we tenriabeng

kepada yang pernah mencinta: nn

kata la galigo, “jangan berani langkahi pemali,
dewata takkan berhenti memberi hukum.
karena pertalian matahari dan rembulan
adalah perkawinan sedarah”. tapi
engkau pergi:
tanpa rindu, tanpa benci

acapkali kusampaikan cinta, sekejap rona
merah singgah di lembut pipimu. sebelum
bibirku mencecap indahmu, kau tuturkan
padaku:
legenda sawerigading

o, gadis, yang bagiku adalah we tenriabeng
aku ditaklukkan keinginan tidak sekedar
memanggilmu kekasih, atau
menyebutmu puja-puja hati. karena hasratku
adalah juga hasrat sawerigading

hingga, suatu ketika,
aku tak pernah sehebat sawerigading
menantang samudera, bajak laut, dan musuh-musuh
meski aku nikmati mimpi erotis;
tepat ketika tujuh lapis senyum
kau kirim sebelum naik ke langit

o, gadisku, jadilah we tenriabeng bagiku

kata la galigo, dari sebalik sejarah, “jangan berani
langkahi pemali. dewata takkan berhenti memberi hukum.
karena pertalian matahari dan rembulan adalah
perkawinan sedarah”. lalu
engkau pergi:
tanpa rindu, tanpa benci

kris, loteng biblioholic, Agustus 2005

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.