Catatan RinganKota Kita

5 Perempuan Hebat Bugis – Makassar

Perempuan bagi masyarakat Bugis – Makassar mendapat tempat terhormat. Sejarah mencatat beberapa perempuan yang memimpin kerajaan – kerajaan di tanah Bugis – Makassar. Pun, perempuan – perempuan hebat Bugis dan Makassar yang pernah hadir dalam lintasan sejarah.

Thomas Stanford Raffles, dalam bukunya History Of Java (1817) menyatakan rasa kagum pada peran perempuan Bugis dalam masyarakat: “the women are held in more esteem than could be expected from the state of civilization in general, and undergo none of those severe hardships, privations or labours that restrict fecundity in other parts of the world” (Raffles, History Of Java, Appendix F, “Celebes”: halaman lxxxvi).

Raffles menuliskan bahwa perempuan Bugis Makassar menempati posisi yang lebih terhormat daripada yang disangkakan, mereka tidak mengalami tindakan kekerasan, pelanggaran privacy atau dipekerjakan paksa sehingga membatasi aktifitas/kesuburan mereka, dibanding yang dialami kaumnya di belahan dunia lain.

Sejarah juga mencatat ada beberapa perempuan hebat yang pernah hadir di bumi Bugis – Makassar. Berikut saya sarikan 5 (Lima) Perempuan Hebat Bugis – Makassar;

 

  1. Colli’ Pujié

Colliq Pujié atau Retna Kencana Colli’ Pujié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé, adalah seorang perempuan bangsawan Bugis yang hidup pada abad ke-19. Colli’ Pujié Arung Pancana adalah Datu’ (Ratu) Lamuru IX. Beliau bukan hanya bangsawan, tetapi juga pengarang dan penulis, sastrawan, budayawan, pemikir ulung, penyalin naskah Lontara Bugis kuno, penyalin naskah dan jurutulis istana kerajaan Tanete (di Kabupaten Barru sekarang).

Colli’ Pujié lah yang membantu B.F. Mathes, seorang missionaris Belanda yang fasih berbahasa Bugis waktu itu, selama 20 tahun menyalin naskah Bugis dan epos I La Galigo yang panjang lariknya melebihi panjang epos Ramayana maupun Mahabrata dari India. Berkat jasa perempuan hebat Bugis ini kita mampu membaca epos Lagaligo sekarang

Colliq Pujié juga banyak menulis karya sastra semacam Elong, Sure’ Baweng, yang berisi petuah – petuah yang memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. Karya lain Colli’ Pujié adalah Sejarah Tanete kuno pernah diterbitkan oleh Niemann di Belanda. Perempuan Bugis yang juga penguasa di Tanete ini mendirikan sekolah rakyat yang lebih dahulu 1890an, berpuluh-puluh tahun lebih dahulu dari Kartini. wafat pada tahun 1919, di desa Pancana Tanette ri Lau, yang juga kampung kelahirannya.

 

  1. We Maniratu Arung Data

We Maniratu Arung Data Raja Bone-XXV (1823-1835), adalah salah satu dari beberapa perempuan yang pernah memimpin kerajaan di tanah Bugis. We Maniratu Arung Data terpilih oleh Dewan Ade’ Pitu Kerajaan pada tahun 1823 menggantikan saudaranya yaitu To Appatunru Matinroe’ ri Ajabbenteng Raja Bone-XXIV (1812-1823). Pada masa pemerintahannya, We Maniratu Arung Data yang merupakan saudara dari Arung Palakka ini dikenal sebagai raja yang anti penjajahan VOC.

Pada masa pemerintahannya We Maniratu Arung Data dikenal sebagai pelopor bagi sebagian raja-raja di Sulawesi Selatan dalam menolak pembaharuan perjanjian Bungaya (18 November 1667) yang dikehendaki oleh VOC. Sebagai akibat pembangkangan itu tanggal 14 Maret 1824, pasukan VOC di bawah pimpinan jenderal Van Goen menyerang kerajaan Bone melalui Pantai Bajoe (Andi Muh. Ali, 1986 ; 60).

Untuk memperkuat pasukannya melawan VOC, We Maniratu Arung Data membentuk pasukan wanita yang dilengkapi dengan senjata lawida (semacam alat tenun yang runcing). We Maniratu Arung Data bahkan turun langsung ke medan perang bersama pasukan yang terdiri dari perempuan-perempuan hebat Bugis untuk menghadapi musuh.

Bersambung ke Halaman 2, No 3: Opu Daeng Risadju

Comments (2)

  1. I MALLEWAI KANA

    Masih banyak lagi Perempuan atau Srikandi dari Sulawesi…….

    FATIMAH DAENG TA KONTU
    ( Karaeng Campagayya)
    Inilah yang pertama kali mempelopori perjuangan seorang Srikandi dengan memakai senjata BALIRA ( Alat Tenun)
    Beliau adalah Putri dari SOMBAYYA RI GOWA.

    I MALLOMBASSI DAENG MATTAWANG
    ( Sultan Hasanuddin)

    FATIMAH DAENG TA KONTU…..Membantu perjuangan Ayahandanya melawan penjajah VOC dengan membentuk pasukan yang beranggotakan para pejuang perempuan yang ahli beladiri……senjata khas yang mereka gunakan adalah semacam alat tenun yang di sebut BALIRA……Dengan itu Pasukan bentukan FATIMAH DAENG TA KONTU di beri nama PASUKAN BALIRA……Setelah di tanda tangani Perjanjian Bungaya…..beliau Hijrah ke Kalimantan karena tdk setuju dengan isi perjanjian Bungaya……..sampai akhir hayat beliau terus melawan penjajahan VOC…….

    Inilah Cerita sesungguhnya mengenai PASUKAN BALIRA…..

  2. Masya Allah, saya bergidik membacanya, begitu keras perjuangan orang jaman dulu, terutama perempuan-perempuan hebat orang bugis. Saya pernah mengikuti salah satu seminar tapi saya lupa apa karena sudah lama, dikatakan kalau sebenarnya Belanda tdk menjajah 3 abad lbh, namun kurang dari itu. Dan jg ktika di Aceh ad satu pasukan perempuan yg melawan pnjajah (lg2 sy lupa namanya). Btw jika saja ulasan sprti ini diajarkan dlu di skloah2 kelas sejarah, mngkin sy lbh tertarik, dlu benci skli bljr seajarh krna hxa dsruh menghafal thun dan periode kmrdekaan, klu ad story telling bgni aplgi diangkt jg phlawan perempuan psti lain lgi critanya.

Silakan Komentar di Sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.