Catatan Ringan

Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki

Dear Cora

Maukah kau kuceritakan tentang anugerah?

Duduklah dulu, sesap kopi, teh atau minuman yang ada di depanmu. Jika belum ada, buat atau pesanlah dulu minuman kesukaanmu. Saya ingin kamu membaca surat ini sembari menikmati minuman kesukaanmu.

Kamu juga bisa mendengarkan lagu ini. 👇

Dear Cora,

Kamu mungkin sudah tahu dari guru agamamu bahwa setiap nabi memiliki keistimewaan yang disebut mukjizat. Saya hanya ingin mengingatkanmu saja.

Nabi Nuh. Atau kalangan barat mengenalnya dengan nama Noah. Nuh, atau Noah, mampu membuat kapal yang sangat besar dan selamat dari banjir bandang dengan kapal itu.

Nabi Ibrahim. Nabi dari beberapa agama ini mampu selamat dari kobaran api, dan bersama istrinya, Sarah, mereka memiliki anak pada usia yang sangat tua, 99 tahun. Orang-orang pada jaman kita, hampir mustahil mendapatkannya.

Nabi Ismail. Putra dari Ibrahim. Allah SWT, Tuhan kita, pernah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelihnya. Ismail, dengan ketegaran dan ketabahan luar biasa menerima perintah Allah itu. Untungnya Allah mengganti perintah itu dengan menyembelih domba. Karena itu, kita umat Islam mengenal adanya qurban. Dari bekas kaki Ismail, muncul air zam-zam yang masih mengalir hingga saat ini.

Nabi Ayub. Mampu mengeluarkan air dari tanah untuk mengobati kakinya.

Nabi Musa. Nabi ini membelah Laut Merah dengan tongkat untuk lolos dari kejaran dan mengalahkan Fir’aun.

Nabi Sulaiman. Nabi yang mampu berkomunikasi dengan binatang.

Nabi Isa. Nabi yang lahir tanpa ayah ini mampu berbicara sejak bayi untuk membela ibunya dari fitnah.

Muhammad. Nabi dan rasul penutup. Memiliki banyak mukjizat. Mukjizat terbesarnya adalah Alquran yang menjadi tuntunan umat Islam.

Dear Cora,

Kita bukan nabi. Hampir mustahil mendapatkan mukjizat. Tapi, kau dan saya, memiliki anugerah terindah yang pernah kita miliki. Anugerah itu berwujud seorang perempuan. Sosok yang mampu mengubah pilihan jalan hidup saya, juga akan sangat berpengaruh dalam hidupmu kelak.

Sebelum mengenalnya, saya sudah pasrah menerima jalan hidup menjalani hidup sendiri, tak menikah. Berkat kebaikan seorang teman, saya sudah menyiapkan sebuah rumah untuk menghabiskan hari tua sendiri. Rumah itu berada di kompleks di mana teman-teman juga punya rumah. Setidaknya, saat tua nanti saya tak begitu sendiri. Ada teman-teman di sekitar saya. Begitu rencananya.

Ketentuan Tuhan berjalan di atas rencana manusia. Rupanya, Tuhan berkehendak lain. Ia mempertemukan saya dengan perempuan ini. Tentang bagaimana kami bertemu, tanyalah sendiri padanya nanti. Biarkan ia bercerita mengenang pertemuan kami. Pertemuan itulah yang mengubah jalan hidup saya. Dan juga dirimu.

Mengenalnya, membuat saya memberanikan diri untuk menghadapi segala ketakutan akan pernikahan. Memutuskan untuk menikah adalah salah satu keputusan terberani yang pernah saya ambil. Itu berkat dia. Semua bayangan masa depan saya berubah 180 derajat. Menghadirkan kembali harapan akan memiliki keluarga kecil nan bahagia, dengan anak yang bernama Cora Bittara Amarah, dirimu.

Perempuan itu terlahir sebagai perempuan bungsu. Empat kakaknya laki-laki semua. Ia memiliki privilege sebagai anak dan adik bungsu perempuan satu-satunya. Mungkin karena itu pula ia diberi nama Anugrah. Dia adalah anugerah bagi keluarganya.

Dengan keberuntungan seperti itu, ia memilih takdir untuk hidup bersama saya. Seorang lelaki dengan masa depan yang tak pasti. Plus, dengan masa lalu yang tak bisa dikatakan bersih. Belum lagi tentang perempuan-perempuan yang pernah hadir sebelum dia. Saya tak tahu apakah pernah terbersit dalam penyesalan dalam hatinya karena telah memilih lelaki seperti saya. Tapi dia telah memilih takdir itu. Menjadi anugrah untuk saya. Juga, tentu saja anugrah untukmu, nak.

Dan, saya belum bisa memberikan apa-apa untuknya. Untuk dia yang melepaskan segala kemewahannya untuk hidup bersama saya. Meski, bisa saja dia memilih lelaki lain yang jauh lebih pantas untuknya.

Dear Cora,

Tak lama lagi, setelah saya menuliskan ini, perempuan itu akan melahirkanmu. Melepaskanmu dari rahimnya setelah mengandungmu sembilan bulan lebih. Juga, akan merawatmu hingga saat ini, saat kau membaca surat ini, juga hingga masa waktu yang kita tidak ketahui ke depan. Ia akan selalu menjadi anugrah bagimu. Nak, jagalah ia, ibumu, selepas saya tak bersama kalian lagi.

Hari ini, 19 Juni, adalah hari lahirnya. Saya bahkan belum tahu akan menghadiahinya apa. Mungkin memenuhi permintaan kecilnya, sebuket bunga. Permintaan yang belum pernah saya penuhi sejak kami pacaran dan menikah.

Saya tak tahu kapan kamu akan membaca ini, tapi saya punya satu permintaan lagi padamu: peluklah ia sehangat mungkin setelah membaca ini. Setelah itu, jika saya masih ada, kita akan melewatkan malam dengan makan malam sederhana. Merayakan ulang tahun perempuan yang merupakan anugrah untuk kita berdua.

***

Untuk istriku, Anugrah Alhari, jika kau membaca ini, selamat ulang tahun. Mohon maaf saya belum bisa memberikanmu apa-apa. Belum bisa membahagiakanmu. Terima kasih, terima kasih telah memilihku sebagai teman sejalan. I love you, now and then, till death do us apart.

Comments (7)

  1. Halo Kakak Lebug. Ikut bahagia membaca ini. Saat pernikahan ta’ saya tidsk hadir karena kami lagi berjuang melawan covid yang na’udzubillah.

    Ikut bahagia juga, blognya akhirnya update lagi.

    Semoga segala sesuatnya berjalan dengan baik dan lancar. Semoga sehat semuanya sampai hari bahagia berikutnya tiba.

  2. Masyaallah tabarakallah. Saya yakin, Anugrah itu adalah yang terindah dalam hidup’ta. Selamat tambah usia adek Nugrah semoga sehat dan insyaallah akan selalu bahagia karena Lelaki Bugis ini sangat mencintaimu. Dan, yakinlah perempuan hanya membutuhkan itu.

  3. kenapa saya terlambat baca ini. kapan ya saya mampu menulis seperti ini. tulisan sangat indah untuk perempuan tercinta.

Jika Berkenan Silakan Komentar di Sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.