Menyoal Website Kebudayaan Indonesia

Ada masa saya tak begitu nyaman menggunakan media sosial. Utamanya Facebook dan Twitter. Itu di masa – masa sebelum pilpres 2014 dan beberapa lama setelahnya. Masa – masa itu timeline media sosial penuh dengan kebencian. Indonesia, di media sosial, tampak terbelah dua. Kalau bukan Jokower yah Prabower. Kedua kubu saling menjatuhkan dengan berbagai cara. Hoax dan berita berisi Memang ada yang tak masuk golongan keduanya, tapi jumlahnya tak membawa pengaruh signifikan pada ‘peperangan’ di media sosial.

Setahun pilpres berlalu, peperangan media sosial pun mereda. Namun, tak berhenti sama sekali. Masih menyisakan percikan – percikan. Beberapa orang ternyata tak bisa move – on sama sekali. Mereka tetap saja memosting sesuatu untuk menjelekkan presiden terpilih: Jokowi. Belum lagi postingan – postingan bernada kebencian dan hasutan.

Menjadi orang berbeda, apalagi minoritas, terkadang juga tidak menyenangkan. Berbeda sedikit, entah itu pilihan apalagi keyakinan, bisa membuat nyawa jadi taruhan. Padahal, bangsa ini dibangun dari pondasi keberagaman, baik itu suku, bahasa, adat – istiadat dan juga keyakinan. Keberagaman itu bahkan tertuang di dalam lambang negara kita, Burung Garuda dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda – beda tapi satu jua.

Keberagaman dan perbedaan yang menjadi kekayaan khasanah kebudayaan Indonesia itu bisa kita jumpai dalam website KebudayaanIndonesia.net. Website ini berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Website ini menampilkan beberapa bahasan kebudayaan yang terbagi ke dalam sub-kategori; Religi & Upacara, Organisasi Sosial, Pengetahuan, Bahasa, Kesenian, Mata Pencaharian, dan Teknologi & Peralatan. Semua sub-kategori itu berada di bawah kategori Kebudayaan. Ada pula kategori Berita untuk artikel tentang seremoni atau kegiatan.

Website ini masih jauh dari kata sempurna. Saya pernah iseng mengetikkan kata kunci ‘kebudayaan Indonesia’ di mesin pencarian Google. Hasilnya, website ini tak berada dalam halaman pertama padahal saya menggunakan kata kunci yang juga menjadi domain website ini. Itu berarti pemilik dan pengelola, dalam hal ini Kemendikbud RI, masih harus melakukan beberapa upaya untuk menjadikan website ini sebagai referensi utama para pencari literatur tentang kebudayaan Indonesia.

Ada beberapa hal yang masih memerlukan pembenahan agar lebih menarik orang untuk membuka dan membacanya. Hal pertama menurut saya adalah gaya penulisan. Gaya penulisan yang dipakai website ini masih sangat ‘makalah dan text book’. Pemilihan gaya menulis ini tentu memiliki alasan dan juga tak lepas dari selera editornya.

Salah satu penyebab lainnya adalah kurangnya penulis. “Kami biasanya mengambil dari buku jika kekurangan artikel” ungkap Abe, salah satu pengelola website dalam Sarasehan Website Kebudayaan yang terselenggara di Aula Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar, 28 November 2015. Selain di Makassar, kegiatan serupa juga diadakan di Padang, Sumatera Barat.

Dalam sarasehan tersebut juga terungkap rencana pengelola website untuk membuka kesempatan bagi umum untuk menjadi kontributor website. Setiap artikel yang memenuhi syarat akan dihargai sejumlah Rp. 100.000,-.

Salah satu solusi yang bisa digunakan dalam mengatasi kendala kurangnya artikel dan penulis ini adalah dengan mengadakan lomba penulisan atau lomba blog bertema kebudayaan. Dengan lomba ini, pengelola website bisa menjaring banyak tulisan dengan gaya penulisan yang juga beragam. Pengelola juga bisa mewajibkan peserta lomba untuk membagikan tulisan yang  mereka ikutkan. Lomba ini bisa menjawab 3 (tiga) hal; kurang beragamnya gaya penulisan, kurangnya artikel dan penyebaran artikel melalui media sosial.

Media sosial yang terkait website ini menjadi hal kedua yang perlu mendapat pembenahan. Website ini memiliki akun twitter @budayasaya. Akun ini sendiri sudah memiliki jumlah follower yang lumayan banyak, 11.849 per 30 November pkl 20:29 wita. Sayangnya, dengan jumlah follower sebanyak ini, akun ini belum dikelola dengan maksimal. Isi linimasa akun ini lebih banyak pada penyebaran link berita. Aspek interaksi ke follower (pengikut) masih terasa kurang padahal sangat penting bagi keberadaan akun dan website itu sendiri.

Pengelola juga belum memanfaatkan akun – akun media sosial sebagai sarana penyebaran link tulisan yang ada dalam website. Alangkah bagusnya jika setiap tulisan/artikel dalam website disertai dengan tools untuk membagikan tulisan di akhir postingan. Dengan begitu, pembaca yang menemukan tulisan menarik bisa segera membagikannya melalui media sosial yang mereka punyai. Saat ini, jika ingin membagikan tulisan, kita harus mengkopi url link secara manual ke media sosial.

Jika pengelola mau berbenah, mengubah gaya penulisan yang lebih dekat ke pembaca awam dan lebih aktif di media sosial, impian saya melihat laman – laman website ini memenuhi timeline FB dan media sosial yang saya miliki mungkin akan segera terwujud.

Saya juga membayangkan artikel – artikel website ini dibaca dan dibagikan oleh teman – teman saya di media sosial mereka, menggantikan berita – berita hoax semacam Solaria haram misalnya. Terlebih lagi berita – berita berisi hasutan dan nada kebencian.

Tentu lebih menyenangkan jika timeline Facebook dan media sosial kita dipenuhi oleh cerita – cerita tentang budaya Indonesia yang sangat beragam.

Silakan buka www.kebudayaanindonesia.net dan bagikan link postingan yang menarik. Mari mulai mengurangi berbagi hoax dan kebencian dengan menyebarkan kekayaan kebudayaan yang kita miliki.

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment