Walikota Makassar Melarang Perayaan Valentine

Walikota Makassar Ramadhan Pomanto atau yang lebih akrab dipanggil Danny Pomanto melarang perayaan Hari Valentine di Makassar. Pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang itu berdasarkan kabar bahwa di Makassar marak beredar penjualan permen cokelat berbalut kondom.

coklat kondom ilustrasi - ipulgs

Ilustrasi Cokelat Berbalut Kondom oleh @ipulgs

Mengutip portal Fajar Online (12/214), “Pada prinsipnya, perayaan hari valentine dijadikan momen untuk memasyarakatkan perayaan seperti itu. Sebab, belakangan ini marak saya dengar penjualan pernak pernik dan permen berbalut kondom,” ungkap Danny di Rujab Wali Kota Jalan Penghibur. Kamis 12 Februari.

Danny Pomanto juga menyatakan akan menindak tegas jika mendapati ada yang merayakan Valentine di Makassar . Begitu pun jika ada oknum yang menjual coklat berhadiah kondom tersebut. Untuk menegaskan larangan itu, Danny Pomanto mengaku telah menugaskan Satpol PP untuk turun melakukan penindakan jika menemukan hal tersebut.

Larangan perayaan Hari Valentine itu menuai tanggapan dari warga Makassar. Salah satunya ada dari Ardian Adhiwijaya. Menurut Ardian, “Pemerintah terlalu jauh mencampuri urusan warganya. Kalau alasannya karena seks bebas, melarang perayaan Valentine bukan langkah yang tepat. Mau Valentine dilarang atau tidak, tetap saja yang mau berbuat seks bebas tetap leluasa melakukannya,”

Lebih lanjut, dosen pengajar di salah satu kampus Kesehatan ini menyarankan walikota untuk lebih serius memerangi seks bebas dengan sosialiasi yang berkelanjutan dan mengadakan pembinaan yang lebih serius. “Jangan cuma di moment tertentu, kesannya nebeng tenar sama hari Valentine kalau begini”

Anggapan bahwa Valentine Day identik dengan seks bebas dibantah oleh seorang penggiat Kaskus, forum terbesar di Indonesia, bernama Markos. “Saya tiap tahun bikin acara Valentine dengan teman – teman gereja. Bentuknya tidak ada yang berbau seks. Perayaannya berbentuk ibadat atau sharing memaknai kasih sayang dengan orang2 yg disayangi khususnya keluarga dan tukaran kado” ungkap Markos.

Kaskuser Makassar ini juga menambahkan bahwa biasanya kadonya beragam dan lucu – lucu. Tidak pernah ada yang kadonya berupa kondom. Menurut Markos, “larangan merayakan Valentine apapun bentuknya itu tidak bijak. Kalau perayaan Valentine dengan seks bebas, saya sangat setuju jika dilarang dan ditindak tegas.”

Sementara itu, Chyko (27 thn) menyatakan pelarangan perayaan Hari Valentine tidak tepat. “Pemerintah tidak harus melarang perayaan Hari Valentine, semua orang bebas mau rayakan atau tidak.  Lebih baik ada petugas yang mengawasi toko – toko atau penjual di malam valentine untuk pencegahan penjualan coklat berbalut kondom ini,”

Meski mengaku belum pernah melihat langsung penjualan coklat berbalut kondom ini, namun ia sepakat pelarangan penjualan coklat berbalut kondom yang dikeluarkan oleh walikota Makassar “Saya cuma pernah dengar teman – teman bilang begitu, tapi saya kira mereka beli terpisah. Kalau memang ada oknum yang menjual seperti itu, harus diberi sangsi tegas.” Ungkap karyawati swasta ini.

Meski walikota Makassar telah mengeluarkan larangan perayaan Valentine, namun di beberapa pusat perbelanjaan telah mengubah tampilan dengan pernak – pernik yang bernuansa Valentine. Sebut saja misalnya, Mall Ratu Indah yang mendesain tampilannya dengan tema ‘Romantic February. Juga Toko Buku Gramedia yang memenuhi dekorasinya dengan aksesoris Valentine.

Begitu pun beberapa pagelaran musik tetap membawa nuansa Valentine, misalnya penampilan Ada Band di salah satu tempat hiburan yang bertema Romantic Love Night 13/02. Juga ada  Romantic Jazz-nya Tulus Sabtu Malam 14/4. Salah satu distributor mobil juga menggelar Valentine Day dengan mengadakan donor darah.

Larangan Perayaan Valentine ini juga diberlakukan oleh beberapa daerah selain Makassar, beritanya bisa dibaca di Ramai – Ramai Larang Valentine Di Daerah dan Valentine’s Day, Condoms and Casual Sex in Indonesia

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.