang disebabkan merkuri.

Upaya lain dalam mengurangi mengurangi resiko dampak bahaya merkuri di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup melalui proyek Gold Ismia ini juga merangkul kementerian lain yaitu Kementerian Kesehatan. Menteri Kesehatan telah menerbitkan Permenkes No. 57 tahun 2016 tentang Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dampak Kesehatan Akibat Pajanan Merkuri.

Untuk menjalin sinergitas antar program di Kementerian Kesehatan, maka Menteri Kesehatan telah membentuk Kelompok kerja Bidang Kesehatan Dalam Pengendalian Dampak Kesehatan Akibat Pajanan Merkuri. Pembentukan Kelompok Kerja ini untuk mendukung koordinasi antar sektor yang di dalamnya juga melibatkan juga Kementerian Kesehatan.

Kementerian Kesehatan juga telah mendorong partisipasi Pemerintah Daerah untuk turut melaksanakan sosialisasi dan pemberian pemahaman akan bahaya merkuri bagi kesehatan melalui Surat Edaran Tentang Pengendalian Dampak Kesehatan Akibat Penggunaan Merkuri yang disampaikan kepada seluruh Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/kota di Indonesia.

Di dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat sebagai salah satu arahan Presiden, maka telah dilakukan langkah awal dengan mengidentifikasi wilayah dan penduduk lokasi Penambangan Emas Skala Kecil (PESK) yang terdampak merkuri. Hasil identifikasi hingga bulan Juni tahun 2017, didapatkan lokasi PESK tersebar di 478 wilayah kerja Puskesmas,   235 kabupaten pada 32 provinsi.

Comments (5)

  1. panjang na, nda kubaca semua ki hahaha.

    soal merkuri, jadi ingat beberapa daerah di Papua yang sudah tercemar merkuri. biasanya itu daerah yang kaya akan emas kayak di Asmat dan beberapa titik di Paniai. bahkan sungai di Koroway yang biasanya jadi sumber kehidupan masyarakat sekarang sudah tidak bisa diapa-apakan karena sudah tercemar merkuri.

    pernah diprotes sama seorang pastur di sana, tapi tidak ada tanggapan siginifikan dari pemerintah provinsi atau kabupaten.

  2. Prolognya, langsung ketahuan umur sang penulis, heehe…

    Tentang merkuri dalam kosmetik, terutama dalam bahan krim racikan, biasanya konsumen gak tau kandungan bahannya, tau-tau setelah sekian lama pemakaian baru deh kelihatan dampak buruknya. Paling ringan kulit jadi menghitam, paling berat ya kena kanker.
    Naudzubillah…

  3. waduh ngeri juga ya. masih banyak orang awam yang ga tau bahaya mercury ini dan asal pake aja tuh di kosmetik walau hasilnya belang antara kulit muka dan leher. hha

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.